Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 39


__ADS_3

Amrita mengepal tangannya dengan kuat saat menyadari keberadaan suaminya. Dengan kekesalan yang memuncak, Amrita menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ingin rasanya ia menjewer kuping suaminya atau membalaskan rasa kesalnya pada sang suami.


"Mas...!" teriak Amrita di depan pintu.


Aziz yang sedang membuka baju memilih menoleh menatap istrinya yang napasnya mulai memburuh. Ia yakin istrinya pasti sedang mencari cara untuk membalas kekesalannya.


"Tidak perlu mencari cara untuk membalas rasa kesalmu. Aku punya sesuatu untukmu yang dapat meredahkan emosimu" ujar Aziz sembari meletakan bajunya di tempat pakaian kotor.


"Sesuatu? Apa Mas Aziz membeli sesuatu untukku atau dia mencoba membohongiku?" tanya Amrita pada dirinya sendiri.


Aziz tersenyum. "Sekarang kamu buka koper ku dan lihatlah apa yang aku bawa untuk kamu. Jika kamu tidak suka kamu bisa memberikannya pada orang lain" jelas Aziz.


Amrita tersenyum bahagia. Perlahan ia melangkahkan kakinya menghampiri koper sang suami yang terletak disamping lemari pakaian. Tangan mungilnya meraih koper tersebut lalu membukanya. Matanya membulat saat ia melihat jaket jins lengan panjang yang ia idam idamkan.


"Mas... terimakasih..." Amrita berhambur memeluk erat suaminya.


Aziz tersenyum. "Apa kamu suka?" tanyanya pelan.


Amrita melepas pelukannya. Menatap manik mata suaminya. "Aku sangat menyukainya. Dari mana Mas tahu kalau aku menyukai jaket itu?" tanya Amrita girang.


"Tidak ada yang memberitahuku. Aku hanya berinisiatif saja" balas Aziz.


Amrita kembali menatap koper suaminya. Ia melihat beberapa baju gamis di dalam koper. Amrita mengambil baju gamis tersebut lalu menoleh menatap suaminya. "Apa ini untuk ku juga?" tanya Amrita.


"Iya. Jika kamu tidak suka kamu bisa memberikannya pada teman-temanmu yang memakai gamis" ujar Aziz.


"Aku akan menyimpannya. Sempat nanti aku membutuhkan ini untuk ke acara pernikahan" jelas Amrita. Amrita mengambil empat gamis yang bisa dikata adalah oleh-oleh dari suaminya, menyimpannya di dalam lemari pakaiannya.


"Sekarang kamu siapkan air hangat untuk ku. Aku mau mandi dulu setelah itu baru kita tidur" ujar Aziz yang dibalas anggukan dan senyum oleh Amrita.

__ADS_1


Amrita berjalan sedikit berlari menuju kamar mandi. Sesuai perintah dari suaminya, Amrita pun menyiapkan air hangat untuk sang suami. Setelah selesai, Amrita ke luar menghampiri suaminya yang sedang sibuk memainkan ponselnya.


"Cie... yang punya ponsel baru ni..." ledek Amrita mengambil tempat disamping suaminya.


Aziz terkekeh. "Tunggu aku di tempat tidur. Ada sesuatu yang mau aku bicarakan denganmu" kata Aziz beranjak dari duduknya menuju kamar mandi. Lima belas menit kemudian, Aziz ke luar dari kamar mandi berjalan menghampiri istrinya.


"Mas, tadi Mas mau ngomong apa?" tanya Amrita.


"Mana ponselmu?" tanya Aziz.


Amrita mengerutkan keningnya. Menatap aneh suaminya yang kini duduk dihadapannya. "Mas tidak mencurigaiku kan?" tanya Amrita memastikan.


Aziz tersenyum. "Aku tidak mencurigaimu. Aku hanya ingin melihat kondisi ponselmu" kata Aziz.


Mendengar penuturan suaminya, Amria mulai mengambil ponselnya lalu menyerahkannya pada sang suami. Aziz mengambil ponsel istrinya, menatap bagian depan, samping kiri, kanan dan belakang. Kemudian ia menganggukan kepala menatap ponsel istrinya.


"Sekarang kita tidur" ujar Aziz lalu merebahkan tubuhnya di ranjang yang dibalas anggukan oleh Amrita.


Terik matahari menembus kaca jendela kamar saat Amrita menggeser tirai jendela. Di ranjang, Aziz menggeliat karena pancaran sinar cahaya pagi yang menyilaukan. Perlahan Aziz membuka matanya, seulas senyum terukir di wajah tampannya saat ia melihat istrinya berjalan menghampirinya.


"Mimpi apa semalam sampai Mas senyam senyum di pagi hari?" tanya Amrita.


"Hahahaha. Aku mimpi indah semalam. Apa kamu ingin tahu? Aku bermimpi kita berdua pergi ke Bali lalu menghabiskan beberapa hari di sana. Beberapa minggu kemudian, kamu hamil. Mimpi yang aneh kan" jelas Aziz sembari menatap istrinya.


"Iya, sangat aneh. Mas, cepat mandi lalu turun ke bawah. Aku sudah buatkan teh hangat dan kue apang untuk kalian" ujar Amrita sembari mengikat asal rambutnya.


Di lantai satu, Pa Sofyan dan Tante Eka sedang duduk di kursi yang ada di taman sembari menikmati teh hangat dan kue apang. Keduanya terlihat seperti pasangan yang belum lama menikah, selalu romantis dan sangat harmonis. Beberapa menit kemudian, terlihat Afika dan Fakri sedang menghampiri Tante Eka dan Pa Sofyan.


"Cie... yang lagi mengenang masa muda" ledek Fakri menatap pasangan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Iya dong. Ibu dan Papa hanya mau memperlihatkan pada kalian bagaimana kasih sayang Papa pada Ibu. Dengan begitu, saat kalian sudah menikah nanti, kalian bisa seperti Papa kalian yang selalu menerima kekurangan Ibu. Kalian bisa bersabar seperti Papa yang selalu sabar menghadapi sifat nakal Ibu. Lihatlah kakak kamu, Aziz, dia mendapatkan wanita nakal tapi Aziz bersabar dan selalu memaafkan istrinya. Itu membuktikan, bahwa kalian layak menjadi suami idaman" jelas Tante Eka.


"Benar kata Ibu. Aku akan selalu memaafkan istri nakal ku yang bawel" timpal Aziz yang tiba-tiba datang menghampiri Ibu dan Papanya.


"Dan aku adalah salah satu wanita beruntung yang menikah dengan Mas Aziz yang ganteng tapi kadang jahil" timpal Amrita tersenyum manis menatap suaminya.


Afika hanya bisa memperhatikan keharmonisan keluarga Paman dan Tantenya. "Sangat berbanding terbalik dengan keluargaku. Di rumah, ibu dan ayah jarang bersama. Mereka lebih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dan aku, aku tidak memiliki siapa siapa di rumah. Aku ingin melihat Ibu dan Ayah bisa seperti Tante dan Om. Ya Allah, aku merindukan keluarga yang seperti keluarga Tante Eka dan Om Sofyan" batin Afika.


"Ayo kita masuk ke dalam rumah. Kursi di sini tidak cukup untuk ditempati duduk" ujar Pa Sofyan karena kursi di luar hanya empat sedangkan mereka berenam.


Ruang keluarga


Tante Eka duduk disamping suaminya. Aziz duduk di samping istrinya sedangkan Fakri duduk disamping Afika. Fakri menyenggol sepupunya lalu berbisik didekatnya.


"Hanya kita berdua yang belum menikah. Apa kamu mau menyaksikan keromantisan mereka?" bisik Fakri.


"Aku cemburu tapi aku suka melihatnya. Kapan lagi aku menyaksikan pemandangan indah ini. Di rumah, aku hanya melihat dinding di kamar. Tv di ruang keluarga dan air di kolam renang" balas Afika.


"Ternyata hidup sepupu ku ini sangat memprihatinkan" balas Fakri yang dibalas tatapan datar dari Afika. Untuk menghindari kemarahan Afika, Fakri menoleh menatap ke tempat lain. Matanya membulat saat ia melihat Amrita memegang ponsel terbaru.


"Cie... yang punya ponsel baru ni..." ledek Fakri mengambil tempat diantara Amrita dan Aziz.


"Ibu... coba lihat ponsel menantu kesayangan Ibu ini. Ponsel keluaran terbaru loh Bu" ujar Fakri sembari mengambil ponsel Amrita dari tangan sang pemilik.


"Ibu, itu ponsel baru yang dibelikan Mas Aziz untuk ku" kata Amrita tersenyum malu.


"Cie cie... yang lagi berbunga-bunga ni..." ledek Fakri sembari menyengggol lengan kakaknya.


Aziz nampak terlihat malu sedangkan Tante Eka, Pa Sofyan dan Afika tertawa terbahak bahak. Hal itu membuat Aziz menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


Skefo: Mungkin besok Author tidak Up karena author mau nyuci pakaian dan ada kesibukan lain. Dan Maaf karena author hampir tidak pernah membalas komentar kalin di kolom komentar tiap episode 🙏🙏


__ADS_2