Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 46


__ADS_3

"Mas, maafkan aku tapi aku tidak bisa berjanji. Sepertinya aku akan tertawa sekarang. Hahahahahahaha" kata Amrita, ia pun tertawa terbahak-bahak.


"Tidak apa-apa. Asalkan kamu percaya dengan apa yang aku katakan tadi" balas Aziz. Keringat dingin tak henti-hentinya bercucuran.


Amrita menghentikan tawanya, mendekat meraih tangan suaminya. Dingin, itulah yang dirasakan Amrita saat menyentuh tangan suaminya. Aziz diam tak bergeming, ia masih menunggu respon istrinya.


"Mas, jangan paksakan dirimu jika memang tidak bisa. Aku tahu Mas dan Om Aher-----" kalimat Amrita terhenti saat Aziz menggeleng kepala.


Amrita melangkah mundur, mendekat ke arah pintu kamar dan berhenti tepat di pintu kamar yang masih tertutup "Sekarang Mas tarik napas, hembuskan secara perlahan, setelah itu berbalik membelakangi aku" kata Amrita.


Aziz mengerutkan keningnya namun tetap menuruti perintah istrinya. "Sudah" balas Aziz.


Terdengar kekehan kecil. Beberapa detik kemudian, suasana terasa sunyi dan tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. "Selamat ya Mas. Mas masuk dalam jebakanku. Aku tahu kalau Mas dan Om Aher bukan gay" jelas Amrita menahan tawa. Hanya dengan cara itu Amrita bisa tahu perasaan suaminya yang sebenarnya.


Aziz tercengang, berbalik menatap Amrita namun Amrita sudah lari beberapa detik yang lalu. "Amrita...!!" teriak Aziz. Dengan sekuat tenaga Aziz mengejar Amrita. Bisa-bisanya Amrita menjebak dirinya.


"Amrita... awas kamu ya..." teriak Aziz menuruni anak tangga.


"Hahahahahaha" tawa Amrita kembali pecah. Amrita berlari menaiki anak tangga saat Aziz kembali mengejarnya.


Aziz mengatur napasnya pelan. Menatap Amrita yang sedang duduk di tangga. "Kamu harus membayar perbuatannu. Bersiap-siaplah saat di kamar nanti. Malam ini juga, aku akan membuatmu kurang tidur" ujar Aziz ngos-ngosan.


---


Pukul enam pagi, Amrita sedang berkutak di dapur. Berhubung hari ini ia pulang sore maka dia memasak makanan untuk dibawah ke kampus. Bukan hanya untuk dirinya saja tapi juga untuk suaminya. Di atas meja makan, terlihat dua tupperware yang sudah terisi nasi. Beberapa menit kemudian, Amrita meletakkan telur sos dan ikan goreng di masing-masing tupperware.


"Ini sudah cukup untuk makan siang nanti" gumam Amrita. Amrita merasa ada tangan yang melingkar dipinggangnya dan ternyata itu adalah tangan suaminya.


"Selamat pagi istri kecilku yang nakal" kata Aziz menyandarkan dagunya di bahu sang istri.

__ADS_1


"Pagi juga suamiku yang mudah tertipu" balas Amrita terkekeh. Setelah keduanya selesai bercanda, baik Amrita maupun Aziz naik ke lantai dua untuk mandi. Kali ini keduanya mandi bersama di kamar mandi yang sama. 15 menit kemudian, Aziz ke luar lebih dulu dari kamar mandi. Beberapa detik kemudian, terlihat Amrita menyusul Aziz.


Meja makan


Kini, disinilah Aziz dan Amrita berada. Keduanya sedang sarapan roti tawar selei coklat dan segelas susu. Setelah selesai sarapan pagi, Amrita meletakkan gelas kotor di westafel cuci piring sedangkan Aziz berjalan menuju garasi rumah.


"Mas, aku ke kampus dulu ya" kata Amrita yang sudah siap dengan totebag di bahu dan helem ditangan. Amrita menyalami suaminya dan mulai mengenakan helemnya.


Aziz membuka dompetnya, mengeluarkan satu lembar uang lima puluh ribu rupiah. "Ini uang jajan hari ini" kata Aziz sembari menyodorkan uang tersebut.


"Terima kasih Mas, aku mencintaimu" ujar Amrita mengedipkan matanya sebelah.


"Ingat! Jangan dekat dengan laki-laki tampan. Jika mau berteman dengan laki-laki, usahakan aku yang lebih tampan darinya" kata Aziz tersenyum getir.


"Hahahaha" tawa Amrita. Ia merasa lucu melihat sifat Aziz yang baru ia ketahui. Amrita mulai mengendarai motornya keluar dari garasi rumah. Di pos satpam, ada Pa Adis dan Pa Sam yang sedang bertugas. Amrita berhenti sejenak, menyapa Pa Sam dan Pa Adis.


"Iye Mbak, nanti kami hubungi" balas Pa Adis dan Pa Sam bersamaan.


"Oke. Saya ke kampus dulu. Assalamualaikum" kata Amrita memberi salam lalu melajukan motornya menuju jalan raya. Dalam perjalanan, tepatnya di depan Mall Nipa, jalan nampak macet karena ada kecelakaan. Hampir tiga puluh enam menit Amrita berada dalam perjalanan.


Fakultas Mipa


Kini, Amrita sudah sampai di parkiran motor Fakultas Mipa. Amrita berjalan kaki menuju kelas. Langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya. Amrita menoleh ke belakang, ia melihat Fakri dan Hanin berjalan menghampirinya.


"Ayo cepat, nanti kita terlambat" kata Amrita menarik tangan kedua sahabatnya. Ketiganya bergegas menuju kelas. Di dalam kelas, ada beberapa mahasiswi dan mahasiswa yang sedang memegang lembar tugas Botani, mereka terlihat nampak sedang menghafal tugas yang diberikan oleh Pa Iqbal.


"Assalamualaikum" Hanin memberi salam lalu masuk ke dalam kelas dan duduk di kursi. Begitupun dengan Amrita dan Fakri. Ketiganya mulai sibuk dengan hafalan mereka.


Pukul delapan lewat sepuluh. Terdengar langkah kaki dari luar kelas, beberapa detik kemudian, terlihat Pa Iqbal berjalan masuk ke dalam kelas.

__ADS_1


"Kumpul semua tugas kalian di atas meja. Saya rasa kalian sudah menghafal klasifikasi dan nama daerah dari tugas yang saya berikan" kata Pa Iqbal menatap semua mahasiswa yang ada di dalam kelas. Semua mahasiswa dan mahasiswi bergegas mengumpulkan tugas mereka di atas meja guru lalu kembali duduk di tempat mereka. Suasana di dalam ruangan terasa mencekam, mereka takut dipanggil menyetor hafalan.


"Amrita Venisa. Berdiri dan sebutkan klasifikasi dari Anggur" titah Pa Iqbal.


Amrita pun berdiri dan mulai menyebutkan klasifikasi dari anggur. "Regnum : Plantae. Divisi : Magnoliophyta. Kelas: Magnoliopsida. Sub kelas : Rosidae. Ordo : Vitales. Famili : Vitaceae. Genus : Vitis. Spesies : Vitis vinifera L."


"Tugas yang kamu kumpul hari ini nilainya seratus. Silahkan duduk" kata Pa Iqbal.


---


RS Awal Bros


Aziz sedang memeriksa kondisi pasien di ruang kelas satu. Setelah selesai ia kembali ke ruangannya. Mengambil ponselnya lalu membuka aplikasi watshap. Seulas senyum terukir diwajah tampannya saat ia membaca pesan dari Amrita.


"Karena itulah kamu mendapatkan beasiswa. Bukan karena kamu anak yatim tapi karena prestasimu" gumam Aziz.


Cek-lek... Aziz menoleh ke arah pintu saat mendengar suara pintu terbuka. Aher masuk setelah membuka pintu, mengambil tempat di sofa.


"Bagaimana, apa kamu sudah mengutarakan perasaanmu padanya?" tanya Aher.


"Kita berdua telah dibodohi olehnya. Apa kamu tahu, kemarin dia hanya beracting untuk menjebakku. Dan yang lebih memalukan, aku berkeringat dingin saat mengutarakan perasaanku. Bukan hanya berkeringat, tapi kakiku juga gemetar" balas Aziz kesal saat mengingat kejadian semalam.


Aher tertawa terpingkal pingkal. Aziz masih saja seperti dulu, malu mengutarakan cintanya pada wanita. Sama halnya saat ia ingin mengutarakan cintanya pada Anaya. Jika bukan karena bantuan Aher mungkin Aziz tidak akan pernah menjalin cinta dengan Anaya.


"Berhenti! Kamu selalu saja mengejekku!" ketus Aziz.


"Oke. Aku akan diam. Ingat Aziz, Amrita itu masih muda. Dia begitu pintar dalam segala hal. Sudah pasti banyak laki-laki yang menyukainya. Aku sarankan padamu, teruslah memberinya perhatian agar dia tidak berpaling darimu" ujar Aher berlalu pergi meninggalkan Aziz yang mulai kepikiran.


"Hehehehe. Selamat berpikir Dokter bucin" batin Aher tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2