
Perumahan Citraland Hertasning
Sesuai janjinya pada sikembar dan Putri Akila. Aziz membelikan pisang ijo untuk mereka. Berhubung Putri Akila dan Sikembar belum pernah makan pisang ijo, maka mereka begitu bersemangat saat melihat pisang ijo di mangkok kaca. Mereka sudah tidak sabar menyantap menu yang mereka baru lihat itu.
"Kenapa Om lama sekali?" tanya Akila pada sikembar. Mereka duduk melantai di ruang keluarga sembari memegang sendok kecil.
"Mana aku tahu" balas Zain sembari menaikkan kedua punggungnya.
Dilantai dua, terlihat Aziz sedang menuruni anak tangga. Tersenyum menatap sikembar dan Putri Akila. Terlihat kerutan didahi Aziz saat melihat pisang ijo yang belum juga disentuh.
"Kenapa kalian tidak makan?" tanya Aziz menatap satu persatu anak yang ada dihadapannya.
"Kami ingin makan bersama, Om" balas Putri Akila dengan mimik wajah memohon.
"Ya sudah, ayo kita makan bersama" kata Aziz mengambil tempat diantara sikembar. Aziz menyuapi sikembar lalu menyuapi Putri Akila.
"Om, makanan ini aneh ya. Makanan ini mengeluarkan asap tapi saat memakannya kita tidak perlu meniupnya. Terlihat panas namun nyatanya dingin" ujar Akila saat satu sendok pisang ijo berhasil masuk ke dalam mulutnya.
"Om, diantara pisang dan es batu, siapakah yang menipu orang?" tanya Zain.
"Sudah jelas es batu" balas Aziz tersenyum.
"Om, jangan pernah jadi es batu. Jadilah bunga yang berbau harum. Yang disukai oleh semua orang tanpa harus menipu" ujar Akila memeluk Aziz.
"Insya Allah" balas Aziz tersenyum.
---
Amrita memakirkan motornya di garasi rumah. Berjalan masuk ke dalam rumah dan langsung naik ke lantai dua. Membuka pintu kamar, meletakan tas dan mesin ketik di sofa. Rasa gerah membuatnya memilih mandi. Amrita keluar dari kamar mandi setelah dua puluh menit berada di dalam.
"Mas kenapa?" tanya Amrita saat melihat suaminya duduk ditepi ranjang.
"Aku lupa memberitahumu, malam ini Anaya akan menikah dengan Rikal. Apa kamu punya baju yang bagus yang bisa dikenakan ke acara pernikahan?" tanya Aziz.
"Tidak ada, Mas. Aku tidak punya baju yang bisa digunakan ke acara pernikahan" balas Amrita menghampiri suaminya.
__ADS_1
"Sekarang kamu siap-siap, kita akan ke butik melihat baju sekalian kamu mekaup di sana" titah Aziz.
Amrita mengikuti perintah suaminya, ia mengenakan baju kous lengan pendek, celana jins yang agak longgar dan rambut dibiarkan terurai. Setelah selesai, Amrita turun menghampiri Aziz yang tengah bermain bersama Putri Akila dan sikembar Zain dan Zian.
"Ayo, Mas" ajak Amrita.
"Sayang, kalian bersama ibu kalian dulu ya. Om ada urusan diluar jadi Om belum bisa menemani kalian" ujar Aziz pada ketiga anak yang begitu cantik dan ganteng.
"Baik, Om" balas ketiganya bersamaan.
Amrita ke dapur menghampiri Mbak Miranti dan Mbak Lisa. "Mbak, malam ini kami akan ke acara pernikahan. Jadi aku dan Mas Aziz enggak makan di rumah. Jika Mbak atau anak-anak ingin makan sesuatu, mbak pesan lewat grab saja. Ada uang di lemari yang ada diruang keluarga. Mbak ambil saja untuk bayar tagihan makanan"
"Tidak perlu pesan di grab, mbak. Nanti kami memasak saja. Oh ya, Mbak. Aku mau minta izin, aku mau buat agar-agar untuk anak-anak" kata mbak Lisa.
"Silahkan, mbak. Kami pergi dulu ya, Assalamuaikum"
"Waalaikumsalam"
Amrita menghampiri Aziz diruang keluarga. Keduanya berjalan ke luar lalu masuk ke dalam mobil. Mobil perlahan bergerak meninggalkan Perumahan Citraland Hertasning. Dalam perjalanan, ponsel Aziz berdering. Aziz menatap ponselnya, ada nomor baru yang menghubunginya.
"Aku ngak tahu" balas Aziz santai.
---
Butik
Aziz memakirkan mobilnya di depan salah satu butik yang ada di Kota Makassar. Amrita ke luar dari mobil, berdiri di depan butik. Di dalam butik ada Aher dan pacarnya yang bernama Madania. Aziz membuka pintu butik mempersilahkan Amrita untuk masuk.
"Amrita, coba lihat kebaya yang dikenakan Madania. Menurutmu bagaimana?" tanya Aher.
"Bagus, Dok. Apa malam ini kita akan mengenakan kebaya yang seragam?" Amrita balik bertanya.
"Rencananya sih begitu. Apa kamu setuju?" tanya Aher.
"Oke, aku setuju" balas Amrita tersenyum.
__ADS_1
Amrita dan Madania mengenakan baju kebaya warna silver serta rok batik warna coksu. Sedangkan Aziz dan Aher mengenakan baju kameja batik yang senada dengan warna rok yang dikenakan oleh Amrita dan Madania. Seusai mekaUp, mereka berempat langsung ke Hotel.
---
Hotel
Sesampainya di hotel, Aziz memakirkan mobilnya di parkiran hotel termegah di Makassar. Ia turun dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk istrinya. Begitupun dengan Aher yang juga turun membukakan pintu mobil untuk Madania. Mereka jalan berpasangan, memasuki ruangan yang sudah tersedia. Di dalam ruang acara, banyak tamu undangan yang terlihat bahagia.
Aziz, Amrita, Aher dan Madania. Mereka berempat duduk berpasangan. Memandangi Anaya dan Rikal yang begitu terlihat serasi. Anaya dan Rikal mengenakan pakaian adat Makassar. Begitu indah dipandang. Satu persatu tamu undangan memberi ucapan selamat pada kedua mempelai. Kini giliran Aziz, Amrita, Aher dan Madania. Mereka berempat menghampiri pengantin untuk mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.
"Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah" kata Amrita saat memberi selamat pada Anaya lalu memasang cincin emas dijari Anaya sebagai hadiah pernikahan.
"Aamiin. Terimakasih kalian sudah datang dipernikahanku" ujar Anaya tersenyum. Ia merasa haru melihat kedatangan dua pria dan dua wanita yang kini memberikan selamat padanya.
"Jadilah istri yang baik untuk Kak Rikal. Aku doakan, semoga Allah cepat memberi kalian momongan. Aamiin" ujar Madania lalu mencium kedua pipi Anaya. Madania juga memberi hadiah cincin emas untuk Anaya.
Seusai mengambil gambar. Aziz, Aher, Amrita dan Madania. Mereka berempat kembali ke tempat duduk. Amrita dan Madania pamit untuk ke luar sebentar. Mereka kembali saat semua tamu undangan sedang menikmati hidangan yang sudah disediakan. Dari kejauhan, Amrita melihat Safira berdiri disamping Aziz.
"Mbak Nia, apa mbak kenal wanita yang berdiri disamping Mas Aziz?" tanya Amrita menatap jauh ke depan.
"Namanya Safira. Dia wanita yang sejak dulu jatuh cinta pada Aziz" balas Madania.
"Oww, jangan bilang dia mau jadi pelakor. Apa dia pikir aku akan takut padanya!!" ujar Amrita geram.
"Kamu harus berhati-hati. Dia itu wanita yang sangat licik" kata Madania.
Dengan santainya, Amrita menghampiri Aziz yang tengah duduk bersama Safira. "Mas, ayo kita pulang. Kasihan anak-anak di rumah"
Safira menatap sinis Amrita. "Kamu siapa?" tanya Safira.
"Kenalin, namaku Amrita. Aku istri Mas Aziz" balas Amrita sembari mengulurkan tangannya.
Safira mendekat. "Aku Safira, calon istri kedua Aziz" balas Safira berbisik ditelinga Amrita.
Amrita tersenyum kecut. "Selamat berjuang Mbak Safira yang terhormat" balas Amrita tersenyum dan tak takut sedikitpun.
__ADS_1