
Dilarut malam tepatnya pukul dua lewat lima belas menit. Hujan deras kembali mengguyur kota Makassar. Membuat Amrita memeluk erat suaminya. Semakin hawa dingin menghampirinya, semakin kuat pula pelukannya. Aziz, yang sementara merasakan pelukan itu semakin erat, pria itu membuka mata lalu menarik selimut tebal untuk menutupi sebagian tubuhnya juga tubuh istrinya.
Pukul 04:20 AM
Amrita menggeliat, meraba ke samping tempat di mana suaminya tidur namun Aziz sudah tidak ada. Nyatanya Aziz berada di kamar mandi membersihkan tubuhnya sebelum shalat subuh.
"Mas Aziz di mana?" gumam Amrita sembari mengucek matanya agar ngantuknya menghilang. Lalu duduk di atas tempat tidur.
Cek--lek... (Pintu kamar mandi terbuka)
"Ayo bangun dan cepat cuci muka lalu wudhu. Kita shalat berjamaah di rumah" kata Aziz berjalan menghampiri istrinya.
"Iya, Mas. Tunggu aku ya" ucap Amrita menggeser selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
Aziz mengenakan baju koko dan sarung serta peci. Lalu keluar dari kamar menuju kamar Papanya. "Pa, ayo shalat berjamaah" panggil Aziz dibalik pintu kamar namun tidak ada sahutan dari dalam.
"Kenapa tidak ada sahutan dari dalam. Apa mereka masih tidur" gumam Aziz menghela napas pelan lalu kembali ke kamarnya.
"Mas, kita shalat di kamar atau di mushola?" tanya Amrita.
"Di kamar saja. Papa dan Ibu nggak bangun" balas Aziz.
Aziz berdiri di atas sajadah yang sudah disiapkan oleh istrinya. Lalu mengumandangkan adzan dan terakhir iqamat. Saat Aziz akan memulai shalat, tiba-tiba Fattan masuk dalam barisan. Anak kecil itu sudah siap dengan baju koko dan peci di kepala. Begitu juga Fadila yang sudah siap dengan mukena kecilnya. Setelah barisan sudah rapih, Aziz memulai bacaannya.
Setelah salam dan doa, Amrita mencium tangan suaminya. Yang dibalas ciuman kening oleh suaminya. Kemudian Fattan mencium tangan Papanya lalu Mamanya, begitu juga Fadila. Adem dan begitu indah jika dipandang.
__ADS_1
"Mama, bangun pagi itu asik ya" ucap Fadila berbaring di paha Mamanya tanpa membuka mukena kecilnya.
"Iya Sayang. Oh ya, mukenanya siapa yang kasih? Bukannya Mama nggak bawah dari rumah" tanya Amrita mengerutkan kening menatap putrinya.
"Hehehehe. Ini dari Om. Kata Om, Om sudah lama membeli ini untuk aku dan baju untuk Kakak. Coba Mama cium, masih harum kan" balas Fadila.
"Dek, geser dong" pinta Fattan yang juga ingin berbaring berbantal paha Mamanya.
"Nggak ada yang mau sama Papa nih" nimbrung Aziz yang sementara masih duduk bersila di atas sajadah.
"Nggak mau sama Papa. Maunya sama Mama. Papa aja yang ke sini. Gabung sama aku dan adik" balas Fattan tersenyum menatap Papanya.
Aziz tersenyum lalu ikut berbaring. Membuat Amrita mengukir senyum indah di wajahnya. Pahanya menjadi bantal untuk putri, putra dan suaminya. Bahagia? Tentu saja Amrita bahagia.
"Ya Allah. Lindungi keluargaku. Jangan biarkan senyum indah yang terukir di wajah mereka menjadi kesedihan yang menyakitkan" batin Amrita menatap kedua anak dan suaminya yang sedang tersenyum bahagia.
Fattan dan Fadila pun bangun dan berdiri. Begitu juga Aziz. Fadila melepas mukenanya dan tinggala baju tidur doraemon. Sementara Fattan tidak membuka baju kokonya karena baju anak itu ada di kamar Om Fakri. Setelah Aziz mengganti baju koko dengan baju kaos dan melepas sarungnya, mereka berempat menuruni anak tangga menuju lantai satu.
--
Pukul 08:02 AM
Tante Eka dan keluarga besarnya sedang menikmati sarapan pagi bersama. Dan kini, mereka sedang berada di meja makan. Menikmati beberapa kue bauatan Mbak Ima dan Amrita.
"Amrita, sebulan lagi kamu dan Fakri akan wisuda. Bagaimana kalau pekan depan kita pergi foto studio. Mumpung Papa lagi semangat-semangatnya ini" ujar Pak Sofyan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Ibu juga setuju" ucap Tante Eka menimpali.
"Aku juga setuju..." sorak Fakri yang tidak sabaran. "Bu, ajak sama Hanin juga ya" sambungnya tersenyum malu-malu.
"Iya. Cepat kamu selesaikan ujian tutup mu setelah itu kita temui orang tua Hanin untuk melamar putrinya" balas Tante Eka.
"Yes! Nikah lagi..." sorak Fakri beranjak dari duduknya.
Aziz dan Amrita hanya bisa menggeleng melihat tingkah Fakri. Begitu juga Pa Sofyan dan Tante Eka. Sementara Fattan dan Fadila yang tidak mengerti, kedua anak itu serius mengunyah kue sambil menatap orang dewasa di sekeliling mereka.
"Apa aku bisa ikut?" tanya Mbak Ima menunduk.
"Ya Allah Mbak Ima. Aku sudah pesankan baju untuk Mbak. Nanti kita berdua kenakan baju kebaya yang sama dan juga warna baju yang sama. Jadi kalau kita foto nanti, orang-orang akan berpikir kalau Sofyan punya dua istri. Tapi biarkan saja orang berkata, toh kenyataannya tidak begitu" jelas Tante Eka.
"Cie cie cie... yang bahagia bisa ikut foto bersama" ledek Fakri yang tiba-tiba muncul di meja makan.
"Hahahahaha" tawa Mbak Ima pecah. Wanita itu sudah menganggap Fakri sebagai putranya. Itulah kenapa dia ingin sekali ikut foto studio bersama Fakri dan keluarganya.
"Mbak Ima harus di make up biar suami di kampung lupa istri" timpal Aziz yang ikut nimbrung.
"Iya benar. Tapi memang orang foto studio di make up kok. Apalagi kita foto keluarga, tentuh harus make up biar kelihatan cantik saat di pajang di dinding nanti" timpal Amrita.
Usai sarapan, Aziz dan keluarganya pamit pulang ke rumah mereka. Aziz ingin menghabiskan waktu di hari sabtu bersama istri dan kedua anaknya. Pria itu berencana camping di rumah tempatnya di lantai dua. Niatnya pulang pagi karena ingin membeli cemilan untuk kedua anaknya dan juga untuk istrinya. Serta ke pasar membeli baju pasangan untuk mereka berempat.
Dalam perjalanan pulang, Aziz melihat penjual durian dipinggiran jalan. Iapun menepikan mobilnya sebentar lalu keluar membeli durian yang nantinya akan dibuat kue durian khas Makassar.
__ADS_1
"Mas Aziz masih ingat kalau aku suka durian apalagi kue durian" gumam Amrita tersenyum bahagia.