Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 102


__ADS_3

Perumahan Citraland Hertasning nomor A20


Oek... oek... oek... tangisan baby girl terdengar nyaring. Aher yang sementara berada di kamar mandi, pria itu berlari keluar menghampiri anaknya.


"Astaghfirullah. By.... apa kau sudah gila!" seru Mahdania mengambil anaknya dari gendongan suaminya. "Jangan diulangi. Bagaimana jika ada tamu di rumah kita. Apa kamu mau orang-orang melihat burung jerapamu itu" omelnya menatap tajam suaminya.


"Iya. Aku tidak akan mengulanginya lagi" balas Aher cemberut. Lalu kembali ke kamar mandi.


"Bisa-bisanya dia keluar tanpa mengenakan apa-apa. Syukur burung jerapanya masih tidur" gumam Mahdania.


Di dalam kamar mandi, Aher berdiri di bawah pancuran sower lalu menyalakan keran air. Membiarkan air dingin membasahi seluruh tubuhnya. Setelah mandi, pria itu keluar dan hanya mengenakan handuk tanpa celana pendek.


"Celana boxer ada di dalam lemari laci paling bawah" jelas Mahdania sebelum suaminya bertanya. Seperti itulah Aher, celana boxer nya pun harus dicarikan.


"Hehehe. Kamu sangat konek, Da. Tambah cinta deh" puji Aher tersenyum lalu membuka lemari yang ditunjuk istrinya.


"Cepat kenakan pakaianmu lalu jaga baby girl. Aku belum memasak untuk siang nanti" titah Mahdania.


"Biar aku saja yang memasak. Takutnya baby girl menangis" jelas Aher sembari mengenakan baju kaos hitam lengan pendek dan celana santai selutut.


"Ya sudah. Jangan lupa masak yang banyak. Mama sama Papa mau ke sini. Mau makan siang bersama" jelas Mahdania.


"Iya. Boleh aku sayang anakku dulu" izin Aher memasang wajah sedih. Sejak semalam Mahdania meminta Aher jangan mencium anaknya karena pria itu selalu kasar jika mencium anak kecil. Entah karena gemes atau karena ia tak punya saudara perempuan.


Rumah nomor A19


Dua tas rinjani berukuran sedang diletakkan di bagasi mobil. Satu berisi pakaian dan satu berisi cemilan. Dan tak lupa mereka membawa tenda camping berukuran empat orang.


"Papa, apa baby girl akan ikut?" tanya Fattan berdiri memandangi papanya yang sibuk memasukan kardus yang berisi aqua gelas.


"Tidak, Sayang. Baby girl masih sangat kecil. Baby girl belum bisa keluar rumah" balas Aziz menjelaskan.


Fattan nampak lesu mendengar jawaban papanya. Anak kecil itu ingin pergi bersama baby girl. "Ya sudah" ucapnya menunduk.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya Amrita yang baru saja keluar dari rumah bersama Fadila.


"Mama, ayo kita ke rumah baby girl. Sebentar saja, aku hanya mau lihat baby girl" pinta Fattan.

__ADS_1


"Ya sudah. Ayo Mama temani" balas Amrita tersenyum. Lalu menatap suaminya sejenak. "Mas, tunggu sebentar ya. Aku mau ke rumah Mbak Nia dulu" ujarnya.


"Iya, Sayang" balas Aziz.


Amrita menekan bel rumah. Selang beberapa puluh detik, Mahdania membuka pintu rumah. "Ayo masuk, Dek. Fattan, Fadila, ayo masuk Sayang" ajak Mahdania tersenyum.


"Ini Mbak. Kami mau ke Pantai Lae-Lae dan Fattan nggak mau pergi jika nggak lihat baby girl dulu. Jadi aku ke sini untuk membawanya melihat baby girl" jelas Amrita.


"Jadi itu alasan Fattan ke sini" gumam Mahdania tersenyum mengangguk.


Fattan tersenyum melihat baby girl menggeliat di ayunan bayi yang terletak di ruang keluarga. "Baby girl, kakak Fattan pergi jalan-jalan dulu ya. Kakak Fattan sayang baby girl" ungkap Fattan seperti orang dewasa.


"Kakak Fadila juga mau pamit. Tunggu Kakak Fadila dan Kakak Fattan ya. Nanti kita main bersama" imbuh Fadila menatap baby girl dengan senyum.


"Sekarang kalian sudah lihat baby girl kan. Sekarang kita temui Papa sebelum Papa meninggalkan kita" ajak Amrita.


"Iya, Ma. Tante, kami pergi dulu ya. Assalamualaikum" pamit Fattan dan Fadila lalu menyalami tangan Mahdania.


"Hati-hati ya. Jangan lupa kirim foto buat Tante" ujar Mahdania tersenyum lalu mengantar Amrita dan anak-anaknya keluar.


--


Aziz memarkirkan mobilnya di parkiran Pantai Losari. Lalu turun membuka bagasi mobil. Sementara Amrita membuka pintu mobil untuk kedua anaknya. Dari kejauhan, terlihat Tante Eka dan rombongannya. Siapa lagi kalau bukan Fakri dan Mbak Ima. Bahkan kali ini ada Hanin yang juga ikut bersama mereka.


"Nenek..." teriak Fattan berlari kecil menghampiri neneknya yang baru saja turun dari mobil.


"Cucu kesayangan Nenek dan Kakek" Tante Eka memeluk Fattan.


Aziz, Pak Sofyan dan Fakri menurunkan barang bawaan mereka lalu membawanya ke atas kapal yang akan membawa mereka ke Pantai Lae-Lae. Sementara kelompok perempuan sibuk mengambil gambar.


"Sayang, tolong foto Ibu" pinta Tante Eka pada Amrita. Tante Eka berpose bersama Hanin, Mbak Ima, dan si kembar.


"Satu, dua, tiga. Sudah, Bu. Latarnya bagus sekali loh" ujar Amrita tersenyum lebar.


"Mau ke Pantai apa nggak mau...?" tanya Fakri sedikit berteriak.


"Mau..." balas Tante Eka.

__ADS_1


Tante Eka dan kawan-kawan menghampiri rombongan laki-laki. Lalu satu persatu ke atas kapal laut yang hanya bisa muat beberapa belas orang saja. Setelah semuanya naik, Bapa pemilik kapal menghidupkan mesin kapalnya.


"Mama, bagus sekali airnya" imbuh Fadila tersenyum bahagia. Baru kali ini anak kecil itu naik di atas kapal kecil.


"Iya, Nak. Nanti kita akan bermalam dipinggir pantai. Kalian bisa melihat air laut bahkan bisa mandi air laut" jelas Amrita pada putrinya.


--


Pantai Lae-Lae


Kapal laut baru saja sandar di pelabuhan kapal kecil Pulau Lae-Lae. Aziz menurunkan kedua anaknya yang dibantu oleh papanya. Lalu giliran orang dewasa yang turun. Setelah penumpang turun, Aziz dan Fakri menurunkan barang bawaan mereka.


"Sayang, jalannya pelan-pelan" ujar Amrita pada kedua anaknya.


Aziz dan keluarganya diantar oleh seorang pria paruh baya yang tinggal di pulau tersebut. Sesampinya di tempat tujuan, mereka pun beristirahat di rumah kecil yang biasa disebut bale-bale oleh masyarakat di pulau itu dan sekitarnya.



"Fakri, keluarkan makanan untuk kita makan siang" titah Aziz.


"Iya, Kak" balas Fakri lalu mengambil makanan yang mereka bawa.


Setelah makan siang, mereka beristirahat sejenak. Aziz yang melihat kedua anaknya menguap, pria itu langsung berdiri mengambil tenda yang ia bawa. Lalu memasangnya dipinggir bale-bale. Usai memasang tenda, ia menghampiri anak dan istrinya.


"Sayang, panggil Fattan dan Fadila.Tidurkan mereka di dalam tenda" titah Aziz.


"Iya, Mas" balas Amrita.


"Fattan, Fadila, ayo kita ke tenda. Kalian bisa tidur di sana" ajak Amrita tersenyum.


"Iya, Ma" balas Fattan dan Fadila bersamaan. Lalu turun dari tenda yang dibantu oleh Mama mereka. Sementara Tante Eka, Mbak Ima dan Hanin terlelap di bale-bale.


--


Pukul 18:02 PM


Aziz sedang berduaan dengan istrinya. sementara Fattan dan Fadila duduk bersama Fakri, Hanin, Mbak Ima, Tante Eka dan Pa Sofyan. Selang beberapa puluh menit Aziz menoleh ke arah tenda. Dilihatnya sang Papa dan Ibu sudah tidak ada di dalam lingkaran.

__ADS_1


"Ya Allah, kabur lagi mereka" gumam Aziz menggeleng.


__ADS_2