Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 45


__ADS_3

"Usia kandungan Ibu Sakia memasuki minggu ke-9. Mohon untuk jaga kesehatan dengan tidak melakukan pekerjaan yang berat-berat. Satu lagi, jangan sampai Ibu hamil stres" jelas Dokter Nurma.


Fattan dan Sakia mengangguk paham. "Iya, Dok" jawab Sakia.


"Tanggal 6 bulan 5 Ibu ke sini lagi untuk cek up kandungan. Dan ini resep, silahkan Ibu dan Bapak ke Apotek" kata Dokter Nurma.


"Baik, Dok. Kami permisi dulu, Assalamualaikum" pamit Fattan yang dibalas "Ya" dan "Waalaikumsalam" oleh Dokter Nurma.


Fattan menggandeng tangan istrinya seraya melangkahkan kaki menuju Apotek. Sepanjang jalan, pria itu terus mengulas senyum dan sekali-kali melirik perut rata istrinya. "Kak Fattan penasaran sama yang diucapkan oleh Fadli. Apa benar anak kita kembar?" bisik Fattan bertanya.


Sakia terkekeh. "Kia juga penasaran. Yang pasti, mau kembar dengan tidaknya, mau laki-laki atau perempuan, kita harus mensyukuri kehadirannya" jelasnya.


Fattan menuntun Sakia duduk di kursi yang telah disediakan di depan Apotek. Lalu dia meletakkan resep di keranjang yang telah disediakan di tempat penyerahan resep, kemudian menghampiri istrinya di tempat duduk. Tak lama, nama Sakia dipanggil, Fattan pun beranjak dari duduknya, berjalan menuju tempat pengambilan obat.


"Terima kasih" Fattan tersenyum seraya mengambil obat yang diserahkan oleh salah satu tenaga Farmasi.


"Sama-sama, Dok" balas sang wanita yang bertugas di bagian penyerahan obat.


......🍁🍁......


Beberapa bulan kemudian...


Suara tangisan bayi mungil terdengar dari dalam ruang persalinan. Impian Tante Hanin dan Om Fakri belum terwujud. Karena lagi-lagi anak yang tumbuh kembang di dalam rahim Tante Hanin berjenis kelamin laki-laki.


Dari kejauhan, terlihat Sakia dan Fattan berjalan menuju ruang persalinan. Kedua pasangan itu langsung ke rumah sakit setelah mendapat panggilan telepon dari Papa Aziz. Di depan ruang persalinan, ada Papa Aziz, Alif, Nurin dan Fadila. Farhan tidak datang karena pria itu menjaga anak-anaknya.


"Apa sepupuku sudah lahir?" tanya Fattan pada Papa Aziz.


"Sudah, Nak" jawab Papa Aziz.


"Perempuan atau laki-laki?" tanya Sakia penasaran.


"Laki-laki" jawab Alif.


Fattan menghela napas pelan. "Laki-laki lagi" gumamnya pelan.

__ADS_1


Cek--lek... (Pintu ruang persalinan terbuka). Seorang bidan keluar membawa bayi mungil ke dalam ruang bayi. Tak lama, Hanin pun dipindahkan ke ruang perawatan. Papa Aziz dan yang lainnya mengikut masuk ke dalam ruang perawatan Tante Hanin.


......🍁🍁......


Waktu begitu cepat berlalu, usia kandungan Sakia, Nada dan Nurin semakin membesar. Ketiga wanita itu sangat dimanjakan oleh keluarga masing-masing. Terlebih lagi Nurin yang dikabarkan bahwa janin yang dikandungnya adalah bayi perempuan. Hal itu membuat Tante Hanin dan Om Fakri sangat bahagia, begitu juga dengan Alif-yang sangat mengidamkan adik perempuan. Sementara Sakia, wanita itu tidak mau mengetahui jenis kelamin janin yang dikandungnya.


"Perkiraan dokter, kapan kamu akan melahirkan?" tanya Sakia pada Nurin. Sakia, Nurin dan Nada berada di rumah mewah milik pasangan Sakia dan Fattan. Ketiganya duduk santai di sofa lantai 1.


"Tanggal 21, Kak" jawab Nurin sambil memegangi perutnya yang tinggal sepuluh hari lagi bakal bongkar muatan alias melahirkan.


"Kalau kamu, Nada?" tanya Sakia berganti menatap Nada.


"Dua hari sebelum Nurin" jawab Nada tersenyum.


...---...


Sore hari, sepulang kerja, Alif dan Ferri datang ke rumah Fattan untuk menjemput istri mereka masing-masing. Dan kini, kedua pria itu sudah berada di dalam rumah Fattan bersama sang pemilik rumah.


"Mas!! sepertinya aku akan melahirkan!" kata Nurin serius, air ketubannya pun pecah saat mereka duduk di sofa.


"Anakku sudah mau keluar!" rintih Nurin, peluh mulai bercucuran di dahinya.


"Alif, Ferri, cepat bawa Nurin ke mobil, biar aku yang mengemudi" titah Fattan bergegas mengambil kunci mobilnya.


Alif dan Ferri membawa Nurin keluar, tak lama, Fattan pun datang membukakan pintu mobil. Alif duduk di samping istrinya, sementara Ferri duduk di depan bersama Fattan. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, dalam perjalanan ke rumah sakit, ponsel Ferri berdering.


"Astaghfirullah, aku lupa istriku" Ferri menepuk jidatnya.


"Sakia juga masih di rumah" ucap Fattan yang juga membulatkan mata. "Cepat angkat teleponnya" titah Fattan.


"Kak Feri..." suara nyaring Sakia terdengar nyaring membuat Ferri menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Maafkan kami, kami lupa membawa kalian" ujar Feri.


"Kalian mau ke rumah sakit mana?" tanya Sakia.

__ADS_1


"Rumah Sakit Awal Bross" jawab Ferri. "Kia, siapa yang menjerit?" tanya Ferri yang tiba-tiba mendengar jeritan wanita.


Belum sempat Sakia menjawab, daya ponsel Ferri habis. Ferri menoleh ke belakang, melihat Nurin yang sedang mengatur napasnya. Tak lama, mereka pun sampai di rumah sakit. Alif dan petugas medis lainya membawa Nurin ke ruang persalinan sementara Fattan dan Ferri berniat kembali ke rumah.


"Bukannya itu mobilku" gumam Ferri menatap mobil yang baru saja berhenti di belakang mobil Fattan.


"Kak Fattan, Ferri, tolong bantu aku" pinta Sakia sambil membuka pintu mobil.


Fattan dan Ferri terperanjat saat melihat Nada berkeringat dingin di dalam mobil. Dengan segera Fattan memanggil petugas medis untuk membawa brankar roda. Petugas pun datang sambil membawa brankar roda lalu membawa Nada ke dalam ruang persalinan.


Di depan rumah sakit, Fattan menatap Sakia yang nampak lelah. "Tunggu di sini, Kakak beli aqua dulu" kata Fattan bergegas mencari warung kecil. Tak lama, ia kembali sambil membawa sebotol air.


"Minum dulu" titah Fattan sambil menyerahkan air pada istrinya.


Sakia mengambilnya. "Kak Fattan, tolong parkir mobil Ferri di tempat parkir" pinta Sakia.


Fattan mengangguk lalu memarkirkan mobilnya di tempat parkir kemudian memarkirkan mobil Ferri di tempat parkir. Usai memarkirkan mobil, Fattan menghampiri istrinya.


"Ayo kita temui mereka" ajak Fattan seraya menuntun istrinya berdiri.


Sakia mengatur napasnya. Sejak dalam perjalanan hingga saat ini, janinnya terus bergerak. "Kak Fattan, apa mungkin anak kita takut? Sejak tadi dia menendang" jelas Sakia.


"Mereka panik karena Kia panik" jawab Fattan menjelaskan.


"Fattan.." seseorang memanggil Fattan. Fattan dan Sakia menoleh, dilihatnya Om Fakri, Tante Hanin dan Papa Aziz berlari ke arah mereka.


"Apa Nurin sudah melahirkan?" tanya Tante Hanin.


"Kami juga belum tahu Tante, kami baru mau ke ruang persalinan" jawab Fattan.


Keluarga Zakri bersamaan ke ruang persalinan. Tidak ada orang di depan ruang persalinan, karena Alif menemani Nurin, begitu juga dengan Ferri yang menemani Nada.


"Kak Fattan, tolong hubungi Tante Anita, tadi Kia panik jadi nggak sempat menghubunginya" pinta Sakia.


Belum sempat Fattan menghubungi Tante Anita, wanita separuh baya itu bersama putrinya berlari kecil menghampiri mereka yang sedang duduk di depan ruang bersalin.

__ADS_1


"Apa cucuku sudah lahir?" tanya Tante Anita.


__ADS_2