Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 38


__ADS_3

Amrita menatap ponsel miliknya, rasa cemas menghampiri dirinya saat nama Dokter Aher terpapang jelas dilayar ponsel. Ia takut suaminya kenapa napa di Bandung. Terlebih lagi ini sudah larut malam. Untuk mengurangi kecemasannya, Amrita pun menjawab panggilan masuk dari Dokter Aher.


"Assalamualaikum" terdengar seseorang mengucap salam dari seberang telepon.


"Waalaikumsalam" balas Amrita tanpa tanya. Ia masih fokus mendengar suara pria yang begitu familiar.


"Amrita, ini aku Aziz. Ponselku dijambret orang jadi aku meminjam ponselnya Aher untuk menghubungimu" jelas Aziz.


"Bukannya tadi Mas Aziz bilang mau istrahat. Kok bisa sekarang bilang ponselnya dijambret. Apa tadi Mas Aziz membohongiku?" batin Amrita.


"Iya Mas. Mas baik-baik saja kan?" tanya Amrita.


"Aku baik-baik saja" balas Aziz.


"Ya sudah. Aku mau istrahat dulu. Ini sudah larut malam. Assalamualaikum" ujar Amrita lalu memutuskan panggilan.


---------------


Malam telah berlalu, siang pun kembali menyapa. Hujan lebat kembali mengguyur Kota Makassar. Membuat Kota indah itu terlihat macet karena kendraan roda empat dan roda dua harus berhenti dipertengahan jalan.


Kediaman Pa Sofyan


Berhubung hari ini hari kamis dan hujan sedang mengguyur kota Makassar, maka keluarga Pa Sofyan memilih menikmati manisnya kopi hangat di pagi hari.


"Bu, hari ini hujannya awet ya" ujar Fakri bermanja pada ibunya.


"Memangnya kenapa?" tanya Tante Eka sembari menatap putranya.


"Ya Ibu... pura-pura nanya lagi!" gerutu Fakri.


"Paling minta dimasakin nasi goreng" timpal Pa Sofyan santai sembari menatap koran yang ia baca.


"Papa saja paham masa Ibu tidak" ujar Fakri cemberut.


Amrita dan Afika menggeleng kepala melihat Fakri yang sudah dewasa namun masih bermanja tanpa malu-malu. Keduanya memalingkan padangan mereka ke tempat lain saat Fakri menatap keduanya secara bergantian.


"Amrita sayang. Sekalipun kamu istri Kak Aziz tapi aku masih berstatus sahabat kamu kan. Boleh dong aku minta dimasakin nasi goreng seperti dulu lagi. Seperti di Pondok Mega dulu saat kita pulang dari Sekolah" ujar Fakri mengambil tempat disamping Amrita.

__ADS_1


"Dari dulu tidak pernah berubah. Doyan makan tapi malas kerja!" ketus Amrita namun menurut. Amrita beranjak dari sofa berjalan menuju dapur. Dibelakang Amrita ada Afika dan Fakri yang mengekor ikut ke dapur.


"Afika, apa kamu tahu bikin nasi goreng?" tanya Amrita sembari membuka kulkas mengambil telur.


"Tahu, tapi sedikit. Di rumah aku jarang memasak karena Ibu selalu memarahiku bila aku ke dapur" balas Afika.


"Baguslah jika kamu tahu. Ingat! Sepintar apapun seorang wanita dan setinggih apapun pendidikannya, jika dia tidak pandai memasak maka dia harus pintar mencari pasangan hidup. Karena sebagian dari laki-laki di luar sana ada yang tidak suka makan makanan di warung. Buktinya suamiku, dia jarang beli makanan di luar karena dia lebih suka makanan yang dimasak langsung oleh istrinya" jelas Amrita.


"Kalau begitu biarkan aku yang membuat nasi goreng untuk Fakri. Kamu cukup beritahu aku apa-apa yang harus aku taru lebih dulu" ujar Afika.


"Yakin kamu mau memasak untuk ku?" tanya Fakri memastikan.


"Iya sepupuku yang bawel dan manja badai!" ketus Afika lalu mengambil afron kemudian memakainya.


--------------


Bandung 10:00 pagi


Amaris Hotel Cihampelas


"Kenapa Amrita tidak menjawab panggilan dariku?" gumam Aziz.


"Mungkin dia tidak pegang ponselnya atau mungkin dia lagi bersama orang tuamu" ujar Dokter Aher.


"Bisa jadi" balas Aziz santai.


Paris Van Java Mall


Taxi berhenti di depan Mall, Aher dan Aziz pun turun dari mobil berjalan masuk ke dalam Mall. Keduanya tetap terlihat tampan saat mengenakan baju santai ke Mall. Aziz berhenti tepat di depan baju kemeja wanita.


"Aher, kamu pernah melihat istriku kan. Apa menurutmu ini pas untuknya?" tanya Aziz sembari memegang baju kemeja yang agak besar.


"Hmmm sepertinya itu kurang bagus. Coba kamu lihat ini" balas Aher lalu memperlihatkan satu baju yang menurut Aher sangat bagus.


"Apa kamu yakin Amrita akan suka baju seperti ini?" tanya Aziz saat melihat baju kemeja warna pink.


"Betul juga sih. Dia kan agak tomboy ya. Biasanya orang seperti itu suka baju kemeja yang agak longgar sih" ujar Aher.

__ADS_1


"Daripada kita bingung mending kita beli baju gamis untuknya. Kamu bantu aku mendoakan istriku agar hidaya cepat menghampirinya. Dengan begitu dia bisa seperti wanita sholeha di luar sana" ujar Aziz.


"Hahahahaha. Itu pilihan yang terbaik menurutku. Ayo kita ke bagian sana, di sana ada baju gamis yang bagus-bagus" kata Aher menunjuk salah satu tempat yang menjual baju gamis.


Hampir dua jam mereka berkeliling di Mall mencari baju untuk Amrita dan ponsel untuk Aziz. Saat apa yang mereka cari sudah dibeli, keduanya memilih makan di Bakerzin Paris Van Java. Seusai makan, Aziz dan Dokter Aher memilih kembali ke Hotel karena hari ini juga mereka akan kembali ke Makassar.


Amaris Hotel Cihampelas


Aziz sedang memasukan barang belanjaannya ke dalam koper. Ia sengaja tidak memberitahu istrinya bahwa hari ini dia dan teman Dokter lainnya akan kembali ke Makassar.


"Apa kamu tidak mau menghubungi istrimu untuk menjemputmu di Bandara?" tanya Dokter Aher.


"Tidak. Aku tidak mau dia menunggu" balas Aziz santai.


"Menunggu apaan. Kamu tinggal bilang jam berapa kamu sampai nanti dia perkirakan jam berapa dia harus ke Bandara" jelas Aher.


"Kita sampai malam jam 10:20 Mana tega aku meminta istriku ke Bandara malam-malam" ujar Aziz.


"Hahahaha. Aku hanya mengunjimu. Dan sekarang aku tahu satu hal yang mungkin kamu tahu namun kamu simpan. Kamu sudah mulai jatuh cinta pada istrimu" jelas Aher tersenyum bangga.


Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Kini, Aziz dan Dokter lainnya sudah berada di Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara.


---------------


Makassar 10:20 malam


Kediaman Pa Sofyan


Amrita sedang berdiri di jendela kamar. Menatap layar ponselnya menunggu seseorang menelepon. Namun sejak siang tadi sampai malam Aziz tak kunjung menghubunginya. Amrita membuka jendela kamar, menatap ke luar memandangi langit yang begitu gelap.


"Apa Mas Aziz sedang sibuk hingga tidak menghubungiku?" batin Amrita. Amrita menutup jendela kamar saat ia mendengar seseorang menyebut namanya. Suara itu seperti suara aneh yang seperti hantu.


"Am-ri--ta----- di-ngin----" suara itu begitu jelas terdengar ditelinga Amrita.


"Hantu...!!" Amrita berteriak sekuat tenaga lalu lari ke luar dari kamarnya.


"Hahahahahaha" Aziz tertawa terbahak bahak saat rencananya untuk mengerjai istri nakalnya itu berhasil.

__ADS_1


__ADS_2