Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 93


__ADS_3

Rumah nomor A20


Pemilik Rumah nomor A20 sedang bersiap-siap memasak. Tiba-tiba bel rumah berdentang empat kali. Karena rasa penasaran, sang pemilik rumah-Mahdania berjalan menuju pintu. Samar-samar ia mendengar seseorang di luar mengucap salam.


"Sepertinya itu Amrita" gumam Mahdania membukakan pintu rumah.


Cek--lek... (Pintu rumah terbuka)


"Assalamualaikum Mbak Nia" ucap Amrita sambil membawa satu mangkuk sayur rebung santang campur sayur katuk.


"Waalaikumsalam. Ayo masuk" balas Mahdania.


"Nggak usah Mbak. Aku hanya mau bawa sayur untuk kalian makan malam nanti. Mumpung aku masaknya banyak" ujar Amrita tersenyum sambil menyodorkan mangkuk sayur.


"Terima kasih banyak ya, Amrita" ucap Mahdania mengambil mangkuk dari tangan Amrita.


"Sama-sama, Mbak. Aku pulang dulu ya. Assalamualaikum" balas Amrita, mengucap salam lalu kembali ke rumah nomor A19.


Rumah Nomor A19


Fattan dan Fadila duduk melingkar dilantai bersama Papa mereka. Ketiga makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna itu sedang belajar bersama. Aziz mengajari kedua anaknya menyebut warna, dengan cara meletakkan lima bola berwarna merah, putih, kuning, ungu dan biru.


"Lagi apa?" tanya Amrita menghampiri anak dan suaminya.


"Belajar" jawab Fattan tersenyum.


Amrita membalas senyuman putranya lalu bergabung dengan keluarga kecilnya. "Mas, sekarang Mas mandi ya. Nggak lama lagi Magrib. Nanti aku yang ajarin mereka" titah Amrita.


Aziz mencium kedua anaknya kemudian beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar. Setelah mandi, kumandan adzan mulai bergema di masjid. Dengan segera Aziz bersiap-siap mengenakan baju kokoh dan sarung serta peci. Lalu ke luar menghampiri anak dan istrinya.


"Sayang, aku jamaah di masjid ya. Fattan, Fadila, Papa pergi shalat dulu ya Sayang" pamit Aziz tersenyum lalu mengambil kunci motor disamping televisi.


"Mama shalat" celoteh Fadila menatap mamanya.


Amrita tersenyum. "Mama mau shalat tapi Fadila dan Kakak Fattan harus tunggu Mama di sini. Nggak boleh ke mana-mana" balas Amrita menjelaskan selayaknya mengajak anak kecil berbicara.

__ADS_1


"Iya, Mama" balas Fattan dan Fadila.


Amrita masuk ke dalam kamar mengambil wudhu. Lalu bersiap-siap menunaikan shalat magrib. Fattan dan Fadila beranjak dari lantai dan masuk ke dalam kamar. Keduanya duduk dibelakang sang Mama, memperhatikan setiap gerakan shalat yang dikerjakan mamanya. Setelah shalat, Amrita mengambil Al-qur'an di atas nakas. Lalu membukanya dan mencari tanda batas, agar dia tahu sudah sampai di mana dia mengaji.


"Mama, mau" ujar Fadila menunjuk Al-qur'an.


"Fadila mau mengaji?" tanya Amrita tersenyum, dibalas anggukan oleh Fadila dan Fattan.


Amrita mengambil gambar yang tertulis huruf hijaiyyah. "Ayo sini, dekat-dekat sama Mama" titah Amrita.


Fattan dan Fadila mendekat. Keduanya duduk bersila layaknya orang dewasa. Keduanya diam, menunggu aba-aba dari Mama Amrita. Sementara Amrita memperhatikan mimik wajah anaknya yang terlihat serius. Amrita mulai membaca kalimat Ta'awuz dan basmalah.


أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.


"A'udzu billahi minasy syaithaanir rajiim"


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ.


"Bismillaahir rahmaanir rahiim"


"Alif" sebut Amrita menunjuk bagian alif.



"Sayang. Nanti baru belajar lagi ya, Mama mau shalat isya dulu" ujar Amrita pada kedua anaknya. Fattan dan Fadila mengangguk, keduanya kembali duduk ke belakang Mama Amrita.


Setelah shalat isya, Amrita mengajak kedua anaknya ke ruang keluarga. Lalu mengambilkan makanan di dapur dan mulai menyuapi kedua anaknya. Fattan dan Fadila makan dengan lahap. Usai keduanya makan malam, Amrita kembali melanjutkan aktivitasnya, yaitu menyusun proposal penelitian.


"Assalamualaikum" seseorang dari depan pintu mengucap salam.


"Waalaikumsalam wr wb" balas Amrita.


"Papa..." panggil Fattan tersenyum, sementara Fadila serius menggambar bola.


"Iya, Sayang" sahut Aziz menghampiri kedua anaknya. "Udah makan ya?" tanya Aziz pada putranya.

__ADS_1


"Sudah" balas Fattan dengan singkat.


"Mas, mau makan sekarang atau nanti?" tanya Amrita tanpa mengalihkan pandangannya dari layar leptop.


"Nanti saja. Kamu kerjakan dulu proposalmu dan nanti aku yang menidurkan anak-anak" balas Aziz.


Aziz membawa kedua anaknya di kamar yang berseblahan dengan kamar mereka. Kamar yang awalnya adalah kamar tamu, kini didekorasi sebagus mungkin untuk ditempati Fattan dan Fadila. Di dalam kamar, Aziz mengajak anaknya bermain hingga kedua anak kecil itu memilih tidur di lantai. Aziz tersenyum lalu memindahkan satu persatu anaknya di atas tempat tidur. Menyelimuti sebagian tubuh mungil keduanya dan tak lupa mengecup puncak kepala mereka. Lalu mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur.



"Sayang, ayo kita makan. Setelah itu aku bantu kamu kerjakan proposal" ajak Aziz.


Amrita tersenyum sumringah mendengar kalimat manis yang sangat ingin didengarnya, yaitu bantuan mengerjakan proposal. "Ayo Mas..." balas Amrita dengan antusias.


Aziz maupun Amrita menggeser kursi lalu duduk. Kemudian Amrita membuka tudung saji dan meletakkannya di kursi. "Mas, jangan lupa cuci tangan dan baca doa" ujar Amrita.


Aziz yang baru saja mengulurkan tangannya untuk mengambil ikan goreng, pria itu tersenyum lebar lalu mencuci tangannya di mangkok yang sudah disiapkan untuk cuci tangan "Terima kasih sudah diingatkan" ujarnya.


Menu malam ini yaitu sayur rebung santan campur sayur katuk. Ikan goreng dan sambal tomat. Itulah menu yang tersaji di atas meja makan. Setelah makan dan membersihkan piring kotor, Aziz dan Amrita kembali ke ruang keluarga. Sesuai janji yang tadi Aziz buat, membantu istrinya mengerjakan proposal agar sang istri bahagia.


"Mas, marginnya aku belum atur. Katanya sih 4-4-3-3. Spasi antara judul dan subbab yaitu 3 spasi" jelas Amrita.


"Iya. Sekarang kamu cari jurnal tentang Mukolitik" titah Aziz.


Amrita mulai mencari jurnal tentang mukolitik. Ada beberapa jurnal yang ia temukan, ia pun menyimpannya dan menyalinnya di leptop. Kini giliran Aziz membaca jurnal tersebut. Setelah membacanya, Aziz menyalin beberapa kalimat yang ada di jurnal lalu mengubah kata-katanya, tapi maksudnya sama dengan literatur. Jika tidak diubah, maka itu sama saja dengan yang namanya plagiat. Dan saat turnitin nanti, bisa jadi sang istri akan banyak merevisi. Itulah kenapa Aziz lebih dulu mengubah setiap kata yang ada di literatur.


--


Pukul sebelas malam, proposal yang diedit Aziz telah selesai hingga cara kerja. Begitupun dengan Amrita, cara kerja yang ia buat dalam bentuk bagan sudah selesai. Tinggal daftar pustaka yang belum.


"Mas, ayo kita tidur. Nanti besok pagi baru aku yang buat daftar pustakanya" ujar Amrita.


"Iya, Sayang" balas Aziz tersenyum. Keduanya mematikan leptop masing-masing lalu masuk ke kamar. Di dalam kamar, Aziz melirik istrinya yang tengah mengganti pakaiannya, dengan baju tipis yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.


"Hati-hati, Mas. Jangan sampai ada yang bangun" ledek Amrita menyadari tatapan suaminya.

__ADS_1


"Hahahaha" Aziz terkekeh. "Memang sudah bangun. Sayang, ayo kita buat adik untuk sikembar" ajak Aziz.


Mau tidak mau, Amrita harus melayani suaminya. Menolak ajakan suaminya sama saja dengan dia kembali pada sifatnya yang dulu. Kini, dia sudah banyak belajar tentang kewajibannya sebagai seorang istri.


__ADS_2