
Assalamualaikum. Hai Kak, sempat ada yang belum mampir di karya author yang sudah tamat 😊 Yuk mampir, dijamin tidak megecewakan 😁😁😁
...----------------...
Happy Reading 😊
"Om, beli satu saja. Pakaian di sini sangat mahal" bisik Amrita pelan.
"Aku yang bayar tapi kamu yang sewot" balas Aziz tak kalah pelan.
"Aku tahu Om yang bayar tapi baju itu terlalu mahal" ujar Amrita menekan kalimatnya.
Aziz tak menggubris apa yang dikatakan istrinya. Ia mengeluarkan kartu ATM untuk membayar tagihan belanjaan mereka. Sedangkan Amrita, tak henti-hentinya mengumpat di belakang suaminya.
"Aneh tapi nyata. Saat ibu meminta ketemuan di Mall, Om berkata bahwa isi dompet Om akan menipis. Dan sekarang, Om sendiri yang membuat isi dompet Om menipis" gumam Amrita sedikit mendekat di telinga suaminya.
"Karena aku tahu bagaimana ibu. Sebentar lagi kamu akan membulatkan mata tak percaya" balas Aziz. Dan benar saja, beberapa detik kemudian, terlihat Tante Eka, Fakri serta Afika. Ketiganya sedang berjalan menghampiri Aziz dan Amrita di kasir.
"Sayang, ibu lupa bawa dompet. Tolong kamu bayar tagihan belanjaan adikmu ya" pinta Tante Eka tersenyum. Kemudian pergi melihat-lihat jualan yang lain. Sedangkan Afika dan Fakri membulatkan mata tak percaya. Setahu Fakri, ibunya itu selalu membawa dompet kemana pun ibunya pergi.
"Kamu sudah dengar sendiri kan" gumam Aziz pelan pada istrinya.
"Tapi aku bangga pada Om, Om sangat baik pada keluarga" balas Amrita tersenyum ramah.
"Aku sering mendengar kalimat itu. Kamu bukan orang pertama yang mengatakannya tapi Anaya, dia wanita pertama yang berkata bahwa aku baik" balas Aziz santai.
Amrita meninggalkan Aziz seorang diri di kasir. Ia berjalan menghampiri ibu mertuanya, Afika dan Fakri yang ada di lantai dua. Entah kenapa, Amrita mulai tidak suka Aziz menyebut-nyebut nama Anaya.
Di kasir, Aziz membayar tagihan belanjaan sebanyak satu jutah lima ratus ribu rupiah. Setelah selesai membayar, Aziz membawa barang belanjaannya di bagasi mobil. Ia memilih duduk di mobil daripada menghampiri keluarganya di dalam MTOS. Saat ia sedang melihat-lihat di area parkiran, pandangannya tertuju pada seorang wanita yang baru saja ke luar dari mobil bersama seorang pria yang juga dikenal oleh Aziz.
"Rikal, bukannya itu Rikal. Sejak kapan dia tiba di Indonesia?" gumam Aziz. Aziz ke luar dari mobil menghampiri Rikal dan Anaya.
__ADS_1
"Kamu Rikal kan?" tanya Aziz.
"Aziz..." Rikal membulatkan mata tak percaya.
"Apa kabar Bro?" tanya Rikal. Rikal dan Aziz berteman sejak mereka SMP sampai SMA. Mereka berpisah saat keduanya sudah lulus sekolah. Aziz melanjutkan study di Yogyakarta sedangkan Rikal di Luar Negri.
"Alhamdulilah baik. Jangan bilang kalau kalian berdua berpacaran?" tanya Aziz menyelidik.
Rikal terkekeh. "Aku sudah melamarnya. Dan dua bulan lagi kami akan menikah" ujarnya.
"Aku harap kamu dan istrimu bisa datang diacara pernikahan kami nanti" ujar Anaya yang sedari tadi hanya tersenyum.
"Tentu saja Anaya" balas Aziz. Aziz menoleh saat mendengar suara ibunya yang begitu nyaring menyebut namanya.
"Aziz, kami ke dalam dulu ya" ujar Anaya. Anaya mencoba menghindar dari Tante Eka. Sejak kejadian waktu lalu, Tante Eka mulai tak suka melihat Anaya.
"Sayang, ayo kita pulang. Papa kalian sudah menelpon" kata Tante Eka lalu masuk ke dalam mobil milik Aziz. Fakri dan Afika pun ikut masuk ke dalam.
"Kalian bertiga tidak salah makan makanan kan?" tanya Aziz mengerutkan keningnya.
"Ternyata kita salah masuk mobil" timpal Tante Eka terseyum lebar lalu ke luar dari mobil putranya. Ia membuka pintu mobil yang terparkir disamping mobil putranya lalu masuk ke dalam. Beberapa detik kemudian, Afika dan Fakri pun ikut masuk ke dalam.
Amrita terkekeh saat melihat Aziz mengusap wajahnya dengan kasar. Ia pun berencana untuk mengerjai suaminya. "Tunggu pembalasanku, Om" batin Amrita.
"Cepat masuk" titah Aziz tanpa ekspresi. Melihat ekspresi suaminya, Amrita dibuat kesal. Dengan segera, Amrita masuk ke dalam mobil namun duduk di belakang.
Aziz menggelengkan kepala saat melihat istrinya lebih memilih duduk dibelakang daripada duduk disampingnya. "Seperti anak kecil saja" gumam Aziz pelan.
Kediaman Pa Sofyan
Amrita turun dari mobil meninggalkan suaminya yang masih berada di dalam. Ia berjalan masuk ke dalam rumah bersama dengan ibu mertua dan kedua temannya. Sesampainya di dalam rumah, Amrita menghampiri Fakri yang hendak naik ke lantai dua.
"Fakri, ada rapat hari ini. Apa kamu tidak mau ke beskem?" bisik Amrita.
"Aku mau ke sana. Apa kamu juga ingin ke sana?" Fakri balik bertanya.
"Aku mau, tapi kamu tahu sendiri kan, di sini ada Om Aziz" balas Amrita cemberut. Seketika ia menyunggingkan senyum menatap Fakri. "Apa kamu punya ide agar aku bisa pergi?" tanya Amrita.
__ADS_1
"Aku punya ide" ujar Fakri lalu berbisik ditelinga Amrita.
"Ide yang bagus" balas Amrita. Amrita mulai menjalankan aksinya. Ia berjalan menghampiri ibu mertuanya yang tengah menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Bu, aku ingin membisikkan sesuatu pada ibu" ujar Amrita.
Tante Eka tersenyum lalu mendekatkan telinganya pada menantu kesayangannya. Di depan pintu, Aziz menaikan alisnya saat melihat istri dan ibunya tertawa.
"Afika, apa kamu tahu apa yang membuat ibu dan Amrita tertawa?" tanya Aziz pada Afika yang baru saja ke luar dari kamarnya.
"Tidak, aku tidak tahu" balas Afika.
"Aziz, apa kamu punya uang di dompetmu? Tolong berikan pada istrimu untuk membeli sayur, ika, ayam dan rempah-rempah. Ibu mau buat ayam palekko" ujar Tante Eka.
"Semakin hari ibu semakin memerasku" batin Aziz lalu mengambil dompetnya. Mengambil uang seratus sebanyak dua lembar, menyerahkannya pada Amrita.
"Hati-hati di jalan" ujar Aziz pada istrinya.
Amrita menyunggingkan senyum. "Baik, Om" balas Amrita. Amrita berjalan menghampiri Fakri yang tengah menunggunya di depan rumah.
"Ide kamu sangat sempurna" ujar Amrita pada Fakri.
Fakri terkekeh. "Tentu saja. Aku jagonya," balas Fakri lalu menyalakan mesin motor.
Beskem Mapala
Amrita dan Fakri sampai di Beskem Mapala. Keduanya berjalan masuk ke dalam beskem. Di dalam beskem, banyak senior mereka yang sejak tadi datang. Amrita dan Fakri duduk disamping Hanin. Selang beberapa detik, rapat pun dimulai.
Di tempat lain, Aziz terlihat mondar mandir di depan pintu rumah. Tak henti-hentinya ia melirik jam yang ada dipergelangan tangannya.
"Waktu tempuh dari rumah ke pasar hanya enam menit. Dan sekarang, sudah dua jam Amrita dan Fakri ke luar dari rumah. Apa mereka pergi tawuran lagi? Tapi mana mungkin orang tawuran di siang bolong" gumam Aziz.
"Ya Allah, kenapa aku baru sadar kalau Amrita yang nakal itu pasti bekerjasama dengan ibu untuk bisa ke luar dari rumah bersama Fakri. Dengan alasan pergi belanja" gumam Aziz mengacak ngacak rambutnya dengan kasar. Ia baru menyadari alasan istrinya.
"Aziz" panggil Tante Eka. Tante Eka menuruni anak tangga menghampiri putranya. "Mana ponselmu? Ibu pinjam sebentar" kataTante Eka sembari mengulurkan tangannya.
Aziz terlihat panik. Dengan terpaksa ia meminjamkan ponselnya. "Ya Allah, jangan biarkan apa yang hamba takutkan terjadi" batin Aziz.
__ADS_1