
Ralat ya kak. Awalnya tanggal satu baru lanjut, tapi karena konsep udah hampir seribu kata jadi saya lanjutin dan Up yang ini. Ngak janji untuk Up tiap hari ya. 😊
----
Pukul dua belas malam, Aziz dan Amrita tiba di Perumahan. Baik Aziz maupun Amrita nampak biasa saja. Aziz tidak mendengar apa yang dikatakan Safira saat mereka di pernikahan Anaya. Dan Amrita, wanita itu tetap terlihat santai sekalipun pelakor dengan terang terangan berkata akan menjadi istri kedua.
"Selamat tidur Sayang"
tiga kata yang Aziz ucapkan sebelum memejamkan mata. Aziz sedang berjuang untuk bisa membuat istrinya tak berpaling darinya. Sebenarnya, tanpa ia berusaha pun, Amrita sudah jatuh cinta dan tak akan mau meninggalkannya.
"Iya Mas" balas Amrita.
----
Keesokan harinya
Amrita membawa mesin ketiknya kelantai satu. Hari ini dia dan teman-temannya akan mengerjakan laporan bersama. Dilantai satu, ada sikembar Zain dan Zian yang sedari tadi memperhatikannya. Keduanya tidak tahu apa yang di bawah oleh Tante Amrita.
"Mau pergi Sekolah?" tanya Zian.
"Iya Sayang, Tante mau pergi Sekolah" balas Amrita tersenyum. Amrita melangkah keluar, meletakkan mesin ketik Nya dibagian depan motor.
"Aku belum pamit pada Mas Aziz" batin Amrita. Amrita berbalik berniat naik ke lantai dua. Namun niatnya ia urungkan saat mendapati suaminya berdiri dibelakangnya, bersama sikembar Zain dan Zian.
Aziz tersenyum, begitupun dengan sikembar. Seperti biasa, Aziz akan memberikan uang jajan untuk istrinya. Jika hari-hari sebelumnya uang yang diberikan sebanyak lima puluh ribu maka hari ini Amrita masuk dalam kategori beruntung. Hari ini Aziz mengeluarkan uang seratus limah puluh ribu.
"Ini uang jajan di kampus" kata Aziz sembari menyerahkan uang lima puluh ribu. "Dan ini untuk penyemangat saat kamu mengetik laporanmu" kata Aziz lagi sembari menyerahkan selembar uang merah.
"Terima kasih Mas. Aku ke Kampus dulu ya, Assalamualaikum"
__ADS_1
Amrita menyalami suaminya lalu mencium Zian dan Zain. Ia pamit dan langsung mengendarai motornya maticnya. Bahagia? Jelas, Amrita sangat bahagia. Semakin hari Aziz semakin menyayanginya. Menyesal menikah dengan Aziz? Ya, tapi itu dulu. Sekarang penyesalan itu berganti dengan rasa tak ingin melepaskan suaminya. Bukan karena hartanya, tapi kebaikan Aziz membuat Amrita merasa bahagia nikah muda dan dia merasa bahagia bersuamikan pria yang hanya memiliki satu mantan dalam hidupnya.
---
Fakultas Farmasi
Amrita dan teman sekelompoknya sedang sibuk dengan laporan mereka. Bukan hanya mereka, kelompok lain pun nampak sibuk. Di dalam kelas, tidak ada satu pun Mahasiswa yang duduk menganggur atau bermalas malasan. Mereka semua aktif dalam mencari bahan untuk diketik dalam laporan nanti.
"Simpan laporan kalian di dalam tas. Dosen yang mengajar pagi ini sudah dalam perjalanan menuju kelas" kata ketua kelas. Siapa lagi kalau bukan Fakri.
Semua Mahasiswa dalam kelas itu mulai membereskan laporan mereka yang diletakkan di atas meja. Beberapa menit setelahnya, Dosen pertama yang mengajar mata kuliah Farmakologi pun masuk dan memulai proses belajar mengajar.
"Ada tugas kelompok. Dalam satu kelompok hanya terdiri dari dua orang. Tugas ini kalian buat dalam bentuk makalah dan buat juga dalam bentuk Power Point. Untuk soalnya nanti Ibu kirim di ketua kelas dan nanti ketua kelas yang akan membagikan soal di group kelas"
"Baik Bu..."
---
"Ayo makan" ajak Aher yang tiba-tiba menepuk bahu Aziz.
"Astagfirullah. Aher, apa kamu tidak bisa mengucap salam saat masuk ke ruanganku! Kamu seperti hantu yang gentayangan di siang hari" celetuk Aziz.
"Hahahahaha. Aku sudah mengucapkan salam berkali kali tapi kamu tidak mendengarnya" ujar Aher mengambil tempat di depan sahabatnya.
"Ayo kita makan, aku lapar sekali. Hari ini Madania tidak membuatkan bekal untuk ku" kata Aher cemberut.
"Makanya, nikahi dia. Kamu dari dulu sampai sekarang, pacaran melulu" celetuk Aziz.
"Oke, oke. Sekarang ayo kita pergi makan" kata Aher menarik tangan sahabatnya.
__ADS_1
Aziz menghela napas dalam-dalam. Mau tidak mau dia harus menuruti keinginan sahabatnya itu. Hanya Aher yang bisa Aziz andalkan. Hanya Aher yang sangat dekat dekatnya. Ya, sekalipun Aher sering kali menjahili Aziz tapi menurut Aziz itu wajar dilakukan oleh teman atau sahabat.
Aziz dan Aher memilih makan di Kantin Rumah Sakit. Saat keduanya menelusuri lorong Rumah Sakit, tedengar seseorang memanggil Aher dan Aziz. Siapa lagi kalau bukan Safira. Wanita yang mengatakan bahwa dirinya akan menjadi istri kedua Aziz.
"Aher, kenapa dia harus bekerja di sini sih!" ketus Aziz pelan.
"Tanyakan saja padanya" balas Aher tersenyum.
Dari kejauhan, Safira berlari kecil menghampiri Aziz dan Aher. Wanita itu nampak ceria. Bahkan wajah imutnya tak memperlihatkan bahwa wanita itu akan menjadi pelakor. Lugu, imut dan manis. Dia terlihat lucu dan gemesin.
"Boleh aku gabung dengan kalian?" tanya Safira.
Aziz menatap Aher, begitupun dengan Aher, dia juga menatap Aziz. "Oke. Ayo kita ke kantin. Hari ini Aher akan mentraktir kita" balas Aziz tersenyum.
Aziz tidak tega jika harus menolak wanita itu. Sekalipun dia takut Safira akan menggodanya tapi Aziz juga punya hati. Toh ada Aher yang ikut makan ke kantin. Dan juga, sekalipun Safira berusaha merebut hati Aziz, jika Aziz tidak tergoda maka usaha Safira akan sia-sia saja.
Aziz, Aher dan Safira sudah sampai di Kantin. Aziz duduk disamping Aher. Sedang Safira, ia mengambil tempat di depan Aher. "Kalian mau pesan apa?" tanya Safira.
"Ibu Kantin sudah tahu apa yang akan kami pesan. Bentar lagi, makanan kami akan di antar ke sini" balas Aher. Aher dan Aziz sudah menjadi Dokter langganan di kantin. Cukup melihat wajah mereka, Ibu kantin sudah tahu apa yang harus ia sajikan untuk dua dokter tampan itu.
"Ya sudah, aku pesan makanan untukku dulu" balas Safira beranjak dari duduknya. Setelah memesan makanan, Safira kembali duduk.
Dering ponsel Aziz menghentikan percakapan mereka bertiga. Aziz mengambil ponselnya, tertera nama istri nakalku di layar sedang melakukan panggilan video call. Dengan segera Aziz menjawab panggilan dari istri nakalnya.
"Mas, lagi ngapain?" tanya Amrita tersenyum.
"Ini lagi nunggu pesananan. Mas ada ada di kantin bersama Om Aher dan Mbak Safira " balas Aziz.
"Baby, kamu udah makan ya?" tanya Aher yang tiba-tiba merampas ponsel sahabatnya.
__ADS_1
"Hahahaha. Sudah, Om. Om Aher, aku titip suamiku ya" jawab Amrita tersenyum.
Safira tersenyum sinis mendengar kalimat terakhir Amrita. "Dasar boca. Kalimat manismu tak mampan untuk membuatku cemburu. Namun sebaliknya, aku akan membuatmu cemburu hingga minggat dari rumah"