Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. Fattan-Sakia


__ADS_3

Novel ini sequel dari Novel Istri Nakal Dokter Aziz. Dalam Novel sequel ini diperankan oleh Fattan dan Sakia. Novel berlatar Kota Makassar. Dalam Novel Mengejar Cinta Istri. Fattan di sini sudah berpofesi sebagai Dokter di salah satu Rumah Sakit yang ada di Kota Makassar. Dan dalam Novel ini, ada Zainal Alif-Putra satu-satunya Hanin dan Fakri.


...---...


Sakia Putri Ahmadenar (24 tahun)


Wanita berjilbap dengan lesung pipi sebelah kiri. Dia kerap disapa Sakia. Tiap hari Sakia mengenakan baju gamis, baik dia di rumah maupun dia keluar rumah. Sakia bukan seorang sarjana, dia hanyalah wanita yang hobby berbisnis. Karena hobby berbisnis maka Sakia membuka butik yang diberi nama Butik Sakia Fashion. Jika ada yang bertanya kenapa Sakia tidak kuliah seperti Kakaknya, maka jawabannya sederhana saja. Dan jawabannya ada di alur cerita.


Fattan Furqan Zakri (28 tahun)


Bentuk tubuhnya yang masuk dalam kategori ideal membuat Fattan dikagumi banyak wanita. Terlebih lagi stylenya yang tidak ketinggalan zaman. Membuat ketampanannya semakin bertambah. Fattan bekerja di salah satu Rumah Sakit Swasta yang ada di Kota Makassar. Pria berumur 26 tahun itu memiliki wanita idaman sejak kecil, yang tak lain adalah Sabila Putri Ahmadenar.


Sabila Putri Ahmadenar (26 tahun)


Wanita yang kerap di sapa Sabila. Manis, cantik namun memiliki sifat yang kurang baik. Sabila Putri termasuk mahasiswa lulusan terbaik di Amarika Serikat dengan nilai yang sangat memuaskan. Dan kini, wanita itu sedang mengambil S3 nya di Kampus ternama di kotanya.


Zainal Alif (24 tahun)


Putra satu satunya dari pasangan suami istri, Fakri Zakri Alif dan Hanin Inaya. Alif adalah mahasiswa S2 Farmasi di Kampus Negeri yang ada di Kota Makassar. Pria itu melanjutkan study S2-nya setelah mengambil profesi apoteker.


...------...


Keluarga besar Aher dan keluarga besar Aziz duduk diam di ruang keluarga yang ada di rumah Aher. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Terlebih lagi Aher, pria paruh baya itu nampak frustasi dengan sikap putri sulungnya, Sabila Putri Ahmadenar. Sabila pergi dari rumah dan hanya meninggalkan sepenggal surat untuk keluarganya. Boleh dikata pernikahannya dengan Fattan Furqan Zakri tinggal menghitung hari.

__ADS_1


"Assalamualaikum" Sakia mengucap salam saat masuk ke dalam rumah. Wanita muslimah itu baru saja pulang dari Butik Sakia Fashion.


"Waalaikumsalam" balas semua orang yang ada di dalam ruang keluarga.


Sakia menghampiri keluarganya lalu mencium tangan Mama dan Papanya. Kemudian mengambil tempat di samping Mamanya. "Kenapa suasananya seperti mencekam. Apa terjadi sesuatu sebelum aku datang" batin Sakia.


"Mama, Papa, semuanya, Kia ke kamar dulu ya" pamit Sakia tersenyum canggung. Wanita itu tidak mau duduk diantara orang dewasa yang kini diam seribu bahasa.


"Sakia, tunggu sebentar" kata Aher menghentikan langkah putrinya.


Sakia menghentikan langkahnya. Berbalik menatap keluarganya. "Ada apa ini?" batin Sakia bertanya-tanya.


"Duduk dulu. Ada yang mau kami bicarakan denganmu" kata Papa Aher.


Aher menghela napas dalam-dalam. Pria paruh baya itu menatap putrinya. "Sakia, apa kamu menyayangi kami semua?" tanya Aher menatap putrinya.


Sakia mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan konyol yang keluar dari mulut Papanya. Yang benar saja Papa Aher meragukan kasih sayang Sakia pada mereka.


"Tentu saja, Papa. Kenapa Papa bertanya seperti itu. Kia rasa tanpa Kia jawab pun kalian tahu jawabannya" jelas Sakia.


"Jika benar kamu menyayangi kami maka lakukan satu hal yang bisa membuat Papa percaya jika kamu benar-benar menyayangi kami" kata Papa Aher dengan serius.


Mata Mahdania mulai berkaca-kaca. Wanita paruh baya itu tahu, permintaan suaminya akan melukai perasaan putrinya. Mahdania mengetahui apa yang sudah dialami Sakia. Aher pun tahu itu, tapi pria itu tetap pada pendiriannya.

__ADS_1


"By" Mahdania menggeleng, meminta suaminya untuk tidak melakukannya.


Aher tak memperdulikan istrinya. Pria paruh baya itu masih menatap putrinya. "Gantikan kakakmu sebagai calon istri Kak Fattan" kata Papa Aher.


Deg!! Sakia terkejut hingga membuatnya berdiri. Haruskah dia bahagia karena bisa menikah dengan pria yang pernah ada dihatinya atau bersedih karena lagi-lagi Papanya tidak memikirkan perasaannya.


"Kenapa selalu aku yang harus mengalah" batin Sakia.


"Kenapa harus Kia, Papa? Apa Kia bukan anak Mama dan Papa? Kenapa perasaan Kia sulit untuk kalian mengerti?" tanya Sakia beruntun dengan netra mata yang mulai berkaca-kaca.


Pertanyaan Sakia Putri membuat semuanya diam membeku. Terutama Mahdania. Wanita paruh baya itu tahu, putrinya sangat mencintai Fattan sejak Sakia masih SMP. Sakia belajar memasak karena obsesinya yang ingin membahagiakan Fattan. Dimana, suatu hari nanti, dia akan memasak untuk Fattan. Dan dia juga giat belajar agar bisa kuliah kedokteran sama dengan Fattan. Namun cita-cita itu menghilang dalam sekejap saat Papa Aher tidak memikirkan perasaan putrinya, Sakia.


"Kenapa Kakak nggak cari Kak Sabila? Apa Kakak nggak malu menerima apa yang keluarga ini katakan. Bukankah Kakak pernah berkata bahwa aku adalah adik yang akan nggak akan pernah bisa menjadi istri Kak Fattan!!" seruh Sakia menahan bulir bening yang sedari tadi menumpuk. Wanita itu mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini dia pendam sendiri.


"Sakia!!" bentak Papa Aher.


"Aher, jangan memaksanya, Nak. Jangan lukai hatinya" kata Nenek Eka.


"Pernikahan itu harus berlanjut. Sakia harus menggantikan Sabila" kata Papa Aher masih dengan pendiriannya.


Sakia meneteskan air mata yang sejak tadi menumpuk. "Kenapa harus Kia, Papa? Bukankah Papa tahu Alif akan datang melamar Kia" ujar Fadila sesenggukan


"Yang berada di sini adalah keluarga besar Alif. Jika mereka setuju kamu menikah dengan Fattan maka itu tandanya Alif juga menyetujui keputusan ini" seru Aher.

__ADS_1


Sakia mundur selangkah ke belakang. Menolak mentah-mentah kenyataan yang baru saja dia dengar. Lagi-lagi pria keluarga besar Zakri mempermainkan perasaan Sakia. Tidak Fattan, tidak Alif. Kedua pria itu sama dengan Papa Aher yang lebih memperdulikan Sabila daripada dirinya.


__ADS_2