Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 34


__ADS_3

Setelah melakukan panggilan telepon dengan suaminya, Sakia kembali tersenyum. Senyumnya yang indah seketika memudar saat mendengar tangisan dari lantai dua. Siapa lagi kalau bukan Nurin.


"Lebih baik aku tutup butik dan mencari informasi mengenai lamaran Alif. Kenapa bisa si Jono yang lamar Nurin? Alif yang datang terlambat atau dia ditolak" batin Sakia bertanya-tanya.


Sakia mencari nomor Tante Hanin lalu melakukan panggilan telepon. Tak lama menunggu, terdengar suara yang familiar dibalik telepon. "Assalamualaikum, Tante" sapa Sakia dengan ramah.


"Waalaikumsalam, Nak. Bagaimana kabarmu?" sahut Tante Hanin disusul pertanyaan.


"Alhamdulilah Kia baik-baik saja, Tante. Tante, Kia mau nanya, apa Alif menghubungi Tante?" tanya Sakia.


"Iya, Nak. Kata Alif mereka udah datang melamar Nurin. Hanya saja, saat mereka sampai di rumah Nurin, orang tua Nurin berkata, Nurin telah dilamar oleh laki-laki lain. Semoga saja Nurin mau terima lamaran Alif dan menolak lamar si pria yang melamar Nurin itu" jelas Tante Hanin.


"Keputusan ada di tangan Nurin karena Alif dan Nurin nggak pacaran. Andai mereka pacaran maka sudah pasti Alif diterima. Namun karena mereka nggak pacaran jadi keputusan diserahkan kepada Nurin. Itu sih yang orang tua Nurin katakan" sambung Tante Hanin menjelaskan.


"Ya sudah Tante, Kia mau beritahu Nurin dulu. Kasihan Nurin menangis terus" ujar Sakia.


"Iya, Nak. Hati-hati di situ ya. Jaga kesehatanmu dan salam untuk Nurin" balas Tante Hanin.


Usai melakukan panggilan telepon, Sakia ke lantai dua menemui Nurin. Dilihatnya Nurin menangis di dalam selimut. Sakia mendekat lalu menceritakan apa yang dikatakan Tante Hanin.


......🍁🍁......


Malam hari, Sakia membantu Nurin dan Nada berkemas-kemas di Ruko. Sakia tidak bermalam di rumahnya, karena wanita itu akan mengantar Nurin dan Nada ke Bandara Hasanuddin di pukul dua malam nanti. Usai packing barang yang mau dibawa pulang oleh Nurin dan Nada, ponsel Sakia berdering, tertera nama kontak "Suamiku" Sakia tersenyum lalu menjawab panggilan telepon dari suaminya.


"Kia, nanti kalau udah pulang dari Bandara, Kia bermalam di rumah Nenek ya. Kakak udah telepon Bi Sum, memintanya membukakan pintu bila nanti Kia datang" jelas Fattan.


"Iya, Kak. Kakak makan apa tadi? Capeh ya?" tanya Sakia.

__ADS_1


"Makan ayam lalapan. Hmm, lelah sih, tapi mau di apa. Ini juga tugas yang harus dijalankan" jawab Fattan.


Tut tut tut...


Panggilan telepon terputus. Sakia mencoba menghubungi Fattan namun nomor pria itu diluar jangkauan. "Mungkin batrei ponsel Kak Fattan lobet" gumam Sakia.


Sakia menemui Nurin dan Nada yang sementara berada di kamar yang dulu Fattan dan Sakia tempati. Dilihatnya Nurin mengulas senyum menatap Nada. Sakia ikut bahagia melihat Nurin yang kembali ceria lagi. "Dek, ayo kita nonton. Nanti Kakak pesan pisang coklat dan minuman dingin" ajak Sakia.


"Mau..." seru Nada dan Nurin berlari menghampiri Sakia.


"Hahahahahaha" tawa Sakia pecah saat Nada dan Nurin menggelayut di lengannya. "Dasar bocah" ujar Sakia tertawa kecil. Sakia, Nada dan Nurin duduk di sofa. Ketiganya nampak seperti kakak beradik, saling tatap lalu tertawa lepas.


"Kakak, aku bocah tapi udah laku" kata Nada tersenyum lebar.


"Aku juga. Ya... sekalipun si Jono yang melamar ku. Hahahaha" timpal Nurin lalu tertawa lepas. Dia tidak menyangka, si Jono akan melamarnya lagi. Pria tua itu terlalu terobsesi padanya.


"Dek, kabarin Kakak ya kalau kalian udah sampai" ujar Sakia melerai pelukan Nurin dan Nada.


"Iya, Kakak" balas Nurin menyeka air matanya. Nurin dan Nada masuk ke dalam bandara menuju tempat check in. Mereka melambaikan tangan pada Sakia sebelum Sakia berbalik menuju tempat parkir mobil.


Mata Sakia mulai berkaca-kaca. Tak lama kemudian, bulir bening keluar dari kedua sudut matanya. Ingin rasanya Sakia masuk ke dalam bandara memanggil Nurin dan Nada dan memintanya pulang bersamanya di Ruko. Namun Sakia bisa apa, dia hanya bisa merindu dan menunggu kabar dari kedua wanita yang sudah dianggap keluarga.


"Kenapa hatiku sakit saat Nurin dan Nada pergi. Apa karena mereka selalu bersamaku" gumam Sakia menangis.


Kesedihan itu tidak hanya dirasakan oleh Sakia, Nurin dan Nada pun meneteskan air mata di dalam bandara. Mereka bukan saudara kandung tapi kebersamaan mereka yang tiap hari selama beberapa tahun ini, membuat Nurin dan Nada menganggap Sakia sebagai orang tua sekaligus kakak mereka di rantau.


Sakia mengendarai mobilnya menuju jalan raya. Dalam perjalanan pulang, ponsel wanita itu berdering. Lagi-lagi nama kontak "suamiku" kembali tertera dilayar ponsel. "Apa Kak Fattan nggak tidur. Kenapa dia menelepon jam segini" gumam Sakia.

__ADS_1


Sementara di Jogja, Fattan mondar mandir di depan jendela kamar. Pria itu merasa cemas akan istrinya. "Kenapa Sakia belum angkat. Ya Allah, semoga Sakia baik-baik saja" batin Fattan.


"Assalamualaikum, Dek. Kamu di mana sekarang? Kenapa baru diangkat? Udah sampai di rumah Nenek apa belum?" pertanyaan beruntun Fattan lontarkan.


Makassar


"Waalaikumsalam. Kia baru saja sampai di rumah Nenek. Papa dan Bi Sum ada di depan rumah. Kakak, Kia masuk ke dalam rumah dulu ya. Nanti Kia telepon kalau udah di kamar" jawab Sakia lalu turun dari mobil menghampiri Papa Aziz dan Bi Sum.


"Ayo masuk" ajak Papa Aziz.


"Iya, Paa" balas Sakia.


Sesampainya di kamar, Sakia menghubungi suaminya. Tak lama, terdengar suara Fattan dibalik telepon." Kakak, sekarang Kakak tidur ya. Kia tahu, Kakak belum tidur kan" kata Sakia.


"Bagaimana mungkin Kakak tidur sedangkan Kia ke Bandara larut malam. Mana nggak ada yang temani di rumah lagi. Oh ya, nanti Kia bermalam di rumah Nenek sampai Kakak pulang" jelas Fattan.


"Iya Kak. Kakak, ayo kita tidur. Kia udah ngantuk" kata Sakia.


"Iya. Letakan ponsel di sampingmu dan jangan matikan panggilannya" kata Fattan lalu naik di atas tempat tidur.


......🍁🍁......


Suara serak dibalik telepon membangunkan Sakia dari tidurnya. Sakia mengerjap dan melihat panggilan telepon masih terhubung. Boleh dikata waktu sudah menunjukan pukul 7 pagi.


"Kakak, Kia baru bangun" balas Sakia.


"Iya. Cepat bangun lalu mandi. Oh ya, kalau Kia mau makan sesuatu, Kia pesan saja lewat online. Beli apapun yang ingin Kia makan, oke Sayang" kata Fattan.

__ADS_1


__ADS_2