
Senja yang tadinya nampak terlihat indah kini mulai memudar dan disambut oleh malam. Terlihat motor matic baru saja berhenti di depan perumahan. Siapa lagi kalau bukan Amrita. Wanita itu harus pulang malam karena mengerjakan laporan bersama dengan teman kelompoknya.
"Assalamualaikum" Amrita membuka pintu lalu mengucap salam. Di dalam rumah sudah tidak ada orang, karena Mbak Lisa dan juga Mbak Miranti telah kembali ke Kota mereka bersama Zian, Zain dan putri Akila.
"Mas Aziz belum pulang" gumam Amrita membawa mesin ketiknya lalu meletakannya di ruang tengah, bersamaan dengan laporan dan tasnya.
Amrita bergegas ke kamar untuk mandi. Badannya terasa lengket dengan keringat yang terus bercucuran. Setelah 20 menit, ia pun keluar mengenakan baju tidur dora emon.
"Semangat anak muda! Raih mimpimu, dan jangan menyerah!!" teriaknya untuk menyemangati dirinya sendiri.
Ting... satu notifikasi masuk di ponselnya. Amrita mengambil ponselnya di dalam tas. Lalu membaca pesan dari suaminya. Seulas senyum terukir di bibir manisnya, setelah membaca pesan dan sang suami.
"Kamu mau dibelikan apa?" Itulah isi pesan dari Aziz yang membuat Amrita tersenyum smirk.
"Apa aja deh, Mas. Asal penting bisa bikin kenyang. Soalnya aku belum lama pulang dan ngak sempat memasak" balas Amrita.
Amrita meletakan ponselnya di atas meja. Lalu mengambil mesin ketik dan kertas houtvrij schrijfpapier atau kertas HVS. Kemudian memasang kertas HVS pada mesin ketik dan mengaturnya. Setelah merasa sudah sesuai, Amrita mengambil ponselnya lalu membuka group watshap dan mulai mengetik.
"Belum juga tiga menit jari-jari tanganku sudah mau copot" gumam Amrita dengan nada kesal.
"Aku tidak boleh mengeluh. Aku harus semangat dan semangat. Banyak anak yatim diluar sana yang mau kuliah. Allah memberiku keberuntungan lantas kenapa aku harus menyerah" kata Amrita kembali menyemangati dirinya.
Amrita kembali mengetik, dari jam delapan malam hingga jam sepuluh malam. Di sekelilingnya, ada kertas HVS serta laporan yang sudah diketik dibiarkan berserakahan di lantai.
---
Aziz baru saja masuk di pekarangan perumahan. Ia memakirkan mobilnya di garasi. Lalu keluar dan masuk ke dalam rumah. Tak lupa membawa makanan dan es cappucino untuk dia dan istrinya.
"Assalamualaikum" Aziz mengucap salam namun tidak ada yang menjawab. Dilihatnya sang istri sedang tidur di lantai sembari memeluk mesin ketik.
"Dia pasti lelah" gumam Aziz menghampiri istrinya.
__ADS_1
"Sayang, ayo bangun makan. Nanti kamu sakit" Aziz menepuk pipi istrinya.
"Mas, aku lelah dan mengantuk" balas Amrita tanpa membuka matanya.
"Tapi kamu belum makan, nanti kamu sakit. Ayo bangun dan makan. Setelah itu kamu tidur" ujar Aziz.
Amrita mengerjap lalu bangun. Mengikuti suaminya ke meja makan. Keduanya pun makan malam bersama dengan menu ayam lalapan dan es cappucino juga air mineral, tentunya. Setelah makan, Amrita kembali ke ruang tengah lalu duduk di sofa bed.
"Mas, aku tidur di sini ya. Soalnya nanti jam satu malam aku mau bangun mengetik" kata Amrita sambil memejamkan matanya.
"Iya" balas Aziz dengan santai. Lalu naik ke kamar mengganti pakaian dengan baju kous putih dan celana pendek. Kemudian turun membawakan selimut untuk istrinya.
"Kasihan sekali si nakal ini" gumam Aziz menutupi sebagian tubuh istrinya dengan selimut.
Aziz mengambil ponsel istrinya lalu mencari gambar di group untuk melanjutkan ketikan istrinya. Setelah menemukannya, Aziz lanjut mengetik. Berhubung di zaman mereka juga menggunakan mesin ketik maka pria itu begitu cepat dalam menyelesaikan satu lembar ketikan.
Pukul dua malam, Aziz masih berkutak dengan mesin ketik. Tinggal beberapa belas halaman lagi dia akan mencapai finish. "Aku harus menyelesaikannya sebelum dia bangun" batin Aziz.
Aziz yang merasa mengantuk mengambil handset lalu memutar music yang bisa mencegah rasa kantuknya. Dan benar saja, music yang ia dengar membuatnya semakin bersemangat hingga laporan selesai diketik.
"Sudah jam tiga" gumam Aziz kemudian menghampiri istrinya.
"Sayang, ayo bangun" Aziz membangun Amrita namun wanita itu enggan untuk membuka mata.
Aziz menghela napas pelan, lalu menggendong istrinya, membawanya naik ke lantai dua tepatnya di kamar mereka. Ia membaringkan istrinya dengan hati-hati. "Hehehehe. Dia seperti anak bayi, sangat menggemaskan" gumam Aziz tersenyum.
---
Amrita mengerjap, ia melihat suaminya sedang sholat "Kenapa aku bisa ada di kamar, bukannya tadi aku di bawah" gumam Amrita sedikit berbisik. Kemudian melihat jam dinding. Matanya membulat melihat arah jarum jam berada di angka lima.
"Laporanku" gumamnya sambil menggeser selimut dan turun ke lantai satu. Matanya membulat tak percaya, melihat laporannya sudah terususun rapih. Bahkan sampai finis.
__ADS_1
"Mas Aziz... aku tidak akan membiarkanmu jatuh ke pelukan wanita lain. Kamu hanya miliki seorang, Mas..." ujar Amrita berbunga-bunga.
"Cepat ambil air wudhu lalu sholat" titah Aziz yang tiba-tiba berdiri di tangga.
"Iya, Mas..." balas Amrita bergegas naik ke kamar dan mengambil wudhu. Lalu menunaikan sholat shubuh. Setelah selesai, Aziz duduk di samping istrinya dan mereka pun melanjutkan bacaan ayat suci, yang mereka sering baca bersama.
---
Pagi hari
Amrita sedang memasak di dapur, sedangkan Aziz membaca surat kabar ditemani kopi dan kue brownis. Begitu indah tinggal di rumah sendiri tanpa mendengar omelan lagi.
Setelah memasak, Amrita menghampiri suaminya di kolam renang. "Mas, pagi ini aku ngak ada jadwal kuliah. Dan siang nanti ada dua, jadi siang baru aku ke kampus" jelas Amrta.
"Kamu istrahat saja di rumah. Jika ada tugas kampus yang belum kamu kerjakan, ya kamu kerjakan sekarang. Berhubung tidak ada yang kamu lakukan di rumah" jelas Aziz tanpa menatap istrinya.
"Iya, Mas. Aku mau mandi dulu" balas Amrita lalu melompat ke dalam kolam renang.
Aziz menggeleng-gelengkan kepala. Melihat tikah kekanak kanakan istri kecilnya yang nakalnya minta ampun tapi pandai memasak.
"Mas, ayo kita mandi bersama. Mungkin dengan cara ini Mas akan semakin jatuh cinta padaku" ujar Amrita lalu tersenyum.
Aziz terkekeh. "Apa kamu yakin?" tanya Aziz menggoda istrinya.
"Tentu saja, ayo cepat Mas" balas Amrita meyakinkan.
Aziz melipat surat kabar yang ia baca, lalu membuka baju kous putih yang ia pakai kemudian turun ke dalam korang renang. Menghampiri istrinya yang sedang mengapung di tengah kolam.
"Mas, hati-hati nanti ada yang bangun" ujar Amrita, ia terus menggoda suaminya. "Mas, tolong belakangi aku. Aku mau peluk Mas dari belakang agar tidak ada yang bangun" pintah Amrita.
"Sudah terlanjur bangun, Sayang" balas Aziz tersenyum menggoda.
__ADS_1