
Aziz mengerutkan keningnya saat mendapati Safira di ruangannya. "Aku masuk atau jangan" batin Aziz. "Lebih baik aku masuk, toh aku mencintai istriku. Cintaku pada Amrita takan membuatku berpaling karena wanita lain" imbuhnya dalam hati.
Cek--lek... (Pintu terbuka lebar)
Aziz masuk ke dalam ruangannya tanpa menutup pintu. Ia membiarkan ruangannya terbuka lebar. "Safira, kamu kenapa?" tanya Aziz menghampiri Safira.
"Aziz..." gumam Safira sesegukan. Tanpa izin, Safira berhambur memeluk Aziz.
"Kenapa kebiasaannya belum hilang-hilang" batin Aziz.
"Biarkan aku memelukmu sebentar saja" ujar Safira.
"Tidak Safira, aku tidak bisa" kata Aziz melepas pelukan Safira. "Jika aku membiarkanmu memeluku maka itu sama saja dengan aku menghianati istriku. Sekarang sudah beda Safira, dulu aku belum menikah, tapi sekarang aku sudah menikah. Ada hati yang harus aku jaga, yaitu hati istriku. Memang dia tidak tahu apa yang aku perbuat, tapi aku tak bisa membohonginya" jelas Aziz.
"Kamu lihat saja, Amrita. Aku akan membuatmu menangis" batin Safira.
"Maafkan aku, Aziz. Aku ke ruanganku dulu" ujar Safira sambil menyeka bekas air matanya. Lalu keluar dari ruangan Aziz. Sesampainya di ruangannya, Safira tersenyum licik.
Sementara di tempat lain, Amrita dan teman-temannya sedang memeriksa laporan. Amrita mengerutkan keningnya saat melihat nomor baru mengirimkan gambar di watshap. Dengan santainya Amrita membuka pesan tersebut.
"Mas Aziz dan Mbak Safira, mereka berdua-- Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi" batin Amrita.
"Amrita, kau kenapa?" tanya Hanin saat melihat sahabatnya tiba-tiba sedih.
"Aku baik-baik saja, Hanin" balas Amrita tersenyum.
Amrita meletakan ponselnya ke dalam totebag, tanpa menanggapi gambar mesra yang dikirim Safira untuknya. Lalu ia fokus memperhatian pantulan laporan dari Kak Ardi, asisten yang bertanggung jawab membimbing kelompok satu.
"Kakak hanya periksa satu laporan, yaitu punya Amrita. Semuanya sama kan?" jelas ka Ardi lalu bertanya.
"Iya, semuanya sama kak" balas Hanin.
"Ya sudah, ini laporannya. Jangan lupa kerjakan pantulan tanpa membuat kesalahan baru" jelas Kak Ardi. Maksud kak Ardi, cukup kerjakan pantulan dari kak Ardi. Jika ngak dipantul maka jangan diubah atau dirombak. Karena kebanyakan praktikan, sesuatu yang ngak dipantul mereka ubah lagi, dan ujung-ujungnya menjadi masalah baru.
__ADS_1
"Iya Kak. Kapan ada waktunya lagi Kak?" tanya Ade.
"Jika kalian sudah perbaiki, kalian hubungi kakak" balas Kak Ardi.
"Baik, Kak" ucap Ade.
Usai memeriksa laporan praktikum, Ade dan teman kelompoknya kembali ke kelas. Mereka sangat bahagia karena pantulan dari Kak Ardi hanya beberapa lembar saja. Mereka duduk bersama dan bercerita.
"Aku ke toilet sebentar ya" kata Amrita beranjak dari kursi.
"Iya. Mau aku temani?" tanya Hanin sebelum Amrita keluar.
"Ngak perlu, Ucil" balas Amrita tersenyum.
Toilet hanyalah alasan. Sebenarnya Amrita mau ke parkiran untuk menghubungi suaminya. Sesampainya di parkiran, Amrita mengirimkan pesan pada suaminya.
"Assalamualaikum, Mas. Mas lagi sibuk apa ngak?"
"Waalaikumsalam. Tidak, Sayang. Bagaimana tadi kuisnya, bisa di jawab semua?"
"Tentu boleh Sayang"
Setelah berbalas pesan, Amrita menekan ikon video. Tak membutuhkan waktu lama, seseorang di seberang telepon menjawab panggilan video darinya.
"Kamu di mana. Mana Hanin dan Fakri?" tanya Aziz mendekatkan wajahnya di layar ponsel.
"Aku diparkiran, Hanin dan Fakri ada di kelas. Mas, ada yang mau aku tanyain ke kamu. Mas janji ya, jawab jujur. Atau ada yang mau Mas katakan padaku?"
"Apa Amrita tahu tentang tadi? Atau aku jujur saja padanya. Aku rasa dia akan menanyakan hal yang tadi" batin Aziz.
"Mas, kenapa bengong?" tanya Amrita membuyarkan lamunan suaminya.
Aziz menghela napas dalam-dalam. Lalu mengumpulkan keberaniannya. "Mas mau jujur. Tadi, saat Mas keluar dari ruangan pasien, Mas langsung ke ruangan untuk beristrahat. Dan ternyata ada Safira di dalam ruangan. Dia sedang menangis, Mas ngak tahu apa yang terjadi padanya. Saat Mas tanya dia kenapa. Tiba-tiba dia peluk, Mas. Sudah, itu saja" ungkap Aziz.
__ADS_1
"Jangan diulangi lagi ya Mas. Kali ini aku ampuni tapi tidak kedua kalinya" ujar Amrita memperingati.
"Terima kasih istri kecilku. Mas ngak janji tapi Mas akan berusaha untuk tidak membiarkan wanita lain memeluk Mas lagi" ucap Aziz tersenyum.
"Ya sudah, aku mau ke kelas dulu. Semangat kerjanya Sayang" ujar Amrita lalu mencium suaminya lewat udara.
----
Berhubung hari ini hanya dua mata kuliah maka Amrita pulang lebih awal lagi daripada suaminya. Dan kini, dia sudah berada di rumah.
"Sekarang aku kerjakan tugas pendahuluan untuk lab nanti. Mumpung aku punya banyak waktu luang" gumam Amrita sambil mengeluarkan kertas double folionya.
Tugas pendahuluan yang ia kerjakan kali ini adalah tugas pendahuluan tentang Viskositas, untuk lab Fisikan Dasar. Soal yang diberikan sebanyak sepuluh nomor. Sepuluh nomor bagi Amrita itu sangat banyak. Karena mata kuliah semester ini ada empat lab.
"Apa jurusan lain juga sama seperti kami? Tulis tugas pendahuluan, terus pelajari. Sebelum masuk lab harus ujian lisan dulu, yang lolos ujian lisan lanjut ujian tulisan. Yang ngak lolos ujian lisan ngak bisa ikut praktikum. Dan yang ngak lolos ujian tulis juga ngak ikut pratikum namun punya nilai ujian lisan" gumam Amrita.
"Sungguh, perjuangan ini sangat menguji segalanya. Menguji otak, keikhlasan dan kesabaran" imbuhnya lagi.
Sementara di tempat lain, Aziz sedang memeriksa keadaan pasiennya. Senyum selalu tercipta saat ia berhadapan dengan pasien maupun keluarga pasien. Dengan senyum, pasien bisa merasa tenang dan tidak panik. Mereka akan merasa akan baik-baik saja. Terlebih lagi dokter tampan yang tersenyum pada mereka, itu menambah semangat hidup bagi mereka.
"Bu, aku perhatikan Ibu malas makan. Apa makanannya tidak enak?" tanya Aziz pada wanita paruh baya yang keras kepala.
"Iya, makanan di rumah sakit sangat tidak enak" balas sang Ibu.
"Apa Ibu mau makan makanan di rumah sakit terus?" tanya Aziz lagi.
"Tidak mau. Saya tidak mau berlama lama di sini" balas sang Ibu.
"Jika Ibu tidak mau berlama lama di sini, Ibu harus rajin makan. Makanan di rumah sakit memang tidak terlalu enak tapi gizinya terjamin" jelas Aziz.
"Baik dok, tapi sekarang saya mau makan buah-buahan. Hanya saja ponsel saya lobet dan saya belum beli kuota" ujar sang Ibu. Sejak sang Ibu masuk ke rumah sakit, tidak ada keluarganya yang datang menjenguk sang Ibu.
Berhubung Aziz sangat baik, ia memesankan buah-buahan lewat aplikasi untuk si Ibu. Tak membutuhkan waktu lama, ponsel Aziz berdering.
__ADS_1
"Hallo, Pak. Saya di depan ruangan yang tadi Bapak sebut" ujar seseorang diseberang telepon.