
Saat Nurin tahu perasaan Alif padanya. Wanita itu ragu-ragu ke restoran. Takut salah tingkah di depan pria yang dia panggil Kakak. Pria yang akhir-akhir ini style nya selalu memukau. Entah perubahan itu karena ingin terlihat tampan di hadapan wanita incarannya, atau ada alasan lain.
"Kenapa aku harus malu!" ketus Nurin dalam perjalanan menuju restoran. Wanita itu mengendarai motor buntutnya dengan pelan.
Restoran Sedekah
Berhubung banyak pelanggan di restoran, Alif turut serta membantu pegawainya yang terlihat kewalahan melayani pelanggan yang lumayan banyak. Style nya yang memukau mampu menghipnotis para wanita yang makan di restoran sedekah. Sebagian dari pelanggan ada yang berbisik memuji ketampanan Alif, dan ada juga yang memuji style nya.
Nurin baru saja saja sampai di restoran. Gadis cantik itu masuk ke dalam restoran menuju tempat penyimpanan tas. Setelah meletakkan tasnya, Nurin menghampiri rekan kerjanya. Pipinya terlihat merah merona saat Alif menatapnya dengan senyum.
"Astaghfirullah. Nurin, sadar kamu" batin Nurin menyadarkan dirinya untuk bangun dari mimpi gilanya.
"Bagaimana?" tanya Alif berdiri di samping Nurin sambil menampang beberapa piring yang berisi nasi dan ayam.
"Apa yang bagaimana?" tanya Nurin tanpa menjawab pertanyaan Alif. "Kakak, bawa itu dulu" kata Nurin menatap mampan yang dipegang Alif.
Sementara di butik, Nada cekikikan dan sudah tidak sabar menghadiri acara lamaran Nurin dan Alif. Boleh dikata Nurin belum menjawab "Ya" atau "Tidak". Namun kabar gembira itu membuat Nada ikut gembira. Tak disangka, gadis polos seperti Nurin bisa membuat seorang Alif jatuh cinta padanya.
"Kak Kia, aku nggak sabar pulang kampung" ungkap Nada tersenyum lebar. Nada dan Nurin satu kampung dan satu teman seperjuangan.
"Hehehehe" Kekeh Sakia. "Kakak juga nggak sabar" sambungnya tersenyum.
Drt drt drt...
Ponsel Sakia berdering, Sakia beranjak dari lantai meninggalkan pekerjaannya, berjalan menuju sofa. Lalu mengambil ponselnya di atas meja. Seulas senyum tersungging manis saat nama "Suamiku" tertera di layar ponsel. Tanpa menunggu lama, Sakia menjawab panggilan telepon dari suaminya.
"Assalamualaikum, Kak" sapa Sakia dengan salam.
"Waalaikumsalam, Dek. Jangan telat makan ya, jangan sampai lelah" kata Fattan mengingatkan.
"Iya, Kak. Kakak juga, jangan telat makan" ujar Sakia tersenyum.
"Iya. Kakak lanjut kerja dulu ya. Hati-hati di butik. Assalamualaikum" kata Fattan lalu memutuskan panggilan telepon.
__ADS_1
Sakia tersenyum lebar setelah melakukan panggilan telepon dengan suaminya. Rasa yang pernah hilang telah kembali membawa senyum indah, impian serta harapan. Impian menua bersama dan berharap dia yang dicintai benar-benar mencintai dengan tulus.
"Cie cie... aura orang yang jatuh cinta mulai terpancar. Sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Hahahaha" ledek Nada.
"Huh! Dasar anak kecil" seru Sakia tersenyum.
"Hahahaha" tawa Nada pecah. Gadis itu melanjutkan pekerjaannya.
"Kak Kia, jam berapa kurir ke sini?" tanya Nada.
"Sekitaran jam dua. Setelah packing barang kita live ya. Sempat ada rezeki hari ini" jawab Sakia menghampiri Nada.
...---...
Sore hari, setelah menutup butik, Sakia kembali ke ruko dan turun ke lantai satu. Wanita itu menatap gaun pengantin yang dia desain sendiri. Awalnya dia tidak mau melanjutkan proses pembuatan gaun pengantin yang baru 50% jadinya. Namun, saat mendengar Alif akan melamar Nurin, Sakia ingin Nurin mengenakan gaun pengantin yang Sakia buat sendiri. Toh baju pengantin yang Sakia buat juga termasuk baju pengantin kesukaan Nurin.
"Anggap saja ini hadiah dariku" gumam Sakia lalu melanjutkan proses penjahitan gaun.
"Assalamualaikum" Fattan mengucap salam namun tidak ada yang menyahut.
"Sakia di mana?" gumam Fattan bertanya-tanya. Lalu masuk ke kamar, meletakkan tas dan membuka baju jas serta baju kemejanya.
Cek--lek... (Pintu kamar mandi terbuka)
Sakia keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah terganti. Hanya jilbab yang belum wanita itu kenakan.
"Kakak" panggil Sakia lalu duduk di tepi ranjang.
Fattan mengerutkan keningnya melihat wajah istrinya yang pucat. "Kia sakit?" tanya Fattan menghampiri istrinya.
Sakia menggeleng. "Nggak, hanya kecapean saja" balasnya.
Fattan mengecek suhu tubuh istrinya. "Badan kamu panas sekali, Dek. Tiap hari Kakak ingatkan, jangan sampai lelah. Kalau cape istirahat, jangan dipaksakan" Fattan mengomeli istrinya dan Sakia hanya diam saja, dia sadar akan kesalahannya.
__ADS_1
"Maafin Kia" ujar Sakia dengan pelan.
"Sudah makan?" tanya Fattan.
Sakia menggeleng. "Belum" balasnya.
"Kia istirahat sekarang. Kakak masak bubur dulu. Ingat! Istirahat, bukan berbalas pesan" kata Fattan mengingatkan lalu keluar dari kamar. Beberapa puluh menit kemudian, Fattan kembali membawa bubur di mangkok kecil.
"Dek, ayo makan buburnya dulu" ujar Fattan mengambil tempat di sisi tempat tidur.
Sakia bangun dan duduk di atas pembaringan. Sementara Fattan mendinginkan bubur. Setelah buburnya sudah agak dingin, Fattan menyuapi istrinya. Setelah menyuapi istrinya, Fattan mengambil obat penurun panas.
"Sedikit lagi baru diminum" kata Fattan sambil menyerahkan obat parasetamol.
Sakia mengambil obat dari tangan suaminya. "Iya, Kak" balasnya.
Setelah menyerahkan obat, Fattan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tak lama, ia pun keluar dari kamar mandi. Berhubung magrib, Fattan langsung mengerjakan shalat magrib di rumah. Usai shalat, ia menghampiri istrinya yang tertidur. Fattan menutup sebagian tubuh istrinya dengan selimut agar pelu keluar dari tubuh istrinya.
...----...
Esok harinya, Sakia mengerjab dan berusaha untuk bangun. Panasnya sudah turun tapi kepalanya terasa sakit. "Kenapa kepalaku sakit sekali" gumam Sakia.
Fattan masuk ke dalam kamar sambil membawa bubur dan segelas air. Berjalan menghampiri istrinya lalu duduk di bibir ranjang. "Bagaimana?" tanya Fattan.
"Kia nggak demam lagi tapi kepala Kia sakit" jelas Sakia.
"Kakak nggak tidur? Kenapa matanya begitu?" tanya Sakia saat melihat mata panda suaminya.
"Bagaimana mungkin Kakak tidur sedangkan istri Kakak sakit. Ayo makan makan buburnya dulu, setelah itu minum obat" kata Fattan.
"Kakak, ada yang mau Kia katakan. Tapi Kakak jangan tertawa atau mengejek Kia ya. Nanti Kia malu" kata Sakia.
"Hehehehe" kekeh Fattan. "Apa itu?" tanya Fattan.
__ADS_1