Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 96


__ADS_3

"Assalamualaikum"


Terdengar seseorang mengucap salam di depan pintu rumah Aziz. Siapa lagi kalau bukan Tante Eka dan suaminya, Pak Sofyan. Semenjak Pak Sofyan pensiun, pria paruh baya itu mulai menghabiskan waktu bersama istri dan keluarganya.


"Anak Ibu dan Papa... Ibu dan Papa kalian ada diluar ni..." teriak Tante Eka.


Cek--lek... (Pintu terbuka lebar)


"Bu, pintunya nggak terkunci loh, Bu. Hobi bangat sih teriak-teriak" ujar Aziz.


"Mana Ibu tahu!" ketus Tante Eka. Wanita paruh baya itu masuk ke dalam rumah disusul oleh suaminya.


"Bu, Papa cium aroma harum. Apa menantu kita memasak sesuatu yang enak" bisik Pak Sofyan.


"Iya. Sepertinya dari arah dapur" balas Tante Eka hampir tak terdengar.


"Ibu, Papa, nggak usah berbisik. Langsung ke dapur saja. Ada Amrita dan anak-anak di sana. Ada makanan dan juga kue" jelas Aziz.


Tante Eka dan Pak Sofyan yang belum lama duduk di sofa, keduanya kembali berdiri dan berjalan ke dapur. "Sudah Ibu bilang, Amrita sangat cocok jadi menantu kita" ujar Tante Eka pada suaminya.


"Nenek... ma-kan" panggil Fattan tersenyum sambil menunjuk makanannya.


"Ibu, kapan Ibu datang. Kok nggak bilang-bilang?" tanya Amrita tersenyum.


"Belum lama, Sayang" balas Tante Eka menggeser kursi lalu duduk. Begitupun dengan Pak Sofyan.


"Papa, Ibu, mau aku buatkan kopi atau teh?" tanya Amrita tersenyum, sambil menyiapkan bekal untuk suaminya.


"Nanti Ibu yang buatkan kopi untuk Papa. Kamu siapkan saja bekal untuk suami kamu" jelas Tante Eka, tersenyum.

__ADS_1


"Baik Bu" balas Amrita.


Setelah menyiapkan bekal untuk suaminya. Amrita membawa Fattan dan Fadila di ruang keluarga. Menyisir dan merapikan rambut anaknya. Setelah selesai, ia memberikan susu pada sikembar. Lalu Ibu muda itu masuk ke kamar. Di kamar, Aziz tengah bersiap-siap berangkat kerja.


"Mas, kapan-kapan kita pergi jalan-jalan ya. Seperti pasangan muda-muda gitu. Atau seperti Ibu dan Papa. Mereka selalu terlihat romantis. Kita kapan" ungkap Amrita cemberut, ia duduk di bibir tempat tidur.


"Benar kata Amrita. Pernikahan kami sudah tiga tahun lebih dan aku masih saja kaku. Apa aku berguru pada Aher saja? Dia kan ahli romantis. Atau aku berguru pada Ibu dan Papa? Aiss!! Jika aku berguru pada Papa dan Ibu, itu sama saja dengan aku meminta mereka menertawakah aku" batin Aziz.


"Iya Sayang. Setelah kamu wisuda, kita berdua akan akan pergi jalan-jalan ke Bali" balas Aziz tersenyum.


"Janji ya, Mas" ucap Amrita berhambur memeluk suaminya. Lalu mendaratkan ciuman singkat dibibir sang suami.


"Jangan menggodaku di pagi hari. Takutnya aku nggak jadi kerja" bisik Aziz.


Amrita terkekeh dan langsung menggoda suaminya. Sifat nakalnya kembali hadir. Dengan senyum nakalnya, dia mendekatkan wajahnya pada wajah sang suami. Hingga jarak wajah keduanya hanya beberapa senti saja. Deruh napas Aziz begitu terdengar, membuat pria itu berulang kali menelan salivanya, hingga jakunnya terlihat naik turun. Karena godaan maut istrinya, pria itu langung melepas baju jas yang ia kenakan.


"Mama, Papa" panggil Fattan. Dia dan adiknya berdiri di depan pintu kamar.


"Fattan, Fadila, Papa berangkat kerja dulu ya. Assalamualaikum" pamit Aziz. Saking malunya, pria itu langsung keluar dari kamar tanpa mencium puncak kepala anaknya.


Fattan dan Fadila menatap bingung Papa Aziz. Bukan hanya Fattan dan Fadila, Tante Eka dan Pak Sofyan yang sementara duduk menikmati kopi dan kue di ruang keluarga pun menatap bingung putra mereka.


"Amrita, apa yang terjadi padanya?" tanya Tante Eka.


"Aku juga nggak tahu, Bu. Tiba-tiba saja Mas Aziz pamit lalu pergi. Tuh, bekalnya dia lupa ambil" balas Amrita.


Sementara di depan rumah. Aziz menghentikan langkahnya. Ada sesuatu yang baru pria itu ingat. Tupperware, itulah yang dia ingat. Mana Amrita membuatkan bekal ikan panggang rica kesukaannya. "Sial benar pagi ini" itulah umpatan dalam benak Aziz.


"Ini semua karena ulah Amrita. Masih pagi udah menggodaku. Mana aku terlalu bernafsu lagi!" gumam Aziz mendengus kesal.

__ADS_1


Aziz berjalan mendendap endap. Mengedarkan pandangannya kesana kemari. Pria dewasa itu berencana masuk mengambil tupperware nya, namun tidak boleh ada yang tahu kalau dia kembali lagi ke rumah. Maka mengendap endap adalah salah satu cara yang bisa dia lakukan akan mengambil ikan kesukaaanya.


"Ibu dan Papa ada di kamar sikembar. Ini kesempatan bagus untuk aku masuk" gumam Aziz hampir tak terdengar.


Aziz bergegas ke dapur. Seulas senyum tersungging, menambah kegantengan pada dirinya. Tangan kanannya yang putih mulus dan halus ia meraih tupperaware. Lalu bola matanya kembali bergerak kesana kemari untuk memastikan keamanan dalam misinya.


"Mas, kok kembali lagi?" tanya Amrita yang tiba-tiba masuk dari pintu belakang.


Aziz tersenyum malu. "Aduh! Kenapa pake acara ketahuan segala" gumamnya pelan.


"Mas nggak perlu malu seperti itu. Fattan dan Fadila masih kecil. Mereka tidak tahu apa-apa. Lagian tadi Mas masih dalam keadaan berpakaian lengkap" jelas Amrita sambil membersihkan meja makan.


"Ya Allah... kenapa kamu tidak jelaskan dari tadi!!" ucap Aziz mendengus kesal.


"Mas juga yang salah. Harusnya Mas berpikir dulu sebelum kabur nggak jelas. Anak-anak itu masih kecil!" balas Amrita menatap sinis suaminya.


"Ya sudah. Aku berangkat kerja dulu" pamit Aziz.


"Iya, Mas" balas Amrita lalu mencium tangan suaminya.


Aziz keluar dari rumah. Di depan rumah nomor A20, terlihat Aher mencium puncak kepala istrinya, setelah Mahdania mencium tangan suaminya. "Apa itu salah satu kata romantis?" gumam Aziz mengerutkan kening, menatap pasangan romantis yang berdiri tak jauh darinya.


"Apa aku harus melakukan itu juga pada Amrita? Ya Allah, umurku sudah 30 tahun dua minggu dan aku baru mau belajar romantis. Terserah apa kata orang, yang penting ATM ku dipegang istri. Aku memasak, menyapu dan bersih-bersih. Bukankah aku suami idaman semua wanita" ucap Azi dalam hati.


"Her nak manja, aku nebeng ya" ujar Aziz.


"Iya Aziz penakut" balas Aher tersenyum.


"Anak Dady yang tercinta, hati-hati di rumah sama Mamy ya Sayang. Dady mau cari nafkah dulu buat Dede dan Mamy. Ummuuach!" ucap Aher tepat di perut istrinya lalu mencium perut sang istri.

__ADS_1


"Iya Dady. Hati-hati ya. Dede dan Mamy akan selalu hati-hati. Dede tunggu Dady pulang ya" balas Mahdania tersenyum.


"Saat Amrita hamil aku tidak melakukan itu. Aku hanya mengelus perutnya, mengajak anakku berbicara dan membelikannya obat yang dia mau. Alhamdulilah, aku dapat ilmu romantis pagi ini. Akan aku terapkan di anakku yang berikutnya" batin Aziz.


__ADS_2