Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 4


__ADS_3

Di balkon kamar lantai tiga, nampak seorang pria berdiri memandang jauh ke jalanan kota. Pria itu tak lain adalah Alif. Alif tidak menghadiri acara resepsi Sakia dan Fattan karena pria itu masih merasakan sakit dihatinya. Alif mencintai Sakia namun orang tua Alif meminta Alif untuk mengiklaskan Sakia menjadi pengganti Sabila.


"Sakia, maafkan aku yang pengecut ini. Maafkan aku yang lemah ini. Maafkan aku, Sakia" batin Alif. Pria itu mengambil botol kaleng cocacola yang masih ada isinya lalu meneguknya berulang kali.


"Semoga kau tidak membenciku dan menjauhiku" gumamnya. Lagi dan lagi ia meneguk Cocacola hingga tanpa sadar, sudah tiga botol Cocacola telah ia habiskan.


Di lain tempat, Sakia terus menghapus make up nya sekalipun wanita itu merasa gugup melihat bayangan suaminya di cermin. Bagaimana tidak, Fattan melepas handuknya di belakang Sakia, yang dimana Sakia bisa menyaksikan suaminya bugil lewat cermin.


"Ini pertama kalinya aku melihat seluruh tubuh Kak Fattan" batin Sakia.


"Ayo tidur" ajak Fattan setelah memakai baju tidurnya. Pria itu merebahkan tubuhnya di kasur yang dipenuhi dengan taburan bunga.


Sakia tak menyahut juga tidak membantah. Wanita itu beranjak dari meja rias dan langsung ke samping suaminya. Merebahkan tubuhnya tanpa melepas hijabnya. "Aku tahu suamiku berhak melihat segalanya dariku tapi apa salahnya aku tidur mengenakan jilbab" batin Sakia.


Sesuai nasehat Mamanya, Mahdania. Sakia tidur tanpa memberi pembatas antara dia dan suaminya, Fattan. Mahdania juga berkata pada Sakia untuk menjalankan kewajibannya sekalipun dia tidak memiliki rasa cinta pada suaminya. Berkat nasehat itu, Sakia berbaring menghadap suaminya.


"Selamat tidur, Kak" ucap Sakia tanpa ekspresi lalu memejamkan mata.


"Selamat tidur" balas Fattan. Pria itu tidur menyamping menghadap istrinya. Menatap mata, hidung dan bibir istrinya.


"Astaghfirullah. Bukankah aku nggak mencintainya, tapi kenapa jatungku berdetak dengan cepat. Apa aku nggak normal atau jantungku bermasalah" batin Fattan.


...---...


Sakia bangun lebih awal daripada Fattan. Wanita itu mengambil baju ganti dan jilbab lalu masuk ke kamar mandi sebelum adzan subuh bergema. Setelah mandi dan mengenakan pakaian, adzan magrib terdengar merdu di masjid. Dengan segera Sakia keluar dari kamar mandi menghampiri suaminya.


"Kakak, bangun" Sakia menarik baju suaminya.


Fattan mengerjab mendengar suara istrinya. "Ada apa?" tanyanya dengan serak.


"Udah adzan subuh. Cepat mandi lalu shalat" kata Sakia lalu kembali ke kamar mandi mengambil wudhu. Usai mengambil air wudhu, Sakia membuka lemari tempat di mana pakaiannya di simpan. Sakia mencari mukenanya namun tidak ia temukan.

__ADS_1


"Buka lemari pakaianku bagian bawah. Ada mukena di dalam paper bag" kata Fattan sebelum masuk ke kamar mandi.


Sakia tak menjawab. Wanita itu langsung menutup lemarinya dan membuka lemari pakaian suaminya. Menunduk dan mengambil paper bag sesuai petunjuk suaminya. Dan benar saja, ada mukena warna putih polos kesukaan Sakia di dalam.


Sakia mengukir senyum. "Ini warna mukena kesukaanku" gumamnya pelan. Dengan segera Sakia mengeluarkan mukena dari dalam papar bag dan memakainya.


Sambil menunggu Fattan, Sakia memilih mengaji sebentar. Tak lama, terdengar pintu kamar mandi terbuka. "Ada baju koko di atas tempat tidur" kata Sakia kemudian kembali melanjutkan bacaannya.


Fattan mengukir senyum berjalan di sisi tempat tidur. Mengambil baju kokoh yang sudah disiapkan istrinya. Setelah memakai baju koko dan peci, Fattan berdiri di di atas sajadah yang sudah disiapkan dan mulai melantunkan adzan kemudian iqamah. Keduanya pun shalat subuh berjamaah.


...--...


"Mau ke mana?" tanya Fattan yang sementara duduk di sofa ruang tengah seorang diri.


"Ke butik" balas Sakia masih dengan muka sangarnya.


Fattan menatap istrinya dari ujung kaki hingga kepala. "Ke butik saja harus dandan" batin Fattan.


"Kia berangkat dulu ya" pamit Sakia lalu mengulurkan tangannya meraih tangan suaminya. Kemudian menciumnya layaknya istri sholeha.


"Ya, Papa" balas Sakia tersenyum.


"Di depan Papa dia tersenyum tapi di depanku dia memasang ekspresi sangar. Apa aku nggak boleh melihat senyumnya" batin Fattan mendengus kesal.


"Papa mau nitip sesuatu, boleh?" tanya Papa Aziz mengambil tempat di samping Fattan.


"Boleh. Papa mau nitip apa?" tanya Sakia duduk di sofa.


"Kalau pulang nanti belikan Papa es cappucino dan brownies original" kata Papa Aziz tersenyum.


Sakia terkekeh. "Kia kira apa, Paa. Ternyata itu toh. Ya sudah, nanti Kia belikan. Kia berangkat dulu ya, Pa" kata Sakia menyalami tangan Papa Aziz.

__ADS_1


Sakia berjalan menuju pintu. Dibelakangnya ada Fattan yang mengikutinya. Pria itu sedari tadi tidak senang melihat penampilan istrinya. Boleh di kata Sakia hanya mengenakan gamis polos bermodel warna abu-abu, hijab segi empat motif bunga dan tas selempang bahu kecil. Wajahnya pun hanya dipoles bedak warda dan bibirnya dipoles lipstik warna bibir.


"Sakia tunggu" kata Fattan.


Sakia berhenti, berbalik menatap suaminya dengan kerutan di dahi. "Ada apa, Kak?" tanya Sakia.


"Apa kamu yakin ke butik dengan penampilan yang seperti itu. Apa nggak berlebihan" ujar Fattan.


Sakia menatap heran suaminya. Menurutnya ia tidak berlebihan sama sekali. Bahkan stylenya saat ini juga sama seperti style yang sebelumnya. Sebelum wanita itu menikah dengan Fattan. "Apa yang berlebihan, Kak? Ini udah natural loh" balas Sakia.


"Fattan, jangan aneh-aneh deh. Penampilan istrimu itu sudah sangat dan sangat natural. Jadi suami jangan terlalu posesif" tegur Aziz yang tanpa sengaja mendengar semuanya.


"Aduh! Aku kenapa sih. Apa mataku bermasalah!" gerutu Fattan dalam benaknya.


"Hehehehe" cengir Fattan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hati-hati ya" ujarnya lalu lari ke dalam kamar.


"Cinta tapi sok-sok berkata tidak. Syukur Sakia mau, kalau nggak, merana seumur hidup kamu" batin Aziz menggeleng melihat tingkah putranya.


...---...


Sakia baru saja tiba di butik. Di depan butik, ada mobil Alif. Sakia yakin, Alif ada di dalam butik bersama Nurin, karyawan Sakia.


"Assalamualaikum" Sakia mengucap salam lalu masuk.


"Waalaikumsalam" balas Nurin dan Alif bersamaan.


Alif yang tadinya duduk di salah satu sofa yang ada di di butik, pria itu langsung berdiri. "Kia" panggil Alif.


"Ya" balas Sakia singkat kemudian duduk di samping Alif.


"Maafkan aku. Aku tahu kamu pasti marah dan sangat kecewa padaku. Aku--" Alif menunduk.

__ADS_1


"Aku sudah memaafkan mu. Mungkin inilah takdir yang harus aku jalani. Jadi jangan salahkan dirimu" kata Sakia dengan bijak.


Alif menahan bulir bening dikedua sudut matanya. Pria itu tahu dan sangat mengenal Sakia. Mulutnya ringan berkata manis tapi hatinya sudah pasti masih terluka. Sama halnya dengan dulu, saat Sakia terluka. Wanita itu berkata dia baik-baik saja tapi diam-diam dia menangis di kamar mandi.


__ADS_2