
Aziz sejak tadi tiba di rumah. Setibanya di rumah, pria itu langsung membersihkan tubuhnya dan bersiap-siap. Lalu ke dapur mengeluarkan sayur dan daging ayam dari dalam kulkas. Saat istri dan kedua anaknya tiba di rumah, makanan yang Aziz masak telah tersaji di atas meja.
"Assalamualaikum" ucap Amrita. Tangan kirinya digenggam oleh Fattan dan tangan kanannya digenggam oleh tangan mungil Fadila.
"Waalaikumsalam" balas Aziz. Membuka celemek yang ia pakai lalu menghampiri keluarga kecilnya.
"Papa..." panggil Fattan dan Fadila. Keduanya melepas genggaman tangan mereka dari tangan sang Ibu berlari kecil memeluk Aziz yang tengah berjongkok menunggu keduanya.
"Hahahaha" kekeh Fattan mencium papanya.
"Papa..." panggil Fadila sembari melebarkan tangannya yang minta digendong.
Aziz tersenyum dan menggendong putrinya. Sementara Fattan mengikuti langkah kaki papanya ke sofa. "Sudah makan apa belum?" tanya Aziz pada kedua anaknya.
Fattan dan Fadila yang mulai paham dengan pertanyan itu dengan ringannya menjawab pertanyaan Papa mereka. "Sudah" balas keduanya tersenyum.
"Sayang, sekarang kamu mandi ya. Nanti aku yang jaga anak-anak" kata Aziz pada istrinya.
"Iya, Mas" balas Amrita.
Berhubung mereka tidak punya asisten rumah tangga atau beby sister maka Aziz dan Amrita memilih tidur di kamar yang ada dilantai satu. Dengan begitu, mereka bisa tidur berseblahan kamar dengan anak-anak mereka. Jika tidur dilantai dua, takutnya Fattan dan Fadila jatuh dari tangga.
Amrita masuk ke kamar membersihkan tubuhnya. Air dingin yang keluar dari pancuran sower begitu menyegarkan. Seharian berkelut dengan laporan membuat badannya terasa pegal. Setelah mandi dan bersiap-siap, Amrita menghampiri suami dan anak-anaknya.
"Mama..." panggil Fattan menghampiri Amrita dan memberinya mainan mobil-mobilan.
"Fattan mau main?" tanya Amrita. Fattan mengangguk dengan senyum. Agar putranya tidak sedih, Amrita pun menuruti keinginan putranya, menemaninya bermain mobil-mobilan.
"Sayang, kita istrahat dulu ya. Nanti baru kita lanjut. Sekarang Fattan sama ade ikut Mama ke kamar" ujar Amrita saat mendengar adzan magrib telah berkumandan.
"Sayang, aku shalat di masjid ya. Nanti habis magrib aku kembali ke rumah kita shalat isya berjamaah" ujar Aziz yang dibalas senyum oleh istrinya.
Aziz masuk ke kamar mengganti pakaiannya dengan baju kokoh. Lalu keluar dari rumah mengendarai motor maticnya menuju masjid. Sementara Amrita membiarkan kedua anaknya bermain dan dia masuk ke kamar mengambil air wudhu. Setelah selesai, ia menghampiri kedua anaknya.
"Fattan, Mama mau shalat dulu. Fattan temani ade main ya" ujar Amrita pada putranya.
"Iya" balas Fattan dengan pelan.
__ADS_1
Sesuai amanah dari mamanya, Fattan terus menjaga adiknya. Sementara Fadila yang juga paham dengan ucapan mamanya, anak kecil itu tidak bermain melainkan ia diam dan hanya menatap mamanya yang sedang shalat hingga selesai. Usai shalat, Amrita mengambil Al-qur'an dan mulai mengaji. Fattan dan Fadila mendekat, keduanya duduk di samping sang mama. Mata keduanya menatap Al-qur'an lalu menatap wajah sang mama.
"Assalamualaikum..." Aziz mengucap salam dan langsung menghampiri istri dan anaknya di kamar. Dilihatnya Fattan dan Fadila duduk bersila, mendongak menatap Mama mereka.
"Mau mengaji ya?" tanya Aziz menghampiri kedua anaknya yang sedang serius.
"Hehehe. Papa..." kekeh Fadila menatap papanya.
"Iya Sayang. Kenapa? Suka ya dengar Mama mengaji?" tanya Aziz mengajak anaknya berbicara. Fadila mengangguk dan tersenyum.
"Papa" panggil Fattan lalu menujuk Al-qur'an.
"Fattan mau mengaji?" tanya Aziz tersenyum.
Fattan menggeleng. Membuat Aziz mengernyit. "Mau Papa mengaji?" tanya Aziz.
Fattan mengangguk dan tersenyum. Aziz membalas senyuman putranya dan mulai mengaji bersama istrinya. Fattan dan Fadila yang merasa damai, kedua anak itu terus diam dan memperhatikan orang tua mereka.
"Fattan, Mama sama Papa mau shalat dulu. Fattan jagain adeknya ya Sayang" ujar Amrita pada putranya.
"......." bisik Fadila ditelinga kakaknya.
"........." balas Fattan yang juga berbisik.
Hanya mereka berdua yang tahu apa yang keduanya bicarakan. Anehnya, kedua nampak serius seperti orang yang sudah baligh.
---
Amrita mengambilkan makanan untuk suaminya. Lalu dia mengambil makanan untuk kedua anaknya. Saat hendak menyuapi anaknya, bel rumah terdengar berdentang. Amrita pun meletakan makanan di atas meja. Lalu pergi membuka pintu rumah.
"Ayo masuk" ajak Amrita pada Mahdania dan Aher.
Aher dan Mahdania masuk mencari Fattan dan Fadila. Keduanya menuju dapur mendengar kekehan Fadila dan Fattan dari arah dapur.
"Assalamualaikum keponakan Om dan Tante" ucap Aher.
Fattan dan Fadila menoleh. Keduanya menatap tangan Aher, kosong, tidak ada yang Aher bawa. Aher dan Mahdania paham apa yang kedua anak itu cari. Bingkisan kue, itulah yang selalu Aher bawa saat menemui Fattan dan Fadila.
__ADS_1
"Hahahahaha. Om tidak kemana mana, jadi Om dan Tante tidak bawa apa-apa" ujar Aher tersenyum.
"Sudah aku bilang. Jangan perbiasakan mereka dengan bingkisan kue tapi kamu tidak mendengarku. Tahu rasa kamu!" ledek Aziz.
"Hahahaha" kekeh Aher. Matanya membulat melihat ayam palekko di mangkok kaca tepat di atas meja makan.
"Om Aher, Mbak Nia. Silahkan makan. Berhubung ada ayam palekko" kata Amrita tersenyum sambil menyuapi anaknya.
"Aku masih kenyang, Amrita" balas Mahdania. Ia duduk di kursi menghadap sikembar.
"Aku mau..." seru Aher. Ayam pelekko kesukannya ada dihadapannya, mana mungkin Aher melewatkan kesempatan bagus itu.
"Ambil nasi sendiri" ujar Aziz. Nasi di atas meja sudah habis namun masih ada di dalam rice cooker.
"Siap bro. Selama ada palekko di sini aku rela pulang ke rumah mengambil nasi" ungkap Aher dengan mata berbinar.
"Hahahahaha" tawa Mahdania dan Amrita bersamaan.
Sebelum bertamu ke rumah sahabatnya, Aher dan Mahdania sudah makan. Namun ayam palekko membuat Aher ingin makan lagi. Dari banyaknya jenis makanan yang enak, hanya ayam palekko yang buat Aher nggak bisa move on.
Aher mengambil piring lalu mengambil nasi. Kemudian menggeser kursi dan duduk. Menu pertama yang ia tatap adalah menu kesukaannya. "Aziz, aku tahu kamu yang masak kan. Dari aromanya aku sudah bisa tebak" ujar Aher.
"Ingatannmu akan aroma makanan sangat tajam" balas Aziz tersenyum. Pria itu baru saja selesai makan.
"Karena kamu datangnya terlambat, maka nikmati saja makanannya. Jangan sungkan-sungkan" sambungnya lalu berdiri mencuci tangannya. Kemudian kembali duduk di kursi.
"Mbak, Nia. Sudah berapa bulan usia kandungan Kakak?" tanya Amrita membersihkan mulut Fattan dan Fadila.
"Alhamdulilah, sudah memasuki bulan kelima" balas Mahdania tersenyum.
"Alhamdulilah. Fattan dan Fadila bakalan punya adik dari Tante" ujar Amrita tersenyum.
Fattan dan Fadila tersenyum lebar. Kedua anak kecil itu menatap Mahdania yang kini tersenyum pada mereka. "Fattan dan Fadila senang?" tanya Mahdania.
"Hehehehe" kekeh Fattan dan Fadila bersamaan. Seakan akan keduanya paham pembicaraan Amrita dan Mahdania.
Ini Novel pertama yang saya buat dengan episode yang banyak. Biasanya hanya sedikit. Dan sampai di episode ini saya merasa cemas, takutnya kalian bosan dan jenuh dengan alurnya. Jika ada yang sudah bosan mohon untuk berkomentar di kolom komentar. Jika banyak yang jenuh daripada yang tidak maka saya akan bersemedi untuk menamatkannya segera. Mohon untuk meresponnya dengan serius, bukan dengan candaan 🙏
__ADS_1