
"Jujurlah, mumpung hanya keluarga Kak Fattan dan keluarga kita yang tahu. Bukan hanya kita, tapi Nada juga tahu. Untuk Nada, Kia mengenalnya, dia nggak akan membongkar aib Kakak" kata Sakia pada Kakaknya.
"Kenapa kau harus hadir di dunia ini. Kenapa kau harus lahir dari rahim Mama!!" pekik Sabila.
Mama Mahdania meneteskan air mata. Dari ungkapan hati putrinya, dia bisa menyimpulkan bahwa anak yang dikandung Sabila bukanlah anak Fattan. Dan Sabila sangat membenci Sakia.
"Apa salah Kia? Bukankah Kia selalu mengalah demi Kakak. Kakak yang ke luar rumah, Kia yang dimarahi Papa. Harusnya Kia yang marah! Kakak membuat Papa selalu menyalahkan Kia. Kakak membuat Kak Fattan membenci Kia! Kakak membuat Kak Azlan menampar Kia hingga berulang kali. Apa itu semua belum cukup!!" hardik Sakia.
"Memang itu yang aku inginkan, aku ingin orang-orang membencimu!! Hahahahaha" seruh Sabila tertawa lepas.
"Da, ambil kunci mobil" titah Papa Aher. Pria itu merasa lelah menghadapi sikap putrinya.
"Sabila, ayo ikut Papa" kata Papa Aher memelankan suaranya. Jika dengan menggunakan cara kasar tidak mengubah sikap putrinya maka lebih baik kembali ke cara awal, yaitu cara halus, menangani segalanya dengan dibicarakan baik-baik.
"Aku nggak mau!" tolak Sabila.
"Pa, ini kunci mobilnya" kata Mama Mahdania.
"Sabila, ayo ikut Papa" kata Papa Aher masih dengan suara pelan.
Sabila menurut. Mengikuti langkah kaki Papanya. Dibelakangnya ada Mama Mahdania dan Sakia. Mama Mahdania menutup pintu rumah lalu masuk ke dalam mobil.
"Da, kamu menyetir" kata Papa Aher. Pria itu ingin duduk dengan Sabila di kursi penumpang.
"Papa, Sakia mau ikut kalian" kata Sakia.
"Iya" balas Papa Aher.
...--...
Rumah Sakit
"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Papa Aher.
"Pak, sebelumnya saya minta maaf. Dua minggu yang lalu Putri Bapak pendarahan dan di bawa ke rumah sakit ini oleh seorang pria. Katanya sih temannya. Jadi, putri Bapak tidak lagi mengandung. Memang, bila dihitung sampai hari ini, usia kandungannya sudah memasuki minggu kesembilan" jelas sang Dokter.
"Hahahaha. Dokter pasti salah. Aku hamil kok" kata Sabila yang mendengar penjelasan sang dokter.
"Terima kasih banyak, Dok. Kami permisi dulu" kata Papa Aher lalu ke luar bersama istri dan anaknya.
__ADS_1
Papa Aher meminta istrinya untuk menunggu di tempat duduk bersama kedua anaknya. Karena pria itu ingin menemui temannya, Dokter Han, seorang dokter psikolog. Tak lama menunggu, Papa Aher kembali menemui istri dan kedua anaknya.
"Kita mau ke mana lagi, Pa?" tanya Sabila dengan kesal.
"Ikut saja" balas Papa Aher. Papa Aher memberi kode pada Sakia untuk menunggu saja. Sakia pun mengangguk.
Papa Aher membuka pintu ruangan dokter Han. Pria itu tak menggunakan nomor antrian karena Dokter Han tidak memiliki pasien yang mengantri sehingga Papa Aher bisa langsung masuk.
Beberapa belas menit kemudian, Dokter Han menatap Papa Aher. "Dok, bagaimana hasilnya?" tanya Papa Aher.
"Dokter Aher, putri Bapak mengalami depresi berat. Saya minta pada Dokter untuk lebih menjaganya. Takutnya dia melakukan hal-hal yang tidak diinginkan" jelas Dokter Han.
"Dan satu lagi, sepertinya putri Bapak mengonsumsi obat terlarang" sambung Dokter Han.
Deghh!!
Aher baru menyadari satu hal. Sesuatu yang disembunyikan Sabila di dalam nakas. Yang saat itu ditemukan oleh Aher namun dengan cepat Sabila merampasnya.
...--...
Perumahan Citraland Nomor A20
Papa Aher dan Mama Mahdania masuk ke dalam kamar Sabila. Mereka menggeledah kamar Sabila dan benar saja, ada obat terlarang di kamar Sabila. Obat yang beberapa akhir ini dia konsumsi. Obat yang Sabila dapatkan dari temannya yang mengantarnya ke rumah sakit saat wanita itu pendarahan.
"Astaghfirullah. Da, Sabila memang mengonsumsi obat terlarang, Da" ujar Papa Aher. Netra mata matanya mulai berkaca-kaca.
"By" Mama Mahdania memeluk suaminya.
"Sabila sudah kehilangan anaknya. Sudah pasti orang yang menghamilinya nggak akan datang menemuinya lagi. Sekarang tugas kita menjaga Sabila. Mulai sekarang aku mau fokus pada kesehatan mental anak kita. Toh warisan peninggalan Mama dan Papa masih ada" ujar Mahdania.
...🍁🍁...
Fattan baru saja pulang dari rumah sakit. Pria itu terlihat letih. Namun ia berusaha mengulas senyum. Seperti biasa, Fattan akan mengucap salam sebelum masuk ke dalam rumah dan Sakia akan membalas salamnya lalu mengambil tas kerjanya.
"Kakak, langsung mandi ya. Kia punya kabar sedih tapi kabar ini bisa membuat perasaan Kakak lega" ujar Sakia.
"Kok bisa? kabar sedih tapi bisa membuat perasaan Kakak lega. Ada ya, kabar seperti itu" kata Fattan dengan bingung.
Sesuai perintah istrinya, Fattan masuk ke kamar dan langsung mandi. Setelah mandi, dia menemui istrinya di ruang tengah. Fattan menghela napas sambil menatap pakaian istrinya.
__ADS_1
"Kia, masuk kamar dan ganti pakaian mu. Mulai sekarang, kamu nggak boleh mengenakan pakaian seksi selama hati itu masih belum mencintai Kakak. Itu perintah!" kata Fattan.
"Menggauli istri yang nggak mencintai kita bagaimana rasanya. Membayangkannya saja aku nggak siap. Aku menikmati permainanku sedangkan dia hanya akan diam tanpa menikmatinya. Huh!!" gumam Fattan mendengus kesal.
"Aku dengar!" ketus Sakia. Bisa-bisanya Fattan bergumam dihadapannya.
"Eh, masih ada orangnya di sini" cengir Fattan lalu duduk di samping istrinya.
"Tadi itu perintah loh" kata Fattan mengingatkan.
"Lalu?" tanya Sakia mengerutkan kening.
"Cepat ganti pakaian seksi mu ini" kata Fattan sambil memegang baju seksi istrinya.
"Iya!" ketus Sakia. "Bagaimana mau cinta kalau suami saja nggak romantis" sindirnya lalu beranjak dari sofa.
Fattan berpikir keras, saat sadar, istrinya sudah tidak ada. "Kia.. apa itu kode?" tanya Fattan.
"Pikir saja sendiri" balas Sakia.
Setelah mengganti pakaiannya, Sakia menghampiri suaminya lalu menceritakan semuanya. Refleks Fattan memeluk erat istrinya. "Terima kasih istri tercintaku. Berkat Kia, Kak Fattan nggak akan galau lagi" ujarnya.
Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu. Fattan melerai pelukannya lalu beranjak dari sofa menuju pintu. "Siapa yang datang menjelang magrib begini. Apa Papa" gumam Fattan.
Cek--lek... (Pintu terbuka)
"Fadila, Kak Farhan, ayo masuk" Fattan mempersilahkan adik dan iparnya masuk.
"Kakak..." Sakia berhambur memeluk Fadila. "Kakak, kenapa Kakak nggak menemui kami lagi" ujar Sakia cemberut.
"Kia tahu sendiri, Suami kakak itu sudah tua. Dia nggak mampu lagi ngurus anak. Apalagi si kembar sangat aktif. Mereka suka menjahili Papanya" jelas Fadila.
"Berikan Kia satu. Kia bosan lihat wajah Kak Fattan terus" cemberut Sakia.
"Hahahaha" kekeh Fadila. "Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan di Mall. Anggap saja cuci mata. Kakak mau lihat yang daun muda dulu. Sempat kamu dapat satu dan kakak dapat satu" canda Fadila.
Fattan dan Farhan menggeram mendengar ide gila Fadila. "Coba saja kalau berani" kata Farhan menatap tajam Fadila.
__ADS_1