Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 110


__ADS_3

Grand Mall Maros



Grand Mall Maros juga kerap disebut Grand Mall Mandai adalah sebuah pusat perbelanjaan dengan konsep Eropa klasik modern. Mall Maros ini dibangun dengan desain Eropa yang kental. Interior Mall Maros menunjukkan lukisan dan patung-patung bernuansa Eropa, khususnya Yunani.


Setibanya di Grand Mall Maros, Tante Eka dan cucu serta suaminya turun dari mobil. Mereka pergi jalan-jalan di supermarket, lalu ke toko buku. Setelah lelah berkeliling, mereka pergi ke Restoran untuk menikmati menu yang ada di restoran tersebut. Setelah makan, mereka pergi ke wahana bermain.


"Nenek, di sini bagus sekali" ucap Fattan dengan mata berbinar. Anak kecil itu melihat anak kecil disekelilingnya yang juga datang bersama keluarga mereka. Fattan terus menggandeng tangan adiknya. Dia takut adiknya hilang di tempat yang menurutnya sangat ramai.


"Kakak, nanti kita ajak Mama dan Papa ke sini" sambung Fadila tersenyum lebar.


"Iya, Dek" balas Fattan.


Fattan dan Fadila pergi bermain di wahana permainan anak. Tawa terdengar nyaring dari mulut keduanya. Merasa letih bermain, keduanya menghampiri sang Kakek dan Nenek.


"Nenek, Kakek, ayo kita pulang" ajak Fattan dan Fadila.


--


Indo Mode Makassar


Amrita sedang membeli beberapa bahan dapur dan bahan-bahan untuk bikin kue. Dan kini, wanita itu sedang berada di kasir membayar tagihan belanjaannya.


"Totalnya dua ratus dua puluh ribu ya, Mbak" kata kasir Indo Mode dengan ramah.


"Iya, Mbak. Ini uangnya" ucap Amrita sembari menyerahkan uang seratus ribu sebanyak tiga lembar.


"Ini kembaliannya" kata Mbak Indo Mode lagi.


Amrita mengambil uang kembaliannya lalu memboyong barang belanjaannya. Kemudian membawanya ke parkiran mobil. Ia membuka bagasi mobil lalu memasukkan barang belanjaannya di bagasi. Sebelum pulang, wanita itu menelepon Ibu mertuanya.


"Assalamualaikum, Bu" sapa Amrita dengan salam. Setelah panggilan telepon di jawab oleh Ibu mertuanya.


"Waalaikumsalam, Sayang. Kamu di mana? balas Tante Eka disusul pertanyaan saat mendengar suara yang begitu berisik di dekat menantunya.


"Aku di parkiran Indo Mode, Bu. Ibu sudah di mana sekarang?" balas Amrita yang juga disusul pertanyaan. Tante Eka sudah mengirim pesan bahwa dia dan kedua cucunya akan ke Perumahan. Itulah sebabnya Amrita menanyakan keberadaan Ibu Mertuanya.


"Kami masih diperjalanan pulang. Ini baru di Suddiang" balas Tante Eka.


"Hati-hati ya, Bu. Aku mau lanjut ke pasar dulu" ujar Amrita.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Assalamualaikum" balas Tante Eka ditutup dengan salam.


"Waalaikumsalam" balas Amrita lalu membuka pintu mobil. Amrita kembali melanjutkan perjalanannya ke pasar.


--


Rumah sakit/UGD


Aziz sedang berdiri di samping hospital bed. Pria itu baru saja selesai memeriksa kondisi pasien kecelakaan yang dibawah lari ke UGD. Setelah melakukan tindakan medis, Aziz kembali bergabung dengan rekan dokter yang lain. Adzan Dzuhur bergema, Aziz dan Aher saling tatap lalu keduanya pamit ke mushola.


"Apa hari ini kita lembur lagi?" tanya Aher.


"Sepertinya sih nggak" balas Aziz.


"Alhamdulilah, pasien hari ini nggak seperti beberapa hari yang lalu. Hari ini kita bisa sedikit bersantai" sambung Aziz tersenyum sumringah.


Aziz dan Aher mengambil air wudhu. Setelah selesai, mereka masuk ke dalam mushola lalu shalat berjamaah. Usai shalat, masing-masing dari mereka menyempatkan waktu untuk menghubungi keluarga mereka. Tak lama berbicara, panggilan darurat pun terdengar. Mau tidak mau Aziz dan Aher harus kembali ke UGD.


...ΩΩΩ...


Perumahan/Pukul 17:51 PM


"Sama-sama. Aku masuk dulu ya. Aku sudah tidak sabar bertemu putriku" balas Aher lalu membuka pintu rumah.


Aziz tersenyum lalu ke rumahnya. Pria itu berlari kecil dan berhenti di depan pintu. Meraih handle pintu lalu membukanya. Tawa si kembar dan Tante Eka terdengar menggelegar di ruang keluarga. Wanita paruh baya itu mengajari cucunya bernyanyi tapi sayangnya suara yang dia miliki sangat buruk hingga ditertawakan oleh kedua cucunya.


"Assalamualaikum" ucap Aziz menghampiri keluarganya.


"Waalaikumsalam" balas Tante Eka, Amrita dan si kembar.


"Fadila, Fattan, jangan lupa belajar" kata Aziz sebelum ke kamar.


"Iya, Pa" balas Fattan dan Fadila bersamaan.


Amrita beranjak dari sofa menyusul suaminya di kamar. Wanita itu tersenyum mendekat kearah suaminya yang tengah berdiri di depan lemari. "Lelah ya, Mas?" tanya Amrita berbasa- basi.


"Lumayan sih" balas Aziz.


?


"Ya sudah. Sekarang Mas mandi, sebentar lagi magrib. Nanti setelah isya aku pijitin kamu" kata Amrita tersenyum.

__ADS_1


Aziz berbalik menghadap istrinya. Lalu mendaratkan ciuman singkat di bibir sang istri. "Terima kasih" ucapnya. Kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Amrita keluar dari kamar setelah mendengar bel rumah berdentang. Selang beberapa puluh detik, terlihat Mbak Ima dan Fakri masuk ke dalam rumah. Keduanya kembali mengekor ke rumah Amrita karena takut tidur berdua di rumah.


"Dasar penakut!" seru Amrita pada sahabatnya. Lalu duduk di sofa.


"Hahahaha. Kau seperti baru mengenalku saja" ucap Fakri tersenyum lebar lalu menghampiri kakak iparnya.


"Amrita sahabatku, ipar ku dan segalanya untukku. Tolong bantu aku mengerjakan perhitungan ANAVA. Tinggal perhitunganku yang belum selesai. Kamu mau kan?" pinta Fakri dengan manjah pada sahabat sekaligus kakak iparnya.


"Apa Om tidak tahu menghitung 1 2 3?" tanya Fadila.


"Tahu lah" balas Fakri dengan bangga.


"Lalu kenapa meminta Mama membantu Om?" tanya Fadila lagi.


Fakri menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu tersenyum sumringah. "Perhitungan ANAVA itu bukan seperti satu tambah satu. Perhitungan ANAVA itu memiliki rumus yang Om tidak tahu dan Om kurang paham" jelas Fakri.


"Nanti aku bantu" kata Fadila menawarkan diri.


"Hahahahaha" Tante Eka dan Amrita tertawa lepas. Sementara Fadila dan Fattan kembali bingung hingga terlihat kerutan di dahi keduanya. Dan Fakri, pria itu membulatkan mata.


Di dapur, Mbak Ima sedang menyiapkan makanan. Wanita itu terlalu rajin hingga tanpa diminta pun langsung menyiapkan makanan di meja. Tentu saja makanan yang sudah matang. Setelah menyiapkan makanan dan piring serta sendok dan lain-lain. Mbak Ima kembali bergabung dengan yang lain di ruang keluarga.


"Ada apa ini. Nak Fakri kenapa?" tanya Mbak Ima mengambil tempat di samping Fakri.


Fakri memeluk lengan Mbak Ima. Lalu mengadu pada Mbak Ima. "Fadila mau bantu aku buat skripsi" ungkapnya dengan jujur


"Hahahaha" Mbak Ima tertawa lepas.


Lagi-lagi Fadila dan Fattan dibuat bingung. "Kenapa kalian tertawa? Apa perhitungannya sulit?" tanya Fattan.


Aziz yang sudah siap ke masjid dan tanpa sengaja mendengar percakapan keluarganya, pria itu keluar lalu duduk di sofa sebelum ke masjid.


"Sayang, perhitungan ANAVA itu lumayan sulit. Hanya orang pintar yang berkata itu mudah dikerjakan" jelas Aziz pada putri dan putranya.


"Papa, jika hanya orang pintar yang bilang mudah maka itu tandanya Om kami---" Fattan menutup mulutnya dan tak mau melanjutkan kalimatnya.


"Om kami bodoh!!" sambung Fadila membulatkan mata dengan mulut terbuka.


Degh!! jantung Fakri seakan mau lari maraton saat keponakannya mengatainya bodoh.

__ADS_1


__ADS_2