
Aziz tertawa terbahak bahak melihat keadaan sahabatnya yang seperti anak kecil usai sunatan. Pria itu tak henti-henti menertawakan sahabatnya. Sementara Aher, pria dewasa nan manja itu menggeram kuat dan ingin meninju mulut sahabatnya.
"Jangan tertawa!" ketus Aher sambil memperbaiki sarungnya.
"Kamu sih, sudah tua tapi masih lupa mengurus celana boxer" balas Aziz melangkah masuk dan duduk di sofa.
"Ini karena Bu Hesti! Hanya mengisi dua celana boxer di koperku!" ketus Aher lalu menutup pintu rumahnya.
Aher yang memang diperlakukan manja oleh Mama papanya. Pria itu jarang mengambil pakaian sendiri. Bahkan celana boxernya pun disiapkan oleh Mama atau papanya. Dan setelah Bu Hesti bekerja pada mereka, Bu Hesti lah yang selalu menyiapkan celana boxer anak majikannya itu.
"Kenapa pula Bu Hesti yang kamu salahkan? Kamu sudah tua tapi masih manja. Urusan ****** ***** saja harus disiapkan. Sangat tidak tahu malu" ujar Aziz dengan santai.
"Bukannya aku yang mau manja, tapi mereka yang memanjakan aku. Kau tahu sendiri dua wanita dalam rumah dan satu pria paruh baya itu. Aku yang tinggi tegap ini dilihat seperti anak umur tujuh tahun" balas Aher mengambil tempat di depan sahabatnya.
"Itu dari Mahdania, dia ada di rumahku. Membantu Tante dan Amrita memasak untuk makan malam bersama" kata Aziz sembari menyerahkan paperbag yang ia bawa.
"Dan cepat pakai celanamu, aku takut adikmu akan kedinginan" sambungnya meledek.
"Hahahaha" tawa Aher pecah saat Aziz menyebut kata adik. "Sudah aku panaskan. Dia tidak akan kedinginan lagi" balas Aher tersenyum lebar lalu bergegas ke kamar.
Aziz terkeke menatap punggung sahabatnya yang mulai tak terjangkau oleh pandangannya. Lalu ia melipat kedua tangannya di dada sambil memejamkan mata. Selang beberapa menit, Aher menghampirinya. Keduanya pun ke rumah nomor A19.
"Assalamualaikum..." ucap Aher menerobos masuk ke dalam rumah sahabatnya.
"Waalaikumsalam. Wajah pengantin baru selalu ceriah ya" balas Tante Eka tersenyum, lalu meledek Aher yang kini bergabung dengan mereka.
"Cie... Tante, ada yang mulai ingat masa mudanya ni" Aher membalas ledekan tante Eka.
Tante Eka dan Pa Sofyan terkekeh. Mereka membenarkan perkataan Aher. "Apa kalian tidak pergi honeymoon?" tanya Tante Eka.
__ADS_1
"Mahdania maunya kita honeymoon di rumah" balas Aher cemberut.
"Suami yang kayak gini ni yang disukai malaikat Atid" timpal Mahdania yang disambut tawa oleh semua yang ada di ruang keluarga. Malaikat Atid adalah malaikat yang diutus oleh Allah untuk mencatat amal buruk manusia.
"Tante, minta tipsnya dong biar terus romantis seperti Tante dan Om" ujar Mahdania tersenyum.
Pa Sofyan tersenyum, begitupun dengan Tante Eka. Keduanya kembali mengingat masa lalu mereka. Di mana Pa Sofyan yang kaku selalu diledek oleh istrinya yang nakal. Hingga Pa Sofyan membuka google dan mencari referensi di google.
"Saling terbuka. Jika ingin bermanja maka katakan, jangan dipendam. Kadang pasangan itu nggak peka jika didiamin" jelas Tante Eka.
"Betul betul betul" timpal Amrita.
"Apalagi suami kamu Amrita. Hade... nggak ada romantisnya. Ibu nggak pernah lihat kalian jalan-jalan menikmati Kota indah ini. Di rumah... terus. Sekali kali ajak istri tamasya, atau keluar Negri" timpal Tante Eka menatap sinis putranya.
Bola mata Aziz hampir keluar mendengar komentar ibunya. Yang benar saja ibunya mengatainya seperti itu. Sementara Amrita hanya tertawa.
"Sekalipun uangmu banyak, kalau istrimu tidak bahagia maka sama saja. Membawa istri menikmati pemandangan baru itu lebih baik daripada menyimpan uang bermiliar di ATM" timpal Pa Sofyan membela istrinya.
"Dengar itu Mas Aziz, Om Aher. Romantis dikit napa" kata Amrita membenarkan lalu menyinggung dua pria dewasa yang romantisnya sebulan sekali.
---
Malam hari
Usai makan malam bersama, Tante Eka dan Pa Sofyan memilih pamit pulang ke rumah mereka yang di Daya. Begitupun dengan Aher dan istrinya yang juga pamit pulang. Di rumah, tinggalah Amrita dan suaminya yang sedang duduk sambil menikmati siaran televisi.
"Mas, lebaran tidak lama lagi. Dan info libur juga belum ada tanda-tanda. Jadi bagaimana? Kita tetap lebaran di kampung atau di Makassar?" tanya Amrita menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
"Jika memang kamu tidak libur ya kita lebaran di sini" balas Aziz.
__ADS_1
"Baiklah. Mas, aku mau tulisan laporang dulu. Mumpung tinggal sedikit" ujar Amrita beranjak dari sofa lalu naik ke lantai dua mengambil kertas double folio yang sudah digaris serta serta pulpen.
Aziz mengambil susu Ibu hamil yang sudah ia siapkan lalu menyusul istrinya di kamar. "Letakan saja kertasnya di situ. Biar aku yang tulis laporanmu. Sekarang kamu minum susu dan istrahat" kata Aziz sembari meletakkan segelas susu di atas nakas.
"Terima kasih obatku" ucap Amrita tersenyum. Kemudian mengambil susu lalu meminumnya.
"Mas, aku istrahat duluan ya. Jangan lupa peluk aku kalau Mas mau tidur nanti" kata Amrita sembari naik di atas tempat tidur.
"Iya. Selamat tidur keluargaku" balas Aziz.
Pukul dua belas malam, Aziz selesai mengerjakan laporan istrinya. "Mau tidak mau harus mau. Ini demi istri dan anak-anakku" gumam Aziz seraya merapikan kertas double folio.
"Selamat tidur keluargaku" bisik Aziz lalu memeluk istrinya dari belakang. Sesuai dengan permintaan istrinya.
--
Adzan subuh kembali menyejukan hati, terdengar begitu merdu di dengar. Amrita mengerjap lalu membangunkan suaminya. "Mas, bangun. Udah adzan di masjid" kata Amrita mengelus pipi suaminya.
"Iya" balas Aziz dengan serak. Aziz berusaha membuka mata dan turun dari tempat tidur. Kemudian berjalan masuk ke kamar mandi. Membersihkan tubuhnya, mengambil wudhu lalu keluar bersiap-bersiap.
Kali ini Amrita tidak ikut shalat subuh. Efek hormon kehamilan membuat air liur yang keluar jadi semakin banyak dan membuatnya terus meludah. Meludah bukan alasan untuk tidak shalat, hanya saja membuatnya tidak khusyu. Amrita mengambil Al-qur'an lalu berjalan ke balkon dan mulai mengaji. Dibalkon, akan mempermudanya membuang ludah dibandingkan di dalam kamar.
Usai sholat subuh, Aziz menghampiri istrinya di balkon. Keduanya pun mengaji bersama, sambil menikmati angin sepoi-sepoi di waktu subuh. Selesai mengaji, Amrita dan Aziz ke lantai satu. Amrita memasak makanan sementara Aziz mengepel lantai.
"Sayang, setelah memasak kita olahraga ya" ujar Aziz.
"Iya" sahut Amrita.
Selang beberapa belas menit, Amrita selesai menyajikan makanan di atas meja. Yaitu ikan goreng dan tempe goreng. Untuk sayur sop, nanti baru dimasak biar nanti makannya panas-panas.
__ADS_1
"Mas, ayo kita olahraga" ajak Amrita menghampiri suaminya di depan rumah.
Aziz tersenyum lalu menggandeng tangan istrinya. "Alhamdulilah, Allah memberi kita bayi kembar" ujar Aziz tersenyum.