Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 118


__ADS_3

Fakultas Mipa


Pukul 13:00 PM


Waktu begitu cepat berlalu, sebulan lagi Amrita akan wisuda. Wanita itu menunggu cukup lama karena dialah Mahasiswa pertama diangkatannya yang lebih dulu menyelesaikan skripsinya. Dan hari ini, adalah hari di mana Fakri, Hanin dan Maya serta beberapa teman mereka akan ujian skripsi.


Fakri dan Hanin menghirup udara dalam-dalam. Kedua pasangan yang belum halal itu masih berada di dalam mobil yang terparkir di depan Fakultas Mipa. Bukan hanya mereka berdua di dalam mobil, tapi juga Amrita dan si kembar.


"Tante, Om, semangat" ujar Fadila menyemangati Om dan calon Tantenya.


"Iya Fadila. Tapi Om gugup" balas Fakri.


"Kata Papa jangan lupa baca doa" ujar Fattan menimpali.


"Iya, Fattan" balas Fakri tersenyum seraya mencium pipi keponakannya.


"Unyil, Ucil. Kalian berdua jangan gugup. Ujian skripsi itu beda tipis dengan ujian proposal. Jika proposal lebih menekankan pada cara kerja dan metode serta alasan, maka skripsi itu lebih ke hasil penelitian dan alasan penggunaan bahan" jelas Amrita mencoba memberi semangat.


"Iya, Amrita. Doakan kami ya. Semoga ujiannya lancar agar aku bisa melamar Hanin" balas Fakri yang masih sempat-sempatnya menggombal.


"Lebay!! Ayo kita turun. Maya sudah datang" kata Hanin kemudian membenarkan jilbabnya.


Fakri maupun Hanin ke luar dari mobil, begitu juga Amrita dan kedua anaknya. Mereka berjalan menuju ruang seminar. Di dalam ruang seminar, sudah ada Maya dan beberapa temannya yang lain yang juga ujian skripsi.


"Semangat!!" ucap Fattan dan Fadila dengan serius, kembali menyemangati Om Fakri dan Tante Hanin.


Semua Mahasiswa yang ada di depan ruang seminar tersenyum melihat mimik wajah serius Fattan dan Fadila. Kedua anak itu mondar mandir di depan ruang seminar. Sesekali melirik ke dalam sana, menatap Om dan Tantenya yang sedang bersiap-siap. Sementara Amrita duduk bersama teman-temannya yang lain.


"Ayo masuk" ajak Ibu Fauziah yang kebetulan adalah anggota penguji.


"Nggak usah Nenek. Kami di sini saja" balas Fattan dengan senyumnya yang menggemaskan.


"Ya sudah. Nenek masuk dulu ya" ucap Bu Fauziah kemudian masuk ke dalam ruang seminar.

__ADS_1


Setiap dosen yang mau masuk ke dalam ruang seminar selalu mengajak Fattan dan Fadila masuk. Namun kedua anak itu selalu menolak. Sebenarnya mereka mau tapi sebelum ke kampus. Mama Amrita sudah menekankan pada mereka untuk tidak masuk ke dalam ruang seminar sekalipun dosen yang mengajak mereka masuk.


Seminar skripsi pun dimulai. Nampak semua peserta yang ujian skripsi terlihat gugup. Bagaimana tidak, ada satu dosen yang paling dihindari Mahasiswa karena pertanyaannya yang selalu membuat Mahasiswa diam. Pertanyaan yang sebenarnya memiliki jawaban namun selalu membuat mati kutu.


"Fattan, Fadila, ayo sini" panggil Amrita sedikit mengecilkan suaranya.


"Nanti saja Mama. Aku mau lihat Om belajar" balas Fadila tanpa menatap Mamanya. Anak kecil itu masih menatap Omnya yang sedang memaparkan hasil penelitiannya.


"Jangan lihat Om, nanti Om gugup" kata Amrita menegur kedua anaknya.


Fattan dan Fadila cemberut. Kedua anak itu nggak mau jadi anak pembangkang tapi mereka juga ingin melihat Om Fakri yang sedang memaparkan hasil penelitiannya di depan para dosen. "Mama bikin kesal" gumam Fadila memoncongkan bibirnya.


Drt drt drt... ponsel Amrita berdering. Tertera nama Suamiku, obatku. Yang tak lain adalah Aziz. Dengan segera Amrita menjawab lalu menempelkan benda pipi itu ditelinga putrinya.


"Assalamualaikum" ucap Fadila tak bersemangat.


"Waalaikumsalam. Bagaimana di kampus? Fadila suka?" tanya Aziz diseberang telepon.


"Dek, jangan ngomong kaya gitu. Nggak baik" tegur Fattan.


Fadila mulai terisak. Ia menjatuhkan ponsel Mamanya lalu lari ke mobil. Dikiranya mobil bisa dibuka namun postur tubuhnya yang kecil membuat Fadila kesulitan membuka pintu mobil. Amrita mengejar putrinya kemudian membujuknya tapi sayangnya rasa kesal Fadila begitu besar hingga ia tidak bisa dibujuk.


"Adek. Ayo ikut Om ke kantin. Nanti kita beli es krim di sana" panggil Kak Nuki yang kebetulan lewat sembari menunjuk kantin kampus.


"Nggak mau!!" balas Fadila sedikit meninggikan suaranya.


"Kak Nuki, maafin anakku" ucap Fadila yang merasa nggak nyaman dengan sikap Fadila pada senior Mamanya.


"Nggak apa-apa, Dek. Anak kecil memang suka ngambek. Kakak ke kantin dulu ya" balas Kak Nuki kemudian pergi ke kantin.


Jujur saja, oran-orang yang sempat menyaksikan tingkah Fadila dibuat gemes dan ingin mencubit pipi cabby anak kecil itu. Bahkan sebagian dari mereka menghampiri Fadila dan mencoba membujuk anak kecil itu. Tapi lagi-lagi anak kecil itu terus merajuk.


"Mama. Papa menelepon" kata Fattan yang tiba-tiba berdiri di samping Mamanya sembari menyerahkan ponsel Mamanya.

__ADS_1


Amrita mengambil ponselnya lalu menjawab panggilan dari suaminya. "Halo, Mas. Fadila masih menangis" jelas Amrita.


"Berikan ponselnya pada Fadila" titah Aziz.


Amrita menatap putrinya yang mulai agak tenang namun masih terisak. "Papa mau bicara sama kamu" kata Amrita menyerahkan ponselnya pada putri kecilnya.


"Fadila. Jangan nangis lagi ya, Nak. Ini Papa sudah di jalan mau kesitu. Nanti kita ke rumah Kakek dan minta Om belajar di sana" jelas Aziz menenangkan putrinya.


"Iya" balas Fadila singkat. Fadila mengembalikan ponsel Mamanya lalu menyeka bekas air matanya. Kemudian mengedarkan pandangannya kesana- kemari mencari sosok Kak Nuki.


Tanpa meminta izin pada Mamanya, Fadila berlari kecil menghampiri Kak Nuki yang baru saja keluar dari kantin bersama teman-temannya. "Om" panggil Fadila tersenyum.


"Mau es krim?" tanya Kak Nuki menawarkan.


"Iya" balas Fadila mengangguk.


Teman-teman Kak Nuki tersenyum lalu mengajak Fadila masuk ke dalam kantin. Mereka mengajak Fadila berbicara. Dan anak kecil itu selalu menjawab layaknya orang dewasa.


"Fadila" panggil Aziz yang belum lama tiba di kampus. Pria itu tidak menyadari apa membuat orang-orang menatapnya. Dan tanpa Aziz sadari, ia lupa melepas baju jas dokternya.


"Papa..." teriak Fadila lalu turun dari kursi berlari kecil memeluk Papanya. "Baju Papa bau obat" sambungnya.


Aziz melirik baju yang ia kenakan. "Astaghfirullah. Pantas saja Mahasiswa di sini menatapku ternyata karena baju ini" gumam Aziz lalu melepaskan pelukan anaknya kemudian melepas baju jasnya.


"Dek, terima kasih ya. Maaf merepotkan kalian" kata Aziz pada Kak Nuki dan teman-temannya.


"Nggak kok, Kak. Anak Kakak pintar sekali" balas Kak Nuki tersenyum.


"Fadila, ayo kita tunggu Om keluar lalu kita pulang dan minta Om belajar ulang di rumah" ajak Aziz yang dibalas anggukan oleh Fadila.


Aziz menggendong putrinya dan membawanya ke dalam mobil. Di dalam mobil, sudah ada Fattan dan Amrita. Mereka memutuskan pulang karena waktu sudah menjelang sore. Dan kali ini mereka akan pulang di rumah Tante Eka. Mereka akan bermalam di sana. Sebelum meninggalkan kampus, Amrita kembali merasakan keanehan dalam dirinya. Dia melihat seseorang berdiri di bawan pohon yang ada di parkiran motor.


"Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah" ucap Amrita dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2