
"Papa, bayar dulu dong. Ibu lupa bawa dompet. Mana Aziz tidak bawa dompet lagi" bisik Tante Eka sembari menyenggol lengan suaminya.
"Papa juga tidak bawa dompet. Lagian ATM Papa ada sama Ibu. Jadi bagaimana dong?" tanya Pa Sofyan berbisik.
Kekehan kecil keluar dengan ringannya dari mulut Aziz. Pria itu sudah mempelajari sifat ibunya bila mereka pergi makan di luar. Kebiasaan Tante Eka memang seperti itu, suka lupa bawa dompet dan ujung-ujungnya Aziz yang kena imbasnya. Dan Aziz yang sangat berbakti pada Ibu papanya selalu menurut.
"Bu, Ibu bawa ponsel kan Bu?" tanya Aziz tersenyum menahan tawa.
"Iya. Memangnya kenapa?" tanya Tante Eka mengerutkan keningnya.
"Ibu bisa bayar lewat ponsel. Tinggal Ibu minta nomor rekening Mbak pemilik rumah makan ini lalu Ibu transfer deh tagihannya" jelas Aziz menahan tawa. Kini giliran dia menghabiskan uang ibunya.
"Hahahahaha. Kamu mulai pintar ya sekarang. Ibu jadi senang" ujar Tante Eka sembari menyenggol lengal suaminya.
"Alhamdulilah. Aku selamat" gumam Aziz yang dibalas kekehan kecil oleh Amrita, Hanin dan Fakri.
Tante Eka menghampiri pemilik rumah makan kemudian memberi penjelasan pada sang pemilkik RM. Pemilik rumah makan pun tersenyum dan membacakan nomor rekeningnya. Berhubung Tante Eka orangnya baik maka wanita paruh baya itu melebihkan lima puluh ribu.
"Bu, uangnya lebih lima puluh ribu" kata sang pemilik RM setelah membaca pesan masuk dari BRI.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya sengaja lebihkan. Terima kasih untuk hidangannya ya Bu. Assalamualaikum" balas Tante Eka tersenyum lalu menghampiri keluarganya.
"Ayo kita pulang keluargaku tercinta" ajak Tante Eka sambil menggandeng tangan suaminya.
Amrita bersama Aziz duduk di depan. Pa Sofyan dan Tante Eka di tengah, sementara Hanin dan Fakri duduk di bagian belakang. Dalam perjalanan pulang. Pa Sofyan,Tante Eka Fakri, Hanin dan Amrita menyanyikan lagu Cintanya Aku.
🎶🎶 Pa Sofyan
Tergetar aku tepat di hadapanmu
Debar jantungku berdetak saat kugenggam tanganmu
Beruntung aku kini dapatkan cintamu
Yang tercantik di hatiku sejak awal ku bertemu
🎶🎶 Tante Eka
Janji padaku, jangan kau lukai hati
__ADS_1
Seperti kisah yang lalu
🎶🎶 Fakri
Kau bukan cinta pertamaku
Namun aku berharap
Mulai hari ini, saat ini
Engkau cintanya aku
🎶🎶 Hanin dan Amrita
Yang kurasakan denganmu semua berbeda
Kekasih yang baik hati kini ada di sampingku
Janji padaku, jangan ada lagi
Hati yang lain selain aku (ooh) 🎶🎶
Aziz memakirkan mobilnya di depan rumah. Ia bergegas turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk istrinya. Melihat sikap baru putranya, Tante Eka dan Pa Sofyan tersenyum bahagia.
Hanin terkekeh saat Tante Eka melotot menatap Fakri. "Paling tidak bisa sabar!" ketusnya.
Pa Sofyan turun dari mobil begitupun dengan Tante Eka. Lalu disusul Hanin dan Fakri. Sementara Aziz dan Amrita lebih dulu masuk ke dalam rumah.
"Boleh aku izin tidur? Aku mengantuk" ungkap Amrita.
"Silahkan Sayang. Oh ya Amrita, Ibu dan Papa pinjam satu kamar ya. Ibu dan Papa juga mau tidur siang" ujar Tante Eka.
"Fakri, Hanin, jika kalian ingin beristrahat maka tidur di kamar yang terpisah. Ingat baik-baik! Fakri! Kamu dengar kan apa kata Ibu!" ujar Tante Eka menegaskan.
"Iya Bu... aku tahu batasanku dan aku tidak mungkin melanggar janjiku pada Ibu dan Papa" balas Fakri.
Hanin hanya bisa terkekeh melihat ekspresi kesal Fakri. Ia menyalakan televisi dan menikmati siaran yang ada. Sementara keempat pasangan suami istri sedang beristrahat di kamar. Di ruang keluarga, tinggalah Fakri dan Hanin yang enggan untuk tidur siang.
"Hanin, ada info di group mapala. Katanya sih nanti sore ada rapat di beskem. Mau menentukan hari untuk pergi mendaki nanti. Apa kamu mau pergi?" jelas Fakri dan kembali bertanya pada Hanin.
__ADS_1
"Tentu saja aku pergi. Mendaki adalah hobbyku. Mana mungkin aku melewatkan kesempatan bagus itu. Oh ya, bagaimana denganmu. Apa kau juga akan ikut?" tanya Hanin tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.
"Kalau kamu pergi maka aku juga akan pergi. Bukannya kita berdua sudah sepakat" balas Fakri tersenyum.
Sementara di rumah nomor A20, Aher dan Mahdania baru saja selesai membersihkan rumah mereka. Keduanya baru saja pindah di Perumahan Citraland Hertasning rumah nomor A20, berhadapan dengan rumah Amrita dan Aziz.
"By, bagaimana kalau nanti malam kita ajak Amrita dan Aziz makan malam bersama" ujar Mahdania menyandarkan kepalanya di sofa.
"Boleh juga" balas Aher tersenyum. "Da. Aku mandi dulu ya. Tubuhku terasa lengket nih" sambung Aher bergegas ke kamar.
Mahdania menatap punggung suaminya hingga tak terjangkau oleh pandangannya. "Aku bahagia menikah dengan pacar pertamaku dan langsung menjadi pacar terakhir" gumamnya.
"Da..." panggil Aher.
"Iya By..." sahut Mahdania beranjak dari sofa dan bergegas ke kamar. "Ada apa?" tanyanya.
"Apa kamu tidak melihat celana boxer ku?" tanya Aher sembari mencari cari celana boxernya di dalam kopernya.
"Mana aku tahu. Kita baru semalam tidur bersama. Mungkin kamu lupa bawa kali..." balas Mahdania.
Aher berpikir sejenak. "Astaghfirullah. Benar apa katamu. Aku hanya bawah dua dan dua-duanya aku lupa di kamar hotel. Da, bagaimana ini? Masa iya aku nggak pakai celana boxer" ujar Aher frustasi.
"Gunakan saja celana dalamku. Sepertinya muat untukmu" balas Mahdani dengan enteng. "Setelah mandi dan bersiap-siap kita ke rumah Mama. Mengambil semua celana boxermu" sambungnya.
"Da, aku tidak terbiasa menggunakan ****** ***** wanita. Aku malu, bagaimana bentuknya nanti" balas Aher cemberut.
"Lalu! Atau begini saja. Kamu tunggu di sini biar aku yang ke rumah Mama. Toh jarak dari sini ke rumah Mama hanya sekitar setengah jam" kata Mahdania seraya mengambil kunci mobil miliknya.
---
Sudah satu jam Aher menunggu namun Mahdania tak kunjung pulang. Aher yang tidak bisa menggunakan ****** ***** wanita, memilih menggunakan sarung dan memilih duduk di ruang tamu. Beberapa menit setelahnya, bel rumah berdentang tiga kali.
"Sepertinya itu bukan Mahdania. Mahdania memegang kunci rumah. Itu pasti orang lain" gumam Aher tanpa beranjak dari duduknya.
"Assalamulaikum..."
Terdengar seseorang mengucap salam. Aher mendekat lalu melihat dari jendela. Dilihatnya Aziz sedang berdiri di depan rumah. Pandangan Aher terhenti pada paperbag yang kini dipegang Aziz.
"Jika aku membuka pintu maka dia akan berpikiran negatif, melihat keadaanku yang sekarang. Jika aku tidak membuka pintu maka aku akan menjadi sahabat yang egois pada tetangganya. Ya Allah, haruska aku membuka pintu? Membiarkan Aziz menertawakanku?" gumam Aher.
__ADS_1
"Aher... buka pintunya! Aku tahu kamu sedang mengintipku kan..." teriak Aziz.
Cek--lek... (Pintu terbuka lebar)