Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Boncap_Cinta tak direstui_F&H


__ADS_3

"Papa, apa hanya kita bertiga yang akan ke kampung?" tanya Fattan menatap Papanya yang sibuk mengemasi pakaian mereka.


"Lalu dengan siapa lagi sayang" balas Aziz tanpa menatap putranya.


"Nenek, Kakek, Om, dan Mbak Ima nggak ikut?" tanya Fattan.


"Mereka nggak ikut. Hanya kita bertiga yang pergi" jelas Aziz.


"Papa, baju Mama kan yang Papa kemas?" tanya Fadila memastikan.


Aziz tersenyum. "Tentu saja sayang. Baju Mama yang Papa kemas untuk kalian" kata Aziz.


Flashback On


Aziz mengeluarkan sebagian pakaian Almarhum istrinya dari lemari. Pria itu ingin mengecilkan baju Almarhum agar bisa digunakan oleh Fadila dan Fattan. Bukan karena dia tidak mampu membeli baju baru untuk kedua anaknya. Hanya saja dia ingin pakaian istrinya bisa digunakan oleh orang lain terutama anak-anaknya. Maka dari itu, sebagian Aziz bagikan ke orang lain sebagian dia bawah ke penjahit pakaian.


"Papa, kita mau ke mana?" tanya Fadila. Dia dan kakaknya mengikuti langkah kaki Papa Aziz keluar dari rumah dan berhenti di samping mobil.


"Ke tempat jahit pakaian" balas Aziz sambil membuka bagasi mobil dan meletakkan satu kresek hitam jumbo yang berisi baju tunik dan baju gamis Almarhum.


"Baju Papa sobek?" tanya Fattan serius.


"Tidak. Cepat naik ke mobil" titah Aziz sambil membuka pintu mobil.


"Aziz... mau ke mana...?" teriak Aher bertanya.


"Mau keluar sebentar. Kamu mau titip apa? Aku mau ke Indo Mode" balas Aziz lalu bertanya.


"Kalau kamu mau ke Indo Mode aku mau titip sesuatu. Nanti nota nya aku kirim lewat Whatsapp" balas Aher. "Bagaimana dengan uangnya? tanya Aher.


"Nanti aku bayar dulu. Setelah itu baru kau ganti uangku" balas Aziz tersenyum.


"Oke deh" ucap Aher tersenyum lalu melambaikan tangannya.

__ADS_1


Aziz menyalakan mesin mobilnya dan mulai tancap gas keluar dari area perumahan. Dalam perjalanan, dia dan kedua anaknya bercanda gurau bahkan mereka juga sempat menyanyikan lagu kasih Ibu. Enam belas menit kemudian, mereka pun sampai di tempat jahit baju.


"Ayo turun" titah Aziz. Fadila dan Fattan pun turun melihat lihat di sekeliling.


"Ayo masuk" ajak Aziz. Fadila dan Fattan juga masuk tanpa bersuara.


"Assalamualaikum, Bu. Saya yang minta nomor Ibu kemarin" ucap Aziz menjelaskan pada Ibu yang akan membongkar jahitan baju almarhum dan menjahitnya lagi sesuai ukuran Fattan dan Fadila.


"Waalaikumsalam. Silahkan duduk" balas sang Ibu mempersilahkan Aziz duduk.


"Saya sudah bawah bajunya. Ibu bisa lihat dan sekalian mengukur bajunya" jelas Aziz.


Ibu Fatmala, tukang jahit baju yang akan membongkar kembali baju almarhum. Wanita paruh baya itu mulai melihat satu persatu baju almarhum. Kemudian mengukur tubuh Fadila dan juga Fattan. Mulai dari lebar bahu, dari baju ke pergelangan tangan, tinggi tubuh keduanya dan pergelangan tangan.


"Nanti saya hubungi jika bajunya sudah selesai saya jahit" ujar Bu Fatmala.


"Baik, Bu. Kami permisi dulu ya" pamit Aziz lalu beranjak dari kursi. "Assalamualaikum" ucapnya.


"Terima kasih Nenek" ucap Fadila sebelum keluar dari rumah Ibu Fatmala. Senyum manis tersungging manis saat tahu Papa Aziz membuat baju untuknya. Terlebih lagi baju itu adalah baju Mama Amrita.


"Ke Indo Mode. Kita belanja bulanan dulu sekalian belanja untuk Om Aher" balas Aziz.


Flashback Off


Aziz membawa turun koper mereka ke lantai satu untuk dimasukkan kedalam bagasi. Lalu kembali ke lantai dua membantu anaknya turun dari tangga. Mbak Ima yang sementara sudah selesai berkemas-kemas, wanita itu keluar menghampiri majikannya.


"Mbak Ima, nanti aku kabari kalau kami sudah pulang. Mbak bermalam di rumah Ibu dulu. Mbak sih, pake acara takut segala" ucap Aziz.


"Hahahaha. Tentu saja Mbak takut. Rumah sebesar ini hanya Mbak Ima di dalamnya? Oh tidak!! Mbak nggak berani" ucap Mbak Ima bergidik takut.


"Hahahahah" Aziz dan kedua anaknya tertawa. "Ya sudah. Ayo kita berangkat" ajak Aziz.


Mbak Ima membuka pintu mobil dan menuntun Fadila dan Fattan masuk ke dalam mobil. Lalu Mbak Ima pun masuk dan duduk di samping Fadila. Aziz menyalakan mesin mobil dan mengendarai mobilnya, setelah Mbak Ima dan si kembar sudah masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


...--...


Kediaman Pak Sofyan


Tante Eka dan Pak Sofyan berdiri di depan pintu menunggu Aziz. Tak lama menunggu, mereka melihat Aziz memarkirkan mobilnya di depan rumah. Baik Pak Sofyan maupun Tante Eka tersenyum melihat kedua cucunya menurunkan kaca jendela mobil.


"Ibu bos, aku nginap di sini ya. Aku nggak berani tidur di perumahan sendirian" izin Mbak Ima tersenyum.


"Iya. Mbak Ima langsung ke dalam saja. Ada Fakri di dalam. Anak itu masih galau terus" jelas Tante Eka.


"Kakak... izinkan aku ikut kalian" pinta Fakri yang tiba-tiba berdiri di depan pintu. Pria itu baru saja selesai menangis. Menangisi cintanya yang tidak direstui oleh Kakek sang kekasih.


Flashback On


Fakri mengukir senyum saat Hanin memintanya datang untuk melamarnya. Karena Papa dan Mamanya sudah kembali dari Luar Negri. Dengan gagahnya Fakri menekan bel rumah. Selang beberapa puluh detik, terlihat seorang ART membuka pintu rumah dan mempersilahkan Fakri untuk masuk.


"Apa tujuanmu datang ke sini?" tanya Pak Sailani Hibra. Orang tua kandung Hanin Inaya. Pak Sailani duduk di sofa dan disampingnya ada Nyonya Hibra.


"Bismilahirrahmanirrahim. Saya kesini mau melamar putri Bapak dan Ibu" jawab Fakri mengutarakan tujuannya menemui mereka.


Pak Sailani Hibra tersenyum, begitu juga Nyonya Hibra. Kedua pasangan itu tahu bahwa Fakri adalah kekasih anak mereka yang menjaga Hanin selama ini. Namun ada satu pria tua yang tiba-tiba turun dari tangga. Pria tua itu adalah Kakek Sudiri. Ayah kandung Pak Sailani Hibra. Kakek Sudiri duduk di depan Fakri, menatap tajam pria yang duduk di depannya.


"Saya tidak terima lamaran mu. Hanin sudah saya jodohkan dengan pria lain" kata Kakek Sudiri.


Degh!! Jantung Fakri seakan mau berhenti berdetak. Pria itu tidak menyangka lamarannya akan ditolak dan yang lebih menyakitkan lagi saat mendengar kabar perjodohan kekasihnya dengan pria lain.


Pak Sailani dan istrinya membulatkan mata tak percaya. Mereka tidak tahu menahu soal perjodohan itu. Mereka mengizinkan Fakri bersama Hanin karena mereka juga setuju dan sudah berencana menikahkan Hanin dan Fakri setelah keduanya wisuda. Itulah kenapa Hanin baru meminta Fakri untuk datang melamarnya karena Hanin sudah diberi izin menikah.


"Pa" Pa Sailani memanggil Papanya.


"Papa tidak mau tahu!! Kamu, istrimu dan juga anakmu. Kalian bertiga tidak boleh membantah" kata Kakek Sudiri dengan tegas.


"Sekarang kamu pulang dan jangan temui cucu saya lagi" kata Kakek Sudiri pada Fakri.

__ADS_1


Dengan rasa sakit yang seperti di sayat, Fakri mengucap salam lalu beranjak dari duduknya. Pria itu masih sempat-sempat menatap ke tangga dan melihat Hanin meneteskan air mata.


__ADS_2