Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 105


__ADS_3

Perumahan Citraland Hertasning nomor A20


Tawa baby girl terdengar di ruang keluarga, saat sang Dady mengajaknya bermain dan berbicara. Pria itu merasa sangat bahagia bisa membuat baby girl tertawa. Berulang kali dia mengedarkan pandangannya. Berharap sang istri belum kembali dari dapur agar dia bisa mencium putrinya.


"Ini kesempatan bagus untuk aku mencium putri kecilku yang cantik ini" gumam Aher tersenyum bahagia. Lalu mendekatkan wajahnya untuk mencium putrinya yang sementara ada di ayunan.


"Eh... tunggu dulu!!" teriak Mahdania.


"Harus ada aku. Aku tidak mau kamu mencium kasar putriku" sambungnya berkacak pinggang.


"Iya" balas Aher cemberut. Jika ada Mahdania maka dia hanya bisa mencium pipi kanan putrinya, tidak bisa lagi pipi kirinya.


"By, kalau cium anak itu jangan pakai otot, tapi pakai perasaan. Seperti saat kita membuatnya hingga dia ada. Ini kamu, kalau cium anak, bukannya anak tertawa tapi malah menangis. Itu kenapa? Karena kamu kasar" jelas Mahdania mencoba menasehati Aher sebelum mencium baby girl.


"Pakai hati? Oke" balas Aher tersenyum lalu mencium pipi kanan putrinya.


"Oek... oek... oek..."


"Oek... oek... oek..." baby girl menangis setelah dicium Dady nya.


Aher membulatkan mata melihat putrinya menangis. "Aku menciumnya dengan perasaan Sayang tapi kenapa dia menangis" ujarnya lalu menggendong putrinya.


"Itu tandanya dia nggak mau dicium oleh kamu. Dan hanya mau dijaga dan diajak bermain" timpal Mahdania tersenyum meledek.


"Da, apa kita bawa Sabila ke rumah sakit untuk diperiksa. Ini aneh loh, Da. Masa iya, bayi kita nggak mau dicium olehku. Apa aku kurang perhatian saat kamu mengandungnya" ungkap Aher berpikir keras.


"kalau dia sudah besar dia nggak akan nangis lagi. Mungkin ada sesuatu dan lain hal yang membuatnya nggak terima dicium olehmu" balas Mahdania.


"Sabila putri Dady yang cantik. Kalau udah umur setahun jangan nangis lagi ya kalau dicium Dady" ujar Aher mengajak putrinya berbicara.


...ΩΩΩ...


Pulau Lae-Lae


"Cepat jawab jujur! Kalian berdua dari mana dan kenapa bisa basah kuyup ples ikan ini kalian ambil dari mana?" tanya Tante Eka menyelidik.


"Sebenarnya ikan ini kami beli. Dan kami mandi air laut di bagian sana" balas Fakri sambil menunjuk tempat di mana dia dan Hanin mandi air laut berdua.


"Fiks. Sehari setelah ujian tutup kamu datang lamar Hanin. Diterima dengan tidaknya itu urusan belakang" kata Tante Eka. Wanita paruh baya itu tidak mau putranya membawa anak wanita orang lain ke sembarang tempat tanpa pantauan keluarga.


Pukul 15:00 PM

__ADS_1


Tante Eka dan rombongannya sedang berkemas untuk pulang ke rumah. Sementara Aziz duduk di bawah pohon hanya melihat lihat mereka yang begitu antusias pulang.


"Sebenarnya aku masih ingin berduaan dengan istriku tapi bagaimana caranya agar aku bisa berduaan dengannya" batin Aziz.


"Jika aku dan anak istriku bertahan di sini. Bagaimana perasaan Ibu dan yang lainnya. Pasti mereka akan sedih dan menganggap ku nggak perduli lagi sama mereka" gumamnya hampir tak terdengar.


"Mas, cepat lepas tendanya. Apa Mas nggak mau pulang?" titah Amrita sambil mengomeli suaminya.


Aziz menghela napas pelan. "Lebih baik aku pulang. Kapan-kapan baru aku ajak istriku jalan berdua" batinnya lalu beranjak menjauh dari bawah pohon dan mulai melepas tendang camping nya.


--


Pukul 17:31 PM


Perumahan Citraland Hertasning nomor A19


Aziz dan anak istrinya baru saja tiba di depan rumah. Lelah dan mengantuk, itulah yang ia rasakan. Ingin langsung tidur, tapi sekarang akan masuk magrib. Mau tidak mau Aziz harus melawan rasa kantuknya.


"Papa, jangan gendong aku lagi. Aku tahu Papa lelah" kata Fadila saat Papanya hendak menggendongnya.


"Anak pintar" balas Aziz tersenyum lalu menggandeng tangan Fattan dan Fadila.


"Aku tidak memintamu untuk mengangkatnya Kamu saja yang terlalu rajin. Cepat masuk dan bantu aku mandikan anak-anak" balas Aziz dengan santai lalu membuka pintu rumah.


Amrita tersenyum lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Aziz memandikan Fattan dan Fadila sementara Amrita memiliki tugas, menyiapkan pakaian ganti dan memakaikan pakaian untuk kedua anaknya. Setelah mandi dan bersiap siap. Fattan dan Fadila keluar dari kamar dan duduk di sofa.


"Kalian tunggu di sini ya. Papa dan Mama mau mandi dulu. Nggak lama lagi shalat magrib, nanti kita shalat berjamaah" ujar Aziz pada kedua anaknya. Dibalas anggukan oleh Fattan dan Fadila.


Setelah kepergian Aziz dan Amrita. Fadila mendekat dan duduk di samping kakaknya. "Apa Kakak ingat cara shalat?" tanya Fadila serius.


"Ingat, tapi sedikit bingung" balas Fattan.


"Lalu bagaimana caranya kita shalat?" tanya Fadila lagi.


"Nanti kita tanya Papa" balas Fattan.


Di kamar, Amrita dan Aziz sedang bersiap siap untuk mandi bersama. Kali ini pintu kamar terkunci, berjaga jaga jangan sampai si kembar masuk tiba-tiba di kamar dan menyaksikan hal yang tidak sepantasnya.


"Mas" panggil Amrita saat Aziz mulai berulah.


"Ayo kita buat adik untuk mereka. Apa kau mau?" ajak Aziz dan bertanya lebih dulu. Pria itu tidak mau memaksa istrinya untuk melayani dirinya.

__ADS_1


"Iya, Mas" balas Amrita dan mulai menggoda suaminya.


Disela sela kegiatan mereka, hampir saja Amrita mengeluarkan suara andalannya. Namun, dengan segera ia membungkam mulutnya dengan menggunakan telapak tangannya. Takut suara merdu itu didengar oleh kedua anaknya.


"Terima kasih Sayang" ucap Aziz setelah sesuatu yang keluar dari juniornya berhasil masuk ke dalam rahim istrinya.


Amrita tersenyum mengangguk. "Mas, gendong aku ke kamar mandi. Aku lelah" pinta Amrita merengek.


"Aku yang bekerja keras tapi dia yang merasa lelah" gumam Aziz lalu terkekeh.


Tak ada alasan bagi Aziz untuk menolak permintaan istrinya. Selama pria itu masih mampu maka dia akan menuruti semua permintaan istrinya. "Pegangan yang kuat istriku, takutnya kita jatuh. Bahaya loh kalau orang jatuh dalam kamar mandi" kata Aziz.


Setelah mandi, Aziz dan Amrita keluar dan bersiap-siap. Keduanya tersenyum saat Adzan magrib bergema di masjid. Mereka pun bersiap-siap dan tak lupa mengajak kedua anaknya untuk ikut shalat bersama.


"Mama, tapi Fattan dan Fadila nggak tahu caranya" ujar Fattan menunduk.


"Ya sudah. Sekarang Fattan dan Fadila duduk di sofa dan perhatikan setiap gerakan yang Mama dan Papa lakukan. Nanti, setelah Mama dan Papa shalat, Papa akan mengajari kalian berdua" balas Amrita menjelaskan.


Fattan dan Fadila mengangguk. Keduanya duduk dibelakang Mama mereka. Diam dan fokus memperhatikan setiap gerakan shalat.


"Ternyata seperti itu" gumam Fattan.


"Kakak. Kalau kita shalat Kakak berdiri di mana?" tanya Fadila.


"Dibelakang Papa, mungkin. Itupun kalau nggak salah nebak" balas Fattan.


Usai shalat magrib, Aziz memanggil putri dan putranya untuk mengajari mereka. Sekalipun kedua anaknya masih kecil tapi keduanya cukup pintar dan nggak ada salahnya mengajari mereka sekalipun belum waktunya. Sementara Amrita mengaji melanjutkan bacaan mereka.


"Papa! Apa Allah akan marah jika Fattan nggak shalat?" tanya Fattan serius.


"Sekarang nggak. Karena Fattan dan Fadila masih kecil. Tetapi nanti, kalau Fattan udah besar sedikit, Allah akan marah" balas Aziz menakut nakuti.


"Papa. Kata Mama, kalau kami nggak shalat nanti Allah masukkin ke dalam pengorengan yang panas. Apa itu juga benar?" tanya Fadila menatap serius Papanya.


"Benar Sayang. Penggorengannya itu panas... sekali" balas Aziz lagi.


"Pa, cepat ajari kami shalat. Kami nggak mau digoreng" pinta Fattan menarik baju koko Papanya.


Jangan lupa mampir di cerita Fadila Annisa Zakri. Mungkin saat membaca Novel Annisa kalian akan tahu bagaimana ending dari Novel Istri Nakal Dokter Aziz. Tapi ada yang saya sudah buat dan itu pasti kejutan. Entah kejutan yang menyedihkan atau membahagiakan 🤣


__ADS_1


__ADS_2