
Setelah semua orang tidur, Aziz dan Amrita keluar dari tenda. Keduanya duduk di depan tenda menghadap air laut. Amrita bersandar kepala di bahu suaminya. Sementara Aziz menggenggam erat tangan istrinya. Sebelah dari tangannya terulur mematikan lampu lentera camping agar keduanya bisa menikmati indahnya cahaya bintang di malam hari.
"Sayang, terima kasih untuk kesabaran dan kesetiaan mu padaku. Dan maaf, karena aku tak seromantis pria lain. Mungkin kamu bosan, menjalani hari-harimu tanpa kalimat romantis dan segalanya tentang hal indah dari suamimu ini. Inilah aku yang selalu malu dan akan salah tingkah bila bersikap beda dari diriku yang sesungguhnya"
"Setelah menikah, bukan hal romantis yang aku pikirkan, tapi bagaimana caranya agar aku memenuhi kebutuhanmu. Membahagiakanmu dengan caraku yang sedikit berbeda dari pria lain diluar sana. Namun kenyataannya, wanita lebih suka hal romantis. Amrita, istriku. Jika kamu menginginkan hal romantis seperti yang didapatkan wanita lain, maka tuntun aku memberimu rasa bahagia itu. Aku sudah berusaha untuk menjadi pria romantis tapi aku gagal karena rasa malu" ungkap Aziz menatap istrinya sekilas lalu menatap jauh ke lautan.
Amrita melepas genggaman tangan suaminya, lalu memeluknya dengan erat. Netra matanya mulai berkaca-kaca. Tak ada komentar baginya. Baginya Aziz adalah jodoh terbaik yang Allah berikan padanya.
"Mas, kamu itu romantis tapi kamu tidak menyadarinya. Bahkan caramu itu unik dan banyak wanita yang mengidamkan pria sepertimu. Kita shalat berjamaah, mengaji bersama, kamu juga memasak, menjemur pakaian dan bahkan kamu membantuku mengerjakan tugas kampus. Kamu pria idaman semua wanita" ungkap Amrita memeluk suaminya.
(Hanya saja orang lain tidak tahu dan hanya penulis dan pembaca yang tahu itu 🤣)"
"Mas, ayo kita berbaring di pasir. Nanti baru kita pindah ke dalam tenda" ajak Amrita seraya melepaskan pelukannya.
"Kita gunakan tikar pantai ya" balas Aziz lalu berdiri mengambil tikar pantai di dalam tenda.
"Kita buka tikar-Nya disini saja. Biar dekat dengan anak-anak" kata Amrita berdiri di depan pintu tenda.
Setelah membuka tikar di depan tenda. Aziz dan Amrita langsung berbaring menatap langit. Dan untuk menambah keromantisan di larut malam, Aziz merenggangkan tangan kanannya agar dijadikan bantal oleh sang istri.
"Bantal ini yang menghasilkan uang dan menghasilkan anak" ucap Amrita lalu tersenyum simpul.
Aziz berpikir keras, ia tidak paham dengan dua kata, yaitu menghasilkan anak. "Apa arti menghasilkan anak?" tanyanya memiringkan tubuh menghadap sang istri.
"Tangan itu yang menggendongku ke tempat tidur hingga terjadilah sesuatu yang diinginkan" balas Amrita tersenyum lebar.
__ADS_1
"Hahahaha" Aziz tertawa kecil. "Sayang, kalau dipikir pikir kamu itu imut ya. Kecil, tapi kuat. Yatim piatu, tapi kamu bisa bertahan dan bisa menjaga diri. Boleh dikata kamu kurang didikan dan kasih sayang. Tetapi kamu paham akan apa yang harus kamu lakukan sebagai wanita yang nantinya akan memiliki keluarga" ungkap Aziz sedikit memuji istrinya.
"Saat masih sekolah, ada dua orang temanku mendapat musibah. Mereka hamil diluar nikah. Itu terjadi bukan karena mereka diperkosa tapi karena mereka terbuai oleh rayuan dan janji manis sang pacar. Orang tua mereka marah, keluarga mereka malu. Lalu, saat kami Apel pulang sekolah, seorang guru bertanya pada kami. Apa yang akan kalian berikan pada suami kalian kelak? Kalau bukan mahkota kalian" ungkap Amrita menjelaskan Ilmu sekilas namun membekas diingatan-Nya.
"Dari situ aku berpikir keras. Aku membenarkan apa yang dikatakan oleh guru wanita tersebut. Alhamdulilah, Mas. Sekalipun aku berteman dengan anak begal, anak jalanan, namun caraku menghargai mereka membuat mereka menghargai ku. Kita tak harus mencari teman yang paham Ilmu, selama kita memiliki prinsip dan tekad yang kuat" jelas Amrita.
"Tapi tidak semua laki-laki itu pengecut dan hanya ingin merampas kehormatan wanita" serga Aziz.
"Aku tahu. Tapi aku nggak mau menambah dosa untuk Ayah. Aku udah ugal ugalan, nggak berhijab pula. Pokoknya aku hanya nggak mau pacaran. Ribet kurasa, harusnya aku istrahat tapi harus menjawab panggilan telepon" jelas Amrita lalu tersenyum dan memeluk suaminya.
"Kalau udah nikah kayak gini, ajak suami buat anak pun nggak masalah. Nggak dapat dosa, justru dapat pahala" gumamnya tersenyum..
"Hahahaha" Aziz tertawa kecil sambil membalas pelukan istrinya.
"Peribahasa mengatakan. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Yang artinya, sifat anak tidak jauh berbeda dengan Mama atau Papanya. Sekalipun begitu, aku harap kita berdua tetap berusaha mendidik anak-anak kita agar mereka tidak berpacaran. Cukuplah aku yang mengajak anak wanita orang lain berpacaran. Aku tidak mau Fattan sepertiku. Apa salahnya kan kita mencoba mendidik mereka" ungkap Aziz tanpa melepas pelukannya.
Amrita melepas pelukan suaminya lalu membuka pintu tenda. "Mama di sini, Nak" balas Amrita tersenyum.
"Aku mau tidur diluar sama Mama dan Papa" pinta Fadila memohon.
"Ma, aku juga mau" sambung Fattan tiba-tiba bangun.
Amrita menghela napas pelan. Lalu tersenyum menatap kedua anaknya. "Ayo kita tidur diluar" ajaknya sembari mengulurkan tangannya.
Fadila dan Fattan meraih tangan Mamanya lalu keluar dan berbaring diantara Mama dan Papanya. "Bintangnya indah ya, Pa. Aku ingin berkilau seperti bintang. Dikagumi oleh semua orang namun sulit dijangkau" gumamnya lalu memejamkan mata.
__ADS_1
"Selamat tidur Mama, Papa, Fadila" ucap Fattan yang juga ikut memejamkan mata.
...ΩΩΩ...
Pukul 08:12 AM
Aziz, Fakri dan Pa Sofyan tengah bakar ikan dipinggir pantai. Sementara kelompok wanita menelusuri pantai sambil mengambil gambar sebagai kenang-kenangan. Pemandangan di Pantai Lae-Lae sungguh indah, membuat memory ponsel Tante Eka hampir penuh karena foto yang sejak kemarin didokumentasikan.
"Ibu... ikannya sudah matang...!!" teriak Fakri sembari melambaikan kedua tangannya. Memanggil keluarganya untuk segera kembali.
Dari kejauhan, Hanin melihat Fakri memanggil mereka. "Tante, sepertinya mereka memanggil kita" kata Hanin menunjuk ke arah Fakri.
Tante Eka menatap jauh ke arah yang ditunjuk calon menantunya. "Benar. Ayo kita kembali ke tenda" ajak Tante Eka.
"Hanin, tolong foto kami bertiga" pinta Amrita sambil menyerahkan ponselnya pada Hanin. Lalu dia dan kedua anaknya mulai mengambil gaya agar hasil foto mereka terlihat bagus.
"Sudah" kata Hanin sambil memperlihatkan hasilnya.
"Wah! Bagus sekali. Terima kasih fotografer Hanin cuuu. Ummmuah" kata Amrita tersenyum lembar.
Hanin, Fadila dan Fattan, ketiganya berlari mengejar Tante Eka yang jaraknya sudah lumayan jauh dari mereka.
"Tunggu aku..." teriak Amrita yang ditinggal oleh anak dan sahabatnya.
Sesampainya di bale-bale. Amrita duduk di samping suaminya. Sementara Fadila dan Fattan mengganggu Nenek dan Kakek mereka yang masih sempat-sempatnya makan sepiring.
__ADS_1
"Syukur mereka cucuku. Andai bukan, sudah aku pindahkan mereka untuk makan bersama Fakri atau Mbak Ima, atau Hanin juga bisa" batin Tante Eka.
"Anak yang pintar. Teruslah menempel pada Nenek dan Kakek. Biarkan Papa makan sepiring dengan Mama kalian" batin Aziz penuh kemenangan.