Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 41


__ADS_3

Sepulang dari BTN Antara, Aziz dan Amrita memilih pulang ke Perumahan mereka. Keduanya nampak diam di dalam mobil tanpa saling mengajak bercerita. Sesekali Aziz melirik Amrita yang sejak tadi memainkan ponselnya.


"Mentang-mentang punya ponsel baru" gumam Aziz pelan namun masih bisa didengar oleh Amrita.


Amrita tersenyum lebar menatap suaminya yang menatapnya aneh. "Mas, aku lagi cari baju keluaran terbaru untuk dijual online. Kan sekarang aku punya motor sendiri jadi aku bisa ngantar paket tanpa minjam motor lagi"


"Aku tidak setuju dengan keputusanmu. Kamu harus fokus kuliah. Aku tidak mau kamu sibuk dan nantinya bikin kamu lelah. Lagian aku sudah punya pekerjaan, aku bisa menafkahimu dengan gajiku. Apalagi yang kamu inginkan? Apa uang yang aku kirimkan ditabunganmu tidak cukup? Atau sudah habis?" kata Aziz sambil menyetir.


"Kan bisa jualan sambil kuliah, Mas. Untuk uang yang Mas kirim masih ada di ATM. Bahkan ada penambahan dari Ibu. Aku tidak tahu kenapa Ibu mengirimkan aku uang. Aku sudah bertanya pada ibu tapi Ibu malah tersenyum dan tidak mau menjawab" jelas Amrita.


"Ibu mengirimkan Amrita uang" batin Aziz.


"Aku tetap tidak setuju. Kamu akan diperbolehkan bekerja jika aku tidak bekerja lagi" ujar Aziz.


Aziz memakirkan mobilnya di depan perumahan. Mereka pun turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah. Keduanya berjalan masuk menuju kamar mereka yang ada dilantai dua. Sesampainya di dalam kamar, Amrita mengambil tempat dibibir ranjang.


"Mas, kita sudah berdamai kan?" tanya Amrita hati-hati.


Aziz menoleh menatap istrinya lalu mengambil tempat di kursi yang ada di kamar depan meja rias. "Aku rasa belum. Kamu mengajakku berdamai tapi tidak dengan niat yang bersungguh-sungguh. Itulah sebabnya aku menganggap kita berdua belum berdamai"


"Loh! Kok bisa gitu sih Mas?" tanya Amrita membulatkan mata.


"Ya bisa saja" balas Aziz santai.


"Mas, bukannya kita selalu tidur di kamar yang sama. Bahkan Mas sering----" Amrita menghentikan kalimatnya karena ia sendiri malu untuk melanjutkannya. "Ya sudah. Kalau begitu ayo kita berdamai" kata Amrita mengalah.


Aziz terkekeh mendengarnya. "Katakan dengan niat yang bersungguh-sungguh. Jika tidak maka kita akan seperti ini terus" ujarnya.


"Mas, ayo duduk di sini. Ada yang mau aku ingin bicarakan" kata Amrita tersenyum.


Aziz mendekat lalu duduk disamping istrinya. "Katakan"

__ADS_1


Amrita mengumpulkan keberaniannya lalu menatap manik mata suaminya. "Aku tahu, pernikahan kita berawal dari musibah. Karena musibah itulah hingga aku menjadi istri durhaka. Aku tahu kewajibanku namun karena rasa kesal aku lupa akan kewajiban itu. Kini, aku sudah menerima Mas sebagai suamiku. Mas, maafkan aku. Maaf untuk semua kesalahanku. Aku akan berusaha untuk membuat Mas melupakan Kak Anaya yang cantik itu" ujar Amrita.


"Bahkan sampai hari ini pun dia masih berpikir kalau aku masih mencintai Anaya" batin Aziz. Seketika senyum terukir diwajahnya.


"Aku sudah memaafkanmu. Jauh sebelum kamu menganggapku suamimu, aku sudah lebih dulu menganggapmu istriku karena memang kamu istriku" jelas Aziz.


Amrita merasa haru, air matanya mulai menetes membasahi wajah cantiknya. Ia merasa beruntung bersuamikan pria dewasa yang kini ada dihadapannya. "Mas. Hiks... hiks... hiks... terimakasih" ujarnya.


Aziz memeluk istrinya. Mengelus pelan kepala istrinya. "Kamu tidak perlu berterimakasih. Oh ya, kapan kamu mandi bersih?" tanya Aziz.


"Besok sore aku akan mandi bersih" balas Amrita sesegukan.


----------


Sinar pagi kembali menyapa menyinari Kota Indah itu. Aziz menggeser selimutnya lalu bangun, berjalan menghampiri jendela kamar. Ia berdiri memandangi indahnya pemandangan dari lantai dua perumahan. Seulas senyum terukir diwajah tampannya saat dia mengingat apa yang dia dan istrinya rundingkan semalam.


"Alhamdulilah. Akhirnya waktu itu telah tiba" gumam Aziz.


"Kamu kenapa? Tidak ada yang luka kan?" tanya Aziz panik.


"Hahahahahaha. Aku tidak kenapa-napa. Tadi aku nonton filem horor jadi aku berteriak" balas Amrita tersenyum lebar.


"Astagfirullah..." Aziz menepuk jidatnya.


"Cie... yang sudah jatuh cinta tapi belum mau ngaku" ledek Amrita disertai tawa.


Aziz nampak malu, dengan secepat kilat ia membuat dirinya seakan biasa-biasa saja. "Siapa yang jatuh cinta padamu" balas Aziz santai.


"Susah bangat bilang iya" gumam Amrita kesal lalu duduk di kursi.


"Haiss... sudah jelek tambah jelek lagi" ledek Aziz mengambil tempat di depan istrinya. Aziz mengambil kue buatan istrinya lalu memakannya sampai habis.

__ADS_1


"Mas... jadi suami kok gitu amat sih. Aku juga ingin sarapan" ujar Amrita cemberut. Ia ingin memakan kue buatannya sendiri tapi rasa kesal membuatnya berdiam dulu. Saat ia melihat kue, kue di atas piring tinggal satu.


"Kamu sih tidak bilang kalau mau ikut sarapan. Dari tadi cemberut terus" balas Aziz menahan tawa.


"Ya sudah, kalau begitu itu untuk aku saja" kata Amrita lalu mengambil kue dari piring.


"Cepat habisin kue dan susunya, siapkan baju kerjaku karena hari ini aku akan pulang sore. Sepulang dari Rumah Sakit aku ada janjian dengan seseorang. Jadi kamu hati-hati di rumah. Kalau kamu bosan, kamu bisa hubungi Hanin dan Afika untuk ke sini" kata Aziz beranjak dari duduknya lalu menaiki anak tangga.


"Mas... tunggu aku..." teriak Amrita. Ia berlari mengejar suaminya. Namun Aziz justru mempercepat langkah kakinya.


"Mas...!" teriak Amrita.


Bruk... kaki Amrita tersandung di kursi hingga ia jatuh terkapar dilantai.


"Kenapa kamu bodoh sekali. Hah...!! Bagaimana jika kamu luka...!!" bentak Aziz sembari menggendong istrinya membawanya di sofa yang ada di ruang keluarga.


"Mas yang salah tapi Mas juga yang marah-marah" balas Amrita santai.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya takut kamu kenapa napa" ujar Aziz merasa bersalah.


"Terima kasih karena Mas sudah mencintaiku" kata Amrita sembari memeluk suaminya.


Aziz tersenyum. "Siapa yang jatuh cinta padamu?" tanyanya santai.


"Mas, aku tahu Mas menyukaiku tapi Mas malu kan untuk jujur. Aku bisa lihat dari sikap Mas yang tadi. Aku tidak akan marah kalau Mas tidak mau jujur" jelas Amrita dengan bangga lalu melepas pelukannya. Amrita beranjak dari duduknya, berjalan menaiki anak tangga.


Aziz hanya bisa tersenyum sembari mengikuti langkah kaki istrinya. Sesampainya di dalam kamar, Amrita menyiapkan pakaian kerja suaminya sedangkan Aziz memilih masuk ke kamar mandi. Dua puluh menit kemudian, Aziz ke luar dari kamar, ia melihat istrinya sedang asik nonton televisi. Dengan senyum mengembang, Aziz berjalan menghampiri istrinya.


"Ingat, sebentar malam kamu harus bersiap-siap. Tunggu aku di rumah, jangan lupa mandi" bisik Aziz tepat ditelinga istrinya.


Jleb...! Amrita menelan salivanya dengan susah payah.

__ADS_1


"Apa maksudnya bersiap-siap?" batin Amrita.


__ADS_2