
Fattan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, kepalanya bertumpu di atas tangan kanannya. Mata indahnya menatap langit-langit kamar dan pikirannya tertuju pada tujuannya, yaitu mengejar cinta istrinya. Dia tidak lelah namun dia ingin mengikuti saran dari Papanya.
"Kenapa aku bersikap layaknya suami yang nggak mempercayai istrinya" uca Fattan dalam benaknya.
"Rasa cemburu membuatku menjadi pria egois dan kekanak-kanakan. Dan tanpa aku sadari, aku melukai hati istriku. Dia istri penurut, hingga dia menuruti perintahku" batin Fattan.
Setelah restoran (Restoran Kuliner Berkah) resmi dioperasikan, Sakia mulai menyibukkan diri di butik dan Alif diminta mengurus restoran. Dan hanya sekali-kali Sakia ke restoran. Hal itu bukan keinginan Sakia yang sesungguhnya. Wanita itu hanya ingin berbakti pada suaminya. Karena itu adalah permintaan suaminya, yaitu menjaga jarak dengan Alif. Hingga dia memilih untuk menjauh dari orang yang menemaninya membangun usaha dari nol. Apakah Sakia egois? Entahlah. Yang pasti dia hanya ingin berbakti pada suaminya.
Sakit? Awalnya Sakia merasa sakit hati namun lambat laun dia mulai terbiasa. Sakia hanya akan ke restoran bila dia merasa rindu pada Nurin dan Alif. Ya, karena Alif dan Nurin yang mengurus restoran dengan empat pegawai baru berjenis kelamin wanita. Niat mereka selain menghasilkan uang juga untuk membantu para wanita yang membutuhkan pekerjaan. Sementara Nada dan Sakia, mereka berdua mengembangkan bisnis di butik.
"Kakak belum tidur?" Sakia menghampiri suaminya. Wanita itu baru saja melakukan rutinitas sebelum tidur. Apa lagi kalau bukan membasuh wajah dengan sabun dan menyikat giginya.
"Belum. Kia, ayo sini" kata Fattan.
Sakia merangkak di atas pembaringan. Duduk bersandar di kepala tempat tidur dan tak lupa melepas hijabnya. "Ada apa?" Sakia melirik suaminya sesaat.
Fattan bangkit dan duduk seperti istrinya. "Maafkan Kakak yang bersikap egois. Kakak terlalu mengekang Kia. Mulai sekarang Kia nggak perlu menjaga jarak lagi dengan Alif. Kak Fattan nggak akan marah lagi" ungkap Fattan dengan serius.
Sakia terdiam sesaat. "Kakak terlambat menyadarinya. Kia udah terlanjut nyaman dengan apa yang Kakak minta. Kia nggak akan meminta Kakak untuk mengerti karena itu percuma saja. Benar kata orang, lebih baik diam daripada meminta untuk dimengerti. Karena kebahagiaan kita sendiri yang ciptakan, bukan orang lain" jelas Sakia.
"Jujur saja, awalnya Kia marah karena Kak Fattan nggak menolak permintaan keluarga. Beberapa hari setelah menikah, Kia mulai menyadari sesuatu. Bukan amarah yang harus Kia hadirkan melainkan rasa syukur. Bersyukur karena Kak Fattan menyetujui keputusan yang mereka buat"
__ADS_1
"Dengan menikah, Kia bisa keluar dari rumah Mama dan Papa. Dan disaat Kakak mengikuti permintaan Kia untuk pindah tempat tinggal, Kia semakin bahagia. Terima kasih, Kak"
"Menjaga jarak dengan Alif adalah bukti bakti seorang istri pada suaminya, terlebih lagi itu permintaan suami. Menjaga perasaan Kakak termasuk salah satu tugas Kia. Jadi tenang saja, Kia sudah nyaman. Ya, sekalipun awalnya Kia kecewa dengan sikap Kakak yang nggak percaya pada Kia tapi biarlah. Kia nggak mau mikirin itu lagi"
"Lagian, seseorang yang benar-benar mencintai, dia akan mempercayai istri/suami sekalipun yang diucap adalah kebohongan. Melarang itu bukan sifat cemburu melainkan sikap egoisme. Dan nggak melarang bukan berarti dia nggak cinta dan sayang, melainkan dia percaya. Itu sih menurut Kia" sindir Sakia.
"Kakak suami Kia yang patut Kia jaga perasaannya. Maafkan Kia bila selama kita menikah Kia membuat Kakak nggak nyaman dengan sikap Kia. Jangan lagi mengerjar cinta Kia. Toh di dunia ini ada pasangan yang beranak pinang tanpa ada rasa cinta" ungkap Sakia panjang kali lebar.
Fattan diam membisu. Mulutnya kaku untuk bersua. Ya, sudah jelas dia akan terdiam. Karena sebelum dia menekankan Sakia menjaga jarak dengan Alif, Sakia sudah memberitahunya bahwa dia sadar diri akan statusnya yang sebagai seorang istri. Tapi sikap egois, membuat Fattan meragukan ucapan istrinya.
"Apa yang harus Kakak lakukan agar Kia bahagia lagi?" tanya Fattan. Kini posisinya menyamping menghadap istrinya.
"Mari kita jalani apa yang sudah digariskan untuk kita" balas Saki tersenyum.
Fattan memeluk Sakia. Dan Sakia membiarkan Fattan memeluknya dengan erat. Refleks ia mengelus pundak suaminya. "Jangan sesali yang telah berlalu. Mari kita jadikan masa lalu sebagai pelajaran agar masa depan kita menjadi lebih baik lagi" ujar Sakia.
Fattan semakin terisak. Penyesalan semakin membuat tangisnya pecah. "Kia, maafkan Kakak" ujarnya disela-sela tangisnya.
Sakia melerai pelukan suaminya. Menyeka bulir bening yang keluar dari kelopak mata suaminya. "Air mata ini bukti penyesalan dan cinta. Kia akan belajar mencintai Kakak Lagi. Kakak jangan menangis lagi" kata Sakia tersenyum.
"Hahahahaha" tawa Sakia pecah. Untuk pertama kalinya Sakia tertawa saat hanya ada dia dan Fattan di kamar.
__ADS_1
"Kakak, jangan seperti anak kecil. Kakak itu beda empat tahun loh sama Kia. Masa iya Kakak menangis. Cemen bangat sih" ejek Sakia sambil mencubit kedua pipi suaminya. "Gemes deh" ujarnya.
...🍁🍁...
"Wajah anak Papa kelihatan cerah pagi ini" ledek Papa Aziz. Pria paruh baya itu sedang menyaksikan siaran televisi di pagi hari.
"Papa, terima kasih untuk nasehatnya" kata Fattan mengambil tempat di samping Papanya.
"Sudah kewajiban Papa memberi nasehat pada anak-anak Papa. Ingat! Jangan biarkan istrimu terluka lagi. Beri dia kenyamanan dan biarkan dia terbang tinggi. Dan jangan lupa suport dia di setiap kegiatannya selama itu hal yang berfaedah" jelas Papa Aziz.
"Iya, Papa. Oh ya, aku dan Sakia nggak mau terima uang dari Papa. Kami mau hidup mandiri. Kalau uang Papa lebih, Papa donasikan saja ke orang yang membutuhkan" kata Fattan terkekeh.
"Papa mau cari komunitas dulu. Mau donasi biar nggak banyak pertanyaan di akhirat nanti" kekeh Papa Aziz.
"Papa mau donasi? Aku, Nurin, Nada dan Alif, kami berempat membuat group sedekah. Uang dari donatur kami berikan pada orang yang membutuhkan. Dua hari lagi kami akan ke Rumah Sakit Wahidin. Ada pasien yang bernama Asdi, berumur 11 tahun, pasien rujukan dari Sulawesi Barat. Kasihan Pak, mereka dari keluarga yang nggak mampu. Untuk operasi saja, mereka hanya mengandalkan uang dari berbagai komunitas yang membantu mereka"
"Anak Asdi ditabrak pengendara motor hingga tulang di pergelangan kakinya patah. Mau nggak mau harus diamputasi karena sudah lama dibiarkan oleh orang tuanya di rumah" jelas Sakia panjang kali lebar.
"Ya Allah, mulia sekali hati menantu Papa ini. Nggak Farhan, nggak Sakia, kalian berdua menantu yang paling baik. Papa Aher pasti bahagia memiliki putri yang sholehah seperti Sakia" kata Papa Aziz memuji menantunya.
"Hehehehe. Ini juga bukti bahwa putra Papa berhasil menuntun Kia menjadi orang baik" cengir Sakia.
__ADS_1
"Baru juga semalam aku memberinya kebebasan dia sudah memujiku dihadapan Papa" batin Fattan.