
Pukul 09:12 AM
"Hati-hati ya, Mas" ucap Amrita tersenyum sambil berdiri di depan pintu rumah bersama kedua anaknya. Pandangannya masih tertuju pada sosok pria yang menyandang status Papa dua anak.
"Iya Sayang. Kalian juga hati-hati di rumah. Jika kalian ingin makan kue maka pesan saja" balas Aziz tersenyum seraya membuka pintu mobil lalu masuk ke dalam bagian kursi kemudi.
Amrita dan kedua anaknya menatap mobil yang dikendarai pria tercinta. Setelah mobil Avanza itu menghilang dari pandangan mereka, barulah ketiganya masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa. Amrita dan kedua anaknya bingung mau ngapain, hingga mereka bertiga hanya saling tatap dan tersenyum.
"Mama, ayo kita tidur. Aku masih mengantuk" ajak Fadila.
"Mama nggak bisa tidur di jam segini Sayang. Kalau kamu mau tidur, kamu masuk saja di kamar. Atau mau Mama bacakan cerita lagi?" balas Amrita lalu bertanya. Takutnya Fadila akan sedih.
"Dek, ayo kita belajar menghitung. Nanti jam sepuluh baru kita tidur" ajak Fattan yang dibalas senyum lebar oleh Fadila.
"Mama, kami ke kamar dulu" pamit Fattan seraya menggandeng tangan adiknya.
Di sofa, tinggalah Amrita seorang diri. Amrita mengambil ponselnya dan membuka group kelas di Aplikasi Whatsapp. Banyak percakapan di dalam group. Membahas tentang proposal yang tak kunjung diperiksa. Dan beberapa orang mencari teman untuk menemaninya ke kampung mengambil sampel penelitian.
"Bagaimana dengan teman satu gengku?" gumam Amrita lalu mencari group yang hanya terdiri dari sepuluh orang.
"Ya Allah, kasihannya Anggi dan Nafisa. Proposal mereka belum di Acc juga" gumam Amrita. Kedua ibu jari tangannya kembali berkutak dilayar ponsel. Ibu dua anak itu mengetik sesuatu untuk di kirim ke groupnya yang terdiri dari sepuluh orang itu.
"Anggi, Nafisa, jika kalian berdua nggak ke kampus. Maka sekarang juga ke rumahku. Jangan lupa bawa leptop dan nggak perlu bawa makanan" Amrita.
Beberapa menit setelah pesan terkirim di group. Terlihat Anggi sedang mengetik. "Alhamdulilah. Aku mandi dulu setelah itu meluncur ke rumahmu" Anggi.
"Anggi, kalau bisa jemput aku di kos ya. Aku nggak punya uang lagi untuk bayar ojek. Belum ada kiriman dari kampung" Nafisa.
"Iya. Sekarang kamu bersiap-siap, nanti aku jemput" Anggi.
"Semangat Anggi dan Nafisa. Kalian berdua pasti bisa. Maaf belum bisa membantu karena aku masih sibuk dengan penelitian ku" Maya.
__ADS_1
"Amrita, sepulang dari Laboratorium aku mau ke rumahmu. Aku mau istirahat di situ. Di rumahku banyak orang. Entah dari mana datangnya orang-orang itu. Yang pasti mereka adalah tamu orang tuaku" Hanin.
"Iya. Yang mau datang silahkan datang. Aku di rumah 24 jam (Smile tersenyum)" Amrita.
--
Pukul 11:02 AM
Anggi memarkirkan motornya di depan rumah Amrita. Dia dan Nafisa pun turun dari motor lalu menekan bel rumah berulang kali. Di dalam rumah, Amrita sedang memasak. Bel rumah yang terdengar berdentang membuatnya bergegas membuka pintu.
Cek--lek... (Pintu terbuka lebar)
"Silahkan masuk" ucap Amrita mempersilahkan kedua temannya masuk ke dalam.
"Assalamualaikum" Anggi dan Nafisa mengucap salam lalu masuk ke dalam.
"Waalaikumsalam" balas Amrita sambil menutup pintu. Lalu menghampiri temannya di ruang tengah.
"Kalian tunggu di sini sebentar. Aku mau angkat sayur dulu" kata Amrita tersenyum yang dibalas anggukan oleh Anggi dan Nafisa.
"Anggi... jangan tidur lagi dong. Kapan kelar proposal nya kalau kamu mau tidur terus" ujar Nafisa sembari menarik lengan sahabatnya.
"Nafisa, punya orang tua yang nggak mikirin perasaan anak itu nyatanya sakit ya. Orang tuaku dikenal banyak orang hingga mereka selalu mengekang ku untuk cepat-cepat wisuda. Seakan akan aku ini robot. Aku lelah dan ingin menyerah. Jujur saja aku stres. Aku sudah berusaha tapi pantulan dari pembimbing banyak sekali" curnhat Anggi dengan mata terpejam.
"Kamu yang sabar ya Anggi. Aku nggak tahu harus memberimu motifasi apa. Pastinya aku turut sedih melihatmu terkekang seperti ini. Jika tidur dapat membuatmu agak tenang maka tidurlah. Mungkin hati dan pikiranmu butuh istrahat" balas Nafisa yang juga ikut sedih mendengar curhatan hati sahabatnya.
"Dia kenapa?" tanya Amrita mengambil tempat di samping Nafisa.
"Lagi sedih. Biarkan saja dia tidur" balas Nafisa. "Sekarang kamu baca pantulan ku. Otakku sudah mau pecah membacanya berulang kali. Menurutku kalimatnya sudah bagus tapi kata Ibu perbaiki lagi" balas Nafisa sambil memperlihatkan pantulan dari pembimbingnya.
Amrita mengambil proposal sahabatnya lalu membacanya dengan seksama. Ia membaca dihalaman yang ada pantulan pembimbing. "Menurut aku kalimat yang kamu buat ini sudah bagus. Kamu sudah mengubah kata-kata yang kamu ambil dari literatur kan?" tanya Amrita.
__ADS_1
"Sudah, Amrita. Kalimat yang aku buat itu maknanya sama dengan yang di literatur. Kan kamu tahu sendiri, kalau kita tinggal copy paste itu namanya plagiat" balas Nafisa lagi.
"Ya sudah. Aku buat kalimat baru yang maknanya sama dengan yang di literatur. Mana jurnal yang kamu ambil. Biar aku lihat dari situ saja. Jadi mudah untuk aku merubah kata-katanya" jelas Amrita.
--
Pukul 15:21 PM
Hanin sudah pulang sejak pukul 15:00 PM. Sementara Anggi dan Nafisa baru saja selesai menyelesaikan pantulan proposal. Keduanya merasa tulang lehernya akan patah dan mata mereka akan mines karena berjam-jam duduk menatap layar leptop.
"Amrita, kami pamit pulang ya. Terima kasih untuk bantuan dan makanannya" kata Nafisa tersenyum.
"Nafisa, tunggu di sini sebentar" kata Amrita lalu masuk ke dalam kamarnya. Beberapa puluh detik kemudian, ia kembali menghampiri sahabatnya.
"Ini untuk kamu. Gunakan ini dengan baik" ujar Amrita sembari menyerahkan uang seratus ribu dua lembar pada Nafisa.
"Ambil saja Nafisa. Gunakan untuk keperluan mendesak. Pulang dari sini kamu ikut aku ke pasar. Kita belanja bahan makanan di sana. Nanti aku yang bayar. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena kamu dan Amrita sudah membantuku" kata Anggi.
"Terima kasih. Kalian semua adalah sahabat yang baik" ujar Nafisa sesenggukan.
...ΩΩΩ...
Pukul 20:12 PM
Aziz baru saja tiba di rumah. Kali ini pria itu membawa pulang kotak obat kesukaan istrinya. Yang berisi kue brownis original. Seulas senyum tersungging di wajah tampannya saat bayangan senyum manis istrinya sudah sejak tadi terlintas dipikirannya.
"Assalamualaikum" ucap Aziz lalu masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam" balas Amrita. Senyumnya mengembang melihat kresek bening bertuliskan Amanda brownis.
"Ini obatmu Sayang" kata Aziz sambil menyerahkan obat istrinya.
__ADS_1
"Terima kasih suamiku" ucap Amrita tersenyum. Lalu berjinjit mengecup bibir suaminya sekilas. Kemudian ke dapur mengambil piring.
"Sayang... tambah lagi..." teriak Aziz tersenyum mesum.