Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 35


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu, Sudah lima hari Fattan berada di Jogja. Dan sudah tiga hari Sakia bermalam di rumah Nenek Eka. Wanita itu masih menunggu kabar dari Nurin dan Nada. Terakhir kali chat tan dengan Nurin dan Nada saat kedua wanita itu berada di pangkalan speed boat jalur Kampung Tiber.


"Kia" panggil Papa Aziz menghampiri menantunya di dapur.


"Iya, Papa" sahut Sakia menoleh Papa Aziz yang sementara membuka kulkas.


"Apa jaringan di kampungnya temanmu belum ada?" tanya Papa Aziz.


"Sepertinya sih begitu, Paa. Kia udah hubungin Nurin, Nada, Alif bahkan Ferri, tapi tak satupun nomor mereka aktif" jawab Sakia.


"Ya sudah. Papa temui Kakek dan Nenek dulu" kata Papa Aziz berlalu ke ruang keluarga.


......🍁🍁......


Malam hari, Sakia memandangi ponselnya, banyak pesan atau panggilan yang dia nanti. Panggilan dari suaminya, Nurin, Nada, Alif dan Ferri. "Apa Kak Fattan sibuk? Tumben Kak Fattan nggak menelepon" gumam Sakia.


"Kenapa tower di kampungnya Nurin pakai acara rusak sih!!" ketus Sakia.


Sakia keluar dari kamar menghampiri Kakek Sofyan, Nenek Eka dan Papa Aziz di ruang keluarga. Belum cukup lima menit Sakia mendudukkan bokongnya, terdengar mobil berhenti di depan rumah. Selang beberapa menit, terlihat Tante Hanin dan Om Fakri membuka pintu dan bergabung dengan mereka di ruang keluarga.


"Bagaimana? Apa ada kabar dari Alif?" tanya Papa Aziz pada adiknya, Fakri.


"Iya, Kak. Kedatangan kami ke sini mau ngasih informasi. Sepertinya lamaran Alif diterima, dan Alif meminta kita untuk segera menyusulnya ke kampung calon istrinya. Alif nggak mau nunda pernikahan lagi. katanya sih ribet kalau harus nunda pernikahan" jelas Om Fakri.


"Alhamdulilah" Papa Aziz, Kakek Sofyan, Nenek Eka dan Sakia mengucap basmalah.


"Apa uang mahar dan uang lainnya sudah mereka bicarakan?" tanya Kakek Sofyan.


"Sudah, Paa. Subhanallah, uang mahar yang mereka minta sangat sedikit" jawab Om Fakri. "Tapi sekalipun begitu, aku dan Hanin sudah berdiskusi, kami mau bayar dua kali lipatnya, anggap saja kita menghargai Nurin dan keluarganya" sambung Om Fakri.


"Ngak apa-apa. Besok kita berkemas-kemas dan subuh nya kita ke Ambon" kata Papa Aziz. Lalu menatap kedua orang tuanya. "Papa, apa Papa dan Mama mau ikut? Perjalanan ke sana itu jauh sekali loh" sambung Papa Aziz.


"Iya, Kek. Kata Nurin, dari pangkalan speed boat ke kampung mereka memakan waktu empat jam" timpal Sakia.


"Kami tetap mau ikut. Alif cucu kami satu-satunya dari Fakri" kekeh Nenek Eka dan Kakek Sofyan.


...---🍁🍁---...

__ADS_1


Sakia duduk bersila di atas tempat tidur, memandangi ponselnya yang sejak pagi hingga kini tetap saja sunyi. Tidak ada pesan ataupun panggilan dari Fattan. Begitu juga dari Nurin dan Nada.


"Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi pada Kak Fattan" gumam Sakia, rasa cemas menghampirinya.


Drt drt drt....


Ponsel Sakia berdering, tak menunggu lama Sakia langsung mengambil ponselnya. Senyum indah yang sempat terukir berganti menjadi kerutan di keningnya. "Nomor siapa ini" gumam Sakia. Wanita itu mengabaikan panggilan masuk dari nomor yang tidak dia kenal.


Ting!!


Satu notifikasi pesan masuk. Sakia membuka pesan dan membacanya. Senyumnya kembali tersungging saat membaca pesan dari suaminya. "Owww, jadi nomor baru tadi itu nomor barunya Kak Fattan" gumam Sakia.


Drt drt drt...


Ponsel Sakia kembali berdering. Tak menunggu lama, Sakia langsung menekan gambar hijau. "Assalamualaikum, Kak" sapa Sakia.


"Waalaikumsalam. Kia di mana?" tanya Fattan diseberang telepon.


"Di rumah Nenek. Kakak, bagaimana kabar?" tanya Sakia, cemas.


"Kakak baik-baik saja. Maaf ya, Kakak baru kabarin Kia" balas Fattan berbohong. Pria itu demam namun dia tidak ingin membuat Sakia cemas. "Dek, Kakak kangen" sambungnya serius.


"Dek, temani Kakak tidur ya" pinta Fattan.


"Iya, sekarang Kakak tidur, nanti Kia temani" balas Sakia.


"Dari suara Kak Fattan, sepertinya dia nggak baik-baik saja. Apa Kak Fattan nggak mau aku cemas hingga dia berbohong" batin Sakia.


Pukul empat subuh, Sakia mengerjab dan langsung mengambil ponselnya. Wanita itu mendengar suara pria namun suara itu bukan suara Fattan. Sakia terdiam dan mendengar semua yang dikatakan oleh pria yang mungkin saja adalah rekan kerja Fattan.


"Tuh kan, Kak Fattan sakit" batin Sakia. Tanpa sadar, air matanya menetes membanjiri pipinya.


"Assalamualaikum" sapa seorang pria yang tak lain adalah rekan kerja Fattan.


"Waalaikumsalam, Dok. Bagaimana kondisi suamiku?" tanya Sakia setelah menjawab salam.


"Demamnya sudah turun. Oh ya, jam sepuluh nanti kami sudah pulang. Kalau bisa jemput suami kamu di Bandara ya" jelas sang dokter.

__ADS_1


"Iya, Dok. Dok, tolong rawat suami saya" pinta Sakia.


"Insya Allah" balas sang Dokter.


......🍁🍁......


Sakia sudah berada di Bandara menjemput suaminya. Dari kejauhan, dia melihat suaminya tersenyum ke arahnya. Ingin rasanya dia berlari memeluk suaminya tapi dia juga malu, di Bandara banyak orang. Maka dari itu, hanya senyum yang bisa dia ukir menyambut kedatangan suaminya.


"Dek" panggil Fattan.


"Sini" Sakia mengambil koper suaminya.


"Biar Kakak saja" Fattan mengambil kembali kopernya. Tangan kirinya mendorong koper sementara tangan kanannya menggenggam tangan istrinya. Keduanya berjalan menuju parkiran mobil. Fattan memasukkan kopernya di bagasi lalu duduk di kursi samping kemudi. Dalam perjalan pulang, Fattan bersandar kepala dengan wajah yang pucat.


"Kakak, kenapa Kakak nggak bilang kalau Kakak sakit" omel Sakia dengan kesal.


"Kakak hanya nggak buat Kia cemas" balas Fattan.


"Kakak sakit apa?" tanya Sakia.


"Hanya demam saja. Ditambah lagi kangen, jadi lengkaplah sudah" balas Fattan tersenyum kecil.


"Masih sempat-sempatnya bercanda!" ketus Sakia.


Sakia memarkirkan mobilnya di depan rumah. Dia dan suaminya pun turun dari dalam mobil. Fattan berjalan membuka bagasi mobil dan mengambil kopernya. Sementara Sakia lebih dulu membuka pintu rumah. Sesampainya di dalam rumah, Fattan mendudukkan bokongnya di sofa.


"Dek, sini" panggil Fattan meminta istrinya duduk.


Sakia mendekat dan duduk di samping suaminya. Melihat Sakia sudah duduk, Fattan mulai merebahkan tubuhnya berbantal paha istrinya. Pria itu berbaring menyamping, dengan wajah yang menghadap perut istrinya.


"Kia, Kakak mimpi Alm Mama. Mama tersenyum menatap Kakak lalu tiba-tiba menghilang. Kia tahu, Mama tak kalah cantik dengan menantunya" ungkap Fattan seraya memejamkan mata.


"Kak Fattan pasti merindukan Alm Mama mertuaku" batin Sakia. Refleks tangannya mengelus kepala suaminya.


"Apa karena mimpi itu hingga Kakak sakit?" tanya Sakia.


"Nggak. Kakak sakit karena rindu dan efek cape" balas Fattan.

__ADS_1


"Mama, Sakia janji, Sakia akan membahagiakan dan merawat anak Mama. Mama tenang di surga ya, Ma" batin Sakia seraya mengelus kepala suaminya.


__ADS_2