Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 42


__ADS_3

Setelah makan malam dan berbincang-bincang dengan keluarganya, Sakia dan Fattan memilih beristirahat di kamar. Di kamar, Sakia duduk bersandar di bibir ranjang memandangi suaminya yang tengah mengganti baju kousnya dengan baju tidur yang sama persis dengan yang dikenakan Sakia.


"Dek, pekan depan jadi kan?" tanya Fattan memastikan rencana liburan keluarga.


"Jadi dong, Kak" balas Sakia tersenyum.


"Sudah kau hubungi Nurin, Nada, Alif dan Ferri? Sempat mereka mau ikut" tanya Fattan berjalan menghampiri istrinya.


"Sudah. Hanya Nurin dan Alif yang mau ikut, Nada dan Ferri nggak. Tante Anita nggak bolehin Nada kemana-mana. Apa Kakak tahu, Tante Anita sangat posesif, seperti laki-laki saja, Nada nggak boleh melakukan satu pekerjaan rumah. Bahkan mengganti sprei pun, ART yang menggantinya. Tante Anita sayang bangat sama Nada dan anak yang dikandungnya" jelas Sakia tersenyum bahagia.


"Alhamdulilah, Kakak senang mendengarnya. Itu artinya Tante Anita dan keluarganya menerima Nada dalam keluarga mereka" ucap Fattan.


"Ayo kita tidur" ajak Fattan merebahkan tubuhnya di pembaringan.


Sakia menggangguk lalu ikut berbaring. Sebelum tidur, Fattan membawa Sakia dalam pelukannya, memberi rasa nyaman pada istrinya. Fattan masih memikirkan kalimat pedas Sabila.


"Kakak tahu, hatimu masih terluka. Dan rasa takut sangat besar dalam dirimu. Kamu istriku satu-satunya, nggak ada yang kedua ataupun yang ketiga" batin Fattan seraya mengelus kepala istrinya.


......🍁🍁......


"Azam, kamu ke sekolah bareng Om" kata Fattan saat mereka di meja makan, melakukan rutinitas pagi, yaitu sarapan pagi bersama keluarga.


"Iya, Om" sahut Azam.


"Nanti kembar sama Tante ya, Mama mau temanin Kakek ke rumah Nenek" ucap Fadila pada anak kembarnya.


"Iya, Mama" balas kembar bersamaan.


Usai sarapan pagi, Fattan mengantar Azam ke sekolah. Sementara Fadila mengantar Farhan di kampus, lalu menemani Papa Aziz ke rumah Nenek Eka. Di rumah, tinggal Sakia dan si kembar. Sakia membenarkan sofa bed dan mengajak si kembar berbaring di sofa bed.


"Tante, jangan sedih" ucap si kembar Kakak yang kerap disapa Abang Fadli.


"Tante, Adek dan Abang anak Tante. Tante jangan sedih lagi ya" timpal si kembar adik yang biasa dipanggil Fadlan.

__ADS_1


"Tante nggak sedih, Tante hanya takut ditinggal pergi" jawab Sakia, tak perduli Fadlan dan Fadli mengerti apa tidak.


"Hahahahaha" tawa Abang Fadli. "Tante, kami nggak akan tinggalin Tante" sambungnya tersenyum lalu memeluk erat Sakia.


Ting!! Satu notifikasi masuk di ponsel Sakia. Sakia bangun lalu mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja. Senyumnya mengembang saat membaca pesan dari suaminya. Dengan segera, Sakia membalas pesan dari suaminya.


"Dari Om?" tanya Abang Fadli.


Sakia tersenyum. "Kok tahu sih?" tanyanya.


"Mama suka senyum kalau lagi baca pesan atau teleponan sama Papa" jawab Abang Fadli.


"Iya, Mama seperti orang gila" sambung Fadlan.


...---...


Pukul 05:11 PM, Sakia bersiap-siap ke alamat yang dikirim suaminya. Wanita itu mengenakan baju tunik, celana kulot longgar warna putih dan jilbab pasmina warna army, sama dengan warna baju tunik yang dia kenakan. Dan tak lupa mengambil tas selempang bahu berukuran kecil.


Sakia mengerutkan keningnya, begitu juga Papa Aziz. "Maksud Azam?" tanya Sakia tak paham.


"Lipstik, Dek" timpal Fadila keluar dari kamar.


"Ow..." Sakia tersenyum. "Tante nggak pakai. Nggak terlalu suka yang merah. Tante sukanya yang warna bibir" jelas Sakia.


"Bagus. Daripada Mama, tiap hari merah cerah. Bahkan mau tidurpun, bibirnya merah" ujar Azam.


Fadila membulatkan mata sementara Papa Aziz dan Sakia tertawa. "Biar Mama tambah cantik, Sayang" Fadila mencubit pipi putra pertamanya.


"Kakak, Papa, Kia pergi dulu ya" pamit Sakia. "Kalian mau nitip apa?" tanyanya sebelum pergi.


"Hati-hati ya, Nak. Papa nggak nitip apa-apa" jawab Papa Aziz.


"Kakak juga nggak nitip apa-apa" jawab Fadila.

__ADS_1


"Tante, tolong belikan aku es krim ya. Om Fattan tahu kok es krim kesukaan aku dan kembar" ucap Azam mengukir senyum lebar.


Sakia tersenyum lalu mengacak-acak rambut keponakannya. "Siap keponakan Tante yang ganteng" ucapnya lalu keluar dari rumah.


Sakia menggunakan grab car ke alamat yang akan dia datangi. Dalam perjalanan, wanita itu terus tersenyum sambil berbalas pesan dengan suaminya. Dia tidak tahu, kenapa Fattan memintanya datang ke restoran sedekah. Beberapa puluh menit kemudian, Sakia sampai di restoran sedekah.


"Selamat datang istriku" ucap Fattan tersenyum seraya membukakan pintu mobil untuk istrinya. Pria itu mengenakan baju kemeja berbeda dengan baju yang pagi tadi dia kenakan.


Sakia tersenyum lalu turun dari mobil. Sebelum masuk ke dalam restoran, Sakia membayar tagihan grab car lebih dulu. Kemudian berjalan masuk ke dalam restoran bersama suaminya.


"Kakak yang masak semua ini?" tanya Sakia dengan netra mata berkaca-kaca. Bukan air mata sedih, melainkan air mata haru.


"Iya, ini spesial untuk istriku tersayang" balas Fattan menggeser kursi dan mempersilahkan Sakia duduk.


Sakia duduk lalu menatap sekeliling. Bukan hanya makanan yang dimasak oleh suaminya, tapi Fattan juga mendekorasi ruangan itu seindah mungkin agar terlihat romantis.


"Apa Kia suka?" tanya Fattan menggeser kursi lalu duduk di depan istrinya. Sakia mengangguk. Keduanya pun memulai makan malam di waktu yang baru menunjukan pukul 6:51 PM, di restoran sedekah yang sudah didekorasi.


"Kak Fattan, Kia mau makan banyak. Boleh ya?" izinnya memasang ekspresi manja.


"Tumben" balas Fattan mengerutkan kening.


"Aroma makannya harus sih" ucap Sakia tersenyum lebar.


.


.


.


.


Maaf karena jarang Up. Banyak kesibukan di dunia nyata. Novel yang harusnya sudah tamat jadi tertunda. Saya tidak bisa memaksa kondisi lagi, karena tanggal 3 lalu, perut saya sakit dan itu bikin panik dan takut 😭😭. Terlebih lagi saya masih di rantau orang dan jauh dari keluarga 🙏

__ADS_1


__ADS_2