Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 74


__ADS_3

"Papa... Mama... buka pintunya Pa, Ma, aku mau kerja..." teriak Aher dari dalam kamar. Semalam, sesampainya di rumah, Aher tidak sempat mengobrol dengan Mama papanya. Dan pagi ini, saat ia hendak keluar kamar, pintu kamarnya justru dikunci oleh papanya.


"Papa sudah sudah mengurus surat cutimu. Mulai hari ini kamu libur sampai dua pekan kedepan" jelas Pa Zainal dari luar.


"Tapi kenapa Pa. Tolong buka pintunya, jangan perlakukan aku seperti anak gadis. Aku sudah dewasa Pa. Bahkan Amrita memanggilku Om. Aku tahu Papa menginginkan anak perempuan tapi bukan berarti aku diperlakukan seperti anak perempuan, Pa. Ayolah Pa, apa Papa tidak sayang padaku?" tanya Aher panjang kali lebar di dalam kamar.


"Karena empat hari lagi kamu akan bertemu calon pengantinmu. Papa sudah menjodohkan kamu dengan anak teman Papa. Anaknya cantik dan sopan. Sangat cocok denganmu. Papa yakin, kau pun menyukainya" balas Pak Zainal.


"Astaghfirullah... Papa, aku laki-laki Pa... Kalaupun aku dijodohkan bukan berarti aku harus dikurung di dalam kamar Pa. Empat hari itu masih lama, sangat lama!" ketus Aher.


"Jangan lupa perawatan ya, Nak. Biar nanti kamu bercahaya saat mengenakan pakaian adat" ujar Pa Zainal tersenyum tanpa memperdulikan kekesalan putranya. Lalu turun ke lantai satu.


Di dalam kamar, Aher yang tadinya berdiri di depan pintu kini berjalan menghampiri tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya di sana. Ia menatap langit-langit kamar dan merenungi perjalanan kisah cintanya.


"Begitu cepat Papa mendapatkan pengganti calon menantunya. Mungkin Allah tidak mengizinkan aku untuk menghadiri acara pernikahan Madania" guman Aher. Aher mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Madania. Selang beberapa puluh detik, Madania pun membalas pesan darinya.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan. Apa kau akan lari dari penikahan itu?" Madania.


"Tidak, Da. Aku tidak akan kabur. Toh kamu juga akan menikah. Allah memberikan kita jodoh di bulan dan hari yang sama ya, Da. Maafkan aku yang tidak bisa menghadiri hari bahagiamu" Aher.


"Kita pasti akan bertemu, mantanku. Jangan kabur ya, aku mencintaimu" Madania.


Aher tersenyum miring. "Dia bilang cinta tapi dia tidak lari dari perjodohan orang tuanya. Aku menerima perjodohan ini karena dia yang lebih dulu berkhianat" gumam Aher.


Perumahan Citraland Hertasning


"Sayang, jangan jajan sembarangan ya. Oh ya, mulai dari sekarang jangan minum minuman yang bersoda" tutur Aziz sebelum Amrita mengendarai motornya.


"Iya, obatku. Aku berangkat dulu ya. Assalamualaikum" balas Amrita, mengucap salam lalu mengendarai motornya. Saat di pos satpam, Amrita mematikan motornya sebentar saat Pak Adis dan Pak Sam memintanya berhenti.


"Mbak, Mbak lagi hamil ya?" tanya Pa Sam.


Amrita mengerutkan keningnya. "Hamil? Siapa yang hamil. Saya tidak hamil Pak" balas Amrita dengan serius.

__ADS_1


"Saya perhatikan sepertinya Mbak Amrita sedang hamil. Laki-laki itu bisa tahu Mbak mana orang hamil dan tidak. Kalau Mbak ngak percaya Mbak bisa ke rumah sakit untuk memastikan kebenarannya" jelas Pak Sam.


"Mas Aziz juga laki-laki tapi dia tidak bilang kalau aku hamil" balas Amrita dengan santai.


"Ya sudah Mbak. Kalau begitu Mbak ke dokter dulu atau Mbak beli alat tes kehamilan untuk memastikan Mbak hamil apa tidak" timpal Pak Adis.


"Baik Pak. Nanti saya ke dokter. Oh ya, saya ke kampus dulu ya Pak. Assalamualaikum" balas Amrita.


...ΩΩΩ...


Fakultas MIPA


Amrita duduk di dalam kelas memikirkan perkataan Pak Sam dan Pak Adis. "Iya juga sih, kalau diingat ingat sepertinya sudah lama aku tidak haid. Aku kira itu efek stres akibat banyak tugas. Sama seperti dulu, saat aku masih sekolah, aku juga telat haid tapi aku tidak hamil" batinnya.


"Amrita, kau kenapa?" tanya Fakri mengambil tempat disamping sahabatnya.


"Fakri, apa aku terlihat berbeda dari sebelumnya?" tanya Amrita serius.


Fakri menatap Amrita lama-lama. "Pipi kamu semakin cabby dan badan kamu semakin berisi" balas Fakri. Seketika ia membulatkan mata dan tersenyum. "Jangan bilang kamu--"


"Amrita, apa benar kau hamil?" tanya Hanin memelankan suaranya.


"Iya, cepat jawab" timpal Fakri.


"Kalau aku tahu, aku tidak akan bertanya pada Fakri!" ketus Amrita.


"Ya sudah. Setelah mata kuliah pertama, aku dan Hanin akan ke apotek 24 jam" ujar Fakri.


Amrita, Fakri dan Hanin mengakhiri obrolan mereka saat Ibu Fifi masuk ke dalam kelas. Semua mahasiswa dan mahasiswi mulai memindahkan tas mereka dan menyisakan binder serta pulpen di atas meja.


"Hari ini Ibu mengajar hanya beberapa menit saja karena ada rapat di audit. Ibu hanya mau menjelaskan tanda peringatan obat. Setelah menjelaskan Ibu akan memberikan tugas dan tugasnya dikumpul hari ini juga" tutur Bu Fifi.


"Tanda peringatan obat ada enam. Banyak masyarakat awam yang tidak paham dengan tanda peringatan ini. Dan kita sebagai ahlinya harus mengingatkan mereka saat penyerahan obat" jelas Bu Fifi lalu menampilkan tanda peringatan obat.

__ADS_1



"Ini tampilan tanda peringatan obat. Peringatan ini harus diperhatikan oleh semua masyarakat, terutama yang membeli obat dalam jumlah banyak yang diberikan dengan kemasannya. Contoh peringatan nomor satu yaitu procold flu" jelas Bu Fifi sambil menampilkan kemasan obat procold.



"Pada kemasan procold flu, tertera tanda peringatan pertama. Dan kebanyakan orang tidak memperhatikan ini. Dan tugas kita sebagai seorang farmasi, kita harus menjelaskan pada pasien atau pada pembeli tentang penggunaan obat yang kita serahkan pada mereka" sambung Bu Fifi lagi.


"Penjelasan sampai di sini dulu. Ibu rasa kalian sudah paham. Ibu punya tugas untuk kalian semua dan tugasnya dikumpul hari ini juga. Kumpul di ketua kelas dan nanti jam sebelas, ketua kelas bawah di ruangan Ibu dan letakkan di atas meja. Tugas kalian yaitu mencari contoh obat pada tiap-tiap tanda peringatan obat" ujar Bi Fifi.


"Baik Bu" balas semua mahasiswi dan mahasiswa bersamaan.


---


Pukul dua belas siang, Hanin dan Fakri pergi ke apotek 24 jam yang berada di depan kampus. Tujuan mereka yaitu membeli tespek untuk Amrita. Sementara Amrita, ia menunggu di kampus bersama Ade, Affi dan Safna.


Fakri memakirkan motornya di depan apotek sementara Hanin masuk ke dalam apotek membeli tespek. "Bu, tespek yang paling bagus apa ya?" tanya Hanin.


"Sensitif strip" balas sang penjaga apotek dengan ramah.


"Beli satu ya, Bu" kata Hanin lalu mengeluarkan uang lima puluh ribu. Setelah mengambil tespek dan uang kembalian, Hanin keluar lalu naik di atas motor. Dia dan Fakri pun kembali ke kampus.


Fakri memakirkan motornya di parkiran. Di parkiran, Amrita dan teman-temannya sedang duduk bersama. "Amrita, ayo kita ke kamar mandi" ajak Hanin yang dibalas anggukan oleh Amrita.


Sesampainya di depan kamar mandi, Amrita mengambil tespek dan pot kecil yang diberikan oleh Hanin. Lalu ia masuk ke dalam kamar mandi. Sementara di luar, Hanin terlihat mondar mandir menunggu Amrita ke luar.


Cek--lek... (Pintu kamar mandi terbuka)


Amrita ke luar dengan netra mata yang berkaca-kaca. "Hanin, Alhamdulilah aku hamil" ucapnya lalu memeluk sahabatnya.


Hallo kak. Sambil nunggu Up novel Amrita dan novel favorite kalian yang lain, yuk mampir di novelku yang sudah tamat 😊 Jangan like dan komentarnya ya 😊


__ADS_1



__ADS_2