
Pukul 20:11 PM
Aziz terlihat mondar mandir di depan pintu rumah. Pria itu menunggu putrinya pulang dari rumah temannya yang bernama Asmi, yang sore tadi datang ke rumah mereka. Entah sudah berapa kali Aziz bolak balik di depan pintu tapi lagi-lagi Fadila tak kunjung datang.
"Papa, biar aku yang tunggu adikku pulang. Sekarang Papa istrahat saja" kata Fattan.
"Nggak bisa, Sayang. Papa khawatir dengan keadaan adikmu. Mana sebentar lagi akan hujan" ujar Aziz masih dengan pendiriannya.
"Pa, sana Fadila" kata Fattan menunjuk adiknya yang mulai masuk di area post satpam.
"Alhamdulilah" ucap Aziz lega.
Fadila memarkirkan motornya di depan rumah. Tanpa merasa bersalah, gadis nakal itu mengukir senyum menghampiri Papa dan Kakaknya. "Assalamualaikum" ucapnya lalu mencium tangan Papa Aziz kemudian tangan kakaknya.
"Waalaikumsalam" balas Aziz dan Fattan.
__ADS_1
"Aow... aow... aow..!! Kakak sakit tahu!!" ketus Fadila saat Fattan menjewer kupingnya.
"Dari mana saja kamu. Kenapa baru pulang jam segini. Apa kau nggak memikirkan perasaan Papa saat kamu telat pulang" ngomel Fattan tanpa menjauhkan tangannya dari telinga adiknya.
"Papa... tolong bantu aku..." rengek Fadila.
"Fattan, sudah, kasihan adikmu" kata Aziz menegur putranya.
Fattan menjauhkan tangannya. "Sekarang masuk" titah Fattan yang dipatuhi oleh Fadila. Fadila dan Aziz masuk ke dalam rumah. Terakhir Fattan yang masuk sekalian mengunci pintu rumah. Belum mendudukkan bokong mereka, hujan sudah lebih dulu berkenalan dengan bumi.
"Kamu nggak diapa-apain kan? Kamu ingat wajah mereka?" tanya Aziz yang nampak panik.
"Nggak. Aku nggak diapa-apain. Justru mereka membantuku memperbaiki motorku. Apa Papa ingin tahu mereka siapa?" tanya Fadila menatap Papa kemudian kakaknya.
"Kenapa harus ada jeda sih!!" ketus Fattan yang sejak tadi setia mendengar.
__ADS_1
"Sabar dikit napah!" Aziz menyentil jidat putranya membuat Fattan mendengus kesal.
"Ternyata mereka teman Mama yang anak Mapala. Mereka menghampiriku karena melihat wajahku yang mirip Mama. Wajah mereka dipenuhi brewok seperti orang luar negri. Mereka lumayan tampan tapi sudah tua. Seumuran Papa kalau nggak salah" ungkap Fadila menceritakan secara detail.
"Iya. Mama kalian itu banyak temannya. Anak Mapala, anak begal, gelandangan dipinggir jalan pun kenal sama kalian" kata Aziz.
"Pa, terima kasih karena Papa sudah mau menikah dengan Mama kami" kata Fattan lalu memeluk Papanya.
"Iya. Coba nggak ada Papa, pasti kami nggak akan sebahagia ini" timpal Fadila.
"Ucapakan kalian berdua seakan akan Papa ini adalah Papa tiri kalian" kata Aziz tersenyum.
"Hahahahahaha" tawa Fadila dan Fattan bersamaan.
"Ya Allah, terima kasih untuk kekuatan cinta yang engkau tanamkan pada hatiku. Tetap tuntun aku pada satu cinta dan jadikanlah aku pria setia di dunia ini. Dan jangan biarkan hatiku berlabuh di tempat lain selain padamu, pada pengikut mu dan pada istriku" batin Aziz.
__ADS_1
"Amrita, istriku. Janji yang pernah aku ucap di depan penghulu adalah janji yang aku ucap setulus hati. Tanpa ada niat mengkhianati sekalipun Allah telah memanggilmu. Bukankah kita sudah berjanji sehidup semati. inilah arti janjiku padamu, setia hingga ajal menjemput ku" batin Aziz.