Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 122


__ADS_3

Pukul 18:11 PM


Di dapur, Amrita merasa pusing. Tanpa berpikir panjang, wanita itu mematikan kompor gas. Lalu berpegang kuat di kursi dan duduk menenggelamkan wajahnya di meja.


"Mas... Mas... Mas Aziz..." panggilnya dengan pelan.


Aziz yang sementara duduk di ruang keluarga lantai satu, pria itu berlari ke dapur saat mendengar teriakan istrinya. "Sayang kamu kenapa?" tanya Aziz dengan cemas.


Amrita memeluk suaminya. Wajahnya mulai pucat. "Mas, maafkan aku" ucapnya sebelum kesadarannya hilang.


Aziz menggendong istrinya. "Fattan... ambil kunci mobil di samping televisi" titah Aziz yang langsung dibalas anggukan oleh putranya.


"Mama" gumam Fadila. Netra matanya mulai berkaca-kaca. Anak kecil itu diam di tempat sementara Fattan berlari kecil mengambil kunci mobil.


"Ayo" Fattan menarik tangan adiknya. Keduanya pun berlari menghampiri Papa Aziz.


"Papa, ini kunci" Fattan menyodorkan kunci mobil.


"Hiks hiks hiks... Mama, bangun. Papa, Mama kenapa? Hiks, hiks, hiks..." tanya Fadila sesenggukan.


"Fadila, Fattan, masuk ke dalam mobil sekarang" titah Aziz sambil membuka pintu mobil bagian depan.


Dalam perjalanan ke rumah sakit. Fattan dan Fadila terus menangis. Sementara Aziz tak dapat menyembunyikan rasa cemasnya. Pria dewasa itu ikut meneteskan air mata. Ini kali pertama ia melihat istrinya pingsan dalam pelukannya.


"Ya Allah. Cobaan apa ini?" batin Aziz.


Rumah sakit


Setibanya di rumah sakit, Aziz ke luar dan membuka pintu mobil. Kemudian menggendong istrinya dan membaringkannya di atas brankar. Sementara salah satu petugas medis pria menurunkan Fadila dan Fattan dari mobil.

__ADS_1


Para petugas medis membawa Amrita ke ruang UGD yang terletak di bagian depan. Aziz menggandeng kedua anaknya membawanya masuk ke dalam UGD. Sesampainya di dalam, seorang dokter menghampiri Amrita dan memeriksa kondisi Amrita.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Aziz.


"Istri Dokter hanya kecapean. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan" jelas Dokter Fitra.


"Dokter, Mama kenapa?" tanya Fadila sesenggukan.


Doker Fitra tersenyum. "Mama kamu baik-baik saja. Mama kelelahan jadi Mama kamu pingsan" jelasnya.


Setelah diperiksa oleh Dokter, Amrita dipindahkan di ruang perawatan. Sekalipun Dokter mengatakan Amrita baik-baik saja tapi Aziz mau istrinya di rawat Inap. Aziz tidak mau istrinya kenapa-napa.


VVIP


Di hospital bed, Amrita masih belum sadarkan diri. Boleh di kata sudah satu jam wanita itu pingsan. Fadila dan Fattan terus menatap Mamanya yang tak kunjung membuka mata. Kedua anak itu duduk di kursi samping hospital bed.


"Papa. Apa Mama marah pada kita?" tanya Fattan dengan netra mata yang mulai berkaca-kaca.


"Bukannya Papa seorang Dokter. Kenapa Papa tidak bisa menyembuhkan Mama" ucap Fadila terisak.


Aziz memeluk putrinya. "Maafkan Papa" hanya dua kata itu yang Aziz bisa ucapkan.


Cek--lek... (Pintu ruang VVIP terbuka)


Tante Eka dan Pa Sofyan bergegas menghampiri menantu mereka. Yang di susul oleh Fakri dan juga Mbak Ima. Selang beberapa detik, terlihat Aher dan Mahdania, juga baby girl. Mereka semua datang saat mendengar kabar tentang Amrita.


"Nak, bagaimana keadaan Amrita?" tanya Tante Eka menggenggam tangan Amrita.


"Kata dokter dia hanya kelelahan" jawab Aziz.

__ADS_1


Tante Eka melepas tangan menantunya lalu menatap lekat putranya yang menunduk. "Sudah Mama katakan padamu. Carikan istrimu ART sekalipun dia menolak. Mama hanya nggak mau dia sakit. Merawat bayi dua orang dan menyiapkan makanan serta membersihkan rumah itu tentu akan membuatnya kelelahan. Istrimu menolak karena dia ingin menjadi istri yang berbakti dan berguna tapi kamu sebagai suaminya harus lebih peka" hardik Tante Eka.


Aziz hanya menunduk. Matanya mulai merah menahan bulir bening yang sejak tadi di tahan. Fattan dan Fadila yang melihat Papanya tidak seperti biasanya, kedua anak kecil itu memeluk Papanya. Sistem pertahanan Aziz mulai runtuh. Pria itu menangis memeluk kedua anaknya. Tante Eka yang tadinya marah kembali diam dan juga kasihan melihat putranya menangis.


Aher mengambil baby girl dalam gendongan Mahdania dan meminta Mahdania duduk di dekat Amrita. Mahdania pun mengangguk lalu duduk di samping Amrita. Sementara Aher duduk di sofa bersama Fakri dan Pak Sofyan.


"Mas" panggil Amrita berusahan menjernihkan penglihatannya.


"Mbak Nia. Mas Aziz di mana?" tanya Amrita. Saat membuka mata, wanita itu hanya melihat Mahdania dan Mbak Ima.


Aziz yang sementara tersungkur dilantai, pria itu berdiri menatap istrinya yang terlihat pucat. "Maafkan aku" ucap Aziz sesenggukan.


"Mama, jangan sakit lagi" pinta Fadila yang juga ikut berdiri di samping Papanya.


Fattan tak tahu harus berkata apa. Dia naik di atas hospital bed dan memeluk Mamanya. "Jangan sakit lagi. Mama nggak boleh sakit" ujarnya disela sela tangisnya.


"Mama baik-baik saja" balas Amrita tersenyum lalu menyeka air mata putranya.


"Ya Allah. Kalian semua datang" Amrita membulatkan mata melihat keluarga dan tetangga tercintanya.


"Bagaimana tidak. Selama ini kamu tidak pernah sakit dan tiba-tiba kami dengar kau masuk rumah sakit. Tentu saja kami panik" ucap Mahdania.


"Hehehehe. Maafkan aku sudah merepotkan kalian" ucap Amrita menatap Mahdania. Lalu menatap mertuanya. "Ibu, Papa, maafkan aku yang belum bisa menjadi menantu yang baik" ucapnya.


"Kamu menantu yang baik yang diidamkan oleh para mertua. Kamu mau berbagi dengan kami sekalipun itu adalah hakmu sepenuhnya. Contohnya gaji suamimu. Bukan suamimu yang berinisiatif untuk membaginya dengan kami tapi kamu yang berinisiatif membaginya dengan kami. Kamu selalu ikut dalam rencana kami untuk menjebak suamimu. Kamu menantu yang tiada duanya, Nak" ungkap Tante Eka. Netra matanya mulai berkaca-kaca.


"Bu. Suamiku adalah anak kalian. Aku bisa menikah dengannya karena kalian mendidiknya hingga dewasa dan bertemu denganku. Aku tidak akan membiarkan suamiku menjadi anak yang lupa akan pengorbanan orang tuanya. Dan bukan hanya Ibu dan Papa yang bahagia memiliki menantu seperti aku. Aku pun bahagia memiliki Ibu dan Papa mertua seperti kalian" ungkap Amrita melebarkan tangannya meminta Tante Eka memeluknya.


Tangis terdengar di dalam kamar ruang VVIP. Pak Sofya menyeka air matanya, begitu juga Fakri dan Aher. Ketiga pria itu hanyut dalam kalimat Tante Eka dan Amrita.

__ADS_1


"Ya Allah. Aku yang lebih tua daripada Amrita tapi pikiran Amrita lebih dewasa daripada aku. Mama, Papa, maafkan aku yang jarang mengunjungi kalian" batin Mahdania.


Berhubung waktu sudah menunjukan pukul 22:04 PM, Tante Eka dan keluarganya pamit pulang. Begitu juga Mahdania dan Aher. Di dalam ruangan, tinggala Aziz, Fattan dan Fadila. Fadila dan Fattan tidur bersama Mama Amrita sedangkan Aziz masih terjaga menatap istri dan kedua anaknya.


__ADS_2