Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 43


__ADS_3

Apa kabar reader dan author? Maaf tidak menyapa kalian dalam komentar penyemangat. Kondisi saya masih belum memungkinkan untuk Up lebih. Pesan saya untuk kalian semua, jangan tidur dilarut malam. Dan terimakasih untuk suportnya 😘😘😘


----


Amrita mengeryitkan keningnya saat mendengar suaminya memanggang ikan untuknya. Ini kali pertama Aziz terjun ke dapur di pagi hari. Tentu saja hal itu membuat Amrita tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Mas tidak demam dan sepertinya Mas terlihat baik-baik saja" gumam Amrita sembari memegang dahi suaminya. Pandangannya masih tertuju pada sang suami.


Aziz terkekeh mendengarnya, "Kamu mau mandi sendiri atau mau Mas bantuin?" tanya Aziz yang dibalas gelengan kepala oleh Amrita.


"Ya sudah, cepat mandi" kata Aziz berlalu pergi meninggalkan Amrita yang masih tak percaya dengan kejadian di pagi hari ini.


Amrita menggeser selimut yang menutupi tubuhnya, berjalan menuju kamar mandi. "Ya Allah, ternyata seperti ini. Betul kata orang, awalnya sakit tapi lama kelamaan sakitnya akan hilang" gumamnya pelan.


Di dapur, Aziz sedang berkutak dengan kegiatannya. Memanggang ikan kakap yang ditaburi dengan sambal buatannya sendiri. Pagi ini moodnya begitu bagus dan sangat bagus sehingga ia mengambil peran istrinya.


"Semoga istri nakal ku suka ikan panggang ini" gumam Aziz pelan sembari mengangkat ikan dari alat pemanggang. Aziz berbalik saat mendengar langkah kaki seseorang yang sedang berjalan menghampirinya. Seulas senyum kembali terukir di wajah tampannya saat ia melihat istrinya sedang berjalan menghampirinya.


"Sayang, sekarang kamu duduk cantik di kursi. Biar aku yang ambilkan lauk pauk untuk kamu" kata Aziz menuntun istrinya untuk duduk lalu ia pun duduk disamping istrinya.


"Mas, diperhatikan oleh suami itu ternyata menyenangkan ya. Andai aku tahu dari dulu, mungkin aku tidak akan mencari masalah denganmu" kata Amrita tersenyum.


"Mas, boleh aku tanya sesuatu?" Amrita menatap lekat Aziz yang sedang mengambil lauk pauk untuknya.


"Makan dulu, setelah itu baru kamu bertanya" balas Aziz santai.


Amrita mendengus kesal, menatap sinis suaminya lalu mulai melahap ikan kakap dan nasi. Tak membutuhkan waktu lama, Amrita maupun Aziz telah selesai menyantap ikan kakap yang begitu lezat.


"Biar aku yang bersihkan" kata Amrita saat melihat Aziz beranjak dari kursi dan hendak meraih piring kotor.


"Biar aku saja. Sekarang kamu duduk manis di situ. Hari ini kamu tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan rumah, oke" ujar Aziz lalu mengambil piring kotor, meletakkannya di westafel cuci piring lalu mencucinya.

__ADS_1


"Terima kasih banyak Mas... aku harap perlakuan ini tidak di hari ini saja..." seru Amrita berlari kecil menuju ruang keluarga. Sesampinya di ruang keluarga, Amrita berbaring di sofa.


"Hahahahaha. Ternyata seperti ini rasanya dimanjakan suami. Aku suka aku suka aku suka..." sorak Amrita mengayun ayunkan kakinya.


Amrita menghentikan kegiatannya saat ia melihat suaminya berjalan ke arahnya. "Mas, ayo cepat ke sini. Ada yang mau aku tanyakan padamu" imbuhnya.


Aziz mengambil tempat disamping istrinya. "Apa yang mau kamu tanyakan?" tanya Aziz mengerutkan keningnya.


"Mas sudah jatuh cinta padaku kan?" tanya Amrita serius. Tatapannya tepat pada manik mata suaminya.


Aziz terkekeh, "Aku tidak mencintaimu" balas Aziz santai. Entah apa yang dia pikirkan sehingga dia terus membohongi Amrita.


"Mas, jika ada wanita yang Mas tidak cintai sedang berdiri dihadapan Mas dalam keadaan tak memakai apa-apa. Apakah Mas akan melakukan hal itu padanya?" tanya Amrita.


"Ya jelas tidak. Aku hanya akan melakukannya dengan wanita yang aku cintai" balas Aziz santai. Tanpa sadar, ia sudah masuk dalam perangkap yang diatur oleh Amrita.


"Baiklah, aku akan membiarkan Mas untuk terus membohongiku. Yang terpenting, aku sudah tahu perasaan Mas padaku, CINTA" ujar Amrita disertai tawa sambil menekan kata "Cinta"


"Aku hanya ingin kamu mendugah dugah tanpa tahu yang sebenarnya. Yang pasti, aku mencintaimu dari dulu hingga kini dan nanti" batin Aziz. Aziz beranjak dari duduknya berjalan mencari Amrita yang tak tahu dia ke mana.


"Dia pasti di kamar" gumam Aziz menaiki anak tangga. Sesampainya di kamar, ia menggeram saat tidak mendapati Amrita di kamar.


---


Di pos satpam, Amrita sedang bercanda gurau dengan Pa Adis dan Pa Sam dan Mbak Desi. Mbak Desi adalah tetangga Amrita yang baru satu minggu tinggal di Perumahan Citraland Hertasning.


"Assalamualaikum. Apa kalian tidak melihat istri saya?" tanya Aziz yang tiba-tiba datang. Ia sengaja bertanya seperti itu sekalipun ia tahu istrinya sedang duduk disamping Mbak Desi.


"Pa Adis, Pa Sam, Mbak Dewi, kalian dengar itu kan. Mas Aziz tidak mengenali saya. Apa saya semakin cantik sekarang" ujar Amrita disertai tawa yang disambut tawa oleh Pa Adis, Pa Sam dan Mbak Desi.


"Cantik dari mananya" timpal Aziz lalu berdiri disamping Pa Adis.

__ADS_1


"Pa, hari minggu begini enaknya kita ngapain ya" tanya Aziz. Ia merasa bosan jika hanya duduk di rumah. Sekalipun Aziz sudah lama tinggal di Makassar tapi tidak semua tempat ia tahu.


"Kalau Mas bosan di dalam rumah, Mas bisa ajak istri ke tempat wisata atau ke Luar Kota. Atau Mas bisa jalan-jalan di kampung" balas Pa Adis.


"Atau Mas jalan-jalan saja di kampung istri saya. Di sana pemandangannya bagus sekali, tapi, di sana tidak ada PLN atau pun tower" imbuh Pa Sam.


"Tidak ada tower?" Aziz membulatkan mata tak percaya. "Zaman sekarang masih ada kampung yang tidak memiliki tower. Sepertinya aku harus menjadi Bupati di sana agar bisa mendirikan tower di kampung istri Pa Sam" sambungnya.


"Hahahahaha. Ada lah Mas, buktinya kampung istri saya. Saat saya pacaran dengan istri saya, saya selalu mengirim surat dari Ambon ke kampung. Bukan hanya sekali, dua kali, atau tiga kali dalam seminggu tapi hampir tiap hari" jelas Pa Sam lagi. Pa Sam adalah orang Ambon yang bekerja di Makassar sebagai scurity.


"Bagaimana rasanya saat Mas mendapatkan surat balasan dari pacar Bapa waktu dulu?" tanya Mbak Desi penasaran. Mbak Desi tidak pernah berada di posisi itu jadi Mbak Desi ingin tahu perasaan Pa Sam saat mendapatkan surat balasan dari pacar Pa Sam yang sekarang sudah menjadi istri Pa Sam.


"Senang bangat Mbak. Rasanya seperti dunia milik berdua. Bahkan sampai sekarang istri saya masih menyimpan surat cinta itu" balas Pa Sam mengingat waktu dulu.


"Pa, kapan-kapan ajak istri Bapa ke Makassar. Mereka bisa tinggal bersama kami di sini, dan Bapa juga bisa bermalam di sini selama istri Bapa di Makassar" ujar Aziz.


"Aku setuju..." sorak Amrita. "Pa, kalau bisa besok suru ke Makassar ya. Bawa anak Bapa juga"


"Apa kalian tidak mau meminta saya untuk mengajak istri saya ke sini" timpal Pa Adis cemberut.


"Hahahahaha" tawa Amrita, Aziz, Mbak Desi dan Pa Sam bersamaan.


"Bapa bisa meminta mereka ke sini. Nanti istri dan anak Bapa bisa tinggal bersama saya di rumah" balas Mbak Desi.


"Oke fiks. Besok Pa Adis dan Pa Sam minta keluarga kalian datang ke Makassar. Sampai di sini kita makan bersama dan jalan-jalan" ujar Aziz serius.


---


Malam hari


Amrita menutup tubuhnya dengan selimut. Ia yakin, pasti Aziz akan meminta haknya lagi. Tidak mungkin kan Amrita menolak sedangkan ia sudah jatuh cinta pada Aziz. Di depan pintu, Aziz berjalan menghampiri Amrita yang berpura pura tidur.

__ADS_1


__ADS_2