Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 84


__ADS_3

Beberap bulan kemudian


Malam hari


Perut Amrita semakin membesar. Tinggal menghitung hari wanita itu akan melahirkan. Di keheningan malam, Amrita dan Aziz duduk di balkon sambil mengaji bersama. Lantunan ayat suci yang mereka bacakan begitu merdu. Selesai mengaji, Aziz mengambil Al-qur'an dari tangan istrinya dan meletakannya di atas meja.


"Sayang, apa kamu takut?" tanya Aziz, menggengam erat tangan istrinya.


"Iya. Aku sangat takut. Mas, maafkan aku atas kenakalanku selama ini. Aku menjahilimu karena aku ingin kita semakin dekat. Diam dan canggung, akan membuat kita lama untuk saling mengenal satu sama lain. Kekonyolan yang aku perbuat bukan untuk menjadi istri durhaka melainkan aku ingin dekat denganmu. Menjadikan keluarga kita penuh canda dan tawa. Caraku memang salah, Mas. Maafkan aku" ungkap Amrita dengan netra mata yang mulai berkaca-kaca.


"Apa kau ingin tahu? Aku senang saat kau menjahiliku. Aku yang pendiam dan terluka karena masa lalu, mendapatkan istri sepertimu, sunggu itu menyenangkan dan patut aku syukuri. Andai kamu adalah istri yang pendiam, maka akupun masih terpuruk dan mungkin aku kembali melukai hati Ibu dan Papa. Kau mengubahku, menjadikanku laki-laki baik dan bertanggung jawab. Aku memaafkan semua kesalahanmu, baik kesalahan yang tidak kamu sadari maupun yang kamu sadari" balas Aziz tersenyum lalu mencium puncak kepala istrinya.


Amrita meneteskan air mata haru. Dengan singgap, Aziz menyeka air mata istrinya. "Tersenyumlah. Aku ingin melihatmu tersenyum" kata Aziz.


"Ayo kita tidur, besok kita harus ke rumah sakit" sambungnya tersenyum seraya menuntun istrinya untuk berdiri.


Di tempat tidur, Amrita memejamkan matanya dan iapun hanyut dalam mimpi. Sementara Aziz masih terjaga menatap istrinya. Menjelang hari persalinan, pria itu begitu takut. Rasanya ia tidak sanggup melihat istrinya mengalami rasa sakit saat persalinan nanti.


--


Pukul 4:21 AM. Terdengar lantunan ayat suci di masjid, Aziz mengerjap dan bangun. Sebelum ke kamar mandi, ia membenarkan selimut yang menutupi tubuh istrinya. Mengecup puncak kepala istrinya kemudian berjalan ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya sebelum menunaikan shalat subuh. Setelah mandi dan bersiap-siap, Aziz membaca surat ad-dhuha disamping istrinya. Dan dia berhenti melafalkan surat ad-dhuha saat kumandan adzan subuh telah bergema.


Amrita mengerjap, ia mendapati suaminya sedang shalat subuh. Dengan perut yang mulai membesar, ia berusaha untuk bangun dan bersandar dikepala tempat tidur. Menunggu suaminya selesai shalat.


"Ya Allah ya rabbi, lancarkan persalinan istriku. Selamatkan istri dan anak-anakku. Ya Allah ya rabbi, berikan kekuatan pada istriku, damaikan hatinya agar dia tidak takut menghadapi hari-hari menjelang melahirkan. Aamiin" Itulah doa yang Aziz panjatkan. Kemudian mengusapkan kedua tangan kewajah.


"Mas" panggil Amrita saat suaminya mulai melipat sajadahnya.


Aziz menoleh dan tersenyum. "Ya. Kamu sudah bangun?" tanya Aziz menghampiri istrinya.


"Sudah lihat aku bangun tapi masih bertanya" canda Amrita lalu terkekeh.


"Hahahaha. Ayo kita ke bawah. Mulai besok kita tidur di kamar yang dilantai satu" kata Aziz.

__ADS_1


Aziz membawa istrinya jalan-jalan di area perumahan. Amrita yang ingin peredaran darahnya lancar, memilih jalan-jalan tanpa alas kaki. Jalan-jalan tanpa alas kaki memiliki beberapa manfaat. Selain melancarkan peredaran darah, juga dapat mengurangi peradangan. Jalan tanpa alas kaki saat hamil membantu melepaskan elektron positif di dalam tanah bertindak sebagai anti-oksidan dan mencegah terjadinya peradangan atau inflamasi.


"Pagi bumil" sapa Mahdania yang sementara lari pagi.


"Pagi Mbak" balas Amrita tersenyum.


"Doakan aku ya, semoga cepat dapat kepercayaan" ujar Mahdania tersenyum.


"Aamiin. Semoga Allah menjabah doa Mbak dan Om Aher" balas Amrita tersenyum.


"Aamiin. Aku masuk dulu ya, soalnya belum memasak" kata Mahdania lalu masuk ke dalam rumahnya.


"Mas, ayo kita kembali ke rumah" ajak Amrita. Aziz dan Amrita pun kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, keduanya memilih beristrahat.


"Mas, jam berapa kita ke rumah sakit?" tanya Amrita.


"Jam sepuluh. Nanti aku temani kamu cek up. Aku ingin tahu bagaimana perkembangan anak-anak kita" balas Aziz.


Pukul sembilan pagi, Aziz membantu istrinya mandi. Beberapa bulan belakangan ini, Aziz selalu membantu istrinya. Bahkan pria itu tidak membiarkan istrinya ke kamar mandi seorang diri. Selesai membantu istrinya mandi, Aziz kembali membantu istrinya menyisir rambut.


"Hahahahaha. Terima kasih, Mas. Sekarang Mas mandi, aku tunggu di sini" titah Amrita.


Aziz melepas pakaiannya lalu masuk ke kamar mandi. Hampir dua puluh menit pria itu berkutak di dalam. Dan kini, ia keluar hanya mengenakan celana andalannya, yaitu celana boxer. Kali ini bukan boxer abu-abu, melainkan bunga-bunga berwarna pink.


"Sayang, bagaimana kalau kamu di rawat saja di rumah sakit. Kan tinggal satu atau dua tiga hari lagi kamu akan bersalin" ujar Aziz memberi saran pada istrinya.


"Aku nggak mau, Mas. Kalau di rumah sakit rasanya canggung jika kita tidur berpelukan. Aku mau di rumah saja" balas Amrita.


"Ya sudah" sahut Aziz seraya mengenakan pakaian kemeja warna dark grey. Setelah bersiap-siap, Aziz menghampiri istrinya.


"Sayang, ayo kita ke rumah sakit" ajak Aziz.


Dalam perjalanan ke rumah sakit, Aziz terus membuat istrinya tertawa dengan candaannya yang konyol. Kekonyolan itu berhasil membuat sang istri tertawa lepas.

__ADS_1


--


Rumah sakit


Ruangan Dokter kandungan


Aziz menggenggam erat tangan istrinya. Keduanya duduk berhadapan dengan dokter kandungan. Menunggu penjelasan dari sang dokter. Sang dokter tersenyum melihat ekspresi Aziz yang nampak gugup. Istrinya yang hamil tapi dia yang terlihat gugup.


"Dok, bagaimana hasilnya?" tanya Aziz.


"Alhamduliah Pa. Kepala bayi sudah berada di bawah, dan bayi berada di posisi normal, yaitu menghadap ke arah tulang punggung sang Ibu. Hal itu sangat bagus untuk kelancaran persalinan nanti" jelas sang dokter. Aziz maupun Amrita merasa legah mendengar penjelasan dari dokter.


"Alhamdulilah" ucap Aziz dan Amrita bersamaan.


"Terus berdoa" ujar sang dokter.


"Baik, Dok" balas Aziz.


Setelah USG, Aziz mengantar istrinya pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang, Amrita merasa ada yang aneh dalam perutnya namun ia menganggap biasa. Karena hal itu juga dirasakannya semalam.


--


Perumahan Citraland Hertasning


"Sayang, aku kembali bekerja dulu ya. Hubungi aku jika kamu memerlukan sesuatu" ujar Aziz membaringkan istrinya di kamar yang ada di lantai satu.


"Assalamualaikum" ucap Aziz.


"Waalaikumsalam. Hati-hati ya, Mas" balas Amrita tersenyum.


Aziz melangkah keluar lalu masuk ke dalam mobil. Menyalakan mesin dan mulai mengendarai mobilnya. Di perjalanan menuju rumah sakit, tiba-tiba ponselnya berdering. Tertera nama Istriku di sana.


"Mas... cepat pulang Mas... sepertinya aku akan melahirkan" teriak Amrita dibalik telepon. Napasnya terdengar memburuh.

__ADS_1


Info: Mulai sekarang saya Up 1 episode dalam sehari. Dan akan kembali Up 2 episode dalam sehari di tanggal 10 nanti. Alasannya, ditanggal 10 nanti saya akan kejar Up 2000 kata berturut turut selama seminggu, untuk mendaftarkan Rekomendasi Banner. Hanya itu harapan saya untuk mendapatkan pembaca. Karena promo di Fb sangat sulit mendapatkan pembaca yang mau lanjut baca di Aplikasi 🙏🙏 Semoga kalian tidak bosan menunggu Up novel receh ini 😊


__ADS_2