Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 29


__ADS_3

Akhir pekan telah tiba. Fattan dan Sakia membuat agenda jalan-jalan layaknya orang pacaran. Fattan akan mengirim pesan bila ingin bertemu dengan Sakia, begitu juga dengan Sakia. Seakan-akan mereka pacaran. Jika ingin jalan-jalan, maka Fattan akan turun lebih dulu dan masuk ke dalam mobil, lalu menekan klakson mobil agar Sakia keluar dari rumah. Kemudian Fattan akan turun dari mobil membukakan pintu mobil untuk Sakia. Terlihat konyol, tapi itulah yang keduanya sepakati.


Tinnn!!!


Fattan menekan klakson mobil. Selang beberapa puluh detik, terlihat Sakia keluar dari rumah menghampiri Fattan. "Maaf lama" kata Sakia tersenyum lalu masuk ke dalam mobil.


"Kita mau pergi pacaran di mana?" tanya Fattan sambil mengemudi.


"Ini kan akhir pekan, sudah pasti di tempat wisata banyak orang" gumam Sakia. "Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke Mall. Jalan-jalan saja, nggak beli apa-apa" kata Sakia tersenyum.


"Oke. Tapi Mall yang di mana?" tanya Fattan lagi.


"Di Mall Panakukkang" balas Sakia.


Fattan melajukan mobilnya menuju Mall Panakkukang. Beberapa belas menit kemudian, Fattan memarkirkan mobilnya di parkiran Mall. Dia dan Sakia pun keluar dari mobil, keduanya bergandengan tangan lalu melangkah masuk ke dalam Mall. Selama berkeliling, Fattan tidak melepaskan tangan istrinya. Dia terus menggandeng tangan istrinya seakan takut istrinya akan pergi.


"Dek, bukannya itu Nada. Dia sama siapa?" ujar Fattan yang tanpa sengaja melihat Nada bersama seorang pria.


Sakia menatap kearah dimana Fattan melihat Nada. Mata Sakia membulat melihat Nada dan Ferri jalan berduaan di Mall. "Jangan bilang mereka pacaran" gumam Sakia.


"Ayo kita samperin mereka" kata Sakia mempercepat langkahnya.


"Nada, Ferri, kalian berdua paca--" kalimat Sakia terpotong saat Nada lebih dulu menggeleng.


"Nggak kok, Kak. Aku nggak pacaran sama Kak Ferri. Aku kesini untuk belanja pakaian tapi ketemu Kak Ferri, jadi kami jalan berdua. Besok Kak Alif mau ke kampung, mau melamar Nurin jadi aku mau kirim oleh-oleh untuk keluargaku. Nggak apa-apa kan beli yang mahal-mahal untuk keluarga" jelas Nada sebelum Sakia menuduhnya.


"Cie cie... yang mulai mesra-mesra" ledek Nada tersenyum lirih. "Bikin iri aja!!" ketusnya. Suasana hati gadis itu cepat sekali berubah.

__ADS_1


Sakia, Fattan dan Ferri terkekeh. Meladenin gadis polos seperti Nada akan membuat kepala terasa pening. "Kan ada Kak Ferri, kenapa harus iri" ujar Sakia.


"Kak Ferri hak milik orang lain. Aku nggak bisa godain dia" bisik Nada ditelinga Sakia.


"Hahahaha" tawa Sakia pecah. Begitu juga Fattan yang tanpa sengaja mendengar.


"Kalian gosipin aku kan" tuding Ferri yang merasa menjadi tersangka hadirnya tawa dari ketiga mulut manusia yang sedang bersamanya.


"Ferri, jangan lama-lama" kata Fattan memegang bahu Ferri.


"Besok aku mau ikut Alif" bisik Ferri ditelinga Fattan.


Kali ini Nada yang merasa jadi tersangka karena Fattan, Ferri dan Sakia menatapnya. "Kenapa kalian menatapku seperti itu!" ketus Nada.


......🍁🍁......


"Nak, apa kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Mama Hanin mengambil tempat di sisi tempat tidur putranya.


"Alif yakin, Ma. Alif sudah siap membina rumah tangga. Lagian adik Alif hanya satu, jadi Alif nggak kesulitan untuk memberi nafkah pada Nurin dan membantunya membiayai keluarganya" jelas Alif sambil mengisi pakaiannya ke dalam koper.


"Kabari Mama dan Papa kalau kamu sudah sampai di sana. Dan jangan lupa beli oleh-oleh untuk adiknya temanmu, Nada" kata Papa Fakri mengingatkan.


"Iya Papa, Mama. Papa dan Mama hati-hati rumah. Jaga adikku dengan baik" ujar Alif tersenyum.


"Dede kecil, jangan nakal-nakal di perut Mama ya. Doakan Kakak, semoga lamaran Kakak nantinya diterima" kata Alif pada adik kecilnya yang masih dalam perut Mama Hanin.


"Mama, Papa, Alif pergi belanja oleh-oleh dulu" kata Alif setelah mengisi semua barang keperluannya ke dalam koper.

__ADS_1


......🍁🍁......


Ferri dan Nada sedang mengepak barang di rumah Ferri. Di rumah, ada Mama Anita, Mama kandung Ferri dan adik Ferri yang perempuan berumur 5 tahun. Mama Anita tahu tujuan Ferri mengikuti Alif. Dan Ferri sengaja membawa Nada ke rumah agar Mama Anita bisa melihat Nada. Dan respon Mama Anita membuat Ferri bahagia. Sementara Nada, wanita itu tidak tahu apa-apa tentang rencana Ferri mengikuti Alif. Nada selalu menganggap Ferri bercanda soal lamaran yang selalu dia bahas.


"Nak Nada baik ya. Orangnya juga pekerja keras" puji Tante Anita sambil menggendong Sukma, adik kandung Ferri.


"Mau bagaimana lagi, Tante. Aku juga ingin kuliah seperti orang lain, tapi aku punya adik dan orang tua yang sudah tua. Nggak mungkin aku salahin orang tua aku karena punya anak banyak. Mungkin aku adalah perantara untuk menggantikan peran Mama dan Papa bagi adik-adik aku. Itulah kenapa aku dilahirkan dengan hati yang lapang tulang yang kuat" ujar Nada tersenyum.


Mama Anita terharu mendengar ungkapan hati calon menantunya, begitu juga dengan Ferri. Ferri tidak mempunyai Papa lagi, tapi Almarhum Papa Ferri meninggalkan harta berlimpah untuk istri dan anaknya.


"Semoga Allah mengabulkan doa Mama. Aamiin" ujar Mama Anita.


"Aamiin. Aku doain, semoga apa yang Tante inginkan Allah ijabah. Aamiin" kata Nada tersenyum. Tanpa dia tahu, doa Mama Anita adalah keluarga besar Nada menerima lamaran Ferri nantinya.


......🍁🍁......


Fattan dan Sakia tiba di rumah setelah menghabiskan waktu di Mall Panakkukang, rumah makan dipinggir jalan dan beberapa tempat lainnya. Keduanya turun dari mobil lalu tertawa.


"Kak, ternyata orang pacaran itu seperti ini ya. Tapi lebih asyik kita, karena kita bebas berpegangan tangan di tempat umum" kata Sakia sambil membuka pintu rumah.


"Iya. Sekarang kita pacaran di rumah" kata Fattan. Fattan dan Sakia naik ke lantai dua. Sesampainya di lantai dua, tepatnya di ruang keluarga, Sakia meletakkan tas selempanganya di atas meja. Lalu dia berbaring di sofa berbantalkan paha suaminya.


Fattan tersenyum sambil mencubit hidung Sakia. Membuat Sakia mendengus kesal. "Kakak, nanti hidung aku merah" ketus Sakia lalu bangun dan duduk.


Fattan menyalakan televisi. Mencari drama Korea yang romantis. Setelah menemukan salah satu drama yang menurutnya sangat romantis, pria itu meletakkan remut di atas meja. Dia dan Sakia pun menyaksikan drama Korea bersamaan.


"Kakak, ini masih sore" tegur Sakia saat suaminya mulai nakal.

__ADS_1


"Kakak tahu, tapi mau di apa. Ayo kita ke kamar" ajak Fattan lalu menarik tangan istrinya.


__ADS_2