
Amrita menghela napas kasar menatap suaminya dan Aher bergantian. Beberapa detik kemudian, ia mengambil tempat disamping suaminya dan kembali menatap keduanya.
"Kalian jangan cemas. Rahasia kalian aman ditanganku. Dan anggap saja aku tidak melihat kejadian tadi" jelas Amrita.
Aher dan Aziz menggeleng kuat, membuat Amrita menjadi kesal. "Apa lagi Om Aher... Mas Aziz... kenapa lagi!!" ketus Amrita.
Aher menyenggol Aziz. "Cepat jelaskan padanya. Jika tidak, aku jamin Amrita akan meminta cerai darimu. Mana ada wanita normal yang mau menikah dengan pria yang tidak normal" bisik Aher.
"Apa...!! Apa maksud kamu mengataiku tidak normal...!!" seru Aziz sedikit meninggikan suaranya.
"Stop! Kenapa kalian harus bertengkar sedangkan kalian saling mencintai" jelas Amrita memegang jidatnya yang tidak terasa pusing.
"Aku rasa kalian berdua butuh waktu untuk menyelesaikan masalah kalian. Aku pamit pulang sekarang, ada tugas kampus yang harus aku selesaikan. Assalamualaikum" imbuhnya beranjak dari kursi. Amrita keluar dari ruangan suaminya, berjalan menelusuri lorong rumah sakit menuju lantai satu lalu ke keluar dari pekarangan rumah sakit.
"Ini semua salah kamu. Kenapa juga kamu memeluk ku. Begini jadinya sekarang, Amrita salah paham dan kamu yang kena imbasnya" ujar Aher tersenyum getir.
"Bukannya memberiku solusi tapi kamu malah memberiku beban pikiran yang baru. Cepat bantu aku jelaskan semuanya pada Amrita. Jika perlu, kamu saja yang mengutarkan perasaanku padanya. Ya... seperti mewakili" kata Aziz.
Aher nampak geram, ia mendekat lalu menyentil jidat sahabatnya itu. "Apa kamu gila. Dia istrimu, bukan istriku. Lagian apa susahnya sih ngungkapin perasaan pada istri sendiri" ujar Azer menatap aneh sahabatnya.
"Aku malu mengakuinya. Kamu tidak tahu bagaimana istriku. Jika dia tahu aku menyukainya maka dia akan mengejekku terus menerus" jelas Aziz, ia nampak terlihat frustasi.
"Jangan kamu tanggapi. Anggap saja dia sedang bermain denganmu. Sepulang dari sini, kamu ungkapkan perasaanmu padanya. Jika tidak, aku yakin besok pagi kamu akan melihat story baru" kata Aher lagi.
---
Perumahan Citraland Hertasning
__ADS_1
Diruang keluarga yang berada dilantai dua, terlihat Amrita sedang duduk melantai sambil memegang pulpen. Di atas meja kaca, ada kertas double folio. Amrita mengambil selembar kertas tersebut lalu mulai menulis soal dari Dosen pengampu mata kuliah Botani. Tak lupa ia menulis nama dan kelasnya terlebih dahulu serta nama mata kuliah.
"Aku harus semangat belajar dan rajin mengerjakan tugas dari Dosen. Dengan begitu, aku bisa menyelesaikan study ku sebelum waktunya" gumam Amrita.
Amrita mengambil ponselnya untuk mencari klasifikasi dan nama daerah dari jagung, mangga, apel, manggis dan anggur. Ia membutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk mencari dan menulis jawaban dari tugasnya. Dan kini, Amrita sudah selesai menulisnya.
"Aku sudah menyelesaikannya. Sekarang tinggal aku hapal agar nanti aku bisa menjawab pertanyaan dari Pa Ikbal" gumam Amrita menyemangati dirinya sendiri.
Amrita menoleh ke arah tangga saat ia mendengar suara langkah kaki seseorang yang sedang menaiki anak tangga. Seulas senyum terukir saat ia melihat suaminya sedang berdiri menatapnya. Amrita berdiri berjalan menghampiri suaminya lalu menyalami tangan suaminya.
"Tangan ini yang bekerja untuk menafkahiku" gumam Amrita sesudah menyalami suaminya.
"Amrita, ada yang mau aku katakan padamu. Aku harap kamu tidak menertawakanku ataupun mengejekku" kata Aziz menatap istrinya.
"Nanti saja Mas, sekarang Mas mandi karena sekarang sudah sore. Nanti malam baru Mas katakan apa yang Mas mau katakan" balas Amrita.
Aziz menghela napas kasar. Tersenyum lalu berjalan masuk ke dalam kamar untuk mandi. Hampir dua puluh menit berada di dalam kamar mandi, saat keluar, ia melihat pakaian yang akan ia kenakan sudah tersedia di atas tempat tidur. Seulas senyum kembali terukir diwajah tampannya. Ia sudah membulatkan niatnya untuk mengutarakan perasaannya pada sang istri.
---
"Sayang, cepat wudhu. Kita sholat berjamaah di rumah" kata Aziz.
Amrita membuka matanya, menatap lekat pria yang sudah lama menjadi suaminya. "Apa aku tidak salah dengar, Mas?" tanya Amrita memastikan.
"Tidak, kamu tidak salah dengar. Sekarang kamu wudhu, aku tunggu kamu di kamar" kata Aziz berlalu pergi meninggalkan istrinya.
Amrita beranjak dari sofa dan pergi mengambil wudhu. Setelah selesai, ia masuk ke dalam kamar, membuka lemari dan mengambil mukena. "Ya Allah, ini pertama kalinya aku sholat berjamaah dengan suamiku" batin Amrita.
__ADS_1
Amrita dan Aziz mulai sholat berjamaah di rumah. Lantunan ayat suci alquran yang dibaca Aziz begitu merdu didengar. Membuat Amrita meneteskan air mata sejak dirakaat kedua hingga rakaat ketiga. Hatinya begitu tersentuh mendengar lantunan ayat suci surat Ad dhuha. Seusai sholat, keduanya pun mengaji bersama. Surah Al-baqarah, itulah surah yang mereka baca.
--
Pukul 09,00 malam. Seusai sholat isya, Amrita dan Aziz memilih untuk makan malam. Setelah selesai, keduanya masuk ke dalam kamar dan duduk diranjang.
"Mas, maafkan aku. Maaf untuk semua kesalahaku" ujar Amrita menatap suaminya. Ia sadar dan ia akui seberapa besar dosanya pada sang suami.
Aziz tersenyum lalu memeluk istrinya. "Aku sudah memaafkanmu. Kamu istriku dan akan tetap menjadi istriku" kata Aziz sembari mengelus kepala istrinya.
"Apa yang mau Mas katakan padaku. Tadi Mas bilang aku tidak boleh menertawakanmu" tanya Amrita melepas pelukan suaminya.
Aziz menghela napas kasar. Mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan perasaannya pada sang istri. "Sebenarnya---" Aziz kembali diam sejenak. Mengatur napasnya perlahan lalu kembali menatap istrinya.
"Tapi kamu harus janji untuk percaya dan tidak menertawakan aku" jelas Aziz serius.
Amrita terkekeh mendengarnya. "Kalau lucu ya aku tidak bisa berjanji karena memang aku orangnya suka tertawa kalau dengar sesuatu yang lucu" jelas Amrita.
"Ini memang terdengar lucu tapi aku mohon sama kamu untuk tidak tertawa. Kamu bisa kan menahan sebentar sifatmu itu?" jelas Aziz.
"Aku tidak bisa berjanji, Mas. Mungkin mulutku akan berkata iya tapi bagaimana jika hatiku ingin tertawa?" balas Amrita tersenyum.
"Ya sudah, terserah kamu saja. Tunggu sebentar, aku mau atur napas dulu" kata Aziz lalu mengatur napasnya. Menghirup udara dan menghembuskannya perlahan. Aziz menatap manik mata istrinya, menatapnya tanpa berkedip.
"Amrita, se-se--sebenarnya---" lagi-lagi Aziz tidak berani melanjutkan kalimatnya. Keringat dingin mulai bercucuran membanjiri tubuhnya.
"Sebenarnya apa Mas!!" ketus Amrita. Ia kembali menjadi kesal.
__ADS_1
"Aku mencintaimu" sambung Aziz.
Kira-kira bagaimana respon Amrita saat mendengar dua kata itu 😆😆