
Rumah Sakit Awal Bros
Di dalam ruang Presiden Suite, Aziz sedang berdiri mengecek kondisi pasiennnya. Ia terlihat tampan saat sedang mengenakan baju jas dokternya. "Bagaimana perasaan bapa hari ini?" tanya Aziz pada pasien yang kini terbaring di hospital bed.
"Agak mendingan dok" balas sang pasien.
"Alhamdulilah. Rutin makan, minum obat dan jangan lupa berdoa pada Allah" ujar Aziz.
"Iya dok," balas sang pasien lagi.
Aziz ke luar dari ruangan Presiden Suite menuju ruang perawatan kelas 2. Di ruang kelas 2, ia melihat Hanin sedang berdiri bersama seorang wanita yang ia kenal, siapa lagi kalau bukan Amrita. "Bukanny dia ke Mall bersama ibu?" batin Aziz.
Aziz melewati istrinya. Ia berjalan bersama beberapa dokter muda yang magang di RS Awal Bros. Mereka berhenti tepat disamping Amrita. Aziz menanyakan keluhan dan riwayat penyakit sebelumnya pada pasien.
"Apa keluhannya?" tanya Aziz.
"Sesak napas. Dan kalau jalan terlalu jauh, saya cepat kecapean" jelas Hendri.
"Pernah masuk rumah sakit?" tanya Aziz lagi.
"Pernah, satu tahun yang lalu" balas Hendri lagi.
"Yang lalu diagnosanya apa?" tanya Aziz lagi.
Hendri melirik Amrita. Karena Hendri sendiri sudah lupa dengan penyakit yang dia derita. Dan waktu dia sakit, Amrita lah yang menemaninya di rumah sakit.
"Satu tahun yang lalu, dia pernah masuk rumah sakit. Dan kata dokter, terjadi pembengkakan dibagian hatinya" jelas Amrita.
"Apa sudah lakukan rontdgen?" tanya Aziz.
"Belum, dok" balas Hanin.
Aziz mengangguk paham. Ia berbalik menghampiri pasien yang lainnya. Begitu pun dengan dokter magang, mereka mengikuti Aziz dari belakang.
"Tegur pun tidak!" batin Amrita kesal. Ia melirik suaminya yang terlihat gagah saat sedang fokus dalam bekerja.
"Ciee, yang merasa diabaikan" ledek Hanin yang disambut kekehan kecil oleh Hendri.
__ADS_1
"Sok tahu!" ketus Amrita.
Waktu menunjukan pukul 11:32 PM. Aziz kembali ke ruangannya. Sedangkan Amrita, ia masih berada diruang kelas 2 bersama Hanin. Amrita mengambil ponselnya saat mendengar dering telepon. "Om Aziz" gumam Amrita. Tak menunggu lama, ia pun menjawab panggilan telepon dari suaminya.
"Assalamualaikum" sapa Amrita.
"Waalaikumsalam. Cepat ke ruanganku, aku tunggu kamu di sini" titah Aziz.
"A-aku---" Amrita tak melanjutkan kalimatnya.
"Kamu mau naik atau aku minta satpam menggendongmu dan membawamu ke ruanganku!!" ancam Aziz.
"Aku tidak mau tahu, sekarang juga kamu ke ruanganku" titah Aziz dengan geram. Berbicara dengan istrinya akan membuat tensinya naik.
Amrita memutuskan panggilan secara sepihak, ia masih kesal pada suaminya. Kesal karena suaminya tidak menjawab pertanyaannya tentang perasaannya pada Anaya.
Di tempat lain, tepatnya diruangan Azi. Aziz tersenyum mengingat tingkah gila istrinya. "Ada ada saja tingkah gilanya. Kabur dari rumah, izin mendaki, tawuran dan sekarang dia memutuskan panggilan secara sepihak"
"Andai dia bukan istriku, sudah aku rebus hidup-hidup itu anak" ujar Aziz.
"Apa kata Om! Om mau merebusku hidup-hidup?" Amrita membelalakan mata tak percaya. Ia masuk tanpa mengetuk pintu atau pun memberi salam.
"Kuping Jerapa" balas Amrita santai. Ia mengambil tempat di depan suaminya. "Kenapa Om memanggilku?" tanyanya.
"Yang pertama, bukannya kamu dan ibu janjian ke Mall. Dan yang ke dua, kenapa kamu ke rumah sakit dengan pakaian seperti itu? Dan yang ke tiga, kenapa kamu tidak mengabariku jika akan ke rumah sakit?" tanya Aziz bertubi tubi.
"Banyak amat!" ledek Amrita. Ia tertawa mendengar pertanyaan suaminya yang bertubi-tubi.
"Masih punya kemampuan ya untuk bercanda"seru Aziz. Ia menatap tajam istrinya.
"Om, ayo baikan" pintah Amrita yang tiba-tiba mendekatkan wajahnya menatap lekat suaminya.
"Baikan? Sejak kapan kita berdua bermusuhan?" Aziz mengerutkan keningnya saat mendengar kata "Baikan".
Ceklek...
Suara pintu terbuka. Amrita dan Aziz menoleh. Di depan pintu, ada Anaya yang sedang berdiri. Anaya berjalan masuk menghampiri Amrita dan Aziz.
__ADS_1
"Eh, kak Anaya datang. Kak Anaya aku titip kakak sepupu ku ya..." kata Amrita tersenyum manis pada Anaya lalu berbalik menatap suaminya. "Kakak sepupu ku yang tua namun ganteng, aku pamit ya" kata Amrita.
"Kamu mau ke mana?" tanya Aziz menyelidik.
"Mau temani Kak Hendri, kasihan dia sendiri di sana. Bye bye kakak sepupu. Ummmmuuchh..." balas Amrita berlalu pergi meninggalkan Aziz yang menggeleng kepala melihat tingkah istrinya.
Di dalam ruangan, tinggalah Anaya dan Aziz.
"Apa yang membuatmu ke sini?" tanya Aziz pada Anaya.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat istrimu sedih" jelas Anaya.
"Aku sudah menemukannya. Maka dari itu, menjauhlah darinya. Aku tidak mau istriku terluka lagi" kata Aziz dengan serius. Aziz tidak mau kejadian yang beberapa hari yang lalu terulang kembali.
"Aziz, aku tidak bermaksud membuat istrimu terluka. Aku--" Anaya menghentikan kalimatnya saat Aziz memintanya untuk ke luar dari ruangannya.
Dengan kesal, Anaya berlalu pergi dari ruangan Aziz. Di dalam ruangan, Aziz memijat keningnya. "Senakal apapun Amrita, dia tetap istriku. Aku yakin, dia tidak akan nakal jika aku menuruti semua keinginannya" batin Aziz.
Ruang perawatan kelas 2
Amrita dan Hanin sedang menemani senior Hendri. Mereka terlihat sedang asik bercengkrama satu sama lain. "Kak Hendri, Hanin, aku pamit pulang ya. Aku mau ganti pakaianku dulu. Nanti malam, aku akan ke sini lagi" pamit Amrita.
"Baiklah adiku tersayang. Hati-hati di jalan dan jangan lupa bahagia adik ku" balas Hendri tersenyum ramah pada Amrita.
Amrita terkekeh, "Siap kakak senior terbaik dan terpintar serta terganteng"
Amrita berlalu pergi meninggalkan Hanin dan Hendri. Belum sempat Amrita ke luar dari rumah sakit, ia mendengar seseorang memanggilnya. Amrita menoleh, ia melihat suaminya sedang berjalan menghampirinya. Terukir senyum mengembang di wajah tampan dokter Aziz.
"Ayo kita pulang" ajak Aziz sembari menggenggam tangan istrinya.
"Om, apa Om sakit? Tumben Om baik padaku" Amrita menatap suaminya sejenak serta membiarkan suaminya menggenggam tangannya.
"Aku ingin menebus kesalahanku padamu. Dan jika kamu ingin mendaki maka menurutlah" kata Aziz tersenyum.
"Mendaki? Aku diizinkan mendaki?" gumam Amrita. Senyum bahagia terukir di wajah manisnya.
"Om, ayo cepat. Aku akan memasak makanan kesukaan Om dengan rasa yang berbeda. Anggap saja, aku menyogok Om dengan rasa makanan yang akan aku masak nanti" kata Amrita dengan girang. Ia menarik tangan suaminya agar suaminya berjalan cepat.
__ADS_1
Keduanya masuk ke dalam mobil. Mobil perlahan bergerak meninggalkan rumah sakit. Dalam perjalanan, Aziz melirik istrinya yang masih tersenyum. "Apa yang membuatmu suka mendaki?"
"Mendaki adalah awal di mana aku memiliki keluarga dan motifasi. Saat mendaki, aku diajarkan arti perjuangan dan bagaimana menjalani serta mensyukuri hidup. Untuk bisa berdiri di gunung yang tinggi, dibutuhkan usaha dan semangat. Begitu pun dengan mencapai cita-cita, untuk bisa kuliah, aku berusaha mendapatkan beasiswa. Hidup itu keras, mereka yang memiliki orang tua akan dengan mudah mengulurkan tangan. Dan aku yang yatim piatu, tanpa berusaha aku tidak akan bisa mencapai cita-citaku. Semangat itu hadir saat aku pergi mendaki untuk yang pertama kalinya. Itulah sebabnya, aku meminta izin untuk pergi mengenang masa itu selama aku masih kuat berjalan" jelas Amrita panjang kali lebar.