Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 40


__ADS_3

Malam hari


Perumahan Citraland Hertasning


Disinilah Aziz dan istri nakalnya berada. Keduanya kembali ke rumah mereka sejak matahari mulai tenggelam. Dan kini, Aziz dan Amrita sedang duduk di ruang keluarga menikmati Brownis Pandan yang mereka beli di Amanda Perintis Km 9.


"Mas, besok pagi aku mau ke rumah Ibu. Kami mau membagikan makanan pada pemulung. Apa Mas mau ikut?" kata Amrita sembari menyandarkan kepalanya di sofa.


"Apa kalian sudah memesan makanannya?" tanya Aziz menatap TV sambil mengunyah brownis pandan.


"Sudah. Besok pagi aku dan Hanin yang akan ke PK 7 untuk mengambil pesanannya" balas Amrita sembari memainkan ponselnya. Aziz hanya mengangguk paham. Matanya masih terfokus dilayar televisi yang terpajang diruang keluarga.


-----------


Malam telah berlalu dan pagi telah menyapa. Seperti biasa, Amrita akan menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya. Setelah selesai, Amrita menempelkan selembar kertas kecil di pintu kulkas agar suaminya tidak mencarinya saat bangun nanti.


PK 7


"Hanin, apa kamu sudah menghubungi calon ibu mertuamu?" tanya Amrita sembari menatap senyum sahabatnya.


Hanin terkekeh saat mendengar kata"Ibu Mertua". "Sudah. Ibu mertuamu sedang bersiap-siap untuk ikut bersama kita"


"Permisi Mbak. Pesanannya mau diletakan di mana?" tanya seorang pegawai rumah makan.


"Biarkan di atas meja dulu Mbak. Nanti kami angkat sendiri" balas Amrita sembari mencoba menghubungi Fakri. Selang beberapa detik kemudian, terlihat mobil Tante Eka berhenti di depan rumah makan.


"Sayang, pesanannya sudah ada ya?" tanya Tante Eka menghampiri Amrita dan Hanin.


"Sudah, Bu. Ini tinggal di bawah masuk ke dalam mobil" balas Amrita lalu mengangkat kresek merah yang berisi makanan dus catering.

__ADS_1


Hanin dan Tante Eka pun membantu Amrita untuk meletakan kresek merah tersebut di bagasi mobil. Beberapa detik kemudian, Fakri ke luar dari mobil lalu membantu wanita-wanita cantik yang kini bersamanya. Setelah selesai, Tante Eka masuk ke dalam mobil, begitupun dengan Hanin dan Amrita. Mobil perlahan bergerak menuju jalan raya yang dimulai dari pintu Nol Unhas. Sesampainya dibagian pintu Nol Unhas, Amrita dan Tante Eka ke luar dari mobil lalu membuka bagasi mobil dan mengeluarkan dua bungkus nasi kotak. Mereka menyebrang jalan menghampiri pengemis yang ada di lampu merah pintu satu Unhas.


"Tabe Bu, ini ada sedikit sedekah untuk Ibu dan anak Ibu" kata Amrita sembari menyerahkan dua kotak makanan.


"Terimakasih Na'. Semoga Allah melipatgandakan rezekinya"


"Aamiin. Kami pergi dulu ya Bu. Assalamualaikum" balas Amrita.


Amrita dan Tante Eka pun mulai menyebrangi jalan, kemudian masuk ke dalam mobil. Mereka kembali melanjutkan kegiatan mereka menuju Panaikang. Fakri menepikan mobil di depan Setia Hingga Akhir. Beberapa detik kemudian, Tante Eka, Amrita dan Hanin ke luar dari mobil. Mereka mengeluarkan satu kresek merah karena di depan Setia Hingga Akhir ada beberapa pemulung dan tukang becak yang terbilang sudah tua.


"Tabe Bu. Ini ada makanan untuk Ibu" kata Hanin sembari menyerahkan satu nasi kotak.


"Alhamdulilah. Terimakasih Nak. Semoga Allah membalas kebaikan kalian. Aamiin"


"Tabe Pa'. Ini ada makanan untuk Bapa dan putri Bapa" kata Hanin pada Bapa pemulung.


"Terimakasih Nak. Kebetulan saya belum makan dari semalam" kata sang Bapa pemulung. Tanpa sadar, air matanya berhasil menetes membasahi wajahnya yang mulai terlihat keriput.


"Persediaan makanan di rumah sudah habis tanpa sisa Bu. Saya dan kedua putri saya tinggal di BTN Antara, belakang Pertamina yang disamping kampus UIM"


"Ya Allah" tante Eka menutup mulutnya dengan menggunakan kedua tangannya.


"Pa, sekarang Bapa lanjut kerja ya. Kami mau lanjutkan kegiatan kami dulu. Nanti malam kami akan ke rumah Bapa" ujar Amrita. Ia yakin Ibu Mertuanya pasti akan ke rumah Bapa tua itu.


---------


Top Mode


Seusai membagikan seratu nasi kotak, Amrita dan yang lainnya memilih ke Top Mode untuk membeli sesuatu. Dan kini, mereka sedang berada di lantai dua Top Mode.

__ADS_1


"Amrita, menurut kamu apa saja yang harus kita beli?" tanya Tante Eka berjalan disamping Amrita, sedangkan Hanin dan Fakri mengikut dari belakang.


"Mie, sabun cuci pakaian, minyak kelapa, telur dan beras. Aku rasa itu yang mereka perlukan Bu" balas Amrita.


"Oke. Nanti kita beli mie satu dus, telur satu rak, sabun satu karton dan beras satu karung 25 kg" ujar Tante Eka lalu meminta pegawai Toko Top Mode untuk mengambilkan apa yang mereka mau beli. Kecuali minyak Bimoli, karena mereka hanya membeli dua liter minyak Bimoli. Tante Eka berjalan ke kasir sedangkan Amrita, Fakri dan Hanin menunggu dipinggir tangga menunggu barang belanjaan mereka.


"Bu, nanti malam baru kita antar ya Bu. Aku lelah sekali" keluh Fakri sambil menutup bagasi mobil.


"Iya sayang. Ayo kita pulang istrahat" balas Tante Eka lalu masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Amrita dan Hanin sedang menyandarkan kepala mereka di kursi. Tak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di rumah.


"Hanin, ayo kita masuk ke dalam. Nanti malam aku antar kamu pulang" ujar Amrita lalu turun dari mobil yang diikuti oleh Hanin. Tante Eka dan Fakri pun ke luar dari dalam mobil.


Di dalam rumah, Afika sedang meletakan pisang goreng coklat keju. Ia tidak ikut membagikan makanan karena ada sesuatu dan lain hal yang membuatnya memilih di rumah saja. Afika berjalan membuka pintu rumah saat mendengar suara Tante Eka di luar.


"Kalian datang diwaktu yang tepat. Aku lagi buat pisang goreng coklat keju" ujar Afika girang.


"Benarkah sayang. Pasti enak deh" kata Tante Eka lalu masuk ke dalam. Amrita duduk disamping Hanin, sedangkan Fakri memilih merebahkan tubuhnya di sofa samping ibunya.


"Pasti enak sekali pisang goreng coklatnya" kata Tante Eka sembari mengambil pisang goreng lalu memakannya.


-----------


Kini jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Tante Eka dan keluargnya sedang bersiap siap untuk ke rumah Bapa Pemulung yang tinggal di BTN Antara, belakang pertamina, samping kampus UIM.


"Mas tampan...!!" sorak Amrita saat melihat mobil suaminya berhenti di depan rumah.


Aziz tersenyum saat mendengar teriakan istri nakalnya. Ia pun membuka pintu mobil lalu turun menghampiri istrinya. "Ciee... yang mulai rindu ni..." ledek Aziz.


"Huhuhuiiii... ada yang lagi berbunga-bunga nih Pah. Dulu marah-marah, kesal, bahkan sering berteriak. Eh... sekarang mulai klepek klepek" ledek Tante Eka lalu tertawa mengejek putra sulungnya.

__ADS_1


"Hahahahaha. Ibu, apa Ibu mau tahu. Mas Aziz sekarang mulai jatuh dalam pesonaku" ujar Amrita membanggakan diri.


"Hahahahaha" tawa Aziz sejenak lalu menatap istrinya. "Oh ya, bukankah barusan kamu memanggilku tampan. Itu menandakan bahwa kamu mengakui ketampananku. Dan itu menunjukan bahwa kamulah yang mulai jatuh dalam pesona tampanku"


__ADS_2