Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 115


__ADS_3

Sesuai permintaan Fattan. Aziz dan keluarga kecilnya tidur di sofa bed. Tengah malam, Amrita bangun dan duduk menatap wajah polos suami dan kedua anaknya. Bulir bening jatuh dari kedua sudut kelopak matanya. Seakan akan wanita itu tidak akan lama lagi bersama keluarga tercintanya. Itulah yang dirasakan Amrita belakangan ini.


"Ya Allah. Kenapa aku merasa umurku tak lama lagi. Ada apa denganku ya Allah" batin Amrita.


Amrita kembali merebahkan tubuhnya, lalu memeluk erat putranya yang tidur di sampingnya. "Maafkan Mama bila Mama ada salah padamu dan juga adikmu. Maafkan Mama yang belum bisa menjadi Mama yang baik untuk kalian" bisik Amrita ditelinga putranya.


Pukul 04:43 AM


Aziz bersiap-siap ke masjid untuk shalat subuh berjamaah sementara Amrita masih tidur bersama kedua anaknya. Wanita itu tidak shalat karena tamunya sudah datang. Sebelum ke masjid, Aziz menutupi sebagian tubuh anak dan istrinya dengan selimut.


"Harta yang paling berharga adalah kalian. Aku ingin menghabiskan sisa waktuku bersama kalian" gumam Aziz lalu keluar dari rumah. Dia mengendari sepeda motor ke masjid. Setelah shalat subuh berjamaah, Aziz langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, dia langsung masuk dan mendapati istri dan anaknya masih tidur.


Bingung apa yang harus dia lakukan, dia pun ke dapur membuka kulkas. Melihat apakah ada persediaan makanan berupa ikan dan sayur yang bisa di masak apa tidak. Seulas senyum tersungging saat melihat ikan dan sayuran masih ada.


"Alhamdulilah, ada ikan bolu dan ikan merah. Ikan merah untuk Fadila dan Fattan. Nanti aku dan Amrita makan ikan bolu" gumam Aziz. Aziz tersenyum lalu mengeluarkan ikan dari kulkas.


"Mas, kenapa nggak bangunin aku?" tanya Amrita memeluk suaminya dari belakang. Sementara Aziz hanya bisa tersenyum sambil memotong ikan.


"Aku tahu kamu lelah. Dan nggak ada salahnya aku membantumu" balas Aziz.


"Mas lebih lelah daripada aku. Sekarang Mas temani anak-anak biar aku yang menggorengnya" ujar Amrita.


"Kamu saja yang temani mereka. Atau kamu potong kecil-kecil kacang panjang yang ada di kulkas" kata Aziz.


Amrita melepaskan lingkaran tangannya dari pinggang suaminya. Lalu bergegas mengeluarkan sayur dari dalam kulkas. Kemudian memotongnya agak kecil. Sayur itu nantinya akan dimasak dan dicampur dengan kecap. Setelah Aziz dan Amrita memasak, mereka menghampiri Fattan dan Fadila yang masih tidur.


"Sayang, apa kalian tidak mau olahraga?" tanya Amrita.

__ADS_1


Fattan dan Fadila tak bergeming, kedua anak kecil itu masih hanyut dalam mimpi. Amrita dan Aziz mengukir senyum indah di wajah masing-masing. Keduanya mengurungkan niat mereka untuk jalan pagi. Karena si kembar nggak mau bangun, Aziz dan Amrita pun ikut merebahkan tubuh mereka di samping kedua anak mereka.


Di sebuah pantai berpasir putih. Amrita duduk seorang diri. Wanita itu duduk menunggu sosok yang begitu ia rindukan. Sosok Ibu dan Ayahnya yang telah tiada. Tak lama menunggu, dua sosok yang dirindukan pun datang menghampirinya.


"Amrita putriku. Ayo kita pergi" ajak Ibu Amrita.


"Iya, Ibu" balas Amrita. Amrita berjalan sambil menggandeng tangan Ibu dan Ayahnya.


"Mama... Mama..."


Dibelakang mereka, terdengar anak kecil memanggil Mama. Amrita menoleh, dilihatnya Fattan dan Fadila menangis memangilnya.


"Mama, ayo kita pulang. Jangan ikut Kakek dan Nenek itu" ajak Fadila sesenggukan.


"Mama. Ayo kita pulang. Papa menangis di rumah" timpal Fattan yang juga sesenggukan.


Amrita menatap Ibu dan Papanya. "Ibu, Ayah, aku harus bagaimana?" tanya Amrita dengan bingung.


"Fattan, Fadila. Pulanglah anakku. Mama nggak bisa ikut kalian pulang" titah Amrita lalu berbalik dan pergi meninggalkan anaknya.


"Mama...!! jangan tinggalkan kami!" teriak Fattan dan Fadila bersamaan. Keduanya terbangun dari tidur mereka. Bahkan keduanya memimpikan hal yang sama.


"Fattan, Fadila. Kalian kenapa, Nak?" tanya Amrita saat membuka matanya.


Fattan dan Fadila berhambur memeluk Mama mereka. "Mama, jangan tinggalkan kami. Jangan ikut Nenek dan Kakek itu" pinta Fadila sesenggukan.


Aziz yang baru saja bangun dari tidurnya, pria itu mengerutkan keningnya saat melihat anaknya menangis. "Sayang, mereka kenapa?" tanya Aziz dengan serak.

__ADS_1


"Aku juga nggak tahu, Mas. Tiba-tiba mereka berteriak dan menangis" balas Amrita yang juga bingung.


Berhubung sudah jam tujuh dua puluh, Amrita mengajak anaknya ke kamar. Fattan dan Fadila pun mengangguk lalu berdiri. Keduanya menggenggam erat tangan Mama Amrita hingga mereka berada di dalam kamar. Sesampainya di dalam kamar, Amrita mendudukkan anaknya di atas tempat tidur. Menatap kedua anaknya lalu menyeka jejak air mata putri dan putranya.


"Apa kalian bermimpi Mama bertemu Kakek dan Nenek yang kalian tidak kenal?" tanya Amrita.


Fadila dan Fattan mengangguk. "Mama. Jangan pernah ikut Kakek yang tidak dikenal itu. Mama nggak boleh pergi. Mama harus ikut bersama kami" ujar Fattan.


"Ya Allah. Kenapa mimpiku bisa sama dengan mimpi anakku" batin Amrita.


Untuk mengembalikan senyum sikembar, Amrita menggelitik anaknya hingga keduanya tertawa lepas. Setelah melihat anaknya mulai kembali ceria, Amrita mengajak keduanya ke kamar mandi dan mulai memandikan Fattan dan Fadila. Usai memandikan dan mengenakan pakaian untuk anaknya, Amrita mengajak anaknya keluar dari kamar.


"Ayo sini" panggil Aziz menepuk tempat duduk di sampingnya.


Fattan dan Fadila pun duduk di samping Papa Aziz. Begitu juga Amrita. Di meja, ada tiga gelas susu dan satu gelas kopi. Kopi untuk Aziz dan susu untuk Amrita dan si kembar. Mereka menikmati kue kering yang dibuat Mama Amrita.


"Mas, hari minggu nanti kita ke Pasar Sentral ya. Aku udah menghubungi Ibu-Ibu yang mau jahitkan baju coupple untuk kita sekeluarga" jelas Amrita.


"Iya. Kapan kita foto studio?" balas Aziz lalu bertanya.


"Kalau bajunya sudah jadi" balas Amrita sambil mengambil kue rambutan.


"Oke. Nanti hari minggu kita ke sana. Oh ya, pagi ini aku berangkat kerja lebih awal dari biasanya. Jadi nggak bisa ikut makan pagi dengan kalian" jelas Aziz. Setelah menghabiskan kopinya, Aziz masuk ke dalam kamar untuk mandi dan bersiap-siap.


"Sayang, kalian tunggu di sini ya. Mama mau siapkan pakaian kerja untuk Papa dulu" ucap Amrita pada si kembar yang dibalas anggukan oleh kedua anaknya.


Setelah mendapat respon dari anaknya, Amrita beranjak dari sofa menghampiri suaminya di kamar. Dilihatnya Aziz sedang melepas pakaian yang ia pakai. Tanpa malu-malu, Amrita menghampiri suaminya dan memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Aku merindukanmu, obatku" ucap Amrita.


Aziz tersenyum lalu berbalik memeluk istrinya. "Aku juga merindukanmu. Bahkan aku ingin tetap di rumah bersamamu dan anak-anak. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus ke rumah sakit" jelas Aziz lalu mencium bibir istrinya.


__ADS_2