Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 24


__ADS_3

Sakia keluar dari kamar, dilihatnya Alif sedang duduk manis sambil menyilangkan kedua kaki. Di samping Alif ada Fattan namun ekspresi Fattan tak bisa disembunyikan, pria itu sedang cemburu.


"Kak Fattan pasti cemburu lagi" batin Sakia.


"Aku ke sini mau bicara dengan Sakia. Kalau Kak Fattan penasaran Kakak bisa duduk diantara kami mendengarkan apa yang mau aku bicarakan dengannya" kata Alif dengan santai.


"Alif, Kak Fattan, ayo kita makan dulu" ajak Sakia.


"Kak Fattan, ayo kit makan" ajak Alif seakan akan itu adalah rumahnya.


Fattan membulatkan mata menatap Alif yang tersenyum mengejeknya. Alif tidak mau tahu, pria itu beranjak dari sofa berjalan menuju meja makan. Dengan kesal, Fattan berdiri menyusul Alif.


"Jangan memasang ekspresi seperti itu" bisik Sakia berjalan di samping suaminya.


Di meja makan, Alif nampak biasa saja. Dia makan layaknya di rumah sendiri. Dia membiarkan Fattan melawan rasa cemburunya. Toh Alif sudah move on, apa lagi yang harus dia khawatirkan. Niatnya menemui Sakia juga mau membahas tentang Nurin, bukan tentang dia dan Sakia. Setelah makan, Baik Fattan, Alif maupun Sakia ke sofa.


"Ada apa kamu mencari ku?" tanya Sakia.


Alif membenarkan posisi duduknya. "Aku mau minta bantuanmu. Sebenarnya ini bisa nanti saja, tapi aku gelisa dan takut dia dilamar oleh orang lain" jelas Alif.


"Akhir-akhir aku suka deg degan bila berada di dekat Nurin. Aku rasa namamu sudah terganti olehnya. Kia, bantu aku dong. Aku nggak mau kehilangan cinta untuk yang ke dua kalinya" ungkap Alif serius.


"Hehehehe" kekeh Fattan. Tiba-tiba suasana hatinya membaik mendengar Alif sudah move on dari Sakia.


"Kenapa Kakak terkekeh. Kakak mengejekku!" seru Alif mendengus kesal.


"Nggak. Kakak hanya senang saja" balas Fattan dengan jujur.


"Kia, bagaimana menurutmu?" tanya Alif menatap Sakia dan mengabaikan Fattan.


"Apa kamu sudah beritahu Nurin tentang perasaanmu padanya?" tanya Sakia.


"Belum" balas Alif.


"Ya sudah. Biar aku yang urus Nurin. Nanti aku tanyakan pada Nurin, dia sudah punya calon suami apa belum. Karena seingatku, dulu Nurin pernah berkata ada pria yang datang melamarnya. Tapi dia nggak tahu, orang tuanya terima lamaran itu apa nggak. Karena posisinya Nurin masih di kota di waktu itu" jelas Sakia.

__ADS_1


"Oke. Di mana kamar untuk tamu?" tanya Alif.


"Kamu mau bermalam di sini?" tanya Fattan.


"Iya. Kenapa? Nggak boleh lagi? Jahat bangat sih!!" kata Alif menatap aneh Fattan.


"Bukan itu maksud Kakak. Kamu tidur di kamar yang sana" kata Fattan sambil menunjuk kamar untuk Alif tempati.


"Alhamdulilah. Kak Fattan nggak posesif lagi. Apa karena Alif sudah bisa move on dariku. Aku harus bantu Alif, dengan begitu, Kak Fattan nggak akan bersikap dingin lagi pada Alif" batin Sakia.


Adzan magrib berkumandang. Fattan dan Alif bergegas ke masjid, sementara Sakia di rumah sendirian. Sakia berbaring di sofa sambil mengetik sesuatu. Lalu mengirim pesan pada Nurin namun Nurin tak kunjung membalas pesan dari Sakia.


...🍁🍁...


Pagi telah menyapa, Sakia terlihat seperti bukan Sakia. Jika biasanya dia bangun di waktu subuh untuk memasak dan membersihkan rumah maka kali ini wanita itu tidur hingga pukul tujuh pagi. Karena keterlambatannya, Fattan menyuruh Alif mencuci piring dan menyapu lantai.


"Uwwaaa" Sakia menguap berulang kali. Membuka mata sambil merentangkan tangannya.


"Sudah bangun, Dek. Jangan lupa siapkan pakaian kerja untuk Kakak" kata Fattan yang baru saja selesai memasak.


"Dari tadi. Lagian ini sudah jam 7 bukan jam 5" Jawab Fattan.


Sakia menoleh kearah dinding. "Ya Allah... Kakak, Kia belum buat sarapan" ujar Sakia dengan wajah sedihnya.


Fattan tersenyum menghampiri istrinya. Lalu duduk di samping istrinya. "Kakak sudah buatkan sarapan untuk kita" kata Fattan tersenyum.


"Sakia... piring kotor sudah aku cuci dan lantai sudah aku sapu. Jangan lupa bantu aku ya... Aku pulang dulu. Assalamualaikum" ujar Alif berdiri di samping pintu kamar Sakia dan Alif.


"Iya. Terima kasih, Lif. Waalaikumsalam" sahut Sakia.


...---...


Setelah sarapan, Fattan ke rumah sakit dan Sakia ke butik. Sakia sudah berjanji untuk membantu Alif. Wanita itu mengirim pesan pada Nurin memintanya ke butik. Untuk urusan restoran nanti Alif yang urus.


Sakia, Nurin dan Nada duduk di sofa yang ada di butik. Nurin menatap Sakia, dia tidak tahu alasan Sakia memintanya ke butik.

__ADS_1


"Kakak kangen aku ya..." ledek Nurin tersenyum.


Sakia dan Nada terkekeh. "Nggak lah, mana mungkin Kak Kia merindukan kamu" ujar Sakia menjulurkan lidahnya.


"Tahu tuh, kepedan amat" timpal Nada meledek.


"Jadi kalian memintaku ke sini karena apa? Aku yakin kalian pasti merindukan aku. Ngaku aja, aku tahu itu" kata Nurin membanggakan diri.


"Jadi gini, Dek. Ada laki-laki yang mau lamar kamu--" belum juga dilanjut Nurin dan Nada sudah kaget.


"Apa!!" Nurin membulatkan mata tak percaya, begitu juga dengan Nada.


"Aku" Nurin menunjuk dirinya. "Aku yang masih polos ini mau di lamar? Apa Ibu dan Bapa ku menghubungi Kakak? Apa yang mereka katakan pada Kakak?" pertanyaan beruntun keluar dari mulut Nurin yang mengira pria kampung yang melamarnya.


"Dengar dulu penjelasan Kakak. Jadi gini, Kak Alif itu menyukai kamu, Dek. Dan Ka Alif mau melamar kamu, tapi sebelum itu Ka Alif mau tahu dulu, Nurin sudah punya calon suami apa belum. Kalau belum, Kak Alif dan keluarganya mau ke kampung mu, mau melamar kamu di kedua orang tuamu" jelas Sakia.


"Hahahahahaha" Nurin tertawa lepas. "Kak Kia ngaco deh. Mentang-mentang di kasih hadiah rumah langsung ngomongnya ngawur. Kakak, Kak Alif itu cintanya sama Kak Kia, bukan sama aku" ujar Nurin tak percaya.


"Kak Kia, Kakak nggak sakit kan?" tanya Nada menempelkan tangannya di dahi Sakia.


"Ini lagi satu, ikut-ikutan gila seperti Nurin" ketus Sakia. Lalu menatap Nurin dan Nada. "Sejak kapan Kak Kia membohongi kalian berdua?" tanya Sakia.


"Nggak pernah" balas Nurin dan Nada bersamaan.


"Jadi bagaimana, Dek. Kak Alif itu serius, Kak Alif meminta bantuan Kakak karena Ka Alif nggak berani nembak cewe. Kalian tahu sendiri kan, Kakak sama Ka Alif nggak pacaran" ujar Sakia.


"Tapi, Kak" Nurin masih ragu. "Sempat Kak Alif hanya menjadikan aku tempat pelarian" ujar Nurin.


"Dek, sebelum Kak Kia menikah, hampir tiap hari kita berempat berada di butik ini. Nurin dan Nada sudah pasti tahu sifat Kak Alif. Jika dia berkata dia mencintai wanita itu, maka ucapannya bukanlah kebohongan. Kak Kia rasa kalian pasti tahu itu" jelas Sakia.


"Apa Kakak nggak cemburu kalau aku menikah dengan Kak Alif?" pertanyaan konyol keluar dari mulut Nurin.


"Hahahaha" tawa Sakia.


"Kakak mau jujur, tapi ini rahasia kita bertiga" ujar Sakia. "Sebenarnya Kak Kia mencintai Kak Fattan, tapi Kak Kia malu untuk ungkapin perasaan Kakak" ungkap Sakia.

__ADS_1


"Kakak, kapan Allah datangkan jodoh untuk aku" ujar Nada cemberut. Sakia sudah mendapatkan belahan jiwanya. Nurin sementara dalam proses. Dan Nada, sama sekali belum ada pria yang datang melamarnya di rumah.


__ADS_2