
Usai makan malam, Aziz dan anak serta menantunya duduk santai di ruang keluarga. Sementara Azam dan kedua adiknya tengah bermain di kamar. Benar kata Papa Aziz, pria itu demam karena rindu. Rindu anak, menantu serta cucu-cucunya. Buktinya, setelah kehadiran anak, menantu dan cucunya, pria paruh baya itu langsung sembuh total dan kembali ceria lagi.
Ting tong... ting tong.... Terdengar bel rumah berbunyi, mereka yang berada di ruang keluarga saling tatap.
"Biar Kia saja yang buka" kata Sakia beranjak dari duduknya. Lalu berjalan menghampiri pintu rumah. Sebelum membuka pintu, Sakia mengintip diluar, seulas senyum tersungging sempurna melihat Mama Mahdania dan Papa Aher. Senyumnya seketika memudar saat melihat Sabila berdiri dibelakang Mama Mahdania.
Cek--lek... (Pintu terbuka)
"Ternyata anak Mama di sini. Mama rindu kamu, Sayang. Udah lama kamu nggak datang ke rumah" ucap Mama Mahdania dengan netra mata berkaca-kaca.
"Mama, Papa" Sakia memeluk Mama Mahdania lalu memeluk Papa Aher. "Kia kangen kalian" sambungnya dengan manja.
"Jangan lebay deh" sindir Sabila dengan santai.
"Maa, Paa, ayo kita masuk. Papa Aziz dan yang lainnya ada di dalam" ajak Sakia tanpa mengubris sindiran kakaknya.
Mama Mahdania, Papa Aher dan Sabila masuk ke dalam rumah menghampiri Papa Aziz dan yang lainnya. Kedatangan Mama Mahdania dan Papa Aher membuat Papa Aziz senang. Namun kehadiran Sabila membuat Papa Aziz sedikit cemas. Pria paruh baya itu yakin, Sabila akan berulah dan membuat Sakia sakit hati lagi.
"Aziz, kenapa kamu nggak bilang kalau lagi sakit. Aku dan Mahdania bisa datang merawatmu" ujar Papa Aher.
"Aku nggak sakit parah, Her. Aku hanya rindu anak, menantu dan cucu-cucu ku" jawab Papa Aziz menjelaskan.
"Om mah enak, udah punya cucu. Lah Papa aku, udah tua tapi belum punya cucu" kata Sabila namun tatapannya ke Sakia.
"Sabila" tegur Mama Mahdania.
"Kebenarannya seperti itu kan, Maa" kata Sabila dengan santai. "Apa kamu mandul, Dek?" pertanyaan yang ringan diucap namun menusuk.
__ADS_1
"Sabila!" tegur Papa Aher.
"Dek, Papa kamu itu udah punya cucu, tapi kamu yang nggak menjaganya dengan baik" sindir Fadila. "Sakia mandul dengan tidaknya, itu bukan urusan kamu. Yang harus kamu pikirkan itu masa depanmu, itu saja" sambungnya dengan santai namun niatnya menyindir Sabila agar bisa menjaga ucapannya.
"Ma, Pa, aku pulang duluan. Panas di sini" ucap Sabila dengan tidak sopannya. Lalu beranjak dari sofa dan keluar dari rumah Papa Aziz.
Fattan menggenggam erat tangan istrinya. Fattan tahu, pertanyaan Sabila sangat melukai hati Sakia, istrinya. Sementara Sakia, wanita itu diam dan menunduk. Dia takut, takut suaminya menikah lagi. Atau bisa jadi, Papa Aher akan memisahkan Sakia dan Fattan.
"Sakia, ucapan Kakak kamu tadi jangan dimasukin ke hati ya, Nak. Melihat kamu bahagia itu sudah cukup. Lagian, Fadila juga sudah kami anggap anak. Maka anak Fadila juga cucu kami. Kami punya cucu, sama seperti Papa Aziz. Azam dan si kembar adalah cucu kami bersama" jelas Mama Mahdania.
"Benar, Nak. Jangan dimasukin ke hati. Kamu masih ingat kan apa yang tadi Papa katakan di dapur" timpal Papa Aziz tersenyum.
Mata Sakia mulai berkaca-kaca. Semua yang ada dibenaknya, ternyata hanyalah ketakutannya saja. Mama dan Papanya, serta keluarga Fattan tidak akan meninggalkannya melainkan mensupportnya.
"Mama, Papa, Kia dan Kak Fattan nggak mandul. Hanya saja Allah belum memberi kami kepercayaan" jelas Sakia sesenggukan.
"Tante jatuh, jadi nangis" jawab Fadila.
Si kembar Kakak berjalan menghampiri Sakia yang terisak di sofa. "Tante, di mana yang sakit?" tanyanya serius.
Sakia menyeka air matanya. Berusaha untuk tersenyum. "Tadi di tangan, tapi sekarang udah sembuh" jawab Sakia.
......🍁🍁......
Pagi hari, Fattan pergi bekerja, begitu juga dengan Farhan. Sementara Sakia dan Fadila hanya di rumah bersama Papa Aziz dan si kembar. Alasan Sakia tidak membuka butik karena Papa Aziz, yang meminta Sakia untuk beristirahat. Sedangkan Fadila, wanita itu sudah tidak bekerja sejak si kembar lahir.
"Papa, kapan kita liburan keluarga?" tanya Fadila manyun.
__ADS_1
"Kalian mau kapan?" Papa Aziz balik bertanya tanpa menatap anak dan menantunya. Pria itu sibuk membaca surat kabar.
"Pekan depan. Bagaimana?" jawab Fadila antusias.
"Kami setuju..." sorak Sakia dan si kembar.
"Hehehehe" kekeh Papa Aziz. "Oke. Pekan depan kita liburan di pulau Lae-Lae. Papa mau nostalgia" sambungnya tersenyum.
...--...
Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa, sudah pukul lima sore. Farhan sudah di rumah, sementara Fattan baru saja memarkirkan mobilnya di depan perumahan blok 20. Pria itu keluar dari mobil sambil membawa es krim.
"Assalamualaikum" Fattan mengucap salam lalu masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam" jawab Azam dan kedua adiknya.
"Ini untuk kalian" Fattan menyerahkan kantong plastik berisi es krim pada ketiga keponakannya.
"Yeah..." sorak si kembar. "Terima kasih, Om" sambungnya tersenyum.
"Azam, Tante di mana?" tanya Fattan mencari cari keberadaan istrinya.
"Tante di kolam renang bersama Mama dan Papa" jawab Azam.
"Kakek juga" sambung si kembar adik.
"Terima kasih. Om temui mereka dulu. Azam, jaga adikmu ya" kata Fattan lalu ke kolam renang. Di kolam renang, terlihat Papa Aziz sedang mengunyah kue favorit almarhum istrinya. Sementara Sakia, Fadila dan Farhan menikmati es cappucino dan pisang keju.
__ADS_1
"Tega bangat sih, kalian nggak nungguin aku!" ketus Fattan mengambil tempat di samping Farhan.