
Menjelang siang, Fattan dan Farhan mengukir senyum lebar. Masing-masing dari pria itu berhasil memancing ikan, itupun hanya dua, satu Fattan satu Farhan. Hanya satu, tapi senyumnya mengembang sempurna.
"Biasanya kalau Om mancing ikan dalam sehari dapat berapa?" tanya Fattan sambil mendayung menuju daratan.
"Nggak menentu. Kadang hanya satu, dua, tiga, bahkan nggak dapat sama sekali" jawab Om Zain.
"Di sini itu ikannya nggak tiap hari ikan-ikan itu terus, ada musimnya. Kalau musim ikan kembung, ya ikan kembung yang bakalan banyak di dapat. Kalau musim ikan cakalang, maka ikan cakalang yang banyak didapat. Pokoknya banyak. Beda lagi cara mancing ikan kakap, ikan tato, ikan gurara dan beberapa jenis ikan lainnya" jelas Om Zian.
"Anda di sini ada kampus, aku akan memilih mengajar di sini. Pemandangannya bagus, lingkungannya bersih dan asri. Makan ikan segar, sayuran tanpa pengawet. Aman damai deh di sini. Baru juga semalam di sini aku udah betah" ujar Farhan sambil memandangi lautan.
Di rumah, Fadila dan Sakia sedang merebus sayur daun singkong. Mereka akan membuat sayur urap. Bukan hanya sayur, mereka juga merebus singkong dan ubi jalar serta keladi/talas yang bisa dimakan. Jika biasanya mereka menggunakan kompor gas, maka di kampung mereka memasak di atas tungku menggunakan kayu bakar.
"Mama, coba lihat ikan ini" Azam memegang ikan hasil mancing Papa Farhan dan Om Fattan.
"Hahahahaha" tawa Fadila dan Sakia pecah. "Itu ikan atau apa" ujar Sakia melihat ikan Maki kecil.
"Ini ikan. Ikan ini hasil mancing setengah hari yang Papa dan Om dapatkan" jelas Azam tersenyum lebar.
"Apa!!" Sakia dan Fadila membulatkan mata. Sementara Tante Lisa tertawa terbahak-bahak.
"Daripada nggak dapat" kata Fattan menjulurkan lidahnya. Pria itu masuk ke kamar mandi lewat dapur.
"Sok-sokan mau mancing" cibir Fadila. "Ikan di dalam celana kalian itu lebih besar daripada ikan yang kalian mancing" sambung Fadila dengan santai namun direspon tawa oleh Sakia dan Tante Lisa.
"By, daripada aku dan Fattan nggak punya kerjaan, mending kami ikut Om Zain dan Om Zian. Coba lihat ini" Farhan memperlihatkan ember ikan yang dipegangnya. "Ini ikan hasil mancing Om Zain dan Om Zian" sambungnya tersenyum.
"Kakak, boleh Kia lihat?" tanya Sakia. Matanya berbinar melihat ikan segar di dalam ember yang lumayan besar
__ADS_1
"Ini" Farhan menyerahkan ember yang berisi ikan pada Sakia. Sakia mengambilnya dan terciptalah senyum lebar di bibirnya.
"Kak Fadila, kita makan ikan segar" ujar Sakia menyentuh ikan yang masih bergerak.
"Kalian mau makan ikan bakar atau ikan kuah kuning?" tanya Tante Lisa.
"Ikan bakar saja, Tante. Ikan bakar dan colo-colo lemon yang pernah Nurin buat di Makassar. Tapi aku nggak tahu cara buatnya. Apa Tante tahu maksudku?" jawab Sakia disusul pertanyaan. Berharap Tante Lisa tahu maksud Sakia.
"Tante paham. Nanti kita buat ikan bakar dan colo-colo lemon yang kamu maksud" kata Tante Lisa tersenyum.
......🍁🍁......
Berhubung mereka di kampung dan rumah Pak Adis juga tidak terlalu besar, maka mereka menggunakan tradisi di kampung Tiber, Dimana laki-laki makan duluan, setelah laki-laki selesai makan, barulah giliran perempuan dan anak-anak yang makan.
Usai makan siang, Sakia dan Fadila membereskan piring kotor. Lagi-lagi keadaan tidak seperti di kota. Di rumah Pak Adis, tempat cuci piring di luar, di samping dapur dekat air kali. Sakia dan Fadila yang mencuci piring karena Tante Hanin lagi hamil muda. Sementara istri Om Zain memiliki bayi yang baru baru berusia dua bulan. Dan istri Om Zian memiliki bayi yang baru berusia tiga minggu.
"Kak Fattan, tolong jaga sikembar" pinta Sakia.
"Fadila awas!" titah Fattan.
Fadila tersenyum lalu membilas tangannya. "Terima kasih Kakakku" kata Fadila tersenyum mencubit pipi kakaknya.
Sakia dan Fadila bergabung dengan keluarga yang lain sementara Fattan dan Farhan mencuci piring. Di ruang keluarga, Om Fakri sedang memarahi Alif yang baru datang, entah pria itu dari mana. Sejak pagi Alif sudah keluar rumah dan baru kembali setelah orang selesai makan siang.
"Cepat ke dapur! Bantu Kakak dan Mas Farhan cuci piring" titah Om Fakri.
"Iya.." balas Alif cemberut. Alif menghampiri Fattan dan Farhan di tempat cuci piring. Sesampainya di dapur, dia kembali dimarahi oleh Fattan.
__ADS_1
"Darimana saja kamu? Apa kamu ingin malam pertamamu batal" tanya Fattan menakut nakuti.
"Apaan sih! Siapa juga yang mau malam pertamanya batal!" ketus Alif.
"Makanya, jangan keluyuran. Dua hari lagi kamu ijab kabul. Musibah itu nggak ada yang tahu. Bukannya duduk di rumah kamu malah keluyuran" timpal Farhan menasehati.
"Iya, Mas. Mulai hari sekarang aku akan duduk cantik di rumah" kata Alif tersenyum.
Fattan mencuci piring, Farhan memisahkan sisa makanan sementara Alif membilas piring. Itulah pembagian tugas antara Fattan, Farhan dan Alif. Usai mencuci piring, ketiganya mengangkat piring dan meletakkannya di samping rak piring. Lalu mereka bergabung dengan yang lain.
"Cucu Nenek sangat rajin" puji Nenek Eka menatap ketiga pria yang begitu disayanginya. Sekalipun Farhan hanya suami dari Fadila tapi mereka sekeluarga menganggap Farhan seperti cucu kandung.
......🍁🍁......
Dua hari kemudian
Alif nampak gugup di dalam kamar. Berulang kali pria itu mengulang kalimat ijab kabul agar nanti dia bisa mengucapnya dengan lantang. Begitu juga dengan Ferri. Ferri berada di rumah Pak Sam sementara Alif berada di rumah Pak Adis. Kedua pria itu akan melangsungkan ijab kabul di hari yang sama dengan jam yang berbeda.
"Alif, ayo sayang" panggil Tante Hanin.
"Mama, aku gugup" kata Alif tegang.
"Hahahaha" Tante Hanin tertawa. "Jangan tegang, nanti kamu bisa pingsan. Apa kamu mau Si Jono menggantikan mu. Si Jono ada di rumahnya Nurin sekarang" kata Tante Hanin menakut nakuti.
"Nggak akan kubiarkan pria tua itu mengambil Nurin dariku" ujar Alif lalu keluar dari kamar dan duduk di tengah rumah, sesuai adat di kampung Nurin.
Sementara di rumah Nurin, Si Jono duduk bersila dengan tetua yang lain. Mereka menunggu kedatangan Alif dan rombongannya. Si Jono nampak cemberut, karena dia tak bisa menandingi Alif yang tampan dan juga kaya.
__ADS_1
"Andai dulu aku tidak memberikan pinjaman uang pada Nurin, maka wanita itu tidak akan bekerja di Kota. Dan dia tidak akan bertemu pria itu" batin Si Jono, pria beristri dua.
"Sudah pasti pria tua itu sedang mengumpat" batin seorang wanita yang tak lain adalah istri pertama Si Jono.