
"Aziz..." rengek Aher memajukan bibirnya ke depan. "Tolong bujuk papaku dong. Minta Papaku untuk mengizinkan aku ke luar rumah. Aku bosan di kamar terus ni" sambungnya cemberut.
"Anak baik-baik harus patut pada orang tua. Apalagi kamu tidak punya adik dan kakak. Kamu harus nurut apa kata Om dan Tante. Anggap saja kamu balas budi karena sudah dilahirkan dan dibesarkan, bahkan di sekolahkan hingga menjadi dokter" tutur Aziz menceramahi sahabatnya.
Aher terdiam sejenak, mencerna apa yang baru saja dikatakan sahabatnya. Lalu menghela napas dengan pelan. "Kau benar, Aziz. Karena ingin membahagiakan mereka hingga aku tak menolak perjodohan ini. Apa kau tahu, Mama dan papaku menjodohkan aku dengan wanita yang tidak aku kenal. Hatiku sakit sekali tapi biarlah, toh Mahdania juga akan menikah"
"Apa kau tahu, uang mahar Mahdania hanya seratus juta, emas seratus gram dan 1 unit mobil. Andai aku tahu semurah itu, sudah aku lamar sejak dulu" sambung Aher. Pria itu menyeka bulir bening yang hampir menetes dari kedua pelupuk matanya.
"Penyesalan memang datangnya dari belakang. Mahdania sudah mengingatkanmu, tapi kamu terlalu takut untuk datang melamarnya. Sekarang, jika kamu ingin menangis maka menangislah. Jika ingin makan maka makanlah. Aku rasa kamu akan mengalami masa sulit mendengar kabar itu" jelas Aziz dengan santainya. Pria itu sudah berulang kali meminta Aher untuk melamar Mahdania tapi Aher selalu menunda dengan alasan uangnya belum cukup. Boleh di kata kekasihnya-Mahdania sudah berkata padanya bahwa jangan takutkan itu.
"Om Aher, jangan bersedih ya Om. Yakinlah, jodoh takkan ke mana. Sempat saat menikah nanti pengantin kalian tertukar seperti di novel-novel itu" ujar Amrita sembari meletakkan sayur sop di atas meja.
"Iya Amrita nakal, istrinya si Aziz. Aziz si pria penakut. Hahahahahaha" balas Aher lalu tertawa lepas.
"Aziz, aku matiin teleponnya ya. Bu Hesti sedang membawakan makanan kesukaan ku. Kamu tahun kan apa makanan kesukaan ku. Tentu ayam palekko dong. Heheheh" kata Aher tersenyum sumringah.
"Assalamualaikum" sambungnya dengan mengucap salam.
"Waalaikumsalam" balas Aziz dan Amrita bersamaan.
Amrita menggeser kursi kemudian duduk berhadapan dengan suaminya. Dia dan suaminya pun memulai makan malam. Setelah makan dan membereskan piring kotor, mereka naik ke lantai dua untuk beristrahat. Amrita duduk di meja rias sedangkan Aziz duduk ditempat tidur seraya menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur.
Aziz melirik istrinya yang terlihat bahagia. "Apa dia sudah melihat kado ulang tahun dariku" batin Aziz.
"Apa aku beritahu Mas Aziz sekarang atau nanti saja?" batin Amrita bertanya pada dirinya sendiri. "Kabar bahagia tidak boleh ditunda-tunda. Aku tahu Mas Aziz sangat menginginkan anak" batinnya.
"Mas, aku punya kabar baik untukmu" kata Amrita dengan serius.
Aziz menautkan kedua keningnya, menatap istrinya yang juga sedang menatapnya. "Kabar baik apa?" tanyanya.
"Mas tutup mata, nanti Mas buka kalau aku bilang buka" balas Amrita tersenyum.
Aziz semakin penasaran. "Ini serius apa mau bermain?" tanya Aziz menyelidik.
"Serius, dua rius mala" balas Amrita lagi.
__ADS_1
Aziz menurut lalu memejamkan kedua matanya. Sementara Amrita beranjak dari kursi mengambil totebagnya yang ia letakkan di sofa. Mengambil tespek dan kembali menghampiri suaminya.
"Buka mata sekarang" titah Amrita.
Aziz membulatkan mata dengan mulut yang terbuka lebar. Pria itu mengukir senyum indah saat melihat dua garis merah pada alat tespek yang kini dipegang istrinya. Serentak ia menarik istrinya dan memeluknya. Terlihat pancaran kebahagiaan dari raut wajah mereka saat dua garis yang selama ini mereka nanti-nanti kini datang jua.
"Aku tidak mimpi kan? Kau tidak sedang bercanda kan?" tanya Aziz memastikan. Pria itu hanya takut dijahili istrinya.
Amrita tersenyum dengan netra mata yang mulai berkaca-kaca. "Aku tidak bercanda, Mas" balasnya dengan serius.
Aziz mengecup puncak kepala istrinya dan kembali memeluknya. "Selamat ulang tahun yang ke sembilan belas tahun. Maaf, aku tidak merayakannya karena gak sempat. Tapi aku punya hadiah untukmu. Aku gak tahu kau suka apa nggak. Kalau nggak suka nanti aku belikan yang kamu suka"
Amrita melepaskan pelukan suaminya. "Mana hadiahnya Mas?" tanya Amrita dengan girang.
"Di dalam lemari pakaianmu" balas Aziz tersenyum. "Aku kira kau tersenyum karena sudah melihat hadiah dariku" sambungnya.
Amrita beranjak dari tempat pembaringan berjalan menghampiri lemari pakaiannya. Seulas senyum tersungging manis saat melihat satu paperbag. Ia pun mengambilnya dan kembali menghampiri suaminya. "Apa isinya, Mas?" tanya Amrita penasaran
"Buka kalau penasaran" balas Aziz tersenyum lebar.
"Apa ada lagi yang ingin kamu beli?" tanya Aziz masih memeluk istrinya.
"Nggak ada lagi, Mas. Hanya leptop yang aku inginkan. Ini sangat berguna bagiku untuk membuat makalah" balas Amrita.
...ΩΩΩ...
Usai sholat subuh, Amrita langsung memasak untuk makan pagi dan untuk bekal untuk suaminya. Sementara Aziz mencuci pakaian, mengepel rumah dan tak lupa menjemur pakaian.
"Mas, ayo kita makan dulu" ajak Amrita setelah menyajikan makanan. Aziz yang barusaja selesai menjemur pakaian menghampiri istrinya di dapur. Menggeser kursi lalu duduk dihadapan istrinya.
"Pagi yang cerah" gumam Aziz.
Menu pagi yaitu tempe goreng, sayur bayam bening dan sambal tomat mentah. Itu untuk makan pagi. Untuk bekal suaminya beda lagi. Amrita membuat tahu goreng saus tomat dan beberapa sayur kol mentah yang di cuci bersih serta beberapa potong kacang panjang mentah. Dan tak lupa satu potong ikan goreng.
"Sayang, mulai sekarang kita tukaran ya. Kamu ke kampus gunakan mobil dan aku pakai motor" kata Aziz setelah menelan makanan yang ia kunyah.
__ADS_1
"Apa harus ku iyakan?" tanya Amrita.
"Tentu harus. Kamu bisa letakkan semua buku cetak, laporan dan mesin ketikmu di bagasi. Minta Fakri mengambilnya jika ada yang kau perlukan dari salah satu yang ada di dalam mobil" jelas Aziz.
"Iya, Mas" balas Amrita menurut.
Setelah makan, Aziz memilih membaca surat kabar di balkon. Sementara Amrita masuk ke kamar untuk mandi dan bersiap-siap ke kampus. Setelah mandi dan bersiap-siap, Amrita menghampiri suaminya di balkon.
"Mas, mana kunci mobil?" tanya Amrita.
"Kamu sudah mau berangkat?" tanya Aziz tanpa menjawab pertanyaan istrinya.
"Iya, Mas" balas Amrita dengan senyum. Dia harus cepat-cepat ke kampus karena mereka praktikum dari pagi hingga siang.
Aziz meletakkan surat kabar. "Kamu tunggu di depan, aku ambil kunci dulu" kata Aziz yang dibalas anggukan oleh istrinya.
Amrita ke luar dari rumah, sementara Aziz masuk ke dalam kamar. Aziz mengambil kunci dan juga uang jajan untuk istrinya. Lalu menghampiri istrinya di luar.
"Sayang, ini kuncinya dan ini uang jajan untukmu. Ingat! Beli jajan yang bagus untuk kesehatan kalian berdua. Jangan minum minuman yang bersoda dan yang utama, jangan stres. Jalanani praktikum hari ini dengan santai" jelas Aziz sambil menyodorkan satu lembar uang lima puluh ribu.
"Iya, Mas" balas Amrita lalu mengambil uang dari tangan suaminya dan tak lupa mencium tangan suaminya. "Assalamualaikum" ucapnya.
"Waalaikumsalam"
Aziz masuk ke dalam rumah setelah mobil yang dikendarai istrinya sudah tak terlihat. "Aku belum memberitahu kabar bahagia ini pada Ibu dan Papa. Nanti saja, aku tunggu mereka kembali dari Jakarta" gumam Aziz.
Aziz naik ke kamar dan bersiap-siap ke rumah sakit. Setelah selesai, ia mengambil kunci motor di atas nakas dan turun ke dapur mengambil tupperware dan botol air. Lalu ke luar dari rumah mengendarai motornya menuju rumah sakit.
Rumah Sakit
Di parkiran rumah sakit, beberapa tenaga medis terlihat berbeda. Hal itu membuat Aziz bingung dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Pak Berti memanggil Aziz yang baru saja tiba di depan pintu masuk rumah sakit. Raut wajah Pak Berti tidak seperti biasanya. Pria dewasa itu terlihat sedang sedih.
"Bapak kenapa?" tanya Aziz penasaran.
"Apa kamu sudah dengar kabar tentang Dokter Safira?" tanya Pak Berti menatap Aziz dengan serius
__ADS_1
"Belum, Pak. Ada apa dengan Safira?" tanya Aziz mengerutkan keningnya.