Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 80


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu, hari ini adalah acara ijab kabul antara Aher dan Madania yang dilangsungkan dikediaman Pak Hamdi Nazaim, Papa kandung Madania. Acara begitu ramai, banyak sanak saudara dari kedua bela pihak yang hadir. Bahkan keluarga besar Aher yang di Inggris pun datang di hari bahagia itu. Bukan hanya keluarga, tentangga pun ikut diundang dalam acara mewah itu.


"Saudara Ahmadenar Fikrami bin Zainal Fikrami, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putriku Mahdania putri Nazaim binti Nazaim dengan mas kawin seperangkat alat shalat, perhiasan emas seratus gram dengan uang seratus juta rupiah dan satu unit mobil dibayar tunai"


"Saya terima nikah dan kawinnya Mahdania putri Nazaim binti Nazaim dengan mas kawinnya tersebut dibayar tunai" jawab Aher dalam satu helaan napas.


"Bagaimana saksi, sah?"


"SAAH..."


kata sah terdengar begitu lantang diucap oleh saksi dan para tamu yang hadir. Pancaran kebahagiaan nampak jelas di wajah Aher dan Madania. Pria yang sempat dijahili Mama papanya, serta sahabatnya, kini ia sah menjadi mantan kekasih sang istri, Mahdania Putri Nazaim. Mahar yang diberikan sebenarnya hanya seperangkat alat shalat dan uang saja. Namun orang tua Aher dengan suka rela dan ikhlas menambahkan emas seratus gram dan satu unit mobil. Anggap saja mereka menghargai menantu mereka.


---


Malam hari


Gedung Upperhils


Di gedung inilah Aher dan Mahdania melangsungkan resepsi pernikahan. Baik Aher maupun Madania, keduanya menggunakan baju adat Bugis.



Model pakaian dan warna pakaian adat yang digunakan oleh keduanya.


Pembawa acara mulai membuka acara. Lalu meminta kedua mempelai untuk memasuki lokasi acara dan duduk di pelaminan bersebelahan dengan kedua orangtua mereka. Saat memasuki lokasi acara, Aher masih sempat sempatnya bercanda gurau.


"Da, setelah acara selesai langsung kita begitu ya" candanya yang dibalas kekehan kecil oleh istrinya, Mahdania.

__ADS_1


"Kamu sudah minum obatmu?" tanya Mahdania yang juga membalas candaan suaminya agar keduanya tidak gugup.


"Sudah, bahkan aku minum banyak" balas Aher terkekeh kecil.


"Hati-hati kamu pingsan sebelum melepas pakaianmu" ledek Mahdania.


Mahdania dan Aher duduk berseblahan dengan kedua orang tua mereka. Selanjutnya, pembawa acara masuk ke sesi berikutnya, yaitu ucapan selamat pada mempelai. Para tamu undangan yang hadir dipersilahkan untuk memberi ucapan selamat pada mempelai di atas pelaminan.


"Selamat atas pernikahanmu Dokter manja yang sopan dan imut-imut, serta Mahdania yang baik hati" ucap Direktur rumah sakit yang tak lain adalah Paman Dokter Aher. Disamping pamannya, berdiri seorang wanita paruh baya, yang tak lain adalah istri Direktur Rumah Sakit.


Aher terkekeh lalu menjabat tangan pamannya kemudian memeluknya. "Terima kasih Paman" ucap Aziz.


"Terima kasih Paman" balas Mahdani tersenyum.


Tante Eka, Pak Sofyan, Aziz dan Amrita naik ke atas pelaminan. Mereka mulai menjabat tangan orang tua dan giliran di Aher, Tante Eka dan Pa Sofyan mulai berulah. "Jangan lupa minum obat kuat" bisik Tante Eka ditelinga Aher.


"Jika kamu tidak punya obatnya, kamu bisa buka hadiah dari Om" sambung Pa Sofyan.


Kini giliran Amrita memberi selamat pada Om Aher. "Selamat ya Om, jangan lupa target. Berdoa dan berusaha" ucap Amrita yang dibalas kekehan kecil oleh Aher.


"Selamat ya Mbak Mahdania, wanita cantik yang baik hati. Semoga cepat diberi bidadari cantik dan pangeran ganteng dalam rumah tangga kecilnya. Aamiin" ucap Amrita lalu memeluk Mahdania kemudian menamatkan cincin emas dua gram dijari telunjuk Mahdania.


Gilirian Aziz, pria itu sejak tadi menampakan senyum menatap sahabatnya yang juga tersenyum. Lewat tatapan saja, keduanya bisa menciptakan tawa yang membuat orang-orang menggeleng kepala melihat tingkah konyol keduanya.


"Selamat ya bro, doa terbaik untuk manjaku ini" ucap Aziz lalu memeluk sahabatnya. "Jangan gunakan pengamana jika ingin capai target" bisiknya.


"Hahahaha" tawa Aher pecah. "Terima kasih untuk doanya" balas Aher. Aziz berpindah menjabat tangan Madania. "Selamat Madania, aku sarankan untuk siapkan mental" kata Aziz yang disambut tawa oleh Mahdania.

__ADS_1


Usai mengucapkan selamat, Aziz kembali duduk di kursi. Para tamu undangan yang lain mulai berdiri memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai. Sebelum resepsi pernikahan, Aher dan Mahdania menyebar banyak undangan. Mulai dari sanak saudara, rekan kerja Mahdania, Aher, dan rekan kerja orang tua dari kedua bela pihak. Bukan hanya itu, tentangga kedua bela pihak juga diundang di malam resepsi mereka. Itulah kenapa, saat resepsi pernikahan, banyak wajah yang terlihat menampakan senyum bahagia.


Usai acara ucapan selamat. Pembawa acara masuk ke urutan acara selanjutnya, yaitu tamu dipersilahkan menikmati hidangan yang sudah disediakan. Setelah menikmati hidangan, masuk ke susunan acara selanjutnya, yaitu foto bersama. Dan acara terakhir yang yaitu penutupan.


Di acara pernikahan Aher dan Mahdania. Anaya, mantan kekasih Aziz yang juga termasuk sahabat Aziz dan Aher. Wanita cantik itu tidak hadir karena mereka tinggal di Luar Negri, yaitu di London. Terlebih lagi dengan kondisi Anaya yang sementara hamil. Hal itu membuat dirinya hanya bisa melakukan panggilan video untuk memberi ucapan selamat pada sahabat dan istrinya.


---


Saat subuh, Amrita begitu malas untuk bangun. Namun ia berusaha untuk bisa melawan rasa malas dan rasa kantuknya. Lalu menunaikan shalat subuh berjamaah dengan suaminya. Usai shalat, Amrita meminta suaminya untuk menemaninya tidur.


"Sayang, pamali tidur setelah subuh" ujar Aziz.


"Tapi aku mengantuk Mas" balas Amrita cemberut.


"Sekarang kamu ikut aku, kita pergi olahraga. Ini demi kelancaran persalinanmu nanti. Jika kamu ingin melahirkan normal, maka kamu harus rajin olaharaga untuk menguatkan otot-ototmu" kata Aziz tersenyum. Ilmu itu Aziz dapatkan dari ibunya dua bulan setelah Aziz dan Amrita menikah. Kata Tante Eka, jika ingin melahirkan normal maka otot pinggul harus kuat. Jika tidak, saat persalinan nanti, tubuh Ibu hamil akan cepat lemas.


Amrita menurut dan mereka pun keluar dari kamar. Keduanya olahraga diseputaran perumahan. Saat olahraga, Aziz terus menggandeng tangan istrinya. Olahraga yang mereka lakukan bukan olanraga lari melainkan jalan santai saja.


"Mbak Amrita, udah ada ya Mbak?" tanya tetangga mereka.


"Alhamdulilah, sudah Mbak" balas Amrita tersenyum.


"Alhamdulilah. Rajin olahraga ya Mbak. Jangan sampai kelelahan apalagi stres" kata sitetangga lagi.


"Baik, Mbak. Makasi untuk perhatiannya" ucap Amrita tersenyum lebar.


Merasa tubuh keduanya belum mengeluarkan pelu, sementara sinar matahari sudah terbit, Aziz dan Amrita memilih masuk ke dalam rumah dan berjemur di kolam. Amrita duduk di kursi dan membiarkan sinar matahari pagi mengenai tubuhnya.

__ADS_1


Jangan lupa mampir di novel recehku yang lain ya kak 😊😊



__ADS_2