Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 92


__ADS_3

Fakultas Mipa


Hari minggu


Bagi mahasiswi dan mahasiswa Fakultas lain, hari minggu adalah hari tidur sedunia. Namun bagi anak Farmasi, semua hari sama saja. Tidak ada yang spesial. Anak Farmasi akan sejahtera bila praktikum belum aktif, tapi akan insomnia jika semua praktikum telah aktif.


Hari yang ditunggu tunggu telah tiba. Semua mahasiswa dan mahasiswi yang satu angkatan dengan Amrita sedang mengenakan baju Laboratorium. Baju yang selalu menemani mereka selama menjalankan praktikum dan juga baju yang menemani mereka dari semester satu hingga semester enam.


Mobil avanza silver baru saja memasuki parkiran mobil Fakultas Mipa. Sebelum turun dari mobil, Amrita bergegas mengenakan jas laboratoriumnya.


"Sayang, semangat ya. Ingat! Baca dan pahami soal yang diberikan baru tulis jawabannya" ujar Aziz menyemangati sekaligus memberi tips pada istrinya.


"Iya, Mas. Doakan aku ya. Semoga aku bisa menjawab semua soal yang diberikan" balas Amrita tersenyum.


"Fattan, Fadila, Mama ke kelas dulu ya. Jangan nakal-nakal, kasihan papanya" ujar Amrita pada keduanya anaknya.


"Iya, Mama" balas Fattan dan Fadila bersamaan.


Amrita mencium tangan suaminya lalu turun dari mobil. Dan tak lupa membawa laporannya yang sudah terjilid. Ia berlari kecil menghampiri teman-temannya. Di depan ruangan C01, Amrita melihat Hanin dan Fakri sedang belajar.


"Unyil... Ucil..." panggil Amrita sedikit berteriak.


"Cepat Amrita..." sahut Hanin dan Fakri.


"Kamu sudah belajar?" tanya Hanin pada Amrita.


"Alhamdulilah. Semoga saja apa yang aku pelajari semalam adalah jawaban dari soal yang akan dibagikan nanti" balas Amrita.


"Fakri, aku lupa bawa bolpoin. Apa kau punya lebih?" tanya Amrita.


"Ambil saja di dalam tas. Jangan mengajakku berbicara, aku baru belajar pagi ini" balas Fakri tanpa mengalihkan pandangannya dari laporan.


"Ck ck ck... sudah aku ingatkan tapi tidak mendengar. Berdoa banyak-banyak biar kamu tidak mengulang praktikum!" ledek Hanin. Wanita itu sudah mengingatkan sahabatnya untuk belajar tapi nyatanya tidak digubris.


"Cepat naik ke lantai tiga... kelas kita yang duluan ujian" teriak Safna dari tangga.


Amrita dan teman sekelasnya yang berada di lantai satu, mereka berlari menaiki anak tangga. Benar kata anak Teknik, anak Farmasi adalah anak berbadan besi. Bagaimana tidak, di kampus mereka tidak ada lift, dan Laboratorium berada dilantai tiga.


"Hanin, kamu duduk di situ" titah Fakri, meminta Hanin duduk di depannya.

__ADS_1


"Amrita, bagi-bagi jawaban ya" bisik Fakri yang duduk berseblahan dengan Amrita.


"Insya Allah" balas Amrita.


Semua anak kelas A, duduk sesuai aturan ujian. Tidak boleh melirik kiri kanan, depan belakang. Baik di dalam ruangan Laboratorium maupun di luar Laboratorium. Suasananya seakan mencekam. Ditambah lagi mimik wajah para Asisten Laboratorium yang nampak garang. "Malaikat maut sudah datang menghampiri" itulah istila Maya setiap kali mau ujian.


"Ade, pimpin doa sebelum memulai ujian" titah Kak Grey.


"Teman-teman, sebelum kita memulai ujian, marilah kita berdoa" kata Ade lalu membaca doa.



Allahumma laa sahla illaa maa ja’altahu sahlan wa anta taj’alul haznaa idzaa syi’ta sahlan


”Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Sedang yang susah bisa Engkau jadikan mudah, apabila engkau menghendakinya.” (Shahih Ibnu Hibban no. 2427).


"Doa selesai" ujar Ade.


Para asisten mulai membagikan soal ujian pada peserta ujian. Soal yang diberikan pada mahasiswa dan mahasiswi berbeda beda. Jikapun ada yang sama, maka nomornya diacak. Soal berupa essay dua puluh nomor, lima nomor perhitungan.


Perumahan Citraland Hertasning, nomor A20


"Hahahahaha" tawa Mahdania pecah. Wanita hamil itu menertawakan suaminya yang kini cemberut akibat ulah Fadila-anak kecil yang menggemaskan.


"By, coba kamu lihat wajahmu di cermin. Kamu seperti badut Sayang" ujar Mahdania tertawa.


"Hehehehe" kekeh Fadila. Anak kecil itu memegang lipstik Implora milik mamanya, yang ia simpan disaku bajunya.


"Fadila, Om ngambek ni..." rengek Aher mengerucutkan bibir.


Fadila tambah gemes melihat wajah imut Om tampan. "Hahahaha" tawanya dengan girang.


"Aww...!!" jerit Mahdania saat janin dalam perutnya menendang.


Fattan melepaskan mainannya lalu menghampiri Mahdania. "Tante" panggilnya.


"Da, kamu kenapa?" tanya Aher cemas. Masih dengan wajah badutnya.


Fadila menyentuh perut Mahdania yang ia lihat membesar. "Ade" gumamnya tersenyum lebar.

__ADS_1


"Hahahahaha" Aher tertawa menyadari apa yang membuat istrinya menjerit. Sementara Mahdania terus mengelus perutnya yang membesar.


Aher mendekat dan mencium perut istrinya. Fattan dan Fadila yang melihat itu juga ikut mencium perut Mahdania, setelah Aher. Aher tersenyum melihat keduanya begitu pandai dan sangat aktif.


"Sekarang Fadila dan Fattan makan ya. Nanti Tante suapin" ujar Mahdania tersenyum.


Aher mengambil paperbag di meja yang di dalamnya berisi tupperware, satu botol susu dan pisang mas. Kedua anak kecil itu sangat menyukai pisang mas. "Biar aku yang suapin mereka" ujar Aher.


"Ade" gumam Fadila menatap perut Mahdania.


Mahdania tersenyum lebar. "Ade nanti baru makan. Sekarang Fattan dan Fadila dulu yang makan" jelas Mahdania.


"Iya, Sayang. Fattan dan Fadila makan sekarang ya. Nanti Ade nangis kalau Fadila dan Fattan nggak makan" timpal Aher sambil menyodorkan satu sendok makanan.


Pasar Terong Makassar


Celana cargo selutut warna abu-abu, dan baju kous hitam lengan pendek, serta sendal kulit davis, itulah serba serbi yang Aziz pakai saat ke pasar. Di pasar, Aziz mencari sayur dan bahan dapur yang mau dibeli.


"Berapa ini, Bu" tanya Aziz sembari menunjuk sayur rebung yang sudah dibersihkan dan dipotong-potong.


"Sepuluh ribu, Pa" balas penjual sayur.


"Tolong dibungkus" pintah Aziz.


Setelah membayar tagihan sayur, Aziz kembali mencari sayur katuk yang nantinya akan dicampur dengan sayur rebung. Seulas senyum tersungging saat melihat sayur yang ia cari. Sayur katuk, wortel, kentang dan kol. Itulah empat jenis sayur yang Aziz beli dipenjual yang kedua. Alasannya hanya satu, penjual yang menjual sayur katuk dan tiga jenis sayur lainnya adalah wanita yang sudah termakan usia namun masih mencari nafka.


"Sayur, ikan kembung, kelapa parut, cabai, bawang putih dan bawang merah" gumam Aziz menatap barang belanjaannya, memasukannya ke dalam bagasi.


---


Perumahan Citralanda Hertasning A19


Aziz menepikan mobilnya di garasi. Lalu keluar membuka bagasi dan mengeluarkan barang belanjaannya.


"Rajin sekali suamiku ini" ujar Amrita tersenyum. Dia belum lama sampai di rumah.


"Bersabarlah obatku Sayang. Sekarang aku sudah selesai ujian. Aku nggak perlu ke kampus lagi. Kalaupun aku pergi, paling konsul proposal jadi nggak menghabiskan waktu lama di kampus" sambungnya sambil mengambil barang belanjaan suaminya.


"Aku tidak merasa keberatan, Sayang. Aku senang membantumu. Aku tidak mau kamu jatuh sakit karena kelelahan. Siapa yang akan merawatku dan anak-anak bila kamu sakit, hanya kamu seorang harapan kami bertiga" balas Aziz sambil melangkah masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2