
Malam hari
Aziz duduk di kursi yang ada di meja makan. Sekali kali ia melirik istrinya yang masih menyunggingkan senyum manisnya. Aziz ingin bertanya apa penyebab sehingga istrinya nampak bahagia dan tidak seperti biasanya. Bahkan sifat nakal istrinya menghilang entah ke mana. Benarkah hilang atau disimpan di dalam diri untuk sementara waktu saja.
"Sepertinya ikannya enak sekali. Haruska aku mengambilnya atau aku tunggu dia yang mengambilkan untukku" batin Aziz sembari menatap ikan bakar sambal yang kini ada di dipiring yang terletak di atas meja.
"Mas, mau diambilkan nasi dan ikan ya?" Amrita memberanikan diri untuk menawarkan karena suaminya tak kunjung menyentuh makanan yang ia masak. Aziz masih berkelut dengan pikirannya mengenai perubahan sikap istrinya.
"Kenapa harus tanya sih. Apa dia tidak tahu kalau aku ingin melahap semua ikan yang ada di piring" gerutu Aziz di dalam hatinya. Ia ingin mengambil sendiri namun melihat perubahan sikap istrinya hari ini membuat dirinya was-was.
Amrita mengambilkan nasi dan ikan untuk suaminya lalu menyerahkannya pada sang suami. "Selamat makan Mas tampan" ujar Amrita. Aziz masih diam, bahkan saat makan pun dia tetap diam.
"Diam diam bae" ujar Amrita menatap lekat suaminya.
"Tatap aku terus. Kamu akan membulatkan mata saat menyadari ikan yang kamu masak tinggal sedikit" batin Aziz.
"Dihabisin saja Mas, masih ada kok di dapur. Aku masak lebih. Yaaa, hanya untuk jaga-jaga karena aku tahu satu hal yang Ibu dan Papa mertuaku tidak tahu" jelas Amrita.
"Mas, biar aku saja yang cuci. Sekarang Mas istrahat. Mas pasti cape kan kerja seharian di rumah sakit" kata Amrita menghampiri suaminya di dapur.
"Amrita, kalau kamu sudah selesai beres beresnya kamu temui aku di ruang kerjaku. Ada sesuatu yang mau aku rundingkan denganmu" kata Aziz lalu pergi ke ruang kerjanya.
Beberapa menit kemudian, Amrita menghampiri suaminya. Ditangannya ada secangkir kopi panas untuk sang suami agar tidak mengantuk. "Mas, ini kopi panas untuk Mas. Kopinya tidak pahit juga tidak terlalu manis" kata Amrita meletakan kopi diatas meja kerja suaminya.
"Silahkan duduk" kata Aziz mempersilahkan istrinya untuk duduk di sofa yang tak jauh dari tempat duduknya.
"Mas mau rundingkan apa?" tanya Amrita.
"Maafkan aku, sepertinya kita harus menunda keberangkatan kita ke Bali. Tinggal berapa hari lagi kamu sudah mulai aktif kuliah dan besok aku harus ke Bandung karena ada urusan pekerjaan di sana" jelas Aziz.
"Mas lama di Bandung ya?" tanya Amrita.
__ADS_1
"Sekitaran satu minggu di sana" balas Aziz santai tanpa menatap istrinya.
"Baru juga mau bermanja manja!!" gerutu Amrita di dalam hatinya.
"Kamu tidak apa-apakan aku tingggal sendiri di rumah" tanya Aziz. Kini pandangannya mulai tertuju pada istrinya.
"Tidak masalah kok" balas Amrita lalu beranjak dari sofa berjalan masuk ke dalam kamar. Sesampainya di dalam kamar, Amrita mendekat menghampiri bingkai foto yang berukuran besar.
"Tampan sih tapi suka bikin kesal. Mau balas tapi dosaku sudah terlalu banyak" gumam Amrita.
Aziz tersenyum menyeringai saat mendengarnya. "Amrita, sekarang kamu siapkan baju kerja yang harus aku bawa. Kamu ingin pahala bukan maka nurutlah apa kata suami" kata Aziz.
"Iya suamiku tersayang terkasih tercinta terganteng dan ter ter ter..." balas Amrita.
"Baru sadar ya" ledek Aziz mengambil tempat diatas ranjang. Memperhatikan istrinya yang mulai mengambil koper.
"Mas, baju warna apa yang Mas mau bawah dan berapa banyak?" tanya Amrita. Ini kali pertama ia menyiapkan pakaian untuk suaminya ke luar Kota.
"Kamu saja yang pilih. Cukup tiga baju dan tiga celana" balas Aziz.
"Baru jam sepuluh tapi sudah tidur. Apa Mas tampan begitu lelah" gumam Amrita.
Amrita terkekeh saat menyadari panggilan barunya untuk sang suami. "Om jadi Mas" gumamnya pelan.
"Ingat, cuci kaki sebelum tidur. Kalau kamu tidak mau cuci kaki maka kamu akan tahu sendiri akibatnya" kata Aziz yang tiba-tiba membuka mata.
"Belum juga sehari dipanggil Mas sudah sombong. Mau aku panggil Om terus? Suka sekali mengancam istri sendiri" ketus Amrita sembari turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Aziz tersenyum melihat istrinya yang sedang kesal. "Semua kesalahanmu aku maafkan. Kamu istriku, tugasku mendidikmu. Memberimu kasih sayang yang selama ini tidak kamu dapatkan dari almarhum ibu dan ayah mertuaku" batin Aziz.
"Sudah?" tanya Aziz saat melihat istrinya hendak naik di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Sudah Mas. Tuh lihat, sudah bersih dan sudah sangat bersih" kata Amrita tersenyum manis namun menahan rasa kesal. Ia kesal karena dirinya selalu mengenakan sendal selama berada di dalam rumah jadi menurutnya ia tidak perlu mencuci kaki sebelum tidur terlebih lagi ia tidak ke luar rumah sejak tadi.
"Ganti pakaianmu dengan baju tidur. Cepat, aku tunggu sekarang" titah Aziz.
"Mas, kenapa sih harus-----" Amrita menghentikan kalimatnya saat Aziz menatap tajam padanya.
"Iya Mas. Aku akan ganti baju sekarang" kata Amrita pelan, berjalan mengambil baju tidur di dalam lemari pakaian yang tak jauh dari tempat tidur.
"Ganti pakaianmu di situ. Aku sudah melihat semuanya lalu apa lagi yang mau kamu tutupi" kata Aziz saat Amrita hendak masuk ke dalam kamar mandi.
"Iya Mas...!!" balas Amrita menekan kalimatnya. Setelah selesai mengganti pakaian yang ia kenakanan. Amrita pun menghampiri suaminya di atas tempat tidur.
"Sudah sikat gigi?" tanya Aziz saat Amrita hendak merebahkan tubuhnya.
"Sudah," balas Amrita santai lalu merebahkan tubuhnya.
"Kamu yakin?" tanya Aziz lagi.
Amarah Amrita kian memuncak. Sejak tadi ia bersabar namun menurutnya Aziz sudah begitu keterlaluan. Bahkan Aziz tidak percaya bahwa Amrita sudah sikat gigi. Dengan kesal, Amrita menarik baju suaminya lalu mencium bibir sang suami.
"Belum percaya?" tanya Amrita dengan napas memburuh. "Jadi suami kok gitu amat. Dibaekin tapi tidak mau. Dijahilin bilangnya nakal. Ujung-ujungnya istri yang dapat dosa. Apa sih maunya Om Aziz?"
Panggilan "Mas" kembali menjadi "Om" saat kesabarannya diuji oleh sang suami. Entah apa yang ada dipikiran Amrita sehingga ia menjadi kesal dan kembali marah-marah.
"Kalau Om mau wanita yang giginya disikat 7 kali dalam sehari maka silahkan cari wanita yang lain. Suka sekali uji kesabaran istri" ujar Amrita beranjak dari tempat tidur.
"Mau ke mana?" tanya Aziz.
"Mau sikat gigi biar suami senang" balas Amrita lalu mengunci pintu kamar mandi dari dalam.
Dua puluh menit telah berlalu namun Amrita tak kunjung ke luar dari kamar mandi. Aziz kembali cemas saat Amrita tak kunjung ke luar. Ia mencoba membuka pintu tapi pintu tak kunjung terbuka. Aziz berbalik membelakangi pintu. Tiba tiba terdengar pintu kamar mandi terbuka. Aziz menoleh menatap kearah pintu.
__ADS_1
"Kenapa kamu bodoh sekali" ujar Aziz sembari memeluk erat istrinya. Ia menyesal karena telah mengerjai sang istri.
"Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi" kata Aziz mempererat pelukannya.