Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 40


__ADS_3

Dua bulan kemudian


Di butik, Nada keluar dari kamar mandi sambil memegang testpack yang belum diketahui hasilnya negatif atau positif. Lalu giliran Nurin yang masuk. Tak lama, Nurin pun keluar dari kamar mandi dan duduk bergabung dengan Nada dan Sakia di sofa.


"Dek, gimana hasilnya?" tanya Sakia penasaran. "Nurin dulu" sambungnya antusias.


Nurin membaca basmalah lalu melihat hasil testpack. Senyum lebar terukir sempurna di bibirnya. Membuat Sakia dan Nada bisa menebak hasilnya.


"Selamat ya, Dek" ucap Sakia pada Nurin lalu memeluk Nurin. Sakia melerai pelukannya dan beralih menatap Nada. "Giliran kamu" kata Sakia tersenyum.


Nada membaca basmalah dan melihat hasilnya. Lagi-lagi pancaran kebahagiaan membuat Sakia bisa menebak hasil testpack.


"Selamat adikku" ucap Sakia meneteskan air mata bahagia. Ia memeluk erat Nada dan Sakia. Ketiga wanita itu menangis bahagia.


"Terima kasih, Kak" ucap Nada dan Nurin bersamaan. Nada dan Nurin sangat bahagia. Akhirnya, Allah memberi mereka kepercayaan.


......🍁🍁......


Malam hari, Sakia melirik Fattan yang sibuk membaca buku sambil bersandar di kepala tempat tidur. "Kak Fattan" panggil Sakia pelan.


Fattan menoleh dan tersenyum, ia membawa Sakia dalam pelukannya. "Kenapa? Apa ada yang Kia pikirkan?" tanya Fattan sambil mengelus kepala istrinya.


Sakia mendongak menatap suaminya. "Maaf" ucapnya dengan netra mata yang berkaca-kaca.


Fattan mengerutkan keningnya. "Maaf untuk apa?" tanya Fattan serius.


"Kia belum bisa memberi Kak Fattan anak" jawab Sakia. Bulir bening berhasil membanjiri pipi tembemnya.


Fattan melerai pelukannya. Menuntun istrinya untuk duduk bersila. Lalu menatap lekat mata istrinya. "Apa Kia masih ingat apa yang dikatakan Nenek dan Kakek dulu?" tanya Fattan memastikan.


Sakia menggeleng. Fattan tersenyum sambil menyeka air mata istrinya. "Mari kita bawa pernikahan ini karena Allah. Dengan begitu, tanpa kehadiran anak sekalipun, keluarga kita akan tetap harmonis, kini dan selamanya. Uang yang kita miliki, kita bisa gunakan untuk berbagi dan membiayai kebutuhan anak yatim diluar sana" jelas Fattan memberi nasehat.


Sakia semakin terisak. Dia takut, takut keluarga Fattan akan meminta Fattan menikah lagi. Sekalipun kalimat yang barusan diucapkan Fattan adalah nasehat dari Nenek Eka tapi rasa takut tetap menghampiri Sakia.

__ADS_1


"Kia takut Kakak nikah lagi" ungkap Sakia terisak.


Fattan terkekeh lalu menyeka air mata istrinya. "Kakak hidup hanya sekali dan menikah pun hanya sekali. Kia istri Kakak satu-satunya, kini dan selamanya" jelas Fattan tersenyum seraya memeluk istrinya.


...🍁🍁...


Minggu pagi, Sakia dan Fattan bersiap-siap ke rumah Papa Aziz. Pria paruh baya itu demam dan mau makan makanan yang dimasak Sakia. Bukan hanya itu, Papa Aziz juga ingin Fadila dan keluarga kecilnya datang di Perumahan Citraland Hertasning.


"Kak Fattan, gimana kalau kita tinggal di rumah Papa sampai Papa sembuh?" tanya Sakia.


"Apa Kia nggak keberatan kita tinggal di sana?" Fattan balik bertanya.


"Kia nggak keberatan, Kak" jawab Sakia tersenyum. Sekalipun dia takut Sabila akan berulah tapi dia juga tidak mungkin membiarkan Papa mertuanya tinggal seorang diri di Perumahan. Terlebih lagi Papa Aziz tidak mau meninggalkan rumah yang penuh kenangan itu.


Sementara di Perumahan Citraland Hertasning nomor 20, Fadila dan Farhan duduk di bibir ranjang menatap Papa Aziz yang terbaring lemas.


"Papa, kita ke rumah sakit ya. Aku nggak tega lihat Papa kek gini" ujar Fadila mengelus rambut Papa Aziz.


"Papa nggak mau, Sayang. Papa mau di sini saja. Kehadiran kalian semua akan mempercepat kesembuhan Papa. Kalau nggak percaya, kalian lihat saja nanti" jelas Papa Aziz terkekeh.


Farhan mengangguk. Lalu pamit ke lantai satu. Ponsel pria itu ada di lantai satu tepatnya di dalam kamar. Belum sempat Farhan masuk ke kamar, terdengar mobil berhenti di depan rumah. Farhan beranjak keluar melihat siapa yang datang.


"Dek, itu untuk Papa atau?" tanya Farhan melihat Sakia menenteng kresek yang bertuliskan Brownies Amanda.


"Iya Kak. Kami yakin, Papa pasti menginginkan kue ini" jawab Fattan berjalan menghampiri suami adiknya.


"Oh iya. Kakak baru saja mau pesan tapi nggak jadi, karena kalian sudah beli" ungkap Farhan. "Ayo kita ke kamar Papa" ajak Farhan.


Farhan, Fattan dan Sakia berjalan masuk ke dalam rumah menuju lantai dua, dimana Papa Aziz terbaring lemas. Sesampainya di lantai dua, tepatnya di dalam kamar Papa Aziz, Papa Aziz tersenyum melihat kedatangan Sakia dan Fattan.


"Papa senang kita bisa berkumpul lagi" ungkap Papa Aziz mengukir senyum indahnya.


"Papa" panggil Sakia. Sakia meletakkan kue brownis di atas nakas lalu duduk di tepi ranjang, meraih tangan Papa Aziz dan memijatnya. "Dimana yang sakit?" tanyanya pelan.

__ADS_1


"Papa hanya demam saja" jawab Papa Aziz. "Kia, nanti masakin bubur ayam untuk Papa ya. Kia ajak Fadila juga. Papa mau makan masakan kalian berdua" pinta Papa Aziz.


"Mana Azam dan kembar?" tanya Papa Aziz mencari-cari kehadiran cucunya.


"Azam dan kembar ada di bawah, Paa. Azam lagi jagain adeknya tidur" jawab Fadila.


"Ya sudah, kita tunggu kembar bangun baru kita makan kue brownis sama-sama" jelas Papa Aziz.


...🍁🍁...


Sore hari, terlihat Papa Aziz sedang bermain dengan si kembar di ruang keluarga lantai satu. Sementara Sakia dan Fadila memasak makanan untuk makan malam.


"Om..." si kembar berlari memeluk lutut Fattan yang baru saja masuk ke dalam rumah bersama Papa Farhan dan Azam.


"Gendong" rengek keduanya sambil melebarkan kedua tangan mereka.


Fattan tersenyum dan berjongkok. "Mau Om gendong ya?" tanya Fattan mengajak keduanya berbicara.


"Sayang, ini kan di rumah" tegur Farhan.


Si Kembar menunduk sedih. "Kami mau gendong" gumam si kembar Kakak.


Farhan dan Fattan tersenyum. "Ya sudah. Kakak Sama Om, nanti adek sama Ayah" kata Farhan agar kedua anaknya tidak sedih lagi.


Di dapur, Fadila melirik Sakia. Sejak pagi hingga siang, wanita itu terus memperhatikan adik iparnya yang terus memperhatikan si kembar. Fadila yakin, Sakia merasa sedih karena Allah belum juga memberinya kepercayaan.


"Dek" panggil Fadila.


"Iya, Kak" sahut Sakia sambil menyajikan makanan di atas meja.


"Cerita sama Kakak bila Kia punya masalah. Jangan sungkan, kita keluarga, bukan" ujar Fadila.


Sakia menggeser kursi dan duduk. Netra matanya mulai berkaca-kaca. "Kakak, Kia takut Kak Fattan nikah lagi. Nurin dan Nada belum lama menikah dan sekarang mereka positif hamil. Sedangkan Kia, Kia belum juga hamil. Apa Kia mandul, Kak" ungkap Sakia.

__ADS_1


Fadila menghampiri Sakia. Menggeser kursi dan duduk dihadapan adik iparnya. "Kakak yakin, Kak Fattan nggak akan meninggalkan kamu" ujar Fadila.


"Papa juga yakin" timpal Papa Aziz yang tanpa sengaja mendengar ungkapan hati menantunya. "Sakia, putriku, kamu, akan tetap menjadi menantu perempuan Papa satu-satunya. Nggak akan ada wanita lain yang akan menjadi menantu Papa" sambung Papa Aziz tersenyum.


__ADS_2