
"Om buat apa di dalam? Kenapa lama sekali?" tanya Amrita saat melihat suaminya baru ke luar dari kamar mandi.
"Biasa" balas Aziz santai. Ia menekan sakral lampu lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamar yang ia hias seperti langit yang dipenuhi dengan bintang-bintang.
Amrita memiringkan tubuhnya menghadap suaminya. "Om, maafkan aku" ujarnya.
Aziz memiringkan tubuhnya menghadap sang istri. "Untuk apa?" tanyanya.
"Semuanya" balas Amrita menatap suaminya yang terlihat samar-samar.
"Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu meminta maaf" kata Aziz. "Ayo tidur, besok ikut aku ke rumah ibu. Ada sepupu aku yang mau kenalan denganmu" ujar Aziz.
Pukul 04:11 AM, Amrita mengerjap saat mendengar lantunan ayat suci yang dibaca oleh suaminya. Sangat merdu, membuatnya hanyut dan selalu ingin mendengarnya. Tanpa sadar, ia meneteskan air mata. Amrita teringat sahabatnya yang bernama Seila. Seila sangat pandai mengaji. Tiap pukul 05:00 AM, Seila akan membangunkan Amrita untuk mengaji. Seila meninggal saat Amrita dan Seila hendak ke kajian yang dibawakan oleh Ustadzah Oki Setiana Dewi.
Flashback On
"Amrita, sebentar sore ada kajian di kediaman Walikota. Rumahnya di Jalan Amirullah. Kamu mau kan temani aku ke sana. Ustadzah Oki loh yang pematerinya" ujar Seila girang. Ia sangat suka kajian yang dibawakan oleh Ustadzah Oki.
"Seila, mana mungkin aku pergi ke sana. Kamu sendiri tahu bagaimana aku. Pakaian semunya pakaian sobek-sobek. Aku tidak punya baju gamis atau baju yang sopan" balas Amrita dengan jujur.
Seila tersenyum. "Aku punya baju yang baru aku beli. Aku sudah mencucinya bahkan aku sudah menyetrikanya" ujar Seila.
"Oke, nanti aku temani kamu ke sana. Aku hanya temani jadi aku tidak masuk ke dalam rumah" kata Amrita.
Sore hari
Amrita dan Seila sedang bersiap-siap untuk ke rumah Walikota Makassar. "Seila, bantu aku pakai jilbap dong..." pintah Amrita. Ia memanggil Seila yang kamarnya berseblahan dengan kamar Amrita. Amrita tidak tahu cara memakai jilbap karena memang ia tidak pernah memakai jilbap.
Seila yang sudah selesai bersiap-siap memilih mengunci pintu kamarnya lalu ke kamar Amrita, ia membantu Amrita mengenakan jilbap pasmina. Setelah selesai, keduanya ke luar dari kos sembari memegang helem.
"Amrita, aku yang mengendarai motor. Nanti pulang baru kamu yang bawa" ujar Seila.
"Oke baby" balas Amrita lalu memakai helemnya.
Seila naik di atas motor Mio merah, begitupun dengan Amrita yang membonceng dibelakangnya. Seila melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju jalan raya. Saat di depan MTOS, Seila menabrak mobil yang tiba-tiba merem dihadapannya. Seila dan Amrita terlempar jauh, keduanya berlumuran darah.
"Aku di mana?" gumam Amrita saat membuka mata. Dan ternyata, dia sudah berada di rumah sakit. Kepalanya diperban karena cedera dikepalanya.
__ADS_1
"Alhamdulilah. Akhirnya kamu sadar juga setelah 5 hari tidak sadarkan diri" ujar Kak Yuli.
"5 hari? Jadi sudah 5 hari aku di sini. Kakak, bagaimana keadaan Seila? Dia baik-baik saja kan?" tanya Amrita dengan panik.
"S--eila, dia---" Kak Yuli nampak gugup dan tak sanggup memberitahu Amrita.
"Seila kenapa kak?" tanya Amrita. Air matanya mulai menetes.
Kak Yuli ikut meneteskan air mata. "Seila sudah meninggal" kata Kak Yuli.
Flasback Off
"Amrita, kenapa kamu menangis?" tanya Aziz saat melihat istrinya menangis.
"Tidak, aku tidak kenapa napa. Aku hanya terharu saja melihat Om mengaji" kata Amrita berbohong seraya menghapus air matanya.
"Apa kamu tahu mengaji?" tanya Aziz.
"Iya, aku tahu" balas Amrita.
Pagi hari
Aziz membangunkan istrinya untuk bangun, karena waktu sudah menunjukan pukul 8 pagi. Namun Amrita tak kunjung bangun. Sehari semalam berada di Gunung Bulusaraung membuat tubuh Amrita remuk.
"Ummmm... aku masih lelah, Om" ujar Amrita dengan suara serak.
"Kata ibu, jika seorang wanita sudah menikah lalu dia tidak membuatkan sarapan pagi untuk suaminya, maka wanita itu tidak pantas dipertahankan" ujar Aziz menakut nakuti istrinya.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan Om Aziz meninggalkanku. Om Aziz sudah memegang dua benda berhargaku. Huh! Enak saja dia mau meninggalkanku" batin Amrita.
"Aku sudah bangun jadi jangan ucapkan kalimat itu lagi" kata Amrita. Ia memindahkan selimut yang menutupi tubuhnya.
Sesampainya di dapur, Amrita mengeluarkan sesuatu dari kulkas. Yaitu sayur kol, cabai, bawang putih, bawang merah dan tomat. Ia ingin membuat nasi goreng yang dicampur dengan sayur kol, sedangkan tomat hanya sebagai pelengkap di atas nasi goreng yang matang nanti.
Amrita mengikat asal rambutnya. Memakai celemek lalu menyuci sayur kol, kemudian memotongnya kecil-kecil. Selanjutnya ia memotong bawang putih dan bawang merah.
15 menit kemudian, nasi goreng kol pun matang dan siap disajikan.
__ADS_1
"Hummm, sepertinya enak" ujar Aziz yang sudah tidak sabar melahap masakan istrinya.
"Tentu saja enak. Amrita gitu loh" balas Amrita membanggakan diri.
Kediaman Pa Sofyan
Afika dan Tante Eka terlihat rapih. Mereka terlihat seperti orang yang akan pergi ke Mall. "Afika, tolong bawa paper-bag ini ke dalam bagasi mobil" pintah Tante Eka.
"Baik, Tante" balas Afika sembari mengambil paper-bag dari tangan tante Eka. Meletakannya ke dalam bagasi mobil.
Afika menunggu Tante Eka yang masih berada di dalam rumah. Selang beberapa detik, terlihat Tante Eka dan Fakri ke luar dari rumah.
"Fakri, kenapa kamu terlihat kusut?" tanya Afika dengan bingung.
"Aku kesal deh sama Ibu! Setiap kali mau shopping, pasti aku yang diajak untuk membawa barang belanjaannya. Yang ada teman-temanku tertawa saat melihatku jalan sama ibu. Mereka berkata bahwa aku anak mami yang selalu mengekor dibelakang ibunya" ujar Fakri cemberut.
Afika terkekeh mendengar apa yang dikatakan sepupunya. "Harusnya kamu senang karena kamu bisa dekat sama Tante. Coba lihat aku, aku perempuan tapi tidak dekat dengan ibu aku. Ibu terlalu sibuk hingga melupakanku" kata Afika.
"Jika benar seperti itu maka hari ini aku akan menemani kalian pergi belanja" ujar Fakri. Ia merasa iba mendengar curhatan hati sepupunya.
Perumahan Hertasning
Amrita dan Aziz masuk ke dalam mobil. Mereka berniat akan ke rumah ibu mereka. Saat hendak menyalakan mesin mobil, ponsel Amrita berdering. Amrita pun menjawab panggilan dari ibu mertuanya.
"Assalamualaikum, Bu"
"Waalaikumsalam, sayang"
"Ibu, kami baru mau ke luar dari area perumahan untuk ke rumah ibu. Ibu di rumah kan?"
"Kita ketemuan di Mall Panakukkang saja, sayang. Ibu, Afika dan Fakri sedang diperjalanan menuju Mall Panakukkang"
"Baik, Bu. Nanti aku hubungi ibu jika kami sudah sampai. Assalamualaikum"
Amrita menatap suaminya yang sedang menyetir. "Om, kata ibu kita bertemu di Mall Panakukkang saja. Ibu dan Aziz serta sepupu yang Om maksud itu, mereka sedang dalam perjalanan menuju Mall" ujar Amrita.
"Mati aku" gumam Aziz. Iya yakin ibunya pasti akan memerasnya.
__ADS_1